Sidang Tilang Tanpa Calo Tanpa ‘Damai’ (di Pengadilan Negeri Depok)

Halooooo

Lagi lagi aku melanggar janjiku untuk secara rutin bisa posting di blog ini (ouch!). Yah well, at least, aku pengen ngeblog terus disini. No matter how hard to keep it consistent 🙂

Sebenernya kisah ini udah lama ingin aku share disini. Kisah waktu aku ditilang. Yep, dulu sekitar bulan Februari lalu, aku ditilang di pertigaan Jalan Kartini dan arah Jalan Nusantara, Depok. Gara-garanya? Bonceng orang yang nggak bawa helm. Sebenarnya dari jauh aku sudah melihat ada polisi, tapi ada seorang pengendara motor lain yang lewat nggak pakai helm dan nggak ‘diapa-apain’ alias nggak ditilang, aku pun lewat dengan santai. Kupikir polisi hanya sekadar patroli saja, lagipula area jalan tersebut biasanya nggak pernah ada razia, eh nggak tahunya…

“Stop, Mbak!”

Nah lho, motorku langsung diberhentikan. Aku disuruh menepi. 

“Selamat Pagi, Mbak, Mbak tahu kan kalau Mbak melanggar peraturan lalu lintas dengan membiarkan orang naik motor Mbak tanpa memakai helm?”

Aku mengangguk-angguk saja. Polisinya ramah, dengan sigap langsung mengeluarkan surat tilang dan menahan SIM-ku.

Semula aku sudah mengira dia akan bilang ‘Yaudah damai aja yuk, Mbak?” (Kapan kita bertengkar? hehehe)..eh gak taunya polisi tsb menyuruhku untuk sidang tilang di PN Depok. Kalaupun polisi tsb mengajak damai, aku sudah siap untuk menjawab sidang tilang saja, karena aku pernah baca bahwa sidang tilang jauh lebih murah dibandingkan bayar di tempat. Lagipula, please deh…katanya benci korupsi? Katanya ingin membangun generasi antikorupsi? Kok malah melakukan praktik yang menyuburkan korupsi? Harus sinkron tuh antara cita-cita dan perilaku. Hehehe.

Oh ya, waktu aku cerita tentang hal ini ke temanku, temanku langsung menanggapi gini, “Yaudah kenapa elo gak lawan aja polisinya? Bilang aja gini ‘Pak, tuh yang tadi lewat aja ga ditilang…ini nggak adil dong’ “

Ketika temanku bilang begitu, aku cuma mesem-mesem saja. Oke, kenapa aku nggak menuntut polisi berlaku demikian karena:

Pertama, itu terdengar childish. Kamu pernah lihat dua anak kecil bertengkar dan jika si Ibu Guru menegur hanya salah satunya si pembuat onar, maka si anak akan bilang “Ih Bu Guru nggak adil! Harusnya dia juga dooong”. Nah, itu persis seperti komentar temanku di atas 😛

Kedua, aku memang telah melanggar peraturan. Sebuah kesalahan itu tetap dianggap salah bukan sekalipun ramai-ramai melakukannya. Sekalipun satu kampung melakukan korupsi tetap saja itu salah. Hanya karena orang melakukan pelanggaran yang sama dan lolos dari hukuman, bukan berarti itu mengurangi nilai kesalahan pelanggaran yang kamu lakukan bukan? Kecuali kalau pengadilannya di akhirat sana, dijamin, nggak akan ada yang lolos 🙂

Balik lagi…

Singkat cerita, datanglah aku ke PN Depok pada hari Jumat. Letaknya di Grand Depok City, dekat kantor pemadam kebakaran, di belakang Kantor Imigrasi (arahnya? tanya sama orang). Saranku dateng pagi deh, jam setengah 8 kalau bisa, biar duluan dipanggil dan cepat selesai. Begitu sampai, dari tempat parkir saja kita pasti sudah disambut oleh para calo. Segera tepis saja calo-calo ini. Begitu masuk halaman, segera jalan ke arah halaman parkir sebelah kanan, sampai belakang kantor, nah di belakang itu ada papan berisi daftar nama orang-orang tersidang. Ohya, nama-nama ini sangat acak-acakan, jadi musti teliti banget nyari si antara ratusan nama. Cari aja berdasarkan nama, kalau berdasarkan nomor (nomor yang ada di surat tilang) malah bingung. Dua tiga kali nyari lah, pasti ada kok. Nah disini juga banyak calo beraksi nawarin untuk nyariin nama (capek deh…) denga bayaran Rp.5.000. Cari aja sendiri, jangan menyerah, pasti ada koook. 

