Memperkecil Resiko Bayi Lahir Cacat dengan Mencegah Tindak Aborsi dalam Keluarga

Tulisan ini disertakan sebagai esai kontribusi bertemakan ‘Kesehatan Anak’ dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Komunitas Swayanaka ke-38 dimana aku baru saja bergabung sebagai anggota. Sebelumnya, aku ingin mengutip ayat yang teramat indah ini:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan.  Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am: 151).

Tulisan ini barangkali untuk seluruh ibunda, ayah, calon ibu dan calon ayah. Semoga bermanfaat.

resiko aborsi

Matanya yang sayu, tatapannya kosong, pipinya yang nampak turun sementara di sudut bibirnya menggenang air liur yang mengental. Susah payah ia berdiri di atas kakinya yang lunglai sambil terus menggumamkan kata-kata yang tak jelas. Itulah sosok Rizky, anak tetangga saya yang (maaf) mengalami keterbelakangan mental. Di usianya yang sudah menginjak enam tahun, postur tubuh Rizky masih serupa dengan anak umur tiga tahun. Postur tubuh Rizky yang tak wajar: kepala agak besar, tubuh rapuh dan kedua kaki yang jauh lebih kecil membuatnya tak kuat menopang dirinya sendiri untuk berdiri. Akibatnya Rizky masih diperlakukan seperti batita pada umumnya: harus digendong atau diseret jika hendak berpindah tempat. Sebagai anak yang mengalami keterbelakangan mental lainnya, emosi Rizky juga amat tak stabil. Ketika sedang tantrum─ kondisi dimana seorang anak kecil marah dengan ekspresi meledak-ledak dikarenakan tidak senang dengan lingkungan sekitarnya atau terhalang keinginannya dalam mendapatkan sesuatu ─ jika pada anak normal biasanya diekspresikan dengan berteriak-teriak, menghentakkan kaki, menangis, atau memukul sesuatu, maka pada Rizky sampai membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Satu hal yang selalu mengundang tangis di pelupuk mata sang Ibu.

“Iky, maafin Mama ya, Ky…Mama udah bikin Iky kayak gini…maafin Mama ya…” ujar Ibu Rizky dengan penuh penyesalan.

Penyesalan seorang Ibu yang tiada habisnya. Di suatu sore, ketika lewat depan rumahku, Rizky dan Ibunya berhenti sebentar di depan pagar rumah. Kebetulan saat itu aku dan Ibuku sedang bersantai sore di halaman depan. Kami pun berbincang hangat sebagaimana kehidupan bertetangga lainnya. Tiba-tiba Ibuku tertarik perhatiannya pada sudut-sudut kepala Rizky yang nampak biru lebam. Mudah sekali terlihat karena Rizky memang botak. Ibuku bertanya tentang keanehan tersebut.

“Ini, Mama Sarah (panggilan ibuku di lingkungan rumah), si Iky semalam jedot-jedotin kepala ke tembok”

Lalu mengalirlah curhat Ibu Rizky mengenai kondisi anaknya untuk kesekian kalinya. Di sela-sela itu, Ibu Rizky kembali mengungkapkan penyesalan terbesarnya: bahwa kondisi Rizky yang demikian terjadi karena semasa mengandung Rizky, ia berulang kali berusaha mengugurkannya dengan minum obat-obatan, jamu, dan sebagainya.

“Mungkin ini hukuman dari Allah untuk saya…”kata Ibu Rizky dengan mata berkaca-kaca.

