Rencana

allah-the-best-planner

Rencana Allah adalah rencana yang terbaik.

Kita semua pasti sudah sering mendengar tentang ungkapan ini. Sudah paham betul tentang hakikat rencana terbaik ini. Teorinya udah oke lah ya.

Ketika masuk perusahaan kedua di startup aplikasi kuliner online, aku berencana setidaknya aku akan bekerja selama dua tahun di sini. Lalu aku ingin bekerja di tech startup atau digital company yang lebih oke lagi seperti Tokopedi* atau Google sekalian. Hehehe.

Namun rencana itu mulai pudar tatkala di bulan kedua aku bekerja, aku mulai menyadari satu hal: apakah rezekiku sudah benar-benar halal? Pekerjaanku di perusahaan kedua ini adalah sebagai admin penjualan, mengurusi seluruh administrasi produk yang dijual. Apa produk yang dijual? Banner iklan restoran untuk ditampilkan di website. Aku mengurusi kontrak, membuat sales quotation, invoice, mendesain banner iklan, mengaktifkan banner di website dan membuat laporan popularitas banner setiap bulan.

Tapiiiiii tidak semua banner iklan restoran yang ditampilkan adalah restoran yang menjual makanan halal.

Seringkali aku harus mendesain banner iklan yang menampilkan gambar wine, sampanye, klub malam sampai daging pork. Ada rasa bersalah dan jijik setiap kali mengerjakan desain dengan konten makanan/minuman seperti ini. Berulang kali aku istighfar ketika mengklik tombol ‘Activate’. Dan aku pun baru tahu, restoran yang menyediakan pork dan beer di Jakarta jumlahnya buanyaaaak sekali. Pernah di suatu siang aku mendesain banner dan membuat copywriting iklan untuk salah satu restoran Chinese yang seluruh menunya adalah pork. Mau nggak mau aku harus membuka page restoran itu di website dan melihat semua menunya.  Wah asli…sampai makan malam aku merasa enek sendiri teringat berbagai menu pork yang tersedia. Ya Allah, berapa banyakkah orang yang melihat banner yang kuaktifkan? Bagaimana jika ada muslim yang melihat banner desainku yang menampilkan makanan/minuma haram, kemudian tertarik untuk menikmatinya? Bagaimana kehalalan rezekiku ini? Jika memang ini tidak sepenuhnya halal, maka berilah hamba jalan keluar…

Aku pun bertanya mengenai hal ini pada seorang ustadzah dan teman-teman di rohis. Jawaban mereka rata-rata sama: syubhat, lebih baik ditinggalkan. Tapi…tapi…aku kan’ baru pindah kerja? Aku masih ngos-ngosan untuk mencari pekerjaan baru dan tentunya akan berdampak tidak bagus untuk riwayat kerja di CV. Lagipula aku sudah terlanjur betah kerja disini. Sudah terlanjur nyaman dengan pekerjaannya, suasananya, teman-temannya. Akhirnya setelah banyak berdoa dan mempertimbangkan, kuputuskan untuk resign setelah setahun kerja…artinya di Mei 2016.

Di bulan Ramadhan, aku mulai serius memikirkan jodoh. Sekitar bulan Juli, enam bulan setelah I was dumped from marriage dream, aku sempat dekat dengan teman sekantor dan sudah berbicara serius mengenai pernikahan. Dia masih muda, seusiaku, dan (kelihatannya sih) berniat serius mengajak ke pelaminan. I said Yes. Namun tidak sampai sebulan kemudian, rencana itu pun crash karena ketidakcocokan kami berdua. Aku rasa karena ini terlalu terburu-buru. Namun pada akhirnya aku sadar: Allah have made a plan for me. Yang nggak jodoh denganku, pasti akan tereliminasi dengan sendirinya kok.

Meskipun akhirnya nggak jodoh dengan teman sekantor itu, aku mensyukuri karena ternyata aku bisa membuka hati lagi setelah kacau balau di awal tahun. Sesudahnya, beberapa perkenalan kemudian kujalani atas arahan murrabiyah. Tiba-tiba saja, aku merasa sudah siap dan berencana menikah di tahun 2015. Pikiranku sederhana saat itu: aku sudah lulus, sudah kerja yang enak, terus mau ngapain lagi? Tinggal nikah kan?

Dari Bojong sampai Neptunus…hallloooooo???? Nikah nggak segampang dan sesimpel itu, Sar!

Lagi-lagi, aku dihadapkan pada pembuktian bahwa rencana Allah lah yang terbaik.

