What’s Wrong with Condom?

red ribbon (1)

Hehehe.

Jarang-jarang ngeblog, sekalinya nulis judulnya rada provokatif yee 😛

Oke, pastinya kita semua sudah tahu ya hari ini adalah Hari Aids Sedunia, World Aids Day. Tentu saja, kita sepakat bahwa HIV AIDS adalah musuh bersama yang harus kita lawan. Virusnya lho ya, bukan penderitanya. Apalagi, Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara dengan penyebaran HIV AIDS tercepat. SIAPAPUN bisa kena. Bahkan baru-baru ini aku nonton acara berita di TV yang memuat liputan khusus tentang virus ini, background penderita HIV AIDS di Indonesia terbesar ditempati orang-orang dari kelompok kerja pengusaha dan ibu rumah tangga. Dan hampir 70% penyebaran virus ini melalui hubungan seks bebas heteroseksual. Berapa jumlah persis penderitanya? Silahkan googling sendiri ya, nanti jadi terlalu bertele-tele nih postingan 😀

Tentu ini sebuah masalah nasional yang sangat serius. Seluruh elemen masyarakat hendaknya tidak apatis lagi terhadap penyakit ini atau menganggap penyakit ini adalah ‘penyakit kotor’. Sepakat? Naaah, lantas kita dihadapkan pada suatu pertanyaan: trus gimana dong solusi untuk mengatasi masalah yang sudah semakin parah ini?

Kemenkes dan KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) pada tanggal 1-7 Desember 2013 berencana untuk membagi-bagikan kondom gratis sebagai langkah untuk mencegah penularan virus ini. Tak tanggung-tanggung, 25 milyar digelontorkan untuk program ini. Sontak, program ini mengundang pro kontra di masyarakat Indonesia. Dalam posting ini saya akan mencoba memberi mindset yang berbeda, mencoba meluruskan pendapat di kedua pandangan ini.

Kondom mencegah penularan virus HIV AIDS? Ya, memang benar kondom adalah salah satu cara pencegahan. Bagi-bagi kondom gratis nggak akan bikin moral orang-orang serta merta jadi rusak dan langsung ingin berhubungan seks? Ya, memang nggak juga. Misalkan saya diberi kondom gratis satu truk pun nggak akan saya pakai karena bertentangan dengan prinsip yang saya anut. Bagi-bagi kondom gratis bukan berarti melegalkan seks bebas? Ya, memang tidak berarti bagi-bagi kondom gratis melegalkan seks bebas, karena virus HIV AIDS pun bisa menular dalam lembaga pernikahan.

Tapi…apakah bagi-bagi kondom gratis adalah sebuah solusi?

Let’s be smart.

Sebagai rakyat Indonesia, nampaknya kita memang patut mengasihani diri sendiri. Pemerintah kita sering kali menerapkan solusi jangka pendek yang instan, asal-asalan, dan aneh. Kurang daging? Kurang beras? Impor. Akibatnya? Petani, peternak, pengusaha lokal merugi. Harga BBM naik rakyat menjerit? Sumpal pakai BLT. Akibatnya? Pembagian BLT ricuh dan tak tepat sasaran. Dan sekarang, HIV AIDS semakin mewabah? Bagi-bagi kondom. Solusi yang terlalu instan dan tak cerdas.

Bukan, bukan saya orang yang cerdas hingga berani menilai solusi seperti itu solusi tak cerdas. Tetapi menurut saya, tak perlu menjadi orang cerdas pun kita bisa menilai bahwa solusi itu tak solutif. Menggelontorkan dana demikian besar untuk suatu langkah yang belum tentu efektif. Apakah dengan bagi-bagi kondom masyarakat menjadi cerdas melindungi diri dari penularan HIV AIDS? Apakah dengan bagi-bagi kondom, dapat menjamin seks akan lebih aman? Apakah dapat dijamin pembagian kondom tsb akan tepat sasaran (untuk 18 tahun ke atas)?