Rizky tidak sendiri. Ada begitu banyak kasus serupa terjadi di Indonesia. Aborsi gagal yang menghasilkan bayi lahir cacat seperti anggota tubuh tidak sempurna, bibir sumbing, kelainan fungsi tubuh hingga keterbelakangan mental seperti yang Rizky alami. Tanggal 3 Maret lalu, Indonesia kedua kalinya memperingati Hari Kelainan Bawaan Sedunia atau World Birth Defect Day dengan mengusung tema ‘Cegah Bayi Lahir Cacat dengan Terapkan Pola Hidup Sehat Sebelum dan Selama Kehamilan’. Indonesia sendiri menurut data WHO SEARO tahun 2010 diperkirakan prevalensi bayi lahir dengan kelainan bawaan di Indonesia adalah 59.3 per 1000 kelahiran hidup. Jika setiap tahun lahir 5 juta bayi di Indonesia, maka akan ada sekitar 295.000 kasus kelainan bawaan pertahun (sumber: www.depkes.go.id, diakses 09 April 2016). Lebih lanjut dari data tersebut juga diuraikan bahwa bayi yang lahir dengan kelainan bawaan berisiko tinggi mengalami kematian saat baru dilahirkan (neonatal) dan bagi yang bertahan hidup menjadi penyandang disabilitas atau mengidap penyakit kronis.

Meskipun faktor genetik sebagian besar merupakan penyebab bayi terlahir cacat, namun gaya hidup yang tak sehat saat Ibu mengandung juga sangat berperan. Seperti dalam kasus Rizky, bisa dipastikan tidak ada faktor genetik yang menyebabkan keterbelakangan mental karena sebelumnya    keempat kakak Rizky lahir normal. Jika sudah begini, siapakah yang harus disalahkan?

Kehamilan yang tak diinginkan merupakan hal yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Biasanya kehamilan menjadi tak diinginkan karena faktor ekonomi. Seperti pada Rizky, ayahnya adalah seorang pekerja serabutan. Meski beberapa kakak Rizky sudah bekerja dan sudah ada yang berkeluarga, namun  kedua orang tuanya merasa ‘sudah tidak sanggup’ jika harus membesarkan dan membiayai seorang anak lagi. Maka ditempuhlah usaha aborsi yang sangat berbahaya tidak hanya bagi anak yang dilahirkan tetapi juga bagi sang ibu.

Padahal, jika boleh menengok lebih ke belakang lagi, kehamilan yang tak diinginkan bisa dicegah dengan program Keluarga Berencana (KB) yang kian gencar disosialisasikan Pemerintah hingga lingkungan kecamatan dan kelurahan. Bentuk sosialisasi ini antara lain penyuluhan, pemberian pil KB dan alat kontrasepsi murah, hingga layanan konsultasi kesehatan. Namun pada akhirnya, program apapun yang berusaha diefektifkan di masyarakat akan terpulang ke masyarakat itu sendiri. Apakah tercipta kesadaran untuk mau mendisiplinkan diri untuk KB? Dan jika terlanjur terjadi kehamilan yang tak diinginkan, bagaimana mengatasinya?

Jika ditanya, mengapa tidak KB? Maka Ibu Rizky akan menjawab, “Sudah, tapi entah kenapa kebobolan”. Kemudian, jika ditanya mengapa sampai tega ingin menggugurkan, apalagi dengan cara-cara yang sangat berbahaya seperti itu, maka ia akan menjawab, “Entahlah, saya nggak tahu…saya khilaf”

Ketidaktahuan Ibu. Ini merupakan momok yang sangat menakutkan. Karena tidak tahu, si Ibu menjadi terlalu ‘berani’ dan tak menyadari risiko fatal yang mengintai dari aborsi di luar pengawasan dokter. Saya pernah membaca suatu forum parenting di internet mengenai aborsi kandungan. Ternyata, tidak hanya perempuan yang hamil di luar pernikahan yang bisa ‘berkeras hati’ melakukan segala cara untuk aborsi, tetapi juga seorang ibu dalam pernikahan yang sah dan sudah pernah mengalami peristiwa melahirkan sebelumnya. Dan bukan hanya terjadi pada Ibu yang tidak melek  informasi seperti Ibu Rizky, tetapi juga terjadi pada ibu yang notabene melek informasi (terbukti, mereka bisa mengakses internet dan menceritakan pengalaman mereka berusaha aborsi dalam forum online) dan jika membaca alasan mengapa sampai ingin melakukan aborsi sungguh membuat miris: karena belum siap untuk memiliki anak lagi. Entah apakah karena ketidaksiapan ekonomi ataupun ketidaksiapan psikis. Forum diskusi ibu mengenai aborsi ini bisa diakses di http://ibuhamil.com/diskusi-umum/55570-gagal-aborsi-memilih-mempertahankan-janin-ku.html .

