Ci(n)ta

Banyak orang yang batal menikah. Jangankan batal menikah beberapa bulan sebelum hari H atau yang hubungannya kandas sebelum ‘tanda jadi’ akan menikah. Wong yang hari H dan tinggal beberapa jam lagi akad saja bisa batal. Dan alasannya pun bisa beragam, dari mulai kurang cocok sampai sudah tidak cocok lagi dunianya alias ditinggal mati šŸ˜¦

Di sisi lain, namanya manusia, bisa berubah pikiran. Hari ini bilang A, dua minggu lagi mungkin akan bilang C. Kemarin janjinya B, eh nggak tahunya kenyataannya jadi Z. Begitulah manusia. Tapi gimana dengan soal menikah? Apakah sesimpel itu dengan hari ini bilang ‘saya akan menikahimu’ kemudian besok berubah jadi ‘setelah dipiki-pikir…nggak jadi deh’. Apakah segampang itu?

Tapi kan….Allah Maha Membolak-balikkan hati hamba-Nya?Ā 

Nah ini nih. Alasan yang agak gimanaaaa gitu. Memang, Allah Maha Membolak-balikkan hati, tapi menurutku dibalikkan hati kita itu mengikuti arah kemana kita membawa perilaku diri kita. Kita manusia dianugerahiĀ free will.Ā Ā Misal, kalau selama ini kita sering dekat melakukan yang buruk-buruk, ya jelas saja hati kita jadi dibalikkan Allah untuk condong pada keburukan. Intinya, jangan jadikan bahwa Allah Membolak-balikkan hati manusia sebagai pembenaran bagi tingkah laku kita yangĀ mencla mencle.Ā Ketika bicara pernikahan, otomatis bicara komitmen yang berat. Nggak seenteng itu membatalkan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Komitmen lemah tapi masih mengelak ya contohnya kata-kata ini nih:Ā abis mau gimana lagi…ya memang perasaan saya berubah…kan’ Allah Maha Membolak balikkan hati manusia…

Jadi, agak sakit rasanya untuk menerima alasan batal menikah dari yang sebelumnya mengatakan ‘saya siap menikahi kamu’ lalu jadi ‘saya belum siap’. Semula mengatakan akan segera menikahi kemudian jadi berpikir seribu kali dan lebih nyaman hanya mengembangkan hubungan menjadi cinta sejenis pacaranĀ just for fun.Ā Atau akhirnya lebih memilih kembali pada kekasih lama yang tak mensyaratkan tanggung jawab pernikahan. Kok ini ada selipan curhat

LOVE

Ci(n)ta. Kata ini, kalau kita mengesampingkan dulu huruf ‘N’-nya, maka menjadi Cita. Sebuah naluri yang mengandung cita, mengandung harap, untuk melabuhkan perasaan anak manusia dalam keridhaan-Nya. Di sisi lain, anggaplah ‘N’ itu akronim dari Nafsu. Nafsu yang kumaksudkan di sini bukan hanya nafsu biologis saja, tetapi juga hasrat memiliki sertaĀ nafsuĀ untuk terus bersama dan tak terpisahkan serta menjadikan seseorang sebagai keinginan terdalam.

Selama dua tahun terakhir ini, aku belajar banyak tentang cinta, cita, dan akronim N itu. Ada cinta yang sebelumnya datang dalam diam, dalam sebuah cita-cita dan perasaan malu. Kemudian ada cinta yang benar-benar menyapa dan pertama kali menjanjikan manisnya pernikahan dibalut dengan faktor N tersebut: rasa ingin memiliki dan ketiadarelaan. Akhirnya cinta yang membalut dirinya dengan N tersebut kandas tanpa permisi. Meninggalkan sejuta tanya dan sederet konflik khas FTV lainnya: pengkhianatan, kebohongan, ke-engga jelas-an hingga masalah keuangan.

Katanya, di usia 20-an, sudah wajar bicara cinta disertai bicara pernikahan. Cinta lawan jenis di usia dewasa, mau dibawa kemana lagi sih kalau nggak ke rumah tangga? Begitu katanya. Tapi bagiku, pernikahan adalah demikian sakral. Nggak bisa seenaknya dijanjikan pada setiap orang, tidak sepatutnya dibicarakan dan direncanakan dengan keluarga (terutama keluarga perempuan) jika memang nggak benar-benar niat dan berubah drastis karena ketidaksiapan yang tiba-tiba. Dan nggak juga pergi tanpa penjelasan begitu saja. Itu perasaan manusia, bukan mainan. Perasaan manusia bisa berbeda-beda. Ada yang mudah sembuh setelah terluka, ada yang sulit untuk sembuh, tapi ada juga yang terlihat sembuh tapi menyisakan trauma.

Ya artinya nggak jodoh. As simple as that.

Ya, pada akhirnya kita akan menarik kesimpulan sederhana di atas. Daripada pusing-pusing menganalisa ‘why oh why’, sebagianĀ orangĀ lebih memilih untukĀ berlapang dada. Lalu aku menemukan cinta yang dulu lagi dalam pintu-pintu hati yang terdalam. Ia masih di sana, berbalut cita dan harapan akan keridhaan-Nya.Ā Bahwa cinta karena Allah, dan bukan karena janji manis pernikahan, itu adalah yang terbaik. Dan jika cinta itu tiada pernah sampai, biarlah cinta itu menjadi sebuah kebahagiaan bagi kebahagiaan orang lain. Menjadi doa dalam malam tak berjeda. Rasa sakit itu ada, menuntut untuk dirasakan barang sejenak, tapi…

Allah pasti akanĀ menggantikan dengan yang lebih baik šŸ™‚

5cbcc6c8e03b721eec46e65c46c36cd7

 

*by the way, ini gambarnya kok agak unyu-unyu gimana gitu. Hehehe šŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s