Dzikrul Maut

Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kabar duka dari seorang teman. Ibunya meninggal dunia. Secepatnya aku dan temanku pergi takziah ke rumahnya. Sungguh, temanku begitu tabah dan masih bisa tersenyum di tengah kesedihannya. Wajahnya ikhlas. Seikhlas sorot matanya yang tetap optimis menatap hari depan. Semula, aku dan temanku berpikiran sama. Temanku yang ibunya meninggal dunia ini tergolong orang berada, rumahnya terletak di perumahan yang cukup mewah. Keluarga besarnya pun terlihat berkecukupan. Bahkan aku sempat melihat ada karangan bunga dari wakil walikota berdiri di teras rumahnya. Namun semua itu sirna ketika ia berkata, “Saya sudah sendirian, Kak. Bapak juga sudah meninggal”. Oh sungguh, maafkan aku kawan…saat itulah aku dan temanku yang menemaniku takziah berpikir, betapa beruntungnya kami. Masih punya orang tua. Aku, meski hanya punya ibuku, namun setidaknya masih ada orang tua yang menjadi tempat curahan kasih sayang.

Namun, menjadi yatim piatu pun bukanlah suatu kemalangan terburuk. Rasul juga yatim piatu. Dan lihatlah, temanku yang tampangnya imut-imut itu seketika menjadi begitu dewasa. Hanya tinggal berdua bersama adiknya yang masih SMP, menatap dunia yang tak pasti dengan penuh keyakinan. Semua orang menyayangi temanku itu. Aku pun jatuh simpati, semoga ia dapat melalui semuanya dengan penuh keikhlasan dan ketabahan, semoga ia diberikan keberkahan dan kebahagiaan dalam hidunya.

Kemarin, sepupu jauhku meninggal dunia. Usianya sama denganku, baru dua puluh tahun. Ia meninggal akibat jantung bocor yang sudah lama dideritanya. Tubuhnya begitu kurus dan menyedihkan. Yang paling menyedihkan adalah, bukan kepergiannya yang mengakhiri segala sakit, tetapi hidupnya yang selalu dirundung malang. Tak mendapat perhatian dari ayahnya sejak kecil (ayahnya kabur dari rumah), tak juga mendapat perhatian dari ibunya tatkala ibunya menikah lagi, akhirnya ia pun memilih menikah dengan lelaki yang tak bertanggung jawab sebagai suami. Mengasarinya dan suka merusak diri sendiri. Mertuanya pun tak berpihak padanya. Ia diabaikan, meski telah melahirkan seorang anak yang kini sedang lucu-lucunya.

Ia meninggal dalam kesendirian. Mengunci pintu rumahnya (karena hari sudah larut malam), bersama anaknya seorang. Tak ada yang tahu bagaimana ia meregang nayawa selain anaknya yang masih terbata bicara dan sampai sekarang tak menyadari kepergian ibunya. Suaminya pulang, rumah terkunci, lalu melihat anaknya melambai dari jendela dan menangis “Mama…Mama…”

Ya Allah, betapa malang hidupnya. Alangkah pahit garis hidupnya. Ya Allah, terimalah amal ibadahnya, jauhkanlah ia dari siksa kubur, ampunilah dosa-dosanya dan dosa-dosa kami semua yang masih hidup ini.

Kelak, semua manusia akan mati. Itu pasti. Sungguh, Maha Besar Allah yang telah memberi waktu, kecukupan, kenikmatan yang tiada habisnya. Ya Allah, ampunilah dosa kami, matikanlah kami dalam keadaan yang baik, dan bangkitkanlah kembali dalam keadaan yang baik. Sekali lagi, dzikrul maut…diingatkan tentang maut…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s