Tentang Bendera Pelangi: Cinta yang Menang atau Kekalahan Cinta?

images

Disini aku tidak akan membahas tentang apakah menjadi homoseksual itu bisa dibenarkan atau tidak. Jawabannya akan selalu tidak. Baik dari segi agama, kesehatan, sosial atau dari sisi manapun. Bukan berarti aku membenci orang dengan orientasi homoseksual, fyi, aku punya beberapa teman yang seperti itu. Yang aku tidak bisa terima adalah perilakunya dan caranya mengambil identitas cinta.

Beberapa waktu lalu, as we know, Mahkamah Agung AS sudah melegalkan pernikahan sesama jenis yang disambut gegap gempita bagi seluruh kaum LGBT di seluruh dunia. Penerimaan negara sebesar Amerika Serikat merupakan modal yang besar bagi kaum LGBT untuk percaya diri meneruskan perjuangan mereka agar perilaku homoseksual bisa diterima di mana saja. Sebagian besar publikasi dengan nuansa pelangi (termasuk sempat muncul di dashboard WordPress ini) mengatakan bahwa pelegalan ini adalah bukti bahwa pada akhirnya cinta lah yang menang. Cinta adalah cinta. Tanpa memandang jenis kelamin apapun. Dan cinta pada akhirnya akan menemui happy ending.

Tapi benarkah cinta telah menang?

Cinta menurutku adalah kata suci yang hanya bisa disematkan dalam pernikahan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana yang telah digariskan oleh Tuhan. Jadi, mau pacar kamu bilang seribu kali bahwa dia mencintaimu…bullshit. Itu bukan cinta. Itu hanyalah perasaan menyukai dan ketertarikan yang kuat. Cinta hanya lahir dalam pernikahan karena di sana ada komitmen untuk terus bersama dalam suka dan duka, ada tanggung jawab yang diemban, ada kehidupan yang diwariskan dengan berkembang biak. Ya, cinta seberat itu. Bukan hanya milik berdua, tetapi milik generasi yang kemudian tercipta dalam bentuk anak cucu. Bukan hanya komitmen untuk bersama (orang pacaran pun punya komitmen seperti ini) tetapi juga komitmen yang menggabungkan dua keluarga, yang melebur segala sesuatu ‘aku dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’, dan dalam keadaan sempit maupun lapang. Bukan hanya tanggung jawab pada diri sendiri, tetapi juga pada orang tua, keluarga , masyarakat dan terutama pada Tuhan.

Pernikahan LGBT tidak akan membuktikan bahwa ada komitmen yang kuat untuk mencintai. Ini merupakan komitmen yang dipaksakan untuk ada, hanya mencari status legal di mata manusia. Apakah ada tanggung jawab terhadap Tuhan? Apakah ada kehidupan baru yang akan dilahirkan? Tidak. Lantas, kalau begitu, dimana cinta mengambil tempatnya? Cinta telah kalah dan dikalahkan. Yang penting bersama. Masa bodoh soal cinta dan kemuliaannya. Cinta telah dikalahkan, namun seolah ia dicitrakan telah dimenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s