Hijabku, Perisai Kehormatanku

Image


Alhamdulillah, hari ini tanggal 4 September adalah Hari Solidaritas Jilbab Internasional atau International Hijab Solidarity Day. Nah, pada momen ini aku ingin mempublish salah satu esaiku tentang jilbab yang alhamdulillah, meraih juara 1 Lomba Menulis Esai Hijabku Perisai Kehormatanku di MUFEST (Muslimah Festival) FKM UI 2013. Sok atuh dibaca…
 🙂

Hijabku Perisai Kehormatanku

Ketika seorang jurnalis dari salah satu media Barat bertanya pada Tawakkul Karman— seorang aktivis perempuan Yaman yang aktif menyuarakan hak-hak perempuan, anti korupsi dan ketidakadilan serta peraih Nobel Perdamaian Prize 2011—mengenai hijab yang ia kenakan seraya mengatakan hijabnya tidak sebanding dengan kemampuan intelektual yang ia miliki, Karman menjawabnya dengan tenang, “Manusia zaman dahulu hampir telanjang dan seiring perkembangan intelektualitas muncullah pakaian. Saya hari ini dan apa yang saya pakai justru mewakili level tertinggi dari pemikiran dan peradaban manusia”

Hijab. Sebuah kata yang tak asing lagi sekarang. Bahkan, keberadaan hijab kini semakin populer dalam masyarakat. Secara bahasa, hijab berarti ‘tirai’ atau ‘pemisah’. Dalam bahasa Arab, hijab bermakna ‘menutup, menyendirikan, memasang tirai, menyembunyikan’ sesuai dengan yang dideskripsikan dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 53: “Jika kamu meminta sesuatu kepada mereka (para istri Rasulullah), maka mintalah dari balik hijab. Cara ini lebih mensucikan hatimu dari hati mereka’. Hijab dalam ayat ini adalah tirai penutup yang dipasang sebagai sarana penghalang antara laki-laki dan perempuan agar tidak berpandangan. Secara lebih spesifik, hijab dimaknakan sebagai penutup aurat muslimah sekaligus penghalang agar orang lain tidak melihat aurat muslimah tersebut. Muslimah diperlakukan secara agung dengan tidak membiarkan auratnya secuil pun jadi ‘tontonan gratis’ bagi orang yang tidak berhak. Sungguh, hijab sejatinya adalah lambang perisai kehormatan muslimah.

Hijab, telah dipahami secara umum sebagai kewajiban seorang muslimah dengan berbagai dalil yang jelas. Hijab juga telah diterima sebagian besar masyarakat di Indonesia sebagai salah satu corak kebudayaan dalam berpakaian. Bahkan jumlah muslimah yang berhijab pun semakin meningkat. Sayangnya, peningkatan pemakaian hijab tidak berbanding lurus dengan kuatnya pemahaman akan esensi hijab itu sendiri.

 Hijab menjadi kambing hitam

Meskipun banyak persepsi sinis yang digaungkan para feminis dan orientalis pada hijab sebagai simbol ketertindasan perempuan, kita patut bersyukur persepsi tersebut tidak mengurungkan niat para muslimah untuk berhijab. Opini masyarakat pada umumnya yang memandang positif terhadap hijab pun turut menambah semangat muslimah untuk berhijab.

Sayangnya, opini positif ini kerap kali berkembang menjadi pandangan yang sempit dan sering kali justru mendiskreditkan hijab. Ketika seorang muslimah berhijab, kemudian hal itu dipandang sebagai bukti bahwa ia sudah taat secara total dan sempurna sebagai muslimah. Efeknya, tiap kali seorang muslimah yang telah berhijab berperilaku negatif, serta merta perilaku tersebut dikaitkan dengan hijab yang ia kenakan sehingga muncullah cibiran-cibiran semacam ini: ‘Berhijab tapi kok masih suka bergosip?’, ‘Berhijab malah merokok!’ atau yang lebih tajam seperti ‘Berhijab tapi suka berdua-duaan dengan yang bukan muhrim. Lebih baik copot saja hijabnya!’. Hal ini bisa menjadi beban tersendiri bagi muslimah yang telah berhijab dan celakanya, sering menjadi alasan bagi sebagian muslimah menunda untuk berhijab dengan alasan yang tak logis seperti: hijabi hati dan perilaku dulu, deh.

