Perempuan dan Memasak

Memasak_01

Dulu, waktu masih kuliah dan aktif di rohis kampus, aku pernah mengikuti lomba memasak nasi goreng antar rohis tingkat universitas dan fakultas. Dalam tim lomba itu ada aku, seniorku yang jago masak (karena berhalangan hadir, si senior ini bertugas mengonsep penampilan dan resep nasi goreng dan) dan 3 orang junior yang angkatannya setahun di bawahku. Di anatara junior ini sebenarnya yang ‘beneran’ bisa masak cuma satu orang, selebihnya sebagai rame-ramean aja. Hehehe. Memang lombanya nggak serius-serius amat, cuma buat seru-seruan dalam rangka memeriahkan suatu acara kemuslimahan. Eh…nggak tahunya pas acara masak-masak berlangsung, banyak cowok sesama teman rohis yang menghampiri kayak serigala kelaparan. Dari mulai “nyobain dikit dong” lama-lama jadi “nambah lagi dong masih laper”. Alhasil, timku yang sedari awal siap sedia nasi hanya secukupnya, jadi harus memasak nasi lagi. Ketika aku sedang repot-repotnya menggoreng, aku mengomando salah satu anggota timku  untuk memasak nasi tambahan. Tapiiiii, aku langsung terkaget-kaget begitu mendengar yang keluar dari mulutnya, “Masak nasi gimana sih, Kak?”

Haaaah??? Waktu itu aku masih usia 20 tahun, berarti juniorku usia 19 tahun. Masa’ gadis usia 19 tahun nggak ngerti cara masak nasi?!?!?!

Aku juga jadi teringat ketika salah seorang teman kantorku, laki-laki, baru masuk kerja setelah seminggu cuti nikah. Langsung deh aku dan teman-teman lainnya jadi terlibat ‘percakapan cerita pengantin baru’.

“Bini lo bisa masak ngga?”

“Apaan… kemarin tuh yang parah pas bikinin gue sarapan bubur…dia nanya ‘Enak ngga, Babe?’. Ya gue jawab, ‘Enak kok enak…’. Padahal dalam hati: buset ga enak gila!”

Kami pun seketika tertawa.

“Untung aja gue cinta…tapi pas makan siang langsung aja deh gue ajak dia makan di restoran! Hahaha”

***

Perempuan dan memasak.

Sepertinya sudah identik banget ya. Skill perempuan yang utama ya…bisa memasak. Meski aku termasuk yang pro dengan eksistensi perempuan di dunia kerja, aku juga sekaligus yang pro dengan perlunya perempuan bisa memasak. Maka kalau ada pameo ‘Perempuan sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya ke dapur juga’, aku termasuk setuju. Ya memang begitu adanya. Bahkan nggak hanya perempuan yang masuk dapur, si suami, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya juga pasti pernah masuk dapur. Hehehe. Tapi nggak setuju ya kalau jadi cemooh: untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi karena akhirnya hanya ngurusi dapur, kasur, sumur!’

Justru itu. Menurutku, semakin tinggi tingkat pendidikan seorang perempuan, ia harusnya lebih paham tentang urusan masak-memasak. Kenapa? Karena otomatis dong perempuan yang berpendidikan punya akses pengetahuan lebih luas tentang makanan yang sehat dan bergizi, makanan untuk mencegah/mengobati penyakit tertentu sampai menu diet keluarga. Apalagi jika ia seorang wanita karier yang bisa sesekali mencicipi masakan ala luar negeri. Bisa banget tuh diterapkan di rumah. Jadi menunya nggak melulu sayur asem, tempe bacem, atau ikan teri saja, tapi juga pasta, lasagna, sushi, teriyaki, bulgogi, chicken mandi, dan lain-lain.

