Kenapa Gue?

kapan-nikah-doain-aja

Satu hal yang paling aku nggak ngerti ketika datang menghadiri undangan pernikahan adalah munculnya pertanyaan: ‘Kapan nikah?’ atau ‘Kapan nih nyusul?’ atau ‘Ke kondangan mulu…kapan nih ngondanginnya?’ dan pertanyaan sejenis lainnya. Dan herannya di antara teman-teman lain, yang paling sering jadi sasaran pertanyaan adalah aku, si single mingle ini, yang nggak pernah bawa gandengan siapa-siapa ke kondangan. Nggak cuma saat lagi kondangan, bahkan ketika aku mengucapkan selamat menempuh hidup baru lewat jejaring sosial,  mengucapkan selamat ultah atau selamat wisuda lewat pesan singkat, selalu terselip that thing dalam jawaban mereka: “Terima kasih ya Sar…semoga kamu cepat nyusul ya” atau “Makasih ya Sar, kutunggu lho undangan dari kamu tahun ini” . Di lain waktu setiap kali aku mem-posting foto berdiri sendiri di tengah keramaian resepsi pernikahan, selalu saja ada yang usil comment ‘Kok cuma sendiri, Sar? Suaminya mana?’


Geez.

Aku bingung. Dalam hati bertanya-tanya bete “Kenapa gue sih? Kenapa gue yang harus ditanyain kayak gini terus?” Yeah…kalau dipikir-pikir, kenapa juga aku yang ‘ditodong’ pertanyaan begini? Sepertinya pertanyaan ini lebih tepat dialamatkan pada teman-teman yang sudah bawa gandengan ke kondangan, sudah pacaran bertahun-tahun atau sudah saling melingkari jari manis kiri dengan cincin pertunangan. Lebih tepat tanya mereka dong!, protesku dalam hati.  Kan’ seenggaknya dengan bertanya pada yang sudah punya pacar atau calon, bisa didapatkan jawaban yang lebih jelas seperti ‘Insya Allah kita berencana tahun depan nikah’. Gituuu lho. Lha kalau nanya aku? Paling-paling cuma dapat jawaban senyam-senyum mrangas-mringis, “Ya doain aja yah ketemu jodohnya”. Lagipula, harusnya bukan aku dong yang ‘didesak’ dengan pertanyaan seperti itu. Harusnya lebih tepat ‘mencecar’ pertanyaan itu ke teman-teman yang sudah pacaran bertahun-tahun dan udah lengket kemana-mana karena mereka hukumnya sudah lebih wajib untuk menikah daripada aku. Hehehe.

Aku sempat mengutarakan kerisihanku ini pada Mama.

“Kenapa sih Sarah yang suka ditagih gitu? Padahal pasangan aja nggak punya…ngeledek atau gimana sih?!”

Mama hanya tersenyum dan berkata lembut, “Lho, itu kan’ artinya banyak yang mendoakan kamu untuk segera menikah. Mereka nggak nanya ‘dimana pacar kamu?’ atau ‘kapan punya pacar?’ tapi pertanyaan yang jauh lebih mulia ‘kapan nikah?’. Artinya teman-teman kamu paham dan jauh lebih menghormati kamu yang berprinsip untuk nggak pacaran”

Aku tercenung. Dalam hati membenarkan juga kata-kata Mama. Selama ini tiap kali ditanya ‘Udah punya pacar belum’, atau ‘Siapa pacar kamu?’ aku selalu menjawab ‘Nggak pacaran ah, langsung nikah aja’. Barangkali itu yang membuat teman-teman mengasumsikan aku akan segera menikah.

“Sarah, coba deh kamu pikir lebih dalam lagi…kenapa yang sudah gandeng pacar kesana kemari, atau sudah bertahun-tahun pacaran…kenapa mereka nggak begitu ditodong pertanyaan ‘kapan nikah?’. Karena bagi orang-orang sekarang, kelamaan pacaran atau manisnya tampil bersama pacar di depan umum gak akan menjamin mereka sampai ke pelaminan. Lagipula, menikah setelah lama berpacaran itu lumrah banget, sudah biasa…menikah tanpa pacaran itu baru luar biasa!” tandas Mama.

Byur! Hatiku serasa disiram air dingin yang menyejukkan. Ah, ya…barangkali tidak ada maksud jelek seperti meledek atau menyindir ketika teman-teman bertanya ‘kapan nikah’ pada kita. Mungkin memang maksud mereka baik, dan lebih mengarah pada doa agar kita segera dipertemukan dengan jodoh.  Mungkin juga mereka memang tidak bermaksud apa-apa, hanya iseng saja. Toh, pertanyaan-pertanyaan akan selalu silih berganti dalam hidup kita. Kalau diresapi dengan perasaan sensitif, pasti kita akan berpikir ‘Hidup…hidup gue! Kenapa juga elo yang repot nanya nanya mulu? Kepo!’. Tapi jika kita tanggapi dengan pikiran positif maka kita akan sadar bahwa masih banyak orang yang care dengan hidup kita.

Jadi, kenapa gue? Kenapa harus gue yang ditanyain ‘Kapan nikah’?

Karena orang-orang menghendaki gue untuk segera memperoleh kebaikan! 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Kenapa Gue?

  1. Suka sama jawaban mama Sarah : “Lho, itu kan’ artinya banyak yang mendoakan kamu untuk segera menikah. Mereka nggak nanya ‘dimana pacar kamu?’ atau ‘kapan punya pacar?’ tapi pertanyaan yang jauh lebih mulia ‘kapan nikah?’. Artinya teman-teman kamu paham dan jauh lebih menghormati kamu yang berprinsip untuk nggak pacaran”

  2. Hehe bukan mbak sendiri sih yang jadi korban pertanyaan seperti itu, banyak kok diluaran sana termasuk saya haha. Menikah itu kan seperti bercocok tanam, petani tau kapan ia harus menanam kapan ia harus memanen. Nah, sekarang boleh jadi belum waktunya musim tanam… jadi santai saja menunggu waktu tanam yang akan datang. 🙂

  3. Pingback: Ketika Teror itu Benar-benar Datang – Annisarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s