Hal-hal semacam inilah yang Pemerintah sembrono untuk pikirkan. Jauh lebih masuk akal, dan pastinya lebih efektif, jika Pemerintah memberikan pencerdasan pada rakyat lewat penyelenggaraan pendidikan seks. Pendidikan seks dapat diberikan untuk segala usia dan segala kalangan, karena toh, kita tak bisa memungkiri seks merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan bisa menimbulkan masalah jika tak dikendalikan dengan baik. Pendidikan seks ini bisa dengan penyuluhan gratis di sekolah-sekolah, kampus, lingkungan kerja ataupun di tempat umum. Bahkan bisa juga dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

Cara lain? Nah, tadi sore saya menonton sebuah liputan khusus yang meliput bahwa klinik khusus deteksi HIV AIDS masih jarang di Jakarta. Pusatnya di RSCM, itu pun masih banyak orang tak tahu. Padahal, deteksi dini HIV AIDS juga dapat mencegah risiko penularan virus tsb. Jadi saya berpikir, sekali lagi, daripada menghabiskan dana besar untuk program yang belum jelas efektivitasnya, lebih baik pemerintah menyelenggarakan pengadaan semacam pos-pos deteksi dini HIV AIDS di seluruh Indonesia. Di sekolah, kampus, tempat-tempat umum, dsb. Saya rasa, ini jauh lebih dapat diterima.

Tetapi sayang lagi-lagi sayang, pemerintah kita itu nggak mau ribet, nggak mau pusing merancang solusi jangka panjang seperti yang saya sebutkan di atas. Pemerintah kita pasti bukannya bodoh, hanya saja hospitality nya kurang. Membagi-bagi kondom gratis mencerminkan sikap pemerintah kita selama ini dalam mengatasi masalah-masalah pelik di negeri ini: nih gue kasih elu alat, nah pikirin sendiri, pake sendiri, terserah lu deh mau diapain yang penting gue udah ngasih.

Memang, kita tak bisa menilai keberhasilan sebuah langkah jika langkah tersebut belum dilaksanakan. Tapi ini bisa diprediksi. Coba pikirkan, misalnya kondom gratis dibagikan untuk orang yang sama sekali nggak butuh atau nggak minat. Lantas ia buang kondom tsb. Mubazir kan? Jangan se desperate gitu lah sampai bagi-bagi kondom. Kalau di Amerika Serikat ya jelas…seks bebas disana bukan hal yang tabu. Pemberian kondom itu seperti ‘langkah putus asa’ setelah bermacam-macam cara untuk mencegah penularan HIV AIDS lewat seks bebas gak mempan. But I’m pretty optimistic. Kita menjunjung budaya ketimuran. Ini bukan budaya kita banget. Masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk mengatasi wabah ini. Bersama, kita pasti bisa.

Oleh karena itu, yuk, kita klik petisi menolak Pekan Kondom Nasional di link htt://chn.ge/183Xaiu . Petisi ini akan dikirimkan ke Presiden RI, Kementerian Kesehatan RI, dan Ketua KPAN.

Ayo  buat pemerintah kita lebih aware lagi dalam mencarikan solusi untuk HIV AIDS! 🙂

Advertisements

11 thoughts on “What’s Wrong with Condom?

  1. Yup bener, saya nggak lihat, tapi denger tadi pagi temen ada yang bilang kalau kemaren di Alun – Alun ada yang bagi kondom gratis.

    Buat apa?? Gitu pertanyaan saya, istri nggak punya, dapet kondom apa disuruh zina kali 😛

    Desperate solution 😀

  2. indonesia raya emang sotoy…
    tidak mikir dengan kegiatan itu orang makin salah persepsi dengan kondom yang fungsi utamanya adalah alat pengatur kelahiran. aku aja sempat diledek temen gara gara pake kondom katanya, “sama istri kok kaya lagi ngejablay lu..?”

    padahal aku pake itu untuk mengubah paradigma dimana sebagian masyarakat kita masih membebankan urusan kb kepada perempuan. kesannya enak bener jadi laki-laki maunya bersih padahal kb itu kan untuk kepentingan bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s