Belajar dari Nabi Yusuf dan Kinan Nasanti

Kamu tahu Surat Yusuf? Salah satu surat dalam Al-Quran, yang menariknya, tak seperti surat-surat lainnya, secara spesifik seluruhnya menceritakan tentang riwayat hidup Nabi Yusuf AS.

Padahal aku sudah berkali-kali baca kisah ini, dan berkali-kali pula baca firman Allah bahwa kisah ini mengandung banyak pelajaran, tapi dasar bebalnya aku, masih saja menganggap ini cerita lalu. Cuma dibaca, oh tau sejarahnya Nabi Yusuf, oh gitu ceritanya seru yah, udah selesai.

Suatu ketika aku sedang dilanda stress oleh suatu masalah, ketika aku membaca surat ini, ada satu ayat yang langsung nyess banget dibaca. Yang bikin aku langsung tersadar, oh this is what the story means!

“….Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana” (QS. Yusuf: 100)

Jleb!

Well, kalau dirunut, Nabi Yusuf memang punya semua syarat untuk bikin dia merasa nggak bahagia, putus asa, sedih dan kecewa. Dijahatin sama saudara-saudaranya, terpisah dengan orang tua, sempat jadi budak, jadi anak pungut pejabat kerajaan malah difitnah sama ibu angkatnya, dipenjara…bertubi-tubi sekali. Semua hal yang bisa membuat mental seorang laki-laki jatuh sejatuh-jatuhnya. But he was survive. Nggak sedikit pun menyesali, merutuki, sempat marah iya, tapi tetap tabah.

Ah, itu kan Nabi…Nabi gitu loh!

Ah…ya benar, itu Nabi. Kesabaran kita mungkin nggak seWOW kesabarannya Nabi. Tapi seseorang pernah berkata padaku, Nabi itu ada, diceritakan lagi kisah-kisahnya, biar kita bisa meneladani dan jadi penguat kita. Seburuk apapun itu, cobaan yang dihadapi para nabi jauh lebih besar dari yang kita hadapi.

Lalu aku teringat sebuah kisah yang pernah kubaca. Ini kisahnya Kinan Nasanti. Aku pernah denger nama ini, kalau nggak salah penulis juga. Nah, ini kisahnya yang ditulis oleh Helvy Tiana Rosa dalam buku berjudul ‘Bukan di Negeri Dongeng’.

Nikmat yang Tak Habis Disyukuri

 

Tahukah Anda apa yang membanggakan saya dari seorang Kinan Nasanti?

Setiap orang merasa aman mempercayakan rahasia mereka padanya! Begitu banyak teman (bahkan yang baru mengenalnya) menjadikannya tempat curhat.

“Saya sudah cerita semua masalah saya pada Kinan, Mbak,” kata Vita.

“Aku ceritakan saja semua pada Mbak Kinan,” tutur Dian.

“Aku sampai nangis lho curhat ke Kinan,” kali ini Wida.

“Mbak Kinan, aku mau ceritaaaa….”

“Nan, ada waktu nggak untuk dengar ceritaku?” tanya Ika.

Dan apa yang dilakukan Kinan?

Ia mendengar dengan telinga dan hati sekaligus. Ia tidak semata menunjukkan simpati, tapi empati. Ia berusaha mencari solusi atau memberi nasehat yang berarti. Lebih dari itu, komitmen. “Insya Allah kita hadapi bersama, ya. Saya akan bantu. Semoga Allah memberi kekuatan.”

Tapi tahukah Anda siapa Kinan sebenarnya? Ia hanya seorang muslimah biasa dengan tubuh yang sangat mungil (serupa anak saya yang menjelang kelas II SD). Hari-harinya adalah cobaan. Ayahnya sudah meninggal. Sang ibu sakit-sakitan. Ia masih harus menghadapi seorang kakak yang tidak stabil secara mental serta seorang adik yang sakit jiwa! Belum lagi masalah lainnya. Dan ia menghadapi semua dengan ketabahan luar biasa.

Bagaimana bisa? Pikir saya.

“Allah, Mbak. Allah tempat bersandar yang sejati. Ia pasti tak akan membiarkan hambaNya. Ia tak akan membiarkan saya, Mbak,” katanya suatu ketika.

Di tengah dera cobaan, ia bisa lulus kuliah dari Universitas Indonesia dengan nilai baik. Ia mengajar di sebuah pesantren dan dicintai begitu banyak muridnya. Ia masih sempat bekerja di sebuah penerbitan, menulis untuk beberapa majalah dan antologi cerpen bersama, membina majelis taklim, menjadi pengurus organisasi Forum Lingkar Pena dan aktif dalam berbagai kegiatan Partai Keadilan di wilayahnya.

Tidak hanya itu. Hari-hari belakangan ini ia sibuk memikirkan teman-temannya yang belum menikah pada usia menjelang atau lebih dari 30 tahun. Dan mencoba mencarikan untuk mereka lelaki muslim yang baik.

Tidak memikirkan diri sendiri. Tidak rendah diri karena tubuh mungilnya. Hanya kerendahan hati. Tak ada duka karena derita. Hanya mata yang berbinar dan senyum, saat bertemu kami.

Tahukah Anda kalimat yang sering ia ucapkan kala bersama kami?

“Maha Besar Allah yang memberi saya kenikmatan yang tak habis untuk disyukuri.”

 

So the conclusion is… dari dua cerita di atas, bagaimana mereka bisa survive, tabah, nggak putus asa dan bahagia…semua diawali dari bersyukur ya. Mungkin kita punya semua syarat untuk nggak bahagia, tapi ya kembali lagi…syukuri saja semua. Konon, bersyukur membuat kita merasa lebih kaya, lebih bahagia, dan seperti kata Kinan Nasanti, semakin menyadari kebesaran Tuhan.

Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur.

I got it.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s