Begitu sudah ketemu, catat nomor urut yang tertera disana di surat tilang. Setelah menunggu beberapa menit, pintu ruang sidang akhirnya dibuka sekitar pukul 9. Untuk informasi sidangnya, aku tanya ke petugas pengadilan yang ada atau cleaning servicenya. Jangan sembarangan tanya ke orang, siapa tahu dia calo. Kalau calo, udah deh kamu pasti diarahin begini begitu dan akhirnya dia aja yang masuk ruang sidang. Karena aku dapat nomor urutnya masih dalam kisaran 1 sampai 150 (kalau nggak salah) aku pun masuk ruang sidang 1. Ada beberapa ruang sidang disini. Biasanya untuk sidang tilang menggunakan sampai tiga ruang sidang. Setelah ruang sidang dibuka, buru-buru deh masuk dan menaruh surat tilang di meja panitera. surat tilang itu akan ditumpuk bersama surat tilang orang-orang, dan dipanggil sidangnya dari tumpukan paling bawah (yang lebih dulu mengumpulkan). 

Akhirnya setelah nunggu agak lama…hampir jam 10 hakim dan petugas lain-lain datang. Nama-nama terdakwa (cieee terdakwa hehe) dipanggil secara kelompok, sekitar lima sampai tujuh orang. Aku masuk panggilan kelompok pertama. Tinggal maju, duduk di kursi terdakwa bersama yang lain, dan mendengarkan vonis hakim.

Wuih, rasanya duduk di kursi terdakawa…rada gimana gitu…tapi karena duduknya beramai-ramai dan semua yang menonton juga adalah terdakwa tilang, malah jadi kocak. Hehehe.

“Sarah Annisa. Denda Rp. 40.000”

Thats it. Bahkan nggak dibacakan aku melanggar pasal berapa. a  ya maklum juga sih, sidang tilang itu selalu penuh, puluhan orang mengantre. Aku langsung ke panitera yang dekat pintu keluar, bayar denda, selesai. Mudah kan?

Ternyata sidang tilang itu nggak seribet yang dibayangkan kok. Banyak tanya atau browsing aja pengalaman orang yang sudah pernah, biar pas sampai di PN kita nggak bengong dan nggak tahu harus ngapain. 

By the way, dipikir-pikir, sistem yang ada di PN Depok (nggak tahu ya di Pengadilan Negeri lainnya), memang memberi peluang banget untuk munculnya calo. Dari awal pas nyari nama aja…kenapa daftar nama tersebut harus diprint dan dicantumkan di papan? Kenapa daftar nama yang sekian ratus itu tidak ditaruh di file excel, berbentuk tabel, taruh komputer di meja resepsionis, terus orang yang ingin mencari nama tinggal pencet tombol Ctrl+F. Simple kan? Efektif, efisien, dan memupus kesempatan bagi para calo. Selain itu harusnya juga ada semacam tulisan pengumuman nomor urut sekian sampai sekian akan sidang di ruang sidang mana, biar orang-orang nggak kebingungan. Di zaman serba otomasi begini, harusnya hal-hal semacam ketidakpraktisan gini sudah jadi produk zaman batu. Sekadar saran nih untuk PN Depok, untuk menyediakan sistem seperti ini nggak butuh biaya mahal. Cukup komputer sekelas komputer warnet yang sudah ‘bodong-bodong’ sparepartnya pun sudah bisa digunakan untuk Microsoft Excel 😀

Finally, yuk biasakan diri untuk nggak mengandalkan calo atau ambil cara praktis. Ribet sedikit nggak apa, yang penting sistem negara kita jadi bersih. Semua dimulai dari diri sendiri, toh? 😀

 

Advertisements

10 thoughts on “Sidang Tilang Tanpa Calo Tanpa ‘Damai’ (di Pengadilan Negeri Depok)

  1. karena kebanyakan para calo-calo ini udah kerja sama ama orang dalem. kenapa para calo ini gak di usir ama para petugasnya? karena biasanya para calo ini bayar “setoran”. just admit it, it’s not that simple to fix this shit.

    • Iya, bisa jadi gy. Kayak lingkaran setan deh ya jadinya. Situ situ aja korupsinya. Wah elu aktif ngeblog banget ya ternyata. Makasih kunjungannya gan.

  2. Wohooo…jadi intinya si mbak ini ngaku bersalah dan mau bertanggung jawab tanpa pake calo.
    Keren..keren, soalnya udah jarang mbak uanb kayak gini 😀
    Biasanya orang pengen cari gampang 😀

  3. berantas sampai tuntas tuh koruptor nya dari yg leverl mercy sampe kelar laler… makin maju zaman makin pinter rakyatnya.. klo masih begini terus siap2 aja reformasi baru

  4. kalau pake calo kira kira berapa ka perbandingannya ? baru aja aku kena tilang di jagakarsa pas mau ke kampus istn , ternyata simku ketinggalan dan kena pasal 281 deh,

  5. Pingback: Blogwalking, Komentar, dan Nge-Blog | Annisarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s