Beberapa waktu lalu, aku kembali menemukan artikel-artikel Islami tentang perempuan dan memasak. Bahwa memasak bukanlah tugas utama seorang istri dan nasihat untuk tidak menilai perempuan dari bisa memasak atau tidaknya ia. Benar, jangan menilai bakti istri hanya dari kemampuannya memasak. Tetapi juga jangan menjadi justifikasi atau pembenaran agar istri tak perlu lagi memasak. Bahkan sampai bawa-bawa fakta yang sebenarnya nggak terlalu berkaitan seperti: ‘Aisyah istri Rasulullah juga nggak bisa masak, tapi nggak berkurang kemuliaannya’. Oke, kalau gitu aku mau kasih tahu nih: ‘Sekelas Fatimah putri Rasulullah yang mulia saja masih mau bekerja keras mengolah gandum untuk dijadikan roti sampai bahunya memar-memar’. Hayooo ngaku, sebenarnya memang malas belajar masak, kan’? Hehehe

“Ah pengennya punya istri yang bisa masak”

“Itu nyari istri atau nyari tukang masak?”

Quote di atas cukup sering kutemukan bertebaran di Facebook yang menyiratkan pesan sensi: jangan tuntut istri memasak, dong! Ini yang membuatku geleng-geleng kepala. Sebenarnya sah-sah saja bukan jika seorang lelaki mendambakan istrinya bisa memasak? Tentunya dengan kesadaran bahwa masakan sang istri tidaklah selezat masakan chef hotel bintang lima, namun setidaknya bisa mengenyangkan perutnya dan anak-anak. Aku rasa sih ini kriteria yang tidak berlebihan. Sama halnya dengan perempuan yang mendambakan memiliki suami dengan kriteria yang bahkan lebih ribet lagi: sudah kerja mapan, gaji sekian, punya ini itu dan lain-lain. Padahal nih, kata orang tua zaman dulu, “Cara paling ampuh merebut hati suami adalah dari perutnya”. Lagian, masa’ nggak mau sih anak-anak kita makan dari tangan kita sendiri?

Aku selalu percaya bahwa memasak sesungguhnya memang sudah naluri perempuan. Dalam buku-buku pelajaran IPS di sekolah dulu, konon pada masa purbakala (kalau memang zaman purba itu beneran ada ya), sudah ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan: laki-laki pergi berburu, sedangkan perempuan memasak dan meramu hasil buruan. Dan, ingat nggak sih, ketika di masa kecil kita para perempuan suka main masak-masakan? Dengan mainan masak-masakan yang ada kompornya, panci kecil, atau atas batu, kita cincang dedaunan di halaman rumah seakan-akan itu masakan yang akan kita sajikan untuk ‘anak’ kita. Istilahnya main ibu-ibuan (huaaa, thank God I used to play that 🙂 ). Trus, itu apa namanya kalau bukan naluri? Kenapa kita nggak main mobil-mobilan atau pedang-pedangan seperti anak laki-laki?

Semua perempuan pada dasarnya pasti bisa memasak. Masalahnya adalah: mau atau tidak belajar memasak. Dan baiknya sih, sedini mungkin keahlian memasak sudah dikuasai. Misalnya usia SMP atau SMA gitu. Jangan telat kayak aku nih…pas masuk kuliah aku baru belajar masak. Atau banyak juga perempuan yang lebih telat lagi…pas mau nikah atau baru nikah…baru deh blingsatan belajar masak. Note to myself juga sih. Sejak kerja, aku makin jarang meluangkan waktu untuk masak. Paling-paling hanya weekend saja. Pas weekday paling banter ya masak nasi goreng. Akibatnya banyak masakan yang mulai aku lupa resepnya. Padahal dulu waktu kuliah udah lumayan enak masaknya. Saksi hidup masakanku adalah beberapa orang teman kuliah yang ‘kupaksa’ makan ekperimen masakanku yang waktu itu masih nggak karuan. Hehehe.

Dulu:

Masak –> masakan jadi –> foto masakan dari angle sana-sini –> upload di socmed –> ada yang komen ‘wah enak nih –>  senang bukan main…bangga gitu. Hahaha.

Sekarang:

Masak –> masakan jadi –> Udah ah sikat! Males keburu laper!

So, ladies, yuk ah belajar masak, jangan cuma bisa main game masak-masakan aja di Android…hehe. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Perempuan dan Memasak

  1. Ahh suka dengan postingan ini, ya memang harus begitu. Suka tidak suka, memasak adalah keahlian penting bagi perempuan ataupun laki2. Karena, memasak kedepan bakal menjadi kebutuhan, bukan masalah selera.

    Saya belajar masak entah sejak kapan, kecil mungkin. Soalnya anaknya Ibuk cowok semua, jadi kami terbiasa bantuin beliau kl pas masak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s