Working Mom

working-mom-5628d0928223bdcc0bde63b7

Sebenarnya saya keberatan jika memiliki istri bekerja, karena seorang wanita adalah madrasatul ‘ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tentunya akan sulit menjadi madrasatul ‘ula yang baik jika masih harus membagi waktu dengan pekerjaan di kantor”

Begitu jawaban dari sebagian laki-laki yang memulai taaruf denganku ketika kuajukan pertanyaan: “Apakah keberatan jika istri tetap bekerja selama tidak mengganggu kewajiban sebagai istri dan ibu?” Jawaban yang sah-sah saja. Toh, setiap orang punya preferensi masing-masing. Tidak sedikit pula lelaki yang mengharapkan memiliki istri yang bekerja agar bisa mem-backup ekonomi keluarga. Semua terpulang pada pilihan masing-masing.

Mama, sosok sentral dalam hidupku adalah seorang ibu rumah tangga. Pure. Namun Mama selalu mendorong dan mengarahkanku untuk tetap berkarier setelah menikah dan memiliki anak. Aku bisa memahami mengapa Mama mengatakan demikian.

Mamaku lulusan SMA, sudah memiliki anak yaitu aku, di usia yang masih sangat muda: 20 tahun. Mama pernah dua kali menjalani beratnya hidup sebagai single parent. Pertama, ketika aku masih bayi, saat berpisah dengan Papa (bapak kandungku) dan kedua, ketika Ayah (bapak tiri yang sangat kusayangi dan sudah kuanggap seperti bapak sendiri, yang selalu kukenang dalam doa) meninggalkan kami berdua untuk selama-lamanya ketika aku berumur 17 tahun. Mama tidak memiliki keterampilan apa-apa selain mengerjakan tugas rumah tangga. Menggunakan komputer saja Mama tidak paham. Sehingga masih tergambar jelas di ingatanku ambruknya keluarga kecil kami ketika Ayah tiada. Mama menjual rumah agar aku bisa masuk kuliah, Mama berusaha melobi Papa agar mau memberikan tunjangan lebih banyak untuk menopangku kuliah, Mama juga mencoba membuka usaha apa saja demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, Mama selalu berpesan padaku, “Kamu harus lulus kuliah dan bekerja. Kamu harus tetap bekerja setelah menikah, karena kita nggak tahu masa depan seperti apa. Zaman semakin sulit untuk perempuan sekarang”

Sebagai wanita yang pernah dua kali ditinggalkan, tentu Mama sanagt khawatir jikalau aku merasakan kepahitan hidup seperti dirinya. Sewaktu-waktu suami bisa sakit, meninggal dunia, atau lari tak bertanggung jawab. Katakanlah jika si istri semula adalah seorang sarjana sebelum menikah dan memiliki anak. Namun, karier memiliki batas usia dan persyaratan pengalaman. Tidak banyak perusahaan yang mau meng-hire karyawan usia 35 tahun ke atas kecuali untuk posisi manajerial (seperti manager atau supervisor) ke atas yang tentunya harus memiliki pengalaman setidaknya 10-15 tahun bekerja.

Cerita lain lagi dari kerabatku, ada seorang istri yang akhirnya kembali dan kembali lagi pada suaminya yang sudah bertingkah sangat buruk. Suaminya sering ‘main gila’ dengan perempuan lain, mabuk-mabukkan, sering memukul dan mencaci dirinya bahkan sudah berkali-kali mengucapkan talak pada dirinya. Ketika ditanya mengapa masih ingin kembali sementara ia sudah diperlakukan sedemikian rendah? Jawabannya sungguh bikin miris: “Saya mau makan apa jika nggak bersama dia? Saya nggak bisa kerja apa-apa, nggak punya keahlian apa-apa, nggak pendidikan tinggi…syukur saja dia masih memberi saya uang belanja”

Kasus lain, seorang saudara jauh yang mengeluhkan mengenai mertuanya yang masih suka minta nafkah keluarga pada suaminya. Si istri ini menilai mertuanya tidak sadar bahwa anaknya sudah menikah dan tidak sepenuhnya milikinya. Lalu ketika ditanya, “Memang apa sih yang diminta sang mertua?”. Si istri dengan wajah merengut menjawab “Membantu uang sekolah adiknya. Padahal jauh lebih baik ditabung untuk anak kami!”. Ketika diceritakan tentang ini, aku langsung nggak habis pikir. Bagaimana bisa si istri sampai merasa suaminya tidak adil hanya karena memberi sebagian uang pada orang tuanya untuk membantu adiknya sekolah? Tapi aku akhirnya mengerti, si istri tidak bekerja, murni sebagai ibu rumah tangga dan mengandalkan penghasilan suami. Sementara dari sisi mertua, menganggap si istri hanya bisa ‘menadah’ dan menguasai penghasilan puteranya. Akibatnya, antara si istri tersebut dan mertuanya tidak pernah harmonis, selalu ‘berebut’ penghasilan suaminya.

