Mengulik Film Adaptasi Novel Jane Austen

Nggak tahu kenapa, aku selalu suka dengan film-film bersetting sekitar tahun 1700-1800an. Apalagi kalau latar tempatnya di Inggris, dimana tokoh-tokohnya bergaun lebar, berkereta kuda, dengan jas resmi dan topi serta bergaya aristokrat dan berbicara dengan logat British yang kental. Suka deh. Nah, di antara sekian banyak film sejenis itu ada beberapa yang paling kusuka, antara lain: Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility. Dua film ini diadaptasi dari novel-novel karya Jane Austen dengan judul yang sama. Karena berasal dari pengarang yang sama, tentunya banyak banget kesamaan di antara keduanya. Nah berikut ini sedikit ulasannya.

Sense and Sensibility (1995)

Sense and Sensibility (1995)

Bercerita tentang seorang ibu (Mrs. Dashwood)  dan ketiga anak perempuannya (Elinor, Marianne dan Margaret Dashwood) yang tersingkir dari rumah warisan suaminya (Mr. Dashwood) yang diambil alih oleh anak tiri (John Dashwood) dan istrinya (Fanny) si Ibu dari istri pertama suaminya. Tak berapa lama setelah kedatangan John dan Fanny ke kediaman mereka, saudara laki-laki Fanny yang bernama Edward Ferrars menyusul. Berbeda dengan Fanny yang sinis, Edward Ferrars adalah sosok yang menyenangkan dan ramah pada Mrs. Dashwood dan ketiga anak perempuannya. Bahkan Edward pun mulai jatuh hati pada si sulung Elinor. Tak berapa lama, Mrs. Dashwood dan ketiga anak perempuannya pun pindah ke rumah pemberian salah satu saudara mereka di Devonshire, begitu juga Edward kembali ke London untuk suatu urusan. Nah, di Devonshire inilah giliran Marianne dan Elinor yang mengalami kisah cinta segitiga yang rumit, dan dari sinilah berbagai konflik dimulai.

Pride and Prejudice (2005)

MV5BMTA1NDQ3NTcyOTNeQTJeQWpwZ15BbWU3MDA0MzA4MzE@._V1_

Gak jauh beda, Pride and Prejudice juga bercerita tentang satu keluarga yang dipenuhi anak gadis. Keluarga Bennet adalah keluarga yang sederhana dengan Mr. Bennet yang agak pasif, Mrs. Bennet yang heboh dan matre, serta kelima orang anak gadis mereka yang berbeda-beda karakternya: Jane, Elizabeth, Mary, Kitty dan Lydia. Suatu hari datang ke kota mereka sebuah keluarga kaya raya yang terdiri dari kakak perempuan dan adiknya  (Mr. Charles Bingley) serta teman mereka Mr. Darcy. Kakak beradik tajir ini pun membuat pesta dansa yang juga dihadiri keluarga Bennet. Di pesta dansa tersebut Mr. Bingley pun bertemu dengan Jane. Mudah ditebak, keduanya pun jatuh cinta. Tentu saja Mrs. Bennet sangat senang melihat anaknya ditaksir cowok tampan dan kaya raya. Melihat kakaknya berhasil kenalan dengan Mr. Bingley, Elizabeth pun mencoba berkenalan dengan Mr. Darcy. Tapi duh, Mr. Darcy ini orangnya dingin bangeeet, bahkan seperti nggak suka dengan Elizabeth dan keluarganya. Nah, dari sinilah segala konflik bergulir.

Aku sendiri belum pernah baca novel-novel karya Jane Austen. Habis bahasanya kuno banget sih. Waktu lihat halaman pertama aja udah ngantuk. Maklum, rata-rata diterbitkan tahun 1811. Tapi dari novel Jane Austen sedikit banyak kita bisa melihat gambaran kehidupan masyarakat Inggris tahun 1700-1800an, terutama dalam hal perkawinan dan keluarga.

  • Pernikahan masih dianggap sesuatu yang sangat sakral dan gaya pendekatannya pun masih tergolong ‘tahu norma’. Di kedua film ini tidak ada adegan kissing ataupun seks sebelum menikah.
  • Kekayaan, kemapanan dan status sosial dianggap merupakan faktor penting yang dilihat dari calon pasangan baik laki-laki maupun perempuan.
  • Sepertinya orang-orang pada masa itu susah mengatakan segala maksud secara eksplisit. Penuh dengan tata krama dan bertele-tele dulu. Hehehe
  • Keluarga sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk jatuh cinta dan menikah pada siapapun.
  • Puisi dan musik adalah hobi yang sering dikembangkan oleh para gadis sedangkan para pria hobinya berburu dengan kuda (gubrak).
  • Mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat itu hal yang penting banget. Status sosial dan relasi adalah ‘sesuatu’ banget.

Well, banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari kisah-kisah karangan Jane Austen seperti cinta, pengorbanan, pentingnya keluarga, bagaimana tabah menghadapi ujian dalam hidup, serta keberanian perempuan. Di tahun 1800an, Jane Austen sudah banyak sekali menyisipkan tentang kekuatan perempuan. Terlihat dari karakteristik tokoh utama selalu perempuan yang digambarkan kritis, tegar, terpelajar meski tidak mengenyam pendidikan formal, punya intuisi yang tajam dan berani mengemukakan pendapat. Dan semuanya itu tetap dipadukan dengan manis pada ciri khas perempuan di masa itu: jarang keluar rumah, suka merajut, pandai memasak, dsb.

Baik film maupun novelnya recommended deh bagi yang senang drama romantis yang serius dan bikin nangis dikit 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s