Tes Keperawanan

Baru-baru ini, sempat terdengar wacana adanya tes keperawanan untuk penerimaan masuk SMA di sebuah daerah. Pertama kali aku mendengarnya, aku langsung mengernyit, “Ini apa maksudnya?”

Syukurlah, cuma sekedar wacana. Hampir semua menteri, politisi, organisasi kemasyarakatan menolaknya.

Begini, aku bukanlah feminis, atau liberalis.

Aku tidak peduli masalah etis atau tidak etis.

Hanya saja aku berpikir, tidakkah tes keperawanan itu sungguh tak adil bagi siswi? Tak adil, karena ia langsung ‘dites’ tanpa pernah dibekali mengenai penjagaan diri dan pergaulan. Ibaratnya, kamu disuruh ulangan, tapi tidak pernah diajari apa-apa. Tak adil, bukan?

Mengapa aku sampai bisa bilang bahwa rata-rata siswi tidak mendapat ilmu mengenai penjagaan diri dan pergaulan dengan baik. Hei, aku pernah menjadi seorang siswi berusia belasan tahun, yang pernah mengalami kebingungan mengenai masalah menstruasi, kesehatan reproduksi, seks, dan sebagainya (ini bukan vulgar lho, ya). Dan aku yakin, ada jutaan siswa dan siswi yang mengalami hal serupa. Untuk bertanya pada orang tua, merasa malu. Orang tua pun jika ditanya sebisa mungkin menjelaskan secara implisit, tak dimengerti maksudnya, menganggap itu terlalu tabu untuk dibicarakan. Apalagi guru. Aku tidak akan pernah lupa saat kelas dua SMP, belajar Biologi mengenai reproduksi, guruku selalu menggunakan bahasa seperti ‘ovarium’, ‘ovum’, ‘testis’, ‘skrotum’….halo, itu apaaaa? Kebanyakan anak SMP tak paham arti kata-kata ilmiah itu. Akhirnya mereka pun melarikan rasa penasaran mereka pada video porno, stensilan, dan kata-kata teman.

Sekolah, yang harusnya menanamkan moral, justru abai. Aku masih ingat, bagaiman Rohis di SMA ku tidak terbina dengan baik. Jadi ladang ‘pacaran islami’, hanya berfungsi sebagai penggelar acar-acara hari besar keagamaan (yang didatangi murid-murid dengan berboncengan bersama pacarnya). Waktu kelas satu SMA, aku pernah ikut mentoring. Lalu tiba-tiba saja tak sampai sebulan, berakhir. Mentor hilang entah kemana. Tak ada kabar, mungkin tak mau lagi membina kami. Aku pun belajar di SMA tanpa tersentuh suasana keislaman. Aku berandai-andai, seandainya mentoring itu terus berlanjut, mungkin aku tidak akan pacaran selama SMA, sudah pakai jilbab sejak SMA, dan lain sebagainya. Disinilah aku bertanya: dimana peran organisasi keagamaan sekolah? Dimana guru BK? Guru IPA? Guru Agama? Guru Pkn? Kepala Sekolah?

Tentu, tidak semua sekolah seperti itu. Aku saja yang sempat apes bersekolah di SMA itu. Hehehe. Mudah-mudahan sekarang SMA ku jauh lebih baik pembinaannya.

Saat berusia belasan seperti itu, aku pun tahu cerita-cerita tentang teman-teman yang sudah pacaran terlampau jauh, sudah tidak perawan, dan sebagainya. Lantas, itu salah siapa? Sebab kami, mereka, tak pernah mendapat pemahaman yang cukup tentang moral dan agama. Apakah orang tua dan guru tak punya andil disana?

Ada siswa yang sering membawa pacarnya ke rumah saat rumah kosong karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Salah siapakah itu?

Ada siswa yang pergi dengan pacarnya hingga larut malam kesana kemari karena orang tuanya pun mengizinkan. Salah siapakah itu?

Ada siswa yang terlibat affair dengan guru sekolah. Salah siapakah itu?

Aku termasuk yang beruntung, masih bisa ‘selamat’. Aku beruntung, dibesarkan dalam keluarga yang menanamkan nilai kesakralan keperawanan bagi seorang gadis. Banyak yang tak beruntung dan terjerumus.

Kelak, ketika aku punya anak nanti, aku berjanji pada diriku sendiri, sedari SD akan kuberi ia pemahaman moral dan etika pergaulan yang benar. Kutanamkan ilmu agama yang cukup padanya, akan kubina ia, kujelaskan segala hal yang perlu ia ketahui untuk menjaga diri dan kehormatannya.  Itulah sebenar-benarnya pendidikan.

Jangan sampai, sebagai guru kita durhaka pada murid kita. Hanya mengajarinya, bukan mendidiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s