Mengapa Memilih Taaruf?

tumblr_lioe24ZYPg1qcf9ito1_500_large

Sudah lama nggak posting, sekalinya posting nuansanya beginian ya…hehehe.

Baru kerja sebentar sudah ancer-ancer mau nikah nih ceritanya? 😀

Nah, aku menulis ini sebenarnya bukan lagi dalam suasana mellow-mellow atau bagaimana. Hanya sekarang, di saat banyak undangan pernikahan dari teman-teman berdatangan,  aku jadi banyak berpikir, mempertanyakan dan merenungkan: kenapa sih aku akhirnya memilih taaruf untuk jalan ke pernikaha? Kenapa nggak memilih jalur lain yang pada umumnya dilakukan orang-orang, ehem, pacaran?

Kalau kita tanya sama orang-orang yang mantap memilih taaruf, rata-rata akan menjawab begini: ingin mencari jodoh dalam keridhaan Allah, ingin menjaga kesucian diri, atau pernikahan itu kan sesuatu yang baik, mulailah sesuatu yang baik dengan awal yang baik, mulai yang halal dengan jalan yang halal. Bla bla bla alasan religius lainnya. Oke, aku sebut ini variabel tetap. Ibarat penelitian, alasan semacam ini adalah variabel tetap, variabel yang harus ada.  Mutlak, nggak bisa dikompromikan lagi harus ada dalam taaruf. Harus ada niatan lillahita’ala.

Terus, variabel pengubahnya apa dong? Nah ini variabel yang ikut mempengaruhi juga variabel tetap di atas. Namanya juga ‘pengubah’, bisa mengubah jadi keliru atau mengontaminasi variabel tetap , bisa juga mengubah jadi lebih baik atau menguatkan variabel tetap. (Gaya banget ya anak IPS ngomongin beginian 😀 )

Aku pernah dengar alasan orang mau taaruf begini (dan anehnya aku juga pernah sesekali mikir begini):

Kapok pacaran lama-lama ujungnya nggak jadi juga! Mending taaruf”

“Udah capek pacaran nggak ada kepastian. Taaruf aja deh maunya langsung nikah!”

Aku memang belum pernah menjalani taaruf (ya doain aja ya moga ada lelaki sholeh yang habis kepentok kepalanya terus mau ngajuin taaruf sama aku. Hahaha) , tetapi aku sedikit banyak tahulaaah prosesnya. Ini gara-gara murrabiyah alias guru ngajiku gencar menyosialisasikannya juga 😛

Setahuku, taaruf itu bukan tanda jadi bakal langsung nikah. Jadi ini menepis alasan-alasan di atas. Kalau kamu sudah capek pacaran, capek di PHPin ke pelaminan, maka taaruf bukan berarti adalah solusi instan atau jalur fast track untuk kamu menuju gerbang pernikahan. Karena kan’ prosesnya gini:

Kamu udah mau nikah –> minta dicariin jodoh ke guru ngaji atau orang yang amanah –> tuker-tukeran biodata sama si balon (bakal calon) –> ketemuan dengan si balon (dengan mediasi perantara tentunya) –> pertimbangan –>khitbah alias lamaran –>nikah

Nah coba perhatikan yang kutulis bold itu. Pertimbangan. Artinya antara kita dan si balon sama-sama nimbang kira kira lanjut atau enggak nih. Bisa aja kan’ dia nggak seganteng/secantik foto yang ada biodata, atau ternyata dia hobi kentut bikin kamu ilfeel. Hehehe. Jadiiiii? Jadi ya taaruf itu nggak langsung jadi bakal nikah laaaah. Makanya disini penting netralitas. Ini #notetomyself juga sih sebenernya.

Kenapa dalam taaruf etikanya nggak boleh condong ke satu orang? Masa berdebar-debar dikit, ada rasa serr serr dikit lihat biodatanya si balon nggak boleh sih? Lagi-lagi, menurutku inilah salah satu kelebihan taaruf dibanding jalur lainnya, yaitu adanya manajemen resiko. Risk management istilahnya (Hihihi bahasa orang bisnis neh). Netralitas hati itu merupakan bentuk manajemen resiko. Misalnya pas tahap tuker-tukeran biodata kita dan si balon klop, terus pas ketemu nggak klop…ya nggak kecewa-kecewa amat. Gak sampai baper *bahasa anak jaman sekarang. Nothing to lose. Cari lagi yang lain. There are a lot of fish in the sea! Kalau kata Ustadz Salim A. Fillah, ” Nggak harus dia, yang penting karena Dia!” (nunjuk ke langit, sambil berusaha menetralkan hati)

7182353474_0c06fe95ea (1)

“Pengen taaruf aja, banyak yang pacarannya bertahun-tahun eh nikah cuma seumur jagung!”