Sejak setelah lebaran, aku mulai mencium gelagat ‘ada yang nggak beres’ di perusahaan kedua ini. Banyak teman yang resign setiap bulannya dan tidak dicari lagi penggantinya. Perusahaan terus mengalami kerugian, dan klimaksnya beberapa orang di-PHK untuk perampingan. Belum lagi fasilitas dan tunjangan kesehatan yang semakin dikurangi. Keluhan-keluhan semakin banyak terjadi. Memang setelah lebaran, dollar naik tajam dan hampir semua perusahaan mengalami krisis internal. Daya beli masyarakat rendah, omzet menjadi macet, membuat banyak sekali perusahaan melakukan pengetatan biaya agar tetap survive. Namun bagi perusahaan startup, yang belum se-settled perusahaan besar, goncangan yang terjadi akan sangat ‘berasa’. Hampir setiap hari obrolan aku dan rekan-rekan kerjaku adalah seputar: siapa yang akan resign minggu ini? Siapa yang berikutnya akan di-cut? Meski aku menyukai pekerjaanku, rasa tidak nyaman dan aman semakin terasa.

Di saat itulah aku tersadar, barangkali ini adalah jawaban doa-doaku dulu untuk secepatnya meninggalkan pekerjaan ini. Allah tidak ingin aku berlama-lama di pekerjaan yang syubhat. Aku merasa diarahkan untuk tidak menunggu sampai setahun, tapi sekarang juga. Now!  Aku harus cari pekerjaan yang lebih baik, aku harus pindah sebelum bisnis perusahaan ini makin tidak menentu. Mamaku pun sangat mendukung keputusan ini. Sejak awal ketika Mama tahu persis job desk yang kulakukan, Mama sudah khawatir rezeki yang kami makan tidak sepenuhnya halal atau masih mengandung unsur syubhat.

Ya Allah, hamba mohon rezeki yang lebih baik, yang lebih jelas kehalalannya.

Setelah mencari pekerjaan kesana kemari, interview sana sini yang selalu berakhir dengan penolakan, akhirnya di awal November 2015 ada titik terang. Sebelumnya belum ada perusahaan yang memanggilku untuk interview lanjutan. Sebetulnya bukan interview lanjutan sih..aku langsung diarahkan melakukan MCU, tentunya dibayari oleh si perusahaan. Dari yang aku dengar-dengar pengalaman orang sih, kalau sudah sampai tahap MCU artinya sudah 90% jadi. Hehehe.

Dalam pemilihan kerja, aku sangat mengandalkan intuisi dan nasihat Mama. Beberapa kali Mama melarangku untuk kerja di perusahaan yang menurut Mama terlalu jauh lokasinya. Aku sempat kesal sendiri dilarang-larang Mama terus untuk interview sementara di beberapa perusahaan lain aku juga mendapat penolakan terus. Namun ya Allah…surga memang ada di telapak kaki Mama. Alhamdulillah, di pertengahan November aku dinyatakan diterima di perusahaan besar berskala multinasional yang bergerak di industri FMCG dengan produk susu yang sudah terkenal di masyarakat. Dan lagi-lagi puji syukur alhamdulillah, jarak kantornya justru lebih dekat dari perusahaan sebelumnya. Ah, beruntung sekali aku mengikuti saran Mama. Andai saja aku bersikeras mengikuti wawancara di perusahaan yang lokasinya lebih jauh, mungkin aku sekarang tidak bekerja di perusahaan ini.

Tanggal 14 Desember 2015, aku masuk di perusahaan baru ini. Jawaban dari semua kebimbangan dan kegalauan hatiku tentang pekerjaanku sebelumnya.

Manusia berencana, namun Allah lah sebaik-baik pembuat rencana. Aku sempat berencana menikah di 2015 dan rencana itu begitu manguat di hati…namun Allah tahu di tahun 2015 bukan saat yang tepat untukku menikah. Aku harus menata terlebih dahulu karierku. Tentu sulit rasanya mengatur rencana menikah sedangkan dalam waktu yang sama aku harus pindah perusahaan. Aku pun tidak pernah membayangkan akan dua kali pindah kerja dalam setahun, namun Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah belum mengizinkan aku menikah di 2015 karena Allah lebih tahu mana yang harus kuprioritaskan terlebih dahulu, yaitu aku harus memperbaiki rezekiku. Dan barulah sembari itu aku bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk pernikahan. Kalau kata Mamaku…bisa jadi, doa-doaku mengenai jodoh belum bisa dikabulkan karena masih ada sesuatu yang syubhat dari rezekiku.

Meskipun begitu, aku tidak menyesali pernah bekerja di perusahaan kedua, justru aku sangat bersyukur memperoleh berbagai pengalaman dan ilmu disana. Allah lah yang menggerakkan langkah setiap hambaNya. Pasti Allah sempat tempatkan aku disana untuk suatu alasan. Karena pengalaman di perusahaan itulah yang membuatku bisa diterima bekerja di perusahaan yang sekarang. Masya Allah.

Allah telah mengatur segalanya. Allah sebaik-baik pembuat rencana. Rencana-Nya lah yang terbaik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s