Cercaan semacam ini tentu harus diluruskan. Selain karena merugikan citra muslimah berhijab, pelurusan ini perlu untuk mendorong masyarakat cerdas dalam memilah. Berhijab merupakan kewajiban, sesuatu yang harus dilakukan oleh muslimah tanpa memandang kondisi ‘belum benar akhlaknya’, ‘tidak siap’, ‘tidak mau’ dan sebagainya. Perintah untuk berhijab jelas, kewajibannya tidak berkurang. Hijab bukanlah ukuran ketaatan yang presisi sebab yang dapat mengukur ketaatan seorang hamba hanyalah Allah, namun hijab adalah salah satu sarana bagi muslimah untuk menaatkan dirinya pada apa yang telah Allah perintahkan. Sehingga, sangat tidak adil jika mengaitkan perilaku negatif seorang muslimah dengan hijab yang dikenakannya. Bukan berarti antara hijab dan perilaku muslimah bersifat dikotomis, namun hendaknya jangan sampai timbul generalisasi yang salah bahwa hijab telah gagal menjaga perilaku muslimah.



Hijab sebagai alarm muslimah

Di sisi lain, cercaan-cercaan di atas memberi hikmah yang luar biasa bagi kita para muslimah. Cercaan semacam ini secara tak langsung menunjukkan tingginya penilaian masyarakat awam terhadap hijab. Begitu tingginya nilai hijab ini hingga muslimah yang telah berhijab diharapkan pula memiliki akhlak semulia hijabnya. Esensi hijab menjadi tak hanya sebagai kewajiban yang mau tak mau harus dijalankan, namun juga sebagai alarm bagi muslimah dalam berperilaku. Ketika memutuskan mengenakan hijab, otomatis kita harus siap menjaga dan dijaga hijab kita. Menjaga hijab, artinya terus-menerus istiqomah serta penuh rasa percaya diri mengangkat harkat dan martabat hijab seperti yang Tawakkul Karman lakukan. Dijaga hijab, artinya hijab kita memberikan perlindungan ekstra dari perlakuan negatif dari luar terhadap tubuh kita dan mencegah kita dari melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan seorang muslimah. Sama halnya dengan shalat kita yang seharusnya dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar.

Akhirnya, patut kita terus ingatkan diri kita sendiri bahwa hijab yang kita kenakan bukan hanya sekedar penutup aurat. Ia adalah identitas kita dan dengannya kita dapat dikenali. Ia adalah perintah Allah SWT dan dengannya kita berusaha untuk menaatkan diri. Ia adalah pelindung kita dan dengannya kita merasa aman. Ia adalah bentuk peradaban tertinggi perempuan dan dengannya kita dihargai. Ia adalah perisai kehormatan kita dan dengannya kita sebagai muslimah dimuliakan.

Advertisements

3 thoughts on “Hijabku, Perisai Kehormatanku

    • Ini maksudnya cadar?Sebagian besar ulama memandang cadar adalah sunnah,sedangkan Imam Syafi’i mengatakan wajib. Sikap kita sbg muslim adalah,bukan memperbesar perbedaan pendapat,tapi tonjolkan kesamaannya. Yg jelas,muslimah berhijab itu jelas wajib. Dan bagi muslimah yg bercadar,itu jauh lebih baik lagi,selama tujuannya memang sesuai. Jgn sampai ada diskriminasi perempuan bercadar,krn itu adl hak mereka menjalankan syariat hijab yg mereka yakini. Mereka sesungguhnya hanya perempuan biasa,yg berusaha menaati perintah hiab dgn sempurna 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s