Bukan Hati Malaikat

angel-baby-boy-child-cute-Favim.com-193704

Pernahkah kita melihat kejadian seperti ini: seseorang yang hatinya disakiti berkali-kali namun kemudian mampu memaafkan dan tidak mendendam, lalu orang-orang akan berbincang tentangnya “Entah dia itu bodoh…atau hatinya memang seperti malaikat!” Atau ada orang yang sabar menghadapi berbagai tekanan dan masalah dalam hidupnya tetapi ia tak lantas marah atau meratap. Lalu kita akan berkata, “Benar-benar seperti malaikat!”

Sewaktu aku masih kuliah, ada seorang dosen perempuan, Bu Tamara namanya, yang dijuluki malaikat oleh mahasiswa-mahasiswa JIP UI. Kenapa malaikat? Karena Bu Tamara ini orangnya baiiiiik banget. Nggak pernah marah kalau anak-anak nggak ngumpulin tugas, nggak pernah marah jika ada yang telat parah masuk kelas, selalu tersenyum, bicaranya, gerak geriknya….lemah lembut sekali. Sampai rasanya sulit membayangkan kalau beliau marah itu seperti apa. Cantik pula. Dan yang paling ‘malaikat’ bagi kita adalah….beliau selalu memberi nilai A. SELALU. Sehancur apapun kuliah si mahasiswa. Agak nggak adil juga sih mengingat ada yang malas banget banget dan ada juga mahasiswa yang benar-benar berusaha belajar. Tapi at least, nilai A dari beliau selalu berhasil menyelematkan IP kita di semester-semester ‘neraka’. Hehehe.

Dalam surat Yusuf, ada suatu adegan ketika Yusuf disuruh keluar oleh ibu angkatnya agar wanita-wanita kelas atas Mesir bisa melihat rupa Yusuf yang ganteng luar biasa, wanita-wanita itu pun saking takjubnya sampai mengiris tangannya sendiri dengan pisau seraya berkata “Ini bukan manusia! Ini Malaikat!”. Jadi dipanggil malaikat karena terlalu ganteng yaaa…dan sampai sekarang masih banyak lho cewek-cewek yang bertingkah histeris begini ketemu idolanya yang katanya ganteng tingkat malaikat >,<

Di kantor, ada beberapa temanku yang memanggilku, “Sarah Malaikat Baik Hati” atau “Sarah My Angel, please dong bantu gue…bla bla” (Yeee ujung-ujungnya selalu minta bantuan sih :P) Kata temanku, dia memanggilku ‘malaikat’ karena aku suka menolong dan sabar menghadapi berbagai request dari teman-teman sales. Yah kalau ini sih memang job desk pekerjaanku untuk siap sedia mensupport administrasi-nya tim sales >,< Ibuku beda lagi, beliau kadang berkomentar begini, “Kamu itu suka terlalu baik sama orang, makanya jadi sering dimanfaatkan. Jangan terlalu berhati malaikat lah…”

Aku pun jadi bertanya-tanya, sebenarnya apakah hati malaikat itu benar-benar ada pada diri manusia?

Setahuku, dalam Islam (karena ini agama yang aku yakini, jadi aku nggak bisa bicara dari perspektif agama lain ya), malaikat itu adalah salah satu mahluk Allah yang tugasnya hanya mengerjakan perintah Allah. Tidak seperti manusia yang bisa memilih mau mengerjakan perintahNya atau tidak, malaikat tidak memiliki pilihan lain dan tidak bisa memilih. Mereka hanya fokus terus bertasbih dan mengerjakan perintah. Ciri lainnya adalah malaikat tidak memiliki nafsu, oleh karena itu tidak mungkin malaikat berbuat sesuatu yang buruk. Lha wong nafsu aja ndak punya. Mungkin inilah alasan mengapa orang selalu mengasosiasikan sifat-sifat baik dengan sifat malaikat. Dan sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Quran, penciptaan malaikat adalah dari nuur, yaitu cahaya. Maka pasti yang terlintas dalam pikiran kita mengenai bentuk malaikat adalah sesosok mahluk serba putih dengan sayapnya yang berbulu putih,atau dengan halo  di atas kepalanya seperti yang biasa digambarkan di film-film Barat. Hehehe (sebenarnya masih bingung juga fungsi halo di atas kepala itu maksudnya apa? fungsinya sama dengan baling-baling bambu gitu? hehe)

