Menemukan Jalan Dakwah

large

Apakah yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata dakwah? Orang-orang berjenggot atau berjilbab lebar yang keliling dari satu pengajian ke pengajian lainnya? Mereka yang disebut-sebut─ oleh sebagian masyarakat awam─ sebagai orang-orang hipokrit yang kolot, selalu menyebut-nyebut neraka sebagai ancaman dari perbuatan ingkar?

Secara bahasa, dakwah berasal dari kata da’a atau da’watan yang artinya memanggil, meminta, menyeru, secara umum bermakna: memanggil. Sedangkan secara istilah, dakwah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Abdullah Atjeh, 1971:6). Definisi dakwah lainnya adalah ‘menyeru manusia kepada kebijakan dan petunjuk serta menyuruh pada kebajikan dan melarang kemunkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khaidir Husain). Masih banyak lagi definisi dakwah, namun semuanya rata-rata sama: memanngil dan menyeru manusia untuk taat pada Allah dengan cara yang baik. Nah ini perlu digarisbawahi nih: dengan cara yang baik, jadi yang namanya aksi teroris dan bom bunuh diri itu sama sekali bukan dakwah ya.

Well, apa yang akan kubahas disini sebenarnya bukan tentang dakwah itu sendiri. Ilmuku masih jauuuh dari cukup untuk menerangkannya. Mungkin kalau kamu googling tentang dakwah, kamu akan menemukan referensi yang lebih tepat. Apa yang kutulis di posting kali ini lebih berkisah tentang diriku sendiri dalam menemukan jalan dakwah.

Di awal 2013, aku memutuskan bergabung dengan LDK (Lembaga Dakwah Kampus), sesuatu hal yang tak terduga juga bagiku selama ini karena sejak kuliah passionku sangat besar dalam dunia mengajar. Waktu itu, terdorong semangat yang sangat besar untuk mendalami dan menegakkan agamaku sendiri, aku bergabung di barisan dakwah ini. Hingga setengah perjalanan, aku masih begitu semangat, namun di tengah-tengah, aku mulai kepayahan. Bukan karena tugas dakwahnya yang berat, tetapi diriku sendiri yang tak cukup kuat. Aku sering merasa kecewa dan tak sabar. Aku tak sabar menghadapi orang-orang di dalamnya, ritme kerjanya yang penuh pengorbanan, dan tak sabar mengelola kesabaran yang harusnya ada di dalam kerja dakwah. Pada akhir kepengurusan di penghujung 2013 kemarin, aku memutuskan untuk tidak lagi mengikuti organisasi semacam ini. Beberapa tawaran datang untuk melanjutkan jabatan yang lebih tinggi di organisasi ini kutolak dengan halus. Mungkin sampai disini kamu akan geleng-geleng kepala membaca tulisanku ini. Terus baca sampai akhir yaa.

Sementara itu, aku semakin menemukan kenyamanan di rumahku yang lama, dimana sekian lama kuabdikan diri untuk mengajar sukarela. Ya, di Rumah Belajar BEM UI. Aku menemukan diriku yang lain: rela berlelah, berkorban, dan sabar disini. Aku pernah bilang kan, entah mengapa, dalam mengajar aku bisa menjadi sangat sabar. Mungkin ini yang namanya passion. Aku pun mulai sering berdiskusi dengan diriku sendiri: apa aku benar meninggalkan organisasi dakwah sepenuhnya, lalu berada disini? Tetapi kemudian aku sampai pada suatu kesadaran: dakwah itu artinya memanggil…menyeru kebenaran! Bukankah mengajar juga menyeru kebenaran, menyeru pada ilmu pengetahuan yang semuanya milik Allah? Ya, kukira itulah dakwah…dakwah harus dimaknai secara luas. Dakwah tidak terbatas pada organisasi, dakwah tidak terbatas pada kelompok mengaji. Dakwah adalah jalan menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain dengan menyeru pada kebenaran yang semuanya milik Allah.

“Dalam Surat Al Ashr ayat ketiga, ada perintah untuk menjadi orang yang beriman, dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan bersabar di atasnya. Iman dan amal saleh saja tidak cukup, sebab Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi individualis, gue-gue elo-elo, tapi juga saling menasihati. Bukan hanya bisa menasihati, tetapi juga bisa dinasihati, dengan cara yang benar dan untuk kebenaran. Inilah hakikat dakwah. Dan itu semua masih harus ditambah dengan sabar di atas jalan dakwah itu sendiri” (Ust. Arham)

Aku menemukan jalan dakwah dimana aku bisa bersabar dan mencurahkan segenap cintaku di atasnya. Lewat pendidikan. Dan aku tidak menyesali pernah menghabiskan setahun di organisasi dakwah, sebab banyak pelajaran berharga  kupetik disana. Pengalaman selama berada di organisasi itu mengantarkanku menemukan jalan dakwah yang sesuai dengan diriku. Mungkin kamu saat ini mengira kamu tidak berkecimpung dalam dunia dakwah, tetapi coba renungilah, jika memang bidang yang kamu tekuni itu menyeru manusia pada kebenaran milik Allah, mungkin itulah jalan dakwahmu. Dan dakwah menjadi misi besar manusia yang diberikan Allah di dunia ini. Semoga Allah ridha. Wallahualambishawab.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s