Apa Yang Kutakutkan Setelah Semua Ini Usai

Dalam perjalanan pulang mengantar murid-muridku UN kemarin siang, aku terus-terusan berpikir sesuatu: sebuah ketakutan. Ya, aku takut. Sebentar lagi, amanahku sebagai wali kelas Paket B dan C Rumbel akan berakhir, bulan depan aku sudah akan magang, begitu juga jika aku berhasil lulus 3,5 tahun sesuai rencanaku maka kurang dari setahun lagi aku akan wisuda. Kehidupan kampus dengan segala dinamikanya akan berakhir, namun satu yang kuharapkan, jangan sampai idealisme yang terpatri dalam diriku pun ikut berakhir. Begitulah, satu-satunya yang aku takutkan kelak setelah aku lulus dan bekerja, idealismeku akan luntur. Kontemplasi sederhana ini dimulai.

Aku takut membayangkan menjadi sosok yang penuh ambisi mengejar promosi kerja dan menyingkirkan apapun yang menghalanginya, sikut sana sini. Aku takut membayangkan diriku menjadi monster yang membela mati-matian kapitalisme dengan berhala perusahaan lalu menekan hidup orang kecil dengan kekuasaan yang kumiliki. Aku takut membayangkan diriku menjadi orang yang terburu-buru mengendarai mobil mewahku, mengklakson keras-keras gerobak pemulung yang menghambat jalanku. Apakah aku akan menjadi seseorang yang lain kelak? Menjadi orang yang sama sekali tak akan kusukai saat ini? Dan ketika aku menjadi orang jenis itu, maka akankah aku juga akan membenci diriku sekarang yang penuh idealisme?

Benar kata Soe Hok Gie, idealisme adalah kemewahan terakhir dari masa muda. Akankah idealismeku terkubur di laci meja kerjaku? Aku tak sanggup membayangkan bahwa diriku akan tergerus dalam jam kerja yang mencegahku melakukan kerja sosial. Aku, kamu, tak akan mampu menjamin kelak diri kita akan tetap seperti sekarang. Tidak ada yang dapat menjamin idealismemu tidak akan tergadai. Apakah kelak kita akan melunasi impian-impian kita untuk negeri ini? Kita tidak tahu. Tak ada yang tahu. Aku punya mimpi membangun perpustakaan umum dan PKBM Terpadu. Akankah nanti aku konsisten dengan mimpiku?

Sekarang ini aku memikirkan murid-muridku, ikut berbagai forum pembangunan pendidikan, memikirkan pendidikan Indonesia saat ini…akankah aku masih seperti ini nanti? Aku ingin memberikan pendidikan nomor satu dan segala yang nomor satu untuk anak-anak keturunanku, tapi apakah dengan begitu kelak aku akan menutup mata pada nasib anak-anak lainnya di Indonesia? Sungguh aku takut menjadi ibu yang seperti itu. Saat ini aku selalu tergugah dengan kata-kata Mother Theresa “jangan sampai orang datang padamu melainkan ia jadi lebih baik setelah pergi darimu”. Orang harus menjadi lebih baik, lebih tercerahkan, setelah berinteraksi dengan kita. Karena kasih yang kita berikan. Itu sekarang. Bisa jadi nanti aku hanya akan tergugah oleh kata-kata Hitler “If you win, you need not have to explain. If you lose, you should not be there to explain”. Hidup cuma soal menang dan kalah. Tak ubahnya seperti perang.

Dulu, dalam sebuah seminar, aku ingat salah satu pembicara berkata begini: orang menjadi besar ketika dia memikirkan hajat hidup orang banyak. Memikirkan kebutuhan orang-orang di luar dirinya dan keluarganya. Itulah orang besar. Semula Soeharto adalah orang banyak yang memikirkan pembangunan negeri ini. Lama-kelamaan, sungguh kasihan, ia menjadi orang kecil. Orang kecil adalah orang yang memikirkan dirinya sendiri, memikirkan anak-anak dan keluarganya saja. Soeharto menjadi orang kecil ketika ia cemas membagikan kekayaan untuk tiap anaknya, sibuk memikirkan keuntungan untuk dirinya dan kroni-kroni pendukungnya.
Jika kamu ingat teori kapitalisme (seingatku ada dalam pelajaran Ekonomi SMA) yang diibaratkan Adam Smith sebagai invisible hands, sesungguhnya pengibaratan ini maknanya dalam sekali. Menurut Adam Smith, kapitalisme sebagai the invisible hands, tangan tak terlihat yang tanpa disadari mengatur perekonomian manusia. Bagiku, the invisible hands tak hanya mengatur perekonomian tanpa disadari. Ia juga menggerogoti setiap sisi kemanusiaan, menjadikan kesenangan sebagai pujaan, melibas kaum marjinal seperti menepuk lalat, dan mencerabut paksa idealisme yang dimiliki tiap anak muda.

Aku tak ingin menjadi orang kecil seperti Soeharto. Aku tak ingin ditepuk-tepuk sayang oleh the invisible hands. Tetapi akankah aku bisa menjamin diriku terhindar dari itu semua?

Pada masa ideologi romantisisme melanda Eropa berabad-abad lalu, banyak kaum romantik memilih mati muda dengan bunuh diri. Mereka mengangggap bahwa setelah melewati usia paruh baya, manusia tak akan romantis lagi. Manusia akan menjadi sekrup-sekrup kekuasaan. Menurut Soe Hok Gie, nasib paling baik adalah tidak dilahirkan, nasib cukup baik adalah mati muda, dan nasib buruk adalah hidup sampai tua. Mati muda, ketika semangat sedang menyala. Sebelum tua, ketika tubuh telah renta dan tak lagi berguna juga dilupakan.

Namun dalam kepercayaanku, seorang yang beriman hendaknya menghadapi kematian dengan penuh kelegaan. Sebab pada saat itulah ia akhirnya terbebas dari dunia yang demikian dahsyat godaannya. Waktu adalah cukup bagi setiap manusia. Mau umur sampai tua atau hanya sampai usia muda, itu adalah cukup baginya. Mau mati muda atau mati tua, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Mau mati muda atau mati tua, tugas manusia hanya mengabdi dan menjadi khalifah di bumi. Memberi dan melayani sebesar-besarnya.

Ya, aku hanya terus mendekap doa, agar kelak aku akan tetap pada idealismeku ini: memperjuangkan apa yang menurutku benar, apa yang patut untuk diperjuangkan, apa yang bernilai untuk diperjuangkan, dan apa yang diridhai oleh Tuhanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s