Meluruskan Niat ke Baitullah

tumblr_m0o4if0jH61r4bvcho1_500

Baru-baru ini aku membaca sebuah buku karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang berjudul ‘Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan’ (hasil berburu di IBF weekend lalu hehehe). Ada salah satu ulasan yang awalnya cukup menggelisahkan hatiku, kemudian terasa begitu mencerahkan. Mengenai perlunya meluruskan niat ke Baitullah.

Apa niat kita ke Baitullah? Ingin melihat Ka’bah? Rindu ke tanah haram? Ingin berubah menjadi lebih baik? Ingin bertaubat? Ingin mencari ketenangan hidup?

Itu semua hanyalah ekstase. Begitu kata Ust Mohammad Fauzil Adhim. Iya, ekstase…maksud istilahnya masih sodaraan gitu sama ekstasi hehehe. Iya, cuma memberikan efek penenang, euforia, dan kesejukan yang sementara. Ingin berubah lebih baik? Sejatinya manusia memang harus selalu berusaha beubah lebih baik. Begitu juga bertaubat. Harus terus-menerus, tidak perlu menunggu momen pergi ke Baitullah. Ketenangan hidup pun tak serta merta datang setelah kita selesai menunaikan haji atau umroh. Sudah banyak contoh orang yang bolak-balik pergi ke sana, namun tetap sulit mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.

Bagaimana jika karena kita begitu ingin melihat Ka’bah? Begitu rindu menjejakkan kaki di Masjidil Haram?

Aku jadi teringat kisah Rasulullah SAW dan kaum muslimin yang hendak menunaikan ibadah haji pertama kali. Saat itu tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah dan kaum muslimin berniat melaksanakan haji, sudah datang lengkap dengan pakaian ihram, tanpa senjata. Sebagian kaum muslimin yang merupakan golongan muhajirin (kaum muslim yang hijrah dari Mekkah ke Madinah bersama Rasulullah), sudah teramat rindu pada Ka’bah, pada kampung halaman mereka Mekkah. Sayangnya, niat tersebut tidak tercapai karena kaum kafir Quraisy menghalangi dan menyuruh Rasulullah dan kaum muslimin kembali ke Madinah. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi sebab dilakukannya Perjanjian Hudaibiyah (Hudaibiyah adalah nama tempat dimana kaum muslimin tertahan perjalanannya, sekitar 6 mil dari kota Mekkah).

Saat itu, Umar bin Khattab RA (duh, kalau nyebut beliau…aku suka gimanaaa gitu. Kagum sih. Hehehe), bertanya pada Rasulullah “Bukankah engkau telah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Ka’bah kemudian kita melakukan ibadah thawaf di sana ?”

Kemudian Rasulullahmenjawab, “Benar, (akan tetapi) apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya pada tahun ini ?”

“Tidak!” jawab Umar.

Rasulullah pun bersabda, ” Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf.”

Dari cuplikan kisah ini, menurutku, ternyata kerinduan pada Ka’bah, pada Mekkah, pada tanah haram, tidak bisa semata-mata melandasi niat kita ke Baitullah. Karena Ka’bah sesungguhnya adalah benda. Kalau hanya itu, maka bisa jadi kita malah ngotot pergi berkali-kali kesana, ingin kembali dan terus kembali. Meskipun ternyata setelah kembali dari sana tidak ada perubahan akhlak yang berarti atau bahkan tetangga kita masih banyak yang kelaparan. Bodo amat…yang penting gue kangen kesana! 

Maka masih menurut buku ‘Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan’ tersebut…satu-satunya hal yang pantas, yang  layak untuk memotivasi niat kita ke Baitullah adalah: mengharap ridha Allah.  Ya, ridha Allah. Apa lagi? Apa lagi yang kita perlukan? Berkali-kali pun ke Baitullah namun Allah tak kunjung ridha…untuk apa?

Saya teringat dengan Ibnu Mas’ud RA, sahabat Nabi SAW ini pernah berkata “Di akhir zaman akan bertambah banyak orang yang pergi haji tanpa sebab tertentu. Perjalanan ke sana sangat dimudahkan bagi mereka dan rezeki mereka pun dilapangkan, namun mereka pulang dari sana dalam keadaan kosong dari pahala dan terlepas dari kebaikan, dan adakalanya seorang dari mereka diperosokkan oleh untanya di padang pasir dan belantara, sementara tetangganya sendiri dalam kesusahan, tidak diberinya pertolongan” (Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan oleh Mohammad Fauzil Adhim)

Hatiku was-was. Kutatap nanar abaya dan cadar yang sudah Mama belikan untuk kupakai disana kelak (saking semangatnya Mama mempersiapkan >,<). Apakah ini yang namanya ekstase? Ya Allah mudah-mudahan tidak! Hindarkan ya Rabb…

Semoga Allah memudahkan langkah kaki kita menuju Ka’bah-Nya, dan meluruskan niat kita dalam beribadah kepada-Nya disana.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s