Move On!

assalamualaikum-beijing-reva

Tahun 2015 mungkin bisa kubilang adalah tahunnya move on bagi diriku. Sampai menginjak bulan keempat, dan sebentar lagi bulan kelima, aku banyak belajar move on, lebih tepatnya belajar dari berbagai hal yang membuatku, mau tak mau, suka tak suka, harus move on.

Awal tahun 2015-ku sudah dibuka dengan kesedihan. Hanya 3 minggu menjelang sidang skripsi, seorang pemuda yang selama ini dekat denganku, merencanakan pernikahan bersama, tiba-tiba saja memutuskan untuk pergi membatalkan semuanya dengan alasan tak siap secara finansial, sudah bosan, sudah tidak cinta. Lalu ternyata terbukalah ia sudah berkhianat dengan gadis lain. Sedih? Pastinya. Di bulan-bulan awal 2015 aku masih sering menangis di malam hari, masih nggak bisa terima kenyataan, masih dendam, marah, merasa ditipu habis-habisan dan sebagainya.  But thank God, I can pass it 🙂 Setelah melalui itu semua, kini ketika aku menengok lagi ke belakang, aku surprised dengan ketegaranku sendiri dan tanpa sadar aku tersenyum… I did it. 😀

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

Jujur saja, ini ayat yang terus kuingat berulang-ulang agar bisa sampai di satu titik bernama mengikhlaskan. Ikhlas. karena semua kesedihan dan kegembiraan dalam hidup kita itu sudah ada skenarionya. Kalau akhirnya aku patah hati, itu sudah bagian dari skenario, begitu juga aku lulus, diterima kerja, sakit, dan lain-lain. Bedanya sama skenario film, kita sebagai aktor nggak ada yang tahu jalan cerita berikutnya gimana, so kita hanya harus berdoa dan berusaha. Setelah bisa mengikhlaskan, jalan pikiranku pun jadi lebih simple. Patah hati itu its everybody’s story. Bahkan laki-laki seperfect Rasulullah SAW saja pernah mengalami patah hati waktu ditinggal mati Khadijah….apalagi kita-kita yang blangsak begini? Hehehe. Lagian yaaa bagus deh dia cabut dari hidupku…kalau dia nggak cabut, nanti yang beneran the one and the best for me  nggak bisa masuk dong? Hohoho. Anggap aja Tuhan sedang menepuk pundak kita dan mengatakan, “Hei, nggak gitu skenarionya. Plot ceritanya adalah orang seperti ini tidak berjodoh dengan kamu. Kamu itu akan berjodoh ciptaan-Ku yang lebih baik”.

Insya Allah 🙂

Move on yang kedua, adalah masa transisi dari kuliah ke dunia kerja. Dari kurang lebih selama 16 tahun belajar, sekarang bekerja. Ini dua kata yang beda banget. Ya memang sih, manusia nggak akan pernah berhenti belajar. Tapi secara keseharian formal, prakteknya tentu sangat jauh berbeda. Ketika belajar di sekolah dan di kampus, target kita yang utama hanyalah angka-angka yang tertera di nilai. Namun ketika bekerja…target kita jauh lebih kompleks: jenjang karier, capaian performance kita selama bekerja, penghasilan, promosi jabatan, passion…dan banyak hal lainnya. Kita akan merasakan lingkungan yang jauh lebih kompetitif dibandingkan persaingan dengan teman sekelas. Juga ada perubahan mendasar dari aktivitas kita: dari biasanya disuapi, sekarang mencari sesuap nasi hehehe.

Jujur saja selama sudah 3 bulan bekerja, aku sendiri masih mencari ritme kerja yang pas dengan diriku. Masiiiih perlu banyak menyesuaikan diri. Etos kerja, bagaimana menyampaikan pendapat, bagaimana bekerjasama, bagaimana mengikuti sistem, de el el. Dan sejauh ini, dalam bekerja aku suka jika aku memegang kendali penting, memiliki tugas yang penting, ya pokoknya jadi orang penting lah. Hehehe. Aku nggak mau cuma jadi pegawai yang kerja seperti mesin, pergi pagi pulang malam, hanya peduli pada job desknya sendiri, tidak peduli perusahaan akan bagaimana, mencapai profit atau tidak, tidak peduli sustainability kariernya, yang penting baginya cuma tugas kelar dan tiap bulan dapat gaji. Kalau kata Rhenald Kasali, ini tipe pegawai yang bermental passenger alias kehadirannya di perusahaan cuma sekedar numpang lewat, tidak memberi kontribusi yang benar-benar berarti. Naaah aku nggak mau jadi kayak gitu.

Dan dari keinginan itulah… yang mengantarkanku ke move on yang ketiga (!). Yaitu….jeng jeng jeng….resign  🙂

Lho? Kan’ baru 3 bulan kerja? Masa udah resign?

Jadi gini, seperti yang kubilang di atas, aku ingin bisa berkontribusi lebih, posisiku dianggap cukup penting, dan mempunyai jenjang karier yang lebih jelas. Di pekerjaanku yang sekarang, aku merasa, bukannya sombong nih…hmm kurang menantang. Karena tugas-tugasnya menurutku masih bisa dihandle oleh lulusan D3 bahkan lulusan SMK Administrasi Perkantoran yang terlatih dengan baik pun bisa. Jadi ngerasa sayang gitu sama kompetensi yang kumiliki. Bukan maksudnya aku udah high qualified lho, tapi ya…ibaratnya gini, kamu bisa nyetir mobil balap F1, tapi kamu disuruh nyetir mobil taksi. Naaah sayang dong skill yang kamu punya? Selain itu ada beberapa hal yang tak bisa kuceritakan detail disini yang membuatku menyimpulkan posisiku di perusahaan ini kurang menjanjikan untuk jenjang kariernya. Di sisi lain, karena aku orangnya idealis, aku merasa kurang cocok dengan budaya kerja dan birokrasinya,

Tapi selama 3 bulan di perusahaan ini, nggak dipungkiri, aku merasa dapat banyaaaaak pengalaman dan pengetahuan. Orangnya friendly-friendly semua dan aku cukup mudah beradaptasi di sini. Aku banyak dapat pengetahuan tentang kerja, tentang etika kerja, terutama tentang administasi kantor. Aku benar-benar berterima kasih dan apreciate  banget dengan perusahaan ini yang sudah memperlakukanku dengan sangat layak. Tapi yeah…karena manusia pada dasarnya ingin selalu mencari yang lebih baik, I think its time to move on. 

Yang menarik, atasanku justru mendukung jika aku ingin pindah. Beliau bilang aku masih muda, masih banyak kesempatan, wajar saja jika ingin mencari tempat yang lebih baik. Lagipula aku masih masa probation alias percobaan (biasanya di perusahaan masa probation itu 3 bulan). Namanya juga coba-coba, kalau cocok lanjut, kalau engga ya udahan. Alhamdulillah proses untuk resign ini dimudahkan. Tepat 2 Mei nanti adalah habisnya masa probation-ku di perusahaan ini sekaligus tanggal resmi aku resign. Berhubung 2 Mei adalah weekend dan 1 Mei adalah Mayday, maka aku bekerja disini hanya sampai 30 April yang mana tinggal 4 hari lagi. Alhamdulillah, aku sudah ditawari bekerja di perusahaan lain mulai tanggal 4 Mei nanti. Perusahaan yang baru ini adalah perusahaan asing yang baru ekspansi di Indonesia berlokasi di Mega Kuningan. Posisiku masih sama, jadi tenaga administrasi juga, tapi dengan jobdesk yang lebih kompleks dan menurutku lebih menantang. Ya nanti deh ya aku crita-crita lagi di sini. Yang pasti aku berharap pekerjaanku berikutnya lebih baik dan lebih menyalurkan potensiku. Aaamiin 🙂 Untuk salary…ya alhamdulillah yah…mengalami kenaikan cukup signifikan dan semakin memotivasiku untuk pindah kerja. Hehehe.

Tempat kerja baru, kolega baru, tugas baru, tantangan baru…jujur saja aku cukup deg-degan. Semua dimulai lagi dari nol >.< Tetapi, Rasulullah SAW berhijrah dengan umat menuju tempat yang lebih baik, Madinah, untuk meningkatkan taraf hidup umat dalam segala bidang, membangun masyarakat yang lebih baik dan solid, serta memperluas pengaruh Islam. Juga para ulama yang berhijrah, pindah mengembara kemana saja untuk menebarkan kebaikan dan ajaran agama. Apalagi aku dong yang masih muda, sehat dan produktif ini. Harus berani hijrah, pindah demi mengembangkan diriku lebih baik lagi. Move on, move on, move on!

Well, akhirnya ceritaku tentang move on ini ingin kututup dengan lagu bertema move on yang lagi aku suka dengerin. Judulnya Moving On oleh Ridho Roma (wow, keren juga nih Bang Ridho Roma bisa bikin lagu begini). Katanya sih intronya kayak Chasing Cars nya Snow Patrol tapi tetep easy listening kok menurutku. Pas banget buat jadi soundtrack kita selama proses move on. Semangat! 😀

Advertisements

One thought on “Move On!

  1. Pingback: Ketika Teror itu Benar-benar Datang – Annisarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s