2015

2015_new_year-wide

So…udah 2016 ya?

Well, aku bukan termasuk orang yang suka merayakan pergantian tahun. Mungkin bagi sebagian orang melakukan ‘sesuatu’ di malam tahun baru, kembang api yang menjulang tinggi atau heboh countdown di pukul 12 malam teng itu penting. Jadi, kalau ditanya kemana waktu malam tahun baru? Jawabanku di antara tiga ini: kumpul dengan keluarga atau teman-teman di rumah, nonton film, atau tidur dan tahu-tahu ketika bangun sudah 1 Januari. Kebetulan, ada stok film di laptop yang belum kutonton kemarin. Jadilah malam tahun baru kuhabiskan bersantai di kamar sambil makan pizza dan nonton film di laptop. Hanya sampai jam setengah sebelas, kemudian tidur. Oh ya, film yang kutonton berjudul About Time, tentang seorang cowok yang bisa melakukan time travel ke masa lalu dan berusaha memperbaiki cerita dalam hidupnya.

About_Time_Poster

Seusai nonton, aku rebahan, menatap langit-langit kamarku. Kayaknya asyik juga ya bisa punya kemampuan untuk kembali ke masa lalu dan fix up everything. Aku membayangkan jika aku bisa seperti itu, aku akan kembali ke pertengahan 2014, memperbaiki segala sesuatu agar 2015-ku berjalan perfect. Aku akan berusaha untuk tidak memiliki hubungan dengan seseorang yang membuat awal 2015-ku dipenuhi broken heart things hahaha. Aku akan kembali ke masa penyusunan topik skripsi dan nggak akan memilih topik skripsiku dulu. Aku akan kembali ke masa awal pencarian kerja dan memutuskan mengawali karier sebagai guru daripada pegawai kantoran. Atau at least, aku tidak akan mengambil pekerjaan di perusahaan pertama yang menawariku kerja. And so on, and so on.

Tapi…jika ada kemampuan seperti itu…apakah aku benar-benar akan memperbaiki tahun 2015 ini?

Kuingat-ingat lagi keseluruhan tahun 2015. Di awal tahun 2015, aku punya 3 resolusi: bisa lulus dan wisuda dengan nilai memuaskan, punya karier yang bagus, dan punya mobil sendiri. Mengapa lulus dan wisuda? Ya memang sudah waktunya…apalagi aku berencana untuk lulus 3,5 tahun. Karier bagus? Hmm ya kayaknya sih itu impian hampir semua fresh graduate kayak aku ya. Terus, kenapa mobil? Nah ini cita-cita milikku dan Mama. Sejak kuliah, aku selalu membayangkan bisa kembali mengajak Mama jalan-jalan dengan mobil seperti dahulu, sewaktu almarhum Ayah masih bersama kita dan mobil kantor belum ditarik kembali setelah ayah ‘mendadak pensiun’. Aku membayangkan kami tidak perlu lagi berpanas-panas atau kehujanan di motor. Pikiran polosku saat itu, kalau aku bekerja nanti aku bisa mencicil mobil (ini pikiran polos sebelum tahu dunia kerja sebenernya hahaha).

8 Januari 2015, dengan hati masih tercabik-cabik setelah patah hati akut (kisahnya ada disini hehehe), aku menjalani sidang skripsi (yang juga kisahnya ada disini). Alhamdulillah, aku lulus sidang skripsi dengan nilai yang cukup memuaskan. Seminggu kemudian, aku dinyatakan diterima bekerja. 2 Februari 2015, aku masuk kerja pertama kali, resmi jadi pegawai kantoran 😀

Tanggal 7 Februari 2015, aku wisuda. Hari yang kuanggap sebagai the best moment ever di tahun 2015. Cerita tentang momen ini pernah juga aku share  di blog ini.

