Memperbaiki Shalat

Ilustration for Ramadhan, 08 Oktober 2005 Foto : BRR/Arif Ariadi

Ilustration for Ramadhan, 08 Oktober 2005 Foto : BRR/Arif Ariadi

“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya..” [QS.Al-Ma’un(107): 3-4]

Di suatu Sabtu sore, di Masjid UI pada saat kegiatan pengajian mingguan yang biasa kuikuti, guru mengajiku, Kak Mis, menceritakan sebuah kisah. Tentang seorang pengusaha yang baru merintis bisnis, berasal dari kampung, dan berniat datang ke Jakarta untuk bertemu calon-calon investor yang akan menanam modal dan membantunya mengembangkan usaha. Tentu saja si pengusaha muda ini harus menemui mereka satu persatu untuk mempresentasikan prospek bisnis yang akan dijalankannya. Sayangnya, ketiga investor yang akan ia temui mengatur jadwal meeting di 3 hari berbeda. Investor pertama di hari Senin pagi, investor kedua di hari Rabu, investor ketiga di hari Jumat sore. Si pengusaha dalam hati sebenarnya keberatan. Maklum deh, namanya datang jauh-jauh dari kampung, masih merintis, menghabiskan waktu seminggu di Jakarta sangat costly baginya. Ia sempat kebingungan, dimana ia akan mennginap selama seminggu di Jakarta. Ia baru sekali datang ke Jakarta dan penginapan per malam tidak murah di sini. Keluh kesahnya ini ia sampaikan pada seorang temannya.

“Waduh, gimana nih? Bisa tekor aku seminggu di Jakarta! Jadwalnya nggak bagus banget”

“Hmm, kamu kalau shalat biasanya jam berapa?” tanya si teman.

Lha kok nanya gitu? Aku biasa shalat suka di akhir waktu sih…”

“Nah itu dia masalahnya…coba deh kamu shalat di awal waktu. Insya Allah beres deh masalahmu”

“Lho gimana caranya beres? Apa hubungannya? Wong jadwalnya sudah diatur sekretaris investor-investor itu kok. Baru saja tadi aku dikonfirm lagi dengan jadwal yang tadi”

“Sudah deh…ikutin nasihatku. Coba kamu perbaiki tuh jadwal shalat kamu”

Singkat cerita, si pengusaha pun menuruti nasihat temannya. Lagipula ini saran yang baik, pikir si pengusaha. Eh…menjelang hari H, sekretaris si investor pertama menelpon, “Maaf Pak, jadwalnya diundur ya Jumat saja. Bos mau urusan keluar kota hari Senin”. Si Pengusaha pun langsung mengiyakan, dalam hati senang sudah bisa memadatkan dua meeting di hari Jumat. Tidak lama kemudian, investor kedua pun menelpon si pengusaha. Minta reschedule meeting ke hari Jumat siang. Sontak si pengusaha terbengong-bengong. Alhamdulillah…Gusti Allah, kok jadi kebetulan yang bagus sekali semua ini…

Seketika si pengusaha pun teringat nasihat temannya tempo hari. Ternyata, ini semua adalah hikmah dari memperbaiki shalat. Perbaikilah shalat, baik itu jadwalnya, pelaksanaannya…maka Allah akan memperbaiki urusanmu. Perbaiki urusan akhirat, maka Allah akan memperbaiki urusan duniamu. What a beautiful story 🙂

***

Seminggu kemarin pekerjaanku di kantor benar-benar hectic. Karena sedang ada retur besar-besaran produk di distributor, atasanku memintaku untuk menghitung semua data penjualan produk yang diretur. Semua data retur dimonitor per hari, dan langsung dipresentasikan oleh manajerku di depan direksi. Tentunya ini data yang benar-benar penting, aku harus menyajikannya seakurat dan secepat mungkin.

Setiap jam, semua admin penjualan di area mengirimiku update jumlah produk yang diretur. Aku harus compile semua data tersebut, mengkonversinya ke dalam satuan metrik ton, menghitung nilai rupiah retur tersebut dan membuat grafik jumlah dan kecepatan retur dari semua area di Indonesia. Jangan ditanya ribetnya kayak apa. Data yang kuolah semuanya dalam bentuk excel dengan ribuan cell di dalamnya. Sungguh pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Manager-ku memasang deadline, semua data tersebut harus jadi sebelum beliau mempresentasikannya jam 11 pagi selama seminggu kemarin di hadapan direksi. Kontan saja aku panik. Ini data yang sangat buanyaaak. Sulit untuk diselesaikan besok. Terpaksa, aku melemburkan diri setiap hari selama seminggu kemarin demi mengejar deadline.

Aku benar-benar ingin menyelesaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Karena itulah aku rela menunda-nunda waktu shalatku. Bahkan sering sampai last minute. Seminggu kemarin, qiyamul lailku absen. Shalat Dhuha ditinggal. Subuh pun terseok-seok telat bangun. Aku sungguh ingin membuktikan pada atasan, performance-ku sangat bagus dalam bekerja. Aku tak lagi memikirkan apapun selain kerja dan kerja. Ketika shalat pun, fokusku buyar, bacaan shalatku kacau, gerakan shalatku terburu-buru, doaku tergesa-gesa, terus-menerus memikirkan tugas tersebut…astaghfirullah. Bagiku saat itu, penilaian managerku sangat penting. Aku harus bisa meng-impress beliau. Aku tidak ingin membuatnya kecewa dengan kinerjaku. Aku harus tampil menjadi pegawai yang bisa diandalkan.

