Sales & Marketing: Serupa Tapi Tak Sama

marketing-sales-team-7

Apa yang terpintas di pikiran kita jika mendengar kata ‘sales’ dan ‘marketing’? Yang tukang jualan gitu deh, yang masar-masarin! Bisa jadi. Di kalangan awam pada umumnya sering terjadi kerancuan dalam penyebutan ‘sales’ dan ‘marketing’. Tapi, sebenarnya, samakah antara sales dan marketing?

Sales, atau dalam Bahasa Indonesia berarti ‘penjualan’ merupakan aktivitas menjual barang atau jasa secara langsung. Sedangkan Marketing yang artinya ‘pemasaran’ merupakan aktivitas memasarkan barang atau jasa. Sepintas terlihat mirip, namun sebenarnya berbeda dalam praktik. Dalam kegiatannya, sales menjual produk secara langsung. Maksudnya secara langsung yaitu benar-benar turun ke target konsumen, menawarkan, pitching (kalau ini biasanya saya artikan sebagai ‘bersilat lidah’ hehehe) dan akhirnya negosiasi harga dengan pembeli. Sedangkan marketing ‘menjual’ (dengan tanda kutip) produk dengan membentuk image produk tersebut.

Contoh sederhananya seperti ini:

Sebuah sepatu olahraga lari (running shoes) X merk impor dari Cina melakukan dua kegiatan: sales dan marketing. Pada kegiatan sales, salesman sepatu X tersebut akan berbicara harga sepatu yang murah dengan kualitas bahan yang tak kalah dari sepatu impor negara lain. Solnya enak dipakai lari, ringan, kulitnya elastis, tahan di segala medan dan menyerap keringat. Pokoknya sales akan menggiring calon konsumennya untuk akhirnya membeli sepatu tersebut dengan pertimbangan-pertimbangan yang dirasakan langsung oleh si calon konsumen: kualitas barang bagus dan harga terjangkau.

Sedangkan bagian marketing sepatu X akan berbicara bagaimana sepatu tersebut membuat si pemakainya terlihat lebih keren, lebih sporty, dan akhirnya si calon konsumen akan merasa lebih prestise memakai sepatu tersebut. Caranya? Tentu dengan mengonsep iklan semenarik mungkin, promosi segencar mungkin bahkan, tak segan-segan marketer sepatu X memasang Michael Johnson (Eh ini masih aktif ikut kejuaraan nggak ya? Maaf, tidak banyak tahu atlet lari. Hehehe) sebagai bintang iklan dan brand ambassador sepatu X dan meng-endorse Johnson. Tujuannya jelas: membangun citra di mata calon konsumennya sehingga mereka akan berpikir ‘atlet lari sekelas Johnson aja pakai, pasti kualitas sepatunya memang mumpuni’. Ini merupakan pertimbangan-pertimbangan yang dirasakan secara tak langsung oleh si calon konsumen.

Sehingga, kurang tepat jika menyebut seseorang yang menjual dengan sebutan marketing. Ini biasanya terjadi pada usaha properti dimana tenaga yang menjual diberi jabatan sebagai marketing, padahal lebih tepatnya disebut sales. Kalau yang disebut marketing property, ya contohnya…Jeng Feni Rose yang belakangan wara-wiri tampil di iklan sebuah developer terkemuka. Hehehe. Perbedaan ini pun yang akan mempengaruhi cara kerja antara seorang sales analyst dan market analystSales analyst akan menganalisa performance penjualan yang sudah terjadi dan akan terjadi sedangkan market analyst akan menganalisa kepopuleran brand dan pengaruh produk tersebut di masyarakat.

Nah, sampai di sini bisa kita lihat hubungan yang erat antara sales dan marketing. Keduanya mestilah saling bersinergi. Branding produk harus kuat, agar sales bisa menjual produk dengan mudah. Begitu juga sales pun harus bisa menunjukkan performance yang bagus agar marketing bisa mengukur sejauh mana pengaruh produk tersebut di masyarakat.

Semoga bermanfaat 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s