Hanya tiga bulan kemudian, aku memutuskan untuk pindah kerja dengan berbagai pertimbangan. Tepat 4 Mei 2015, aku masuk di perusahaan kedua. Everything was good, aku sangat betah kerja di startup (ceritanya juga ada disini).

Ramadhan 2015, antara bulan Juni dan Juli sangat berkesan untukku. Ini adalah kali pertama aku berusaha keras membagi waktu antara rutinitas kerja dan ibadah. Dan yang ternyata itu sama sekali nggak mudah. Setelah Ramadhan 2015, aku mulai serius memikirkan tentang jodoh. Walau ini bukan resolusiku di tahun 2015, namun aku berpikir mungkin sudah saatnya aku mempersiapkan diri dan tentunya mempersiapkan calonnya. Hehehe. Beberapa usaha sudah dilakukan, sudah beberapa kali perkenalan, namun yang namanya jodoh…itu rahasia Allah. Ternyata di lauh mahfudz, hal ini tidak tercatat di tahun 2015.

7 September 2015, tepat usiaku 22 tahun. Usia yang sudah cukup dewasa, namun terbilang masih sangat muda. Masih minim pengalaman, masih panjang perjalanan. Begitu kata orang-orang. Kalau biasanya para pakar bilang 0-5 tahun itu golden age,hehehe…aku sih menganggap usia twenties sebagai golden age. Usia dimana kita telah diakui dewasa, menentukan arah hidup, mengejar mimpi, menimba pengalaman, energi sedang tinggi-tingginya, mulai bertanggung jawab… make it great! 😀

IMG20150910121728

19 September 2015, alhamdulillah…Allah Maha Kaya. Allah kabulkan satu-satunya resolusiku yang belum kucapai: memiliki mobil sendiri. Ketika uang tabunganku dan Mama sudah mencukupi untuk membayar uang muka, dan alhamdulillah, gaji juga mencukupi untuk membayar cicilan, kami pun memutuskan untuk mengambil cicilan mobil. Mobil kondisi baru yang spesifikasinya sedang-sedang saja, irit bensin, dan tergolong paling murah di pasaran. Akhirnya kami memilih Toyota Agya G manual warna hitam (ini bukan iklan lho ya hehehe).

Sepanjang bulan September dan Oktober setiap weekend kuhabiskan dengan belajar menyetir. Yah…ada deh baret-baret dikit akibat nyerempet sana-sini. Hehehe. Yang paling susah tuh, karena ini tipe manual, adalah ketika berusaha untuk jalan setelah macet di tanjakan. Masih suka mundur-mundur gitu. Atau ketika jalan lancar, gak ada apa-apa berhenti mendadak aja gitu gara-gara terlalu cepat angkat kopling. Hahaha. Untungnya sekarang udah lancar kemana-mana 🙂

Di awal Oktober, aku mulai iseng melirik-lirik lowongan pekerjaan lain. Sebetulnya keputusan untuk resign dari perusahaan kedua ini sama sekali tidak pernah kubayangkan karena aku sebenarnya sangat betah kerja disini. Namun ada campur tangan Allah disini (ya iya sih, di semua hal juga ada). Keputusan ini hasil pertimbangan yang sangat dalam, personal, dan tidak datang begitu saja. Alhamdulillah di pertengahan November, setelah kesana kemari mencari pekerjaan baru, berkali-kali ditolak dalam wawancara kerja, aku pun diterima kerja di perusahaan ketiga. Kali ini sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di industri FMCG dengan produk susu.