Dan masih banyak pula kisah-kisah lainnya yang membuat bargaining position seorang perempuan menjadi lemah dalam rumah tangga hanya karena ia tidak memiliki penghasilan sendiri. Ini bukan menyudutkan ibu rumah tangga yang tidak bekerja lho ya. Tetapi realitanya, tidak semua perkawinan seindah dongeng Cinderella. Aku bisa berkata begini karena contohnya banyak terjadi dalam keluarga besarku. Sehingga semakin menguatkan tekadku untuk menjadi tetap bekerja ketika sudah menikah dan memiliki anak kelak.

Ada banyak alasan wanita tetap ingin bekerja setelah menikah dan memiliki anak. Ada yang ingin membantu suami, membantu orang tua, hingga aktualisasi diri. Aku sendiri selalu meniatkan bahwa rumah tanggaku kelak tidak dibangun di atas air mata orang tua, baik orang tuaku maupun orang tua suami. Mereka harus tetap dibahagiakan dan disantuni meskipun anak-anaknya sudah membentuk rumah tangga. Aku masih ingin membiayai hidup Mama, begitupun aku masih ingin suamiku kelak tetap berbakti pada kedua orang tuanya. Nah, aku juga jadi teringat kisah Khadijah RA yang tetap sukses menjalankan bisnisnya ketika menikah dengan Rasulullah SAW. Suksesnya bisnis Khadijah memberikan dukungan yang sangat besar bagi dakwah Rasulullah SAW pada masa itu. So, rasanya terlalu fatal men-judge ibu bekerja untuk memenangkan egonya sendiri, siapa tahu mereka memang tulus untuk mendukung suami dan rumah tangga.

Di sisi lain, aku yakin, sebagian besar working mom tetap sepakat bahwa karier terbaik seorang wanita adalah sebagai full time mother & housewife. Aku tidak mengingkari jika dalam Islam dikatakan tempat terbaik seorang wanita adalah rumahnya. Bahwa tugas sebagai istri mengurus anak-anak dan rumah tangga adalah kewajiban wanita di atas segala-galanya. Tetapi jangan dilupakan bahwa wanita bekerja pun hukumnya mubah (boleh). Sehingga hal ini menghasilkan dua premis: (1) wanita wajib menjadi ibu rumah tangga; dan (2) wanita boleh bekerja. Kita sebagai wanita harus (*italic, bold, underlined, hehehe) mengambil premis pertama sebagai pilihan mutlak, dan kita boleh memilih apakah kita mengambil premis kedua atau tidak. If we choose both, its good. If we choose only the first, its GREAT. Life is about choices, right?

Teman kantorku, seorang ibu yang memiliki anak berusia 5 bulan, setiap beberapa jam sekali meninggalkan mejanya menuju ruang laktasi untuk pumping ASI. Meski bekerja di kantor selama 9 jam sehari, bukan berarti ia serta merta melepaskan kewajibannya sebagai ibu dari anak berusia 5 bulan bukan? Status dan peran ibu tetap ia bawa ke kantor, sesibuk apapun. Maka rasanya kurang adil jika menyebut ibu bekerja lebih pantas disebut karyawan daripada seorang ibu. Status ibu otomatis melekat pada diri seorang wanita ketika ia telah melahirkan anak (atau juga mengadopsi anak dan membesarkannya seperti anak sendiri), tidak bisa dilepaskan ketika ia pergi ke kantor atau keluar rumah untuk bekerja. Seorang ibu yang bekerja sebagai karyawan tetaplah seorang ibu, begitu juga yang bekerja sebagai polwan, artis, buruh tani, penjual jamu gendong, penjual sayur, dsb. Aku rasa tidak tepat melepaskan status ibu pada seorang perempuan hanya karena dia memilih menjadi working mom.  Mungkin lebih tepat melepaskan status ibu dari perempuan yang memang tidak bertindak seperti selayaknya seorang ibu seperti: mengonsumsi narkoba, menganiaya anak, mengabaikan keluarga, pergaulan bebas, mabuk-mabukan, dsb.

Just a thought… tulisan ini nggak bermkasud menambah rentetan perdebatan panjang mengenai working mom. We can’t agree and disagree. Sehingga tidak ada gunanya menyudutkan perempuan bekerja tidak layak disebut seorang ibu. Dan lebih tidak ada gunanya lagi para working mom ini menanggapi pernyataan tadi dengan amarah, merasa tersakiti, merasa keikhlasannya dilukai, lalu ‘membaca ulang’ seluruh pengorbanannya untuk keluarga. Hei, itu tidak perlu. Allah Ta’ala yang menilai, bukan manusia, bukan pula jagad sosial media. Jika aku kelak disodori pertanyaan (atau disudutkan) “Kenapa sih masih mau kerja? Memangnya nggak sayang sama anak?”. Aku akan menjawab “Saya sayang anak saya. Dan saya masih mau kerja karena saya (atau keadaan) memilihnya. Tapi yang jelas, saya tahu yang terbaik untuk hidup saya dan anak saya”  🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s