Melihat faktor-faktor di luar genetik yang sudah saya sebutkan di atas, maka solusi yang harus digalakkan saat ini adalah membangun dan meningkatkan kesadaran Ibu bahwa aborsi yang berbahaya, di luar motivasi kesehatan dan pengawasan dokter, harus dihindari. Sehingga dalam sosialisasi program KB, juga perlu ditekankan bahwa aborsi bukanlah solusi ketika ‘apa yang tidak sesuai rencana’  terjadi. Pentingnya penyuluhan bahaya aborsi dalam keluarga sebaiknya menjadi bagian dari program KB karena pada dasarnya Program Keluarga Berencana tidak hanya bertujuan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk tapi juga mewujudkan keluarga Indonesia yang sehat. Kecintaan Ibu terhadap anaknya perlu dimotivasi lebih dalam, agar pertimbangan kasih sayang menjadi lebih kuat dan mampu mengalahkan berbagai alasan aborsi.

Tidak hanya Ibu, pada Ayah pun harus ditumbuhkan rasa bertanggung jawab untuk memelihara janin yang dikandung sang Ibu. Karena tak jarang, keputusan aborsi berasal dari suami, seperti pada pengakuan beberapa Ibu dalam forum diskusi online di atas.

“Pas kehamilan 4 bulan saya memberitahu suami jika saya sedang hamil,reaksi suami saya waktu itu marah,stress,dan suami saya bersikeras menyuruh saya membuang bayi ini. Jujur saya sangat sedih atas perlakuan yg di tunjukkan suami saya karena setega ini pada anak sendiri. Setiap hari saya ditekan dan dimarahi untuk segera mengaborsi janin ini,tapi karna tidak kuat atas perlakuan suami,saya terpaksa mengikuti kemauannya ”

“Beberapa hari lalu teman saya, mengalami nasib yang sangat pedih sebagai calon ibu.. dia sudah hamil, tapi oleh suaminya dianjurkan utk digugurkan alasan sang suami belum mau memiliki anak. yang dibelikan obat, nanas, dipukul-pukul perutnya tetap tahan dan kuat, pada akhirnya suaminya temanku ini mnyuruh utk aborsi. Tak disangka malamnya temanku mengalami sakit perut yang luar biasa panasnya dan sprei sudah basah akan darah, dibawa ke UGD dan segera kuret”

(Sumber: http://ibuhamil.com/diskusi-umum/55570-gagal-aborsi-memilih-mempertahankan-janin-ku-3.html , diakses 09 April 2016)

Dalam hal ini, sejak awal perlu dikomunikasikan secara terbuka dalam internal pasutri: berapa jumlah anak yang diinginkan, berapa tahun jarak kelahiran dan bagaimana komitmen masing-masing pihak dalam merencanakan kehamilan. Jika pada akhirnya terjadi kehamilan yang tak diinginkan, maka sang ayah pun tetap harus bersikap suportif. Sebab dalam kasus kehamilan yang tak diinginkan dalam keluarga, sesungguhnya bukanlah sang ayah yang merasa paling berat secara psikis, melainkan sang ibu yang mengandung, melahirkan, dan kelak akan mengasuh sembari berusaha keras agar anak-anaknya tetap bisa makan meski penghasilan suaminya jauh dari cukup. Usaha aborsi dalam keluarga, apalagi jika motifnya adalah tekanan suami, bisa dikategorikan sebagai KDRT yang tergolong tindak pidana. Tentunya ibu yang mengalami hal ini tidak boleh tinggal diam. Saat ini sudah banyak lembaga advokasi ibu dan anak yang bisa memediasi permasalahan KDRT semacam ini. Dengan terus berupaya meminimalkan tindak aborsi dalam keluarga, maka diharapkan, resiko bayi lahir dengan kelainan bawaan bisa semakin diperkecil. Semoga.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s