Qadarullah, di hari Jumat siang, atasanku menghampiri meja kerjaku. Wajahnya sangat masam. Dan mengalirlah semua teguran beliau yang sangat menohokku. Data yang kuberikan sebagian besar salah hitung. Banyak keteledoran di penghitungan. Beliau pun mengoreksi semua data yang kukerjakan di depanku. Ketidak telitianku habis-habisan dibedah. Ya Allah…mengapa aku bisa sealpa ini? Padahal aku sudah merasa sangat yakin dengan pekerjaanku. Aku memang tidak sempat mengecek ulang sebelum dikirimkan ke atasan, lagi-lagi karena mepetnya waktu dan berkali-kali aku dikejar. Ya Rabb…mukaku pucat, aku menggigit bibir berkali kali.

Atasanku marah sekali. Beliau tidak membentak-bentak, tetapi berulang kali menekankan betapa pentingnya data ini. Beliau lah yang akan disalahkan oleh direksi jika data ini salah. Terlihat jelas sekali raut wajah manager-ku kecewa. Aku tak mampu berkata apa-apa selain minta maaf, namun tentu saja maafku tak akan menyelesaikan masalah. Manager-ku berulang kali menyalahkanku, dan yah…itu pantas aku terima. Sungguh aku benar-benar tidak enak pada beliau. Ingin rasanya aku menangis, tapi sekuat tenaga kutahan. Aku baru bekerja sebulan disini, namun sudah banyak kesalahan pengolahan data yang kulakukan. Dan ini yang paling fatal 😦

Aku pulang dengan lunglai. Perasaanku remuk. Aku sampai melemburkan diri selama seminggu, sampai kantor sepi, namun mengapa begini jadinya…berulang kali aku menyalahkan diriku sendiri. Sampai rumah, tangisku pun tumpah. Weekend  ini yang ingin kulalui dengan rileks, malah menjadi beban karena aku harus merevisi semua data yang kubuat.

Di sela-sela memperbaiki data, aku merenungkan hari-hari yang kulalui seminggu kemarin. Sempat berburuk sangka pada Allah…mengapa bebanku seberat ini. Sempat pula pesimis menatap hari-hari ke depan…apakah aku sebenarnya tidak cocok dengan pekerjaan ini? Sanggupkah aku melakukan tugas-tugas ke depannya? Apakah aku akan dipecat? Dan berbagai pikiran buruk menghantui.

Sampai tanpa sengaja aku buka home Facebook, dan kulihat status dari fan page Aa’ Gym. Aku lupa pembendaharaan katanya, namun intinya begini: kalau kita mencari ridha manusia, justru hanya mendapatkan kecewa dan jika kita merasa down ketika kita tak lagi dipuji, artinya kita sudah terlalu cinta dunia. Masya Allah…suatu kesadaran timbul di hati kecilku. Segitu rendahnya kah hatiku? Terlalu mengharap ridha manusia, terlalu mengharap pujian dari manager. Kuingat-ingat lagi kacaunya ibadahku seminggu kemarin. Saking aku ingin menyelesaikan pekerjaan, kulalaikan shalatku. Padahal , sebelumnya aku sudah pernah mendengar cerita yang kusampaikan di atas. Barangsiapa memperbaiki shalatnya, maka Allah akan memperbaiki urusannya. Yang lebih menyedihkan, seminggu kemarin aku terbangun dengan pikiran pertama adalah: pekerjaan. Dan bukan mengingat Allah. Mungkin saja, aku semestinya tidak harus begitu-begitu amat dengan pekerjaan. Harusnya aku memangkas waktu tidurku saja agar sampai di kantor lebih awal, biar bisa sekalian qiyamul lail. Harusnya juga aku mengurangi jam makan siangku untuk sementara ini, dengan bawa bekal misalnya…bukan waktu shalat yang kupangkas habis-habisan dan kutunda selambat mungkin. Harusnya aku tidak menghabiskan waktu luang dengan mengecek gadget, tapi dengan berdzikir. Harusnya dan harusnya…ahh.

 “Barangsiapa yang bangun di pagi hari & hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak-hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit: 1) Kebingungan yang tiada putus-putusnya,2) Kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya, 3) Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, 4) Khayalan yang tidak berujung.” (HR. Imam Thabrani)

Masya Allah…seakan-akan baru kali ini aku membaca hadist tersebut. Aku berusaha menyempurnakan urusan pekerjaanku, namun bukan shalatku. Begitu juga aku berusaha keras memberi kesan yang baik pada atasanku, namun aku tidak berusaha mengesankan yang terbaik dalam shalatku untuk-Nya. Dan Allah pun menjungkirbalikkan semua keadaan. Pekerjaanku kacau,atasanku marah, dan aku pun kehilangan ridha-Nya dalam shalat…ini benar-benar pelajaran bagiku.

Maha Benar Allah. Celakalah orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Celakalah aku…hanya dalam waktu seminggu! Ya, hanya seminggu…seminggu lalai dalam beribadah padaNya…tamparannya begitu membekas.  Apa yang terjadi jika aku lalai dalam shalatku sebulan? Setahun? Beberapa tahun? Bagaimana tamparanNya di akhirat kelak? Mungkin  tak akan ada lagi tamparan dari Allah…dibiarkan-Nya aku terus tenggelam dalam kesibukan dunia.  Celaka…sungguh celaka.

Ya Allah, kalau bukan karena kasih dan sayang-Mu, kalau bukan karena kemurahan-Mu, pasti hamba akan tersesat terus begitu jauh…Ya Tuhan kami, tuntunlah kami, dan janganlah Engkau lepaskan kami…

Advertisements

One thought on “Memperbaiki Shalat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s