Pustakawan Cantik

Rambut panjang tergerai, wajah cantik, tubuh ramping, penampilan modis, sikap ramah, dan suka tersenyum. Apa jenis pekerjaan yang terlintas di pikiran Anda ketika disebutkan ciri-ciri fisik tadi? Biasanya kita akan mudah membayangkan ciri fisik di atas adalah milik pekerjaan model, sekretaris, atau pramugari. Tetapi dalam film pendek Thailand besutan Nattawut Poonpiriya berjudul The Library, sosok tersebut hadir dalam tokoh seorang pustakawati yang bekerja di sebuah perpustakaan umum. Lho, kok bisa? Ya, dalam film berdurasi sekitar 30 menit itu mengangkat tokoh utama Anne, seorang pustakawati cantik dan kisah cintanya dengan pengunjung perpustakaan. Film pendek ini telah dipublikasikan di YouTube sejak Agustus 2013 dan telah ditonton 712.795 kali dengan respon yang rata-rata positif. Profesi pustakawan dengan citra yang sangat ‘berbeda’ agaknya menjadi salah satu daya tarik The Library selain plot ceritanya yang unik. The Library sekaligus pula menambah deretan perubahan citra pustakawan dalam fiksi populer. Sebelumnya, citra pustakawan juga pernah ditampilkan dengan kesan yang ‘berbeda’ dalam film Hollywood bergenre pertualangan berjudul Librarian dengan beberapa sekuelnya. Pada film tersebut pustakawan digambarkan sebagai pahlawan yang selalu berpetualang untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah yang dimiliki perpustakaan.

Penggambaran tokoh pustakawan di kedua film di atas tentunya sangat berbeda dengan karakter pustakawan yang dideskripsikan dalam fiksi populer umumnya. Kirkendall (1986) mengemukakan hasil surveinya mengenai citra pustakawan dalam sebuah game show bernama ‘Family Fued’ yaitu ada 5 karakteristik yang merepresentasikan pustakawan: 1) pendiam, 2) tenang, 3) belum menikah, 4) kaku, 5) berkacamata. Sedangkan Megan A. Rudolph dalam tesisnya berjudul Librarians in Film: A Changing Stereotype mengemukakan bahwa dari penelitiannya terhadap 20 film yang menampilkan karakter pustakawan antara tahun 1921 hingga 2004, ditemukan beberapa stereotip yang melekat pada karakter pustakawan yaitu: wanita, berkacamata, dan memiliki tatanan rambut seperti ‘roti’. Namun seiring berjalannya waktu, karakter pustakawan lelaki pun muncul dan tokoh pustakawan menjadi tokoh utama dalam film. Dari segi genre pun semakin variatif. Film dengan tokoh pustakawan yang biasanya bergenre drama perlahan diselingi dengan genre komedi bahkan action (dalam Azzasyofia, 2012).

Membangun citra

Meskipun sejak tahun 2000-an citra pustakawan dalam fiksi populer telah mengalami pergeseran dari stereotip karakter yang disebutkan di atas, pada realitanya citra pustakawan relatif tidak berubah bagi masyarakat. Pustakawan tetap dikenali sebagai jenis pekerjaan dengan karakter kaku, galak, pendiam dan serius. Survei yang penulis lakukan pada 43 responden mahasiswa dengan rentang usia 18-24 tahun menunjukkan kata yang sering muncul dalam kepala mereka untuk mengidentikkan pustakawan adalah buku, perpustakaan, kacamata, kutu buku, dan galak. Tiga kata pertama jelas bukanlah kata sifat, namun dua kata sifat sisanya yang mencirikan pustakawan tergolong bukan kesan yang positif. Citra pustakawan yang terbangun di kalangan muda tersebut bisa jadi disebabkan adanya pengalaman yang kurang menyenangkan dengan pustakawan. Sebanyak 67% responden mengatakan pernah merasakan pengalaman tidak menyenangkan dengan pustakawan sedangkan hanya 33% responden yang menyatakan tidak pernah.

Salah satu responden mengungkapkan, pernah suatu kali ia mengunjungi perpustakaan kampusnya, ia merasa kebingungan mencari buku yang ia inginkan. Maklum, ada hampir sekitar 2 juta koleksi di sana. Maka dengan besar harapan akan mendapatkan petunjuk, ia pun mencoba bertanya pada pustakawan. Namun respon yang didapatkan justru di luar harapan. Dengan wajah masam dan nada ketus pustakawan tersebut menjawab, “Di sini koleksinya banyak. Anda cari dulu dongdi katalog, setelah itu baru Anda cari sendiri di rak”. Karena mendapat jawaban yang tidak mengenakkan, responden tersebut merasa kecewa dan jengkel hingga tak mau lagi mencari informasi di perpustakaan. “Lebih baik saya mencari di Google Scholar atau download ebook di internet”. Pengalaman serupa juga dialami responden lainnya yang pernah dimarahi seorang pustakawan hanya karena membawa tas ke dalam ruang koleksi. “Saya baru sekali ke sana, nggaktahu peraturannya begitu. Harusnya pustakawan itu nggak perlu memarahi saya. Cukup beritahu baik-baik. Saya kan’ jadi malu dimarahi di depan orang banyak. Nggak akan deh saya ke sana lagi…kapok!”