Tanggal 11 Desember, setelah one month notice, aku resmi resign dari perusahaan kedua dan dua hari setelahnya, 14 Desember 2015, aku memulai hari pertama di perusahaan ketiga (!). Jujur, awal bekerja di perusahaan ketiga terasa begitu berat. Mungkin karena aku masih shock dengan kultur perusahaan yang berbeda dan masih kesulitan mempelajari tugas di posisi yang baru ini. Sampai sekarang pun masih dalam tahap belajar. Namun aku berharap di perusahaan yang lebih sustainable ini, aku bisa langgeng terus…paling tidak 5 tahun ke depan lah. Wish me luck! 🙂

Setelah membaca keseluruhan 2015-ku…aku pun berpikir…rasanya nggak jelek juga.Not bad at all malahan. Jika tahun 2015 tidak kuawali dengan patah hati, mungkin saja usahaku untuk fight  dalam sidang dan membangun karier tidak sebesar ini. Lagipula, gagal menikah memberikanku banyaaaaak sekali pelajaran. Aku jadi lebih memahami kriteria jodoh yang paling sesuai untuk diriku, aku jadi tahu bagaiman aku ingin dihargai dan dihormati, aku jadi lebih cerdas memilah-milih berbagai tipe lelaki yang menghampiri, dan terutama, aku jadi banyak belajar tentang iman, takdir, cinta, jodoh dan pernikahan (cieee….).

Aku rasa juga nggak perlu merubah topik skripsiku. Walau topik skripsi yang kuambil membuatku dibantai habis-habisan di sidang dan membuatku gagal meraih nilai A, toh itu semua sudah berlalu. Skripsi juga pada akhirnya nggak jadi apa-apa. Hehehe. Bukan artinya aku bilang skripsi itu sampah lho, tapi skripsi itu hanya semacam ujian untuk lulus. Kalau anak sekolah dengan UN, maka mahasiswa dengan skripsi. That’s it, and I’ve done it well.

Lalu apakah aku harus menyesali berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya dalam kurun waktu setahun? Nggak juga. Aku menimba banyak sekali ilmu dan pengalaman. Aku kenal berbagai macam rekan kerja, atasan…aku juga mempelajari berbagai jenis business process dan corporate culture. Siapa tahu suatu saat aku bisa buka bisnis sendiri? Who knows? Tentu saja, jauh di lubuk hatiku terdalam (ceilah!), aku masih ingin menjadi guru suatu saat nanti. Entah kapan. Mungkin di saat aku merasa sudah waktunya pensiun dari kerja kantoran. Pasti akan datang dong saat dimana I am enough for this. Dan kupikir saatnya belum sekarang. Masih jauh dari sekarang.

Kita nggak dikaruniai kemampuan semacam time travel adalah hikmah bahwa time is precious, we should appreciate every time we have and everything happens for reason. Allah telah merancang waktu dengan sifatnya yang tak akan kembali dan tak akan diketahui. Segala yang terjadi pun sudah ketetapan dari-Nya. Dimana saja kita akan bekerja, siapa yang akan kita temui, apa saja yang akan kita alami, semua adalah bagian dari skenario besar milik-Nya.

Perhatikanlah bahwa Anda berada di tengah dua kondisi: Pertama, masa lalu. Ia adalah waktu yang sudah berlalu dengan keindahan dan kesedihannya. Telah berlalu menunjukkan ketiadaannya. Kedua, masa datang. Ia merupakan hal ghaib, tidak diketahui dan tidak dapat ditentukan dengan kaidah pemikiran. Tidak dapat dinalar akal, ia adalah hal ghaib, samar dan rahasia. (diambil dari buku La Tahzan for Women oleh Nabil bin Muhammad Mahmud)

Anyway, meskipun aku nggak suka merayakan pergantian tahun baru, namun aku selalu membuat resolusi tahun baru. Biasanya resolusiku tidak banyak, maksimal tiga plan besar yang memang sungguh-sungguh aku berusaha wujudkan. Makanya kalau orang-orang bilang sekarang udah nggak ada gunanya bikin resolusi, bagiku sih engga…itu sih emang elo aja yang nggak pernah usaha untuk resolusi lo. Hehehe

Resolusiku tahun ini tidak banyak. Hanya dua plan besar. Yang mudah-mudahan Allah ridhai 🙂

 

 

Advertisements

2 thoughts on “2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s