Ini juga variabel pengubah yang keliru menurutku. Kenapa? Karena taaruf pun nggak menjamin langgengnya pernikahan. Ada kok pasangan yang menikah dengan cara taaruf kemudian bercerai. Dan ada juga yang dengan jalan pacaran dan langgeng sampai tua. Lhooo kok bisa? Nah lagi-lagi kurasa perlu diubah perspektifnya nih, Taaruf itu soal bagaimana cara kita menikah dengan jalan yang halal. Soal bagaimana nanti kita membawa biduk rumah tangga (ceilah bahasanya) itu sudah lain cerita. Aku pernah denger tuh ceramah seorang Ustadz (duh aku lupa namanya). Beliau bilang gini “Dalam Islam itu pernikahan yang penting bukanlah langgengnya, atau banyak rezekinya, atau banyak anaknya…tetapi yang penting adalah berkahnya. Sebab ada pernikahan yang langgeng tapi bagai neraka di dalamnya, ada pernikahan yang punya banyak anak tapi rusak seluruhnya, ada yang rezekinya mewah tapi tidak ada kehangatan di sana”. Makanya, kalau kupikir-pikir lagi, Islam tidak mengenal konsep pernikahan ideal sebagai ‘sehidup semati, till death do us apart‘ tetapi konsep ‘sakinah mawaddah warrahmah’. Di zaman Rasulullah, ada juga sahabat baik yang laki-laki maupun perempuan yang bercerai. Dan mereka nggak melalui jalan pacaran tentunya. Yah kalau sudah benar-benaaaar sulit mempertahankan pernikahan, mau gimana lagi?

Aku pernah nonton film Indonesia judulnya ‘Hari untuk Amanda’. Filmnya udah agak lama sih, cari aja deh di Youtube udah ada full movienya. Ada salah satu adegan film ini yang bagus banget ketika si tokoh utama, Amanda, galau memastikan perasaannya antara si tunangan yang baru setahun pacaran atau mantan kekasih yang sudah 8 tahun pacaran dulu. Amanda bilang gini ke kakak ceweknya (yang sudah bercerai dengan suaminya), “Semua harus dipastiin, Kak! Biar nggak cerai nantinya”. Si kakak menjawab, “Waktu aku nikah dulu, aku juga yakin banget kok sama mantan suamiku. Tapi kan, yang namanya cerai itu resiko pernikahan

Jadi, perceraian itu bukan resiko dari pacaran atau dari taaruf, tapi dari pernikahan itu sendiri. Rasanya aku agak aneh mendengar ada orang yang menyalahkan jalur masuk pernikahan menjadi sebab bercerai.

“Kelamaan pacaran sih…jadinya bosen pas nikah, selingkuh deh, cerai deh!”

Waktu itu langsung nikah sih, kenal belum lama udah langsung nikah. Kayak beli kucing dalam karung. Jadinya cerai kan…”

Yah…itu sih tergantung gimana kita ngebawa rumah tangganya nanti.

Jadi, kesimpulan dari renungan siang bolong di tengah long weekend ini adalah: ketika kita memilih taaruf sebagai cara kita menikah, maka kita perlu memiliki alasan logis yang bisa membuat kita istiqomah memantapkan hati. Bukan karena kapok masa lalu, bukan karena ketakutan di masa depan, tapi lagi-lagi karena kita kembali ke variabel tetap di atas: karena Allah Ta’ala. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Mengapa Memilih Taaruf?

  1. Salam kenal…
    Terima kasih sudah berbagi ilmu. Kesimpulannya yang saya tangkap, taaruf bukan sebagai standar langgeng tidaknya sebuah pernikahan. Tapi awal yang baik untuk mencari ridha Allah Swt. dalam pernikahan.

  2. Pingback: Blogwalking, Komentar, dan Nge-Blog | Annisarah

  3. Pingback: Berserah | Annisarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s