Nah, tentunya kita akan menjadi tak habis pikir, ada apa sih dengan pustakawan-pustakawan ini? Mengapa mereka selalu dalam mood yang jelek? Mengapa mereka seolah enggan mencarikan buku yang kita butuhkan? Apa pekerjaan mereka membosankan? Apa mereka digaji rendah? Itu semua butuh penelitian lebih lanjut. Tapi yang pasti, mempertahankan attitude seperti itu hanya akan membuat orang semakin enggan datang ke perpustakaan. Segencar apapun promosi yang dilakukan perpustakaan akan sia-sia tanpa pustakawan yang user friendly. Jika perpustakaan diibaratkan sebagai toko perhiasan ternama yang menjual berbagai emas, permata, dan benda berharga lainnya, maka pustakawan bisa diibaratkan sebagai ahli perhiasan yang bertugas memberikan saran dan masukan yang bermanfaat bagi pembeli perhiasan. Layaknya ahli perhiasan yang mencoba memadankan pembeli dengan perhiasan koleksinya, pustakawan harus dapat memadankan pengunjung dengan buku yang tepat sesuai informasi yang sedang ia butuhkan.

Terkadang pula kita temui pustakawan yang selalu memicingkan mata mengawasi pengunjung terus-menerus sambil sibuk mengangkat telunjuk ke bibir lalu ber-‘ssst-ssst’ galak. Halo? Pustakawan bukan satpam. Jika terus-menerus mengawasi agar jangan sampai buku dicuri dan suasana menjadi aman-tenang-terkendali, apa bedanya pustakawan dengan satpam? Memangnya mengapa ada satu dua buku yang hilang? Mengapa harus merasa sebal jika buku berantakan? Justru itu menandakan koleksi perpustakaan ‘laku’ bagi pengunjung. Perpustakaan berbeda dengan toko buku yang mengejar keuntungan. Satu-satunya keuntungan terbesar perpustakaan adalah ketika koleksinya digunakan masyarakat semaksimal mungkin.

Kita tentu sepakat bahwa wajah cemberut dengan penampilan membosankan khas kutu buku harus segera disingkirkan dari diri pustakawan. Tidak juga perlu berpenampilan yang ‘wah’ ala eksmud alias eksekutif muda, cukup dengan penampilan casual nan rapi saja sudah memberi kesan ‘bersahabat’ dengan pengunjung. Tak lupa disertai senyum manis dan sikap yang hangat. Dalam salah satu adegan di novel best seller berjudul Rantau 1 Muara, sekuel kedua trilogi Negeri 5 Menara yang diangkat dari pengalaman nyata penulisnya, diceritakan pengalaman Alif si tokoh utama ketika mengunjungi Library of Congress, perpustakaan nasional Amerika Serikat. Pustakawan di sana dengan senang hati membantu Alif mencarikan buku-buku yang tergolong langka. Bahkan sambil tersenyum riang pustakawan itu berkata, “It is always nice to match a book with a person”. Dari kata-kata tersebut dapat ditangkap kesan energik, ramah dan menyenangkan dalam diri si pustakawan. Membuat siapa saja betah berlama-lama mengeksplorasi perpustakaan. Sedikit lips service tidak akan membuat rugi, kok. Salah seorang responden pernah memiliki pengalaman berinteraksi dengan pustakawan seperti ini di perpustakaan kampus. Pustakawan tersebut adalah seorang bapak berusia paruh baya, berkacamata tebal dan berpenampilan seperti karyawan pada umumnya. Tidak ada yang menarik sebenarnya, namun ketika si responden menyodorkan buku-buku yang hendak dipinjam, ia memperhatikan dengan seksama dan berbasa-basi dengan ramah, “Wah, buku yang dipinjam banyak amat, Mbak? Mau nulis penelitian ya?” atau “Mbak jurusan A tapi suka baca buku jenis ini juga, ya? Bagus sekali memang kalau kita memperluas wawasan”, dan sederet kata-kata suportif lainnya. Ternyata ia tidak hanya memberikan lips service pada responden tersebut tetapi juga pada setiap pengunjung lainnya. Pustakawan itu berusaha membangun keakraban dan membuat orang merasa tepat meminjam buku di perpustakaan. Inilah gaya komunikasi pustakawan masa kini.

Memang, tak mudah mengubah citra yang telah begitu melekat. Tetapi bukan berarti pustakawan harus bersikap seperti stereotip yang telah terbangun. Sebaliknya, pustakawan di masa sekarang harus mampu mengubah stereotip tersebut. Pustakawan harus selalu ingat bahwa yang mereka layani adalah manusia, dan setiap manusia selalu ingin diperlakukan dengan baik. Terlebih, ada efek domino yang menakjubkan dari citra positif yang dibangun pustakawan. Citra positif pustakawan akan membuat orang-orang merasa nyaman dan terus merasa tertarik datang ke perpustakaan. Dengan semakin banyaknya orang ke perpustakaan, kebutuhan informasi masyarakat semakin terpenuhi. Kebutuhan informasi yang terpenuhi otomatis memperluas wawasan dan pengetahuan masyarakat hingga akhirnya perpustakaan pun turut berperan mencerdaskan masyarakat. Dari sebuah perubahan kecil pada citra pustakawan saja dapat membuat perubahan besar bagi sekitarnya. Jadi, pilihan sekarang ada di tangan para pustakawan. Selamanya ingin dicap membosankan dan menyebalkan, atau sebaliknya, menjadi pustakawan ‘cantik’ dan ‘merebut hati’ pengunjung perpustakaan.

 

P.S. Ini adalah tugas artikel populer dalam mata kuliah Penulisan Populer yang diselenggarakan Prodi Sastra Indonesia. Kebetulan semester ini aku mengambil matkul tsb sebagai matkul pilihan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s