Cerita Ramadhan (2)

Suatu ketika, aku menemani Mamaku berbuka puasa di foodcourt Depok Town Square (Detos). Saat itu aku masih belum berpuasa. Seperti biasa, menjelang berbuka puasa foodcourt Detos sudah ramai dengan orang-orang menanti berbuka bersama. Semua tempat duduk penuh tak bersisa. Sampai akhirnya kami pun menemukan tempat duduk yang disediakan di salah satu booth yang menjual minuman dan snack. Tempat duduk itu berbentuk meja bar kecil, persis berhadapan dengan penjualnya. Jadi kami benar-benar ‘menonton’ waitress booth tersebut mondar-mandir melayani banyaknya orang-orang yang memesan minuman dan snack. Subhanallah, pembelinya rasanya nggak abis-abis. Belum selesai satu, yang lain datang. Bahkan sampai detik-detik menjelang adzan Maghrib, masih ada saja yang membeli di booth tersebut. Empat orang waitress rasanya nggak cukup untuk memenuhi pesanan. Ada yang menggoreng kentang, membuat minuman, bahkan salah satu waitress sedang hamil cukup besar tampak pusing melayani pembayaran di meja kasir. Benar-benar sibuk. Mereka tak sempat duduk, tak sempat menyiapkan makanan berbuka mereka. Sudah keadaan demikian ruwet, masih saja ada pembeli yang minta didahulukan, yang komplain, dan tidak mau antre.

Aku dan Mamaku yang sudah duduk manis dengan pesanan kami pun geleng-geleng kepala melihat para waitress tersebut berpeluh ria. Iba rasanya. Mamaku langsung bilang “Tuh, kamu bersyukur Sarah…diberi kesempatan kuliah, bisa bekerja di tempat yang layak. Mereka ini, gaji nggak seberapa tapi capeknya…lihat tuh yang ibu hamil itu belum duduk dari tadi”. Aku mengangguk. Ramadhan bukan hanya bulan ampunan dan rahmat, tetapi juga bulan kesyukuran. Di luar sana, banyak yang sudah berbuka pun kelaparan. Kelaparan adalah menu berbuka dan sahur mereka. Ada yang masih memeras peluh, suka tak suka, meski adzan sudah berganti-ganti terdengar. Seperti para waitress yang kulihat tadi. Berbuka puasa sambil mencuri-curi waktu, tarawih pun barangkali tak sempat. Lagi-lagi, bersyukurlah kita yang masih memiliki banyak kesempatan untuk memanfaatkan dan memaksimalkan reward-reward ibadah yang Allah berikan hanya di bulan Ramadhan dan tak ada di bulan lainnya 🙂

 

Alhamdulillah, sudah enam hari aku berpuasa sejak Senin. Terakhir posting di blog ini, aku masih belum berpuasa karena siklus bulanan. Gimana rasanya puasa ketika bekerja dengan jarak antara rumah di Bojong Gede Kab. Bogor dan kantor di Mega Kuningan Jakarta Selatan? Alhamdulillah, nggak ada hambatan yang berarti. Yang paling nggak tahan bukan haus atau lapar, tapi ngantuknya itu lhooo. Aku berangkat kerja pagi-pagi sekali dari jam 6, sengaja mengantisipasi biar kebagian angkot di Stasiun Tebet. Padahal biasanya di hari biasa jam setengah 7. Dari mulai bangun sahur sampai pergi kerja aku nggak tidur lagi dan jadilah…di kereta mengantuk, di angkot mengantuk, di kantor mengantuk. Hehehe. Dan biasanya, serangan ngantuk mulai menyengat mata ketika tadarus. Cobaan banget deh. Biasanya kalau sudah begitu aku biarkan bobo sesaat, bobo-bobo ayam alias nggak bobo beneran. Lalu melanjutkan baca Quran di hape lagi, kalau ngantuk ya bobo sesaat lagi…gitu terus sampe kelar. Eh dalam keadaan serba kepepet–berjejal di kereta, macet-macetan di angkot–kok bisa yaa? Ah, kadang ya kadang…aku jadi inget suatu filosofi begini: manusia itu kalau keadaannya serba sempit, cenderung bisa melejit. Bisa meningkat kemampuan dan kekuatannya. Kesempitan pun berbuah kelapangan. 🙂

 

Yaudah, sampai di sini dulu. Sudah siap-siap mau berbuka puasa nih. Happy fasting 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s