Lalu, apa sih sifat-sifat manusia yang sering diidentikkan dengan malaikat? Biasanya nih ya: sabar, pemaaf, tidak pernah marah, lembut, tulus, suka menolong, religius, selalu merespon dengan positif, pokoknya yang baik-baik deh. Betul nggak?

Suatu saat ketika aku sedang mengulang hapalanku, ada beberapa ayat yang kuingat artinya mengenai malaikat penjaga neraka. Digambarkan bahwa malaikat penjaga neraka adalah sosok yang bengis, sangar, marah, tiada ampun mendorong penghuni neraka menuju siksaan yang menanti mereka. Nah lho, katanya malaikat itu baik-baik semua? Well, sebetulnya jawaban ini gampang saja. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, malaikat tidak memiliki pilihan lain kecuali menaati Allah. Jadi, bisa disimpulkan apa yang dilakukan malaikat bukanlah kehendaknya sendiri melainkan kehendak Allah. Dan kita pun tidak tahu apakah malaikat sebenarnya punya kehendak sendiri? Apakah malaikat itu punya hati? Wallahualam bishawab.

Kembali pada julukan manusia berhati malaikat…coba deh kita pikir lebih dalam lagi. Apakah sabar, pemaaf, lembut, dll merupakan sifat malaikat? Setahuku belum pernah ada dalil yang menjelaskan hal itu. Lagipula, kenapa malaikat harus sabar? Bukankah hidup malaikat tidak sama dengan hidup manusia yang setiap saat dihadapkan pada kesenangan dan kesedihan? Bagaimana dengan pemaaf? Apakah malaikat pernah berkonflik dengan sesama malaikat sehingga mereka bisa memiliki sifat pemaaf? Bahkan malaikat pun bisa dengan sangat keras memberi azab pada manusia sesuai dengan perintah Allah. Suka menolong? Lho, jika manusia sedang ada yang bokeeeek banget dan kemudian datang rezeki dari arah-arah yang tidak disangka-sangka, itu kan’ bukan karena kebaikan hati malaikat pembagi rezeki. Karena Allah yang memerintahkan untuk mengalamatkan rezeki ke si A, maka malaikat pun mengikuti perintahNya.

Jadi, sifat-sifat baik manusia itu apakah sifat-sifat malaikat? Aku jelas belum cukup kapabel dalam menjawab ini. Tapi aku pernah membaca salah satu kitab Imam Al-Ghazali, aku lupa judulnya, yang disitu menulis bahwa sifat-sifat manusia yang ingin selalu mendekatkan diri pada Allah, beribadah, menjalankan perintahNya, adalah turunan dari sifat-sifat malaikat. Sedangkan sifat-sifat membangkang ayat Allah, tidak beribadah, tidak menjalankan perintahNya dan justru mendekati laranganNya adalah sifat turunan dari setan.

Lalu, bagaimana dengan sifat-sifat positif yang dimiliki manusia dalam berinteraksi dengan sesama manusia? Seperti sabar, lembut, tulus, pemaaf, tidak mendendam, tidak pernah marah, suka menolong…sifat dari siapakah itu? Akhirnya aku berkesimpulan, ini cuma opiniku ya…inilah sifat manusia sesungguhnya. Its not angel’s thing. Its human being. Dan karena manusia dianugerahi hati dan akal, maka manusia bisa memilih apakah mau menggunakan sifat-sifat ini atau tidak dalam berbagai situasi. Maka ketika ada manusia yang memilih untuk berusaha konsisten dengan sifat ini terus dalam berbagai kondisi hidup, baik saat susah maupun senang, itulah yang langka. Yang langka inilah yang kemudian dijuluki berhati malaikat 🙂

 

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Hati Malaikat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s