Ketika Harus Memilih

tumblr_mceg99WwT51rq1sye

Sebetulnya penggalauan di luar malam minggu itu tidak sah ya..hehe. Tapi ya mau gimana lagi, terkadang galau itu bisa jadi adalah sebuah ‘alarm’ bagi diri kita bahwa ada sesuatu yang ‘salah’ atau ‘kurang’ dalam diri kita. Perasaan mengganjal yang lebih enaknya kutuangkan dalam tulisan. Lagi-lagi maaf, ujung-ujungnya masih menyinggung tentang nikah, menikah dan pernikahan. Pokoknya kelak aku bakal kasih lihat deh semua isi blog ini pada suamiku nanti.

“Nih, betapa berat kegalauanku perjuanganku menanti dirimu, awas ya jangan macem-macem!”

Hehehe, canda ya 😀

Selama beberapa minggu ini instropeksi yang terjadi dalam diriku luar biasa menggalaukan. Dengan bantuan seorang teman, perlahan aku mulai menyadari satu hal yang menjangkiti diriku selama proses pengenalan untuk menikah: kesombongan. Ya, aku terlalu sombong, ujub, bangga diri. Merasa bahwa dengan segala yang kumiliki saat ini, harusnya aku tidak mungkin tertolak. Padahal, aku pun juga pernah beberapa kali menolak dengan alasan yang kurang syar’i semacam: nggak sreg, nggak ada chemistry, terlalu kurus, dan lain-lain. Meski frekuensi menolak lebih sedikit sih daripada ditolak.

“Coba digali lagi, barangkali sebenarnya alasan yang paling memberatkan adalah kengototan-mu untuk tetap berkarier”

Karier. Karier. Karier. Kata itu terus kuulangi hingga tak bermakna. Apakah aku termasuk wanita yang mengejar karier? Enggak juga sih. Aku nggak membayangkan akan jadi selevel manager atau direktur. Males, tanggung jawabnya berat. Hehehe. Tapi otakku otomatis mengasosiasikan ‘karier’ dengan ‘kerja kantoran’. Padahal tidak selalu. Namun entah kenapa, selalu urusan pekerjaanku yang nomor satu kutanyakan setiap kali masuk proses pengenalan. Saya ingin tetap bekerja, apakah anda keberatan?

Ada apa sebenarnya dengan diriku? Mengapa yang kupikirkan adalah tentang kepentingan diriku dulu baru tentang dirinya? Bukankah menikah artinya berusahakan mendahulukan partner kita lebih dulu dari diri kita sendiri? Dan mengapa pekerjaan? Mengapa bukan: ingin punya anak berapa, tinggal dimana…sebegitu pentingnya kah pekerjaan di mataku?

Namun di sisi lain, aku tidak mau membayangkan sebagian besar hidup dihabiskan di kantor. Aku tidak ingin menghabiskan seluruh energi dan waktuku untuk perusahaan yang sebenarnya bisa menendangku kapan saja. Sembilan jam bekerja, hampir empat jam bolak balik perjalanan…aku sering terobsesi membayangkan diriku kelak menjadi supermom. Bekerja kantoran, dengan tetap meng-handle urusan rumah tangga. Sebelum berangkat kerja memasak sarapan, pulang kerja memasak makan malam serta masih menyempatkan menemani anak mengerjakan PR.

Bisa gila.

Ya, beneran…bisa gila. Karena hampir nggak ada waktu untuk diri sendiri. Melayani perusahaan, melayani suami, melayani anak-anak. Baru-baru ini aku membaca suatu artikel tentang tingkat depresi yang parah yang menjangkiti ibu-ibu muda dan bekerja di Amerika karena berusaha mati-matian menjadi supermom seperti yang kugambarkan di atas. Semua teman kantorku yang sudah ibu-ibu tidak bisa memasak saat weekdays. Nggak ada waktu lagi. Pekerjaan rumah lainnya pun sudah dihandle asisten rumah tangga. Yang masih sempet ya…main sama anak atau menemani anak mengerjakan PR.

Tapi…aku ingin masih bisa memasak untuk suami dan anak-anakku…aku ingin melihat air liur menetes di sudut bibir mereka menanti masakanku…

“Kalau kamu nikah nanti dan suamimu sudah cukup, nggak usahlah kamu kerja lagi” kata Mama beberapa kali. Merasa iba melihatku pulang kerja larut malam dengan kondisi badan sangat lelah setelah lembur. Sering pula terkantuk-kantuk di kereta.

“Kalau kamu ingin tetap menafkahi Mama, kita bisa bikin usaha  saja bareng…catering misalnya”

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan tentang pilihan ini. Kelak ketika sudah menikah dan punya anak, berhenti kerja kantoran dan mencoba pekerjaan atau kesibukan lainnya dengan waktu yang lebih longgar dan tentunya tetap mendatangkan uang.

  1. Jadi guru sekolah atau guru privat

Ini sebenarnya cita-citaku saat kuliah karena keasyikan mengajar les privat dan aktif menjadi wali kelas di Rumah Belajar BEM UI selama 3,5 tahun. Aku merasa passionate lah mengajar.  Sayang sekali, sewaktu lulus kuliah beberapa kali aku melamar posisi guru di sekolah swasta (kalau mau jadi guru PNS kan harus latar belakang pendidikan keguruan), tetapi nggak ada yang menggil tuuuh. Pernah, aku berniat melamar jadi guru sekolah Indonesia di luar negeri (sekolah untuk anak Dubes), eh..udah keburu diterima di perusahaan. Mungkin belum rezeki kali ya. Ah, pokoknya begitu aku sudah muak dan sudah waktunya berhenti kerja kantoran…aku bertekad melamar jadi guru. Pulang kerja relatif cepat, liburnya sama kayak anak sekolah, bisa jalan-jalan pula pas darmawisata. Mau jadi guru apa? Guru Matematika atau Ekonomi! Dua bidang yang dulu kusukai dan sangat dekat dengan pekerjaanku sekarang. Hehehe.

  1. Jadi penerjemah freelance dari rumah

Mungkin salah satu nikmat yang luar biasa bagi otakku adalah: aku punya talenta dalam berhitung dan bahasa. Dua hal yang bertolak belakang sebenarnya (Tapi jangan tanya soal musik dan prakarya deh…angkat tangan. Hehehe). Bahasa asing yang kukuasai cuma Bahasa Inggris sih…alhamdulillah lumayan lancar dan bisa cas cis cus fasih karena lidahku cadel. Hehehe. Oya, konon jadi penerjemah fee-nya lumayan lho per project. Asik juga sih, apalagi aku suka banget baