Cerita Ramadhan (3): Habis Ramadhan, Lalu Apa?

reflect

Habis Ramadhan, lalu apa?

Beberapa dari kita barangkali sudah merencanakan akan pergi travelling setelah Ramadhan. Beberapa dari kita sudah berencana untuk mudik ke kampung halaman, bahkan sudah ambil cuti sejak jauh-jauh hari. Ada juga yang berencana akan menikah, mengingat momennya pas sekali dengan bulan Syawal, seperti lagunya (alm) Benyamin Sueb, “Eh ujan gerimis aje…ikan bawal diasinin. Eh jangan menangis aje…bulan Syawal ntar dikawinin!”. Dan banyak pula lagi segudang rencana yang akan dilakukan setelah Ramadhan.

Begitu juga denganku. Sudah masuk separuh Ramadhan, benakku kian bertanya-tanya: habis Ramadhan, lalu apa? Otakku memang sudah menyusun beberapa rencana besar setelah Ramadhan usai. Tetapi rasanya…ah, waktu cepat sekali. Sepertinya baru kemarin aku mengecek kalender melihat-lihat kapan Ramadhan tiba. Sekarang tiba-tiba sudah separuh perjalanan menuju usai. Rasanya masih tak rela. Akan tetapi anehnya kepalaku masih saja dipenuhi apa saja yang akan kulakukan setelah bulan Ramadhan berakhir.

Ah, manusia memang rajanya rencana bukan? Dan, manusia juga paradoks. Bilangnya rindu Ramadhan, tapi terus berangan-angan akan melakukan apa saja setelah lebaran.

Semalam saat tarawih di mushola kecil dekat rumah, aku mulai menyadari betapa sepinya tarawih tahun ini. Bahkan sejak sepuluh malam pertama, barisan tarawih di mushola ini tidak pernah penuh. Sia-sia tenda didirikan di terasnya. Tidak seperti Ramadhan yang kuingat beberapa tahun lalu. Tidak ada lagi canda tawa anak-anak yang berisik, tidak ada lagi ceramah dan anak-anak yang sibuk mencatat ceramah untuk buku agenda Ramadhan, tidak ada lagi petasan dan kembang api yang meriah. Padahal ini mushola kecil di perkampungan. Ramadhan, semakin tawar rasanyakah?

Jadi, orang yang bodoh ini akhirnya mengambil kesimpulan: tidaklah perlu terlalu memikirkan bagaimana rencana setelah Ramadhan. Barangkali yang jauh lebih penting adalah: habis Ramadhan, lalu kita seperti apa? Apakah ketakwaan kita masih tawar seperti tarawih di atas? Bukankah ketakwaan itu semestinya terasa manis? Jika tawar, maka ia biasa-biasa saja. Tidak memberikan kemanisan apapun dalam hidup kita. Habis Ramadhan, lalu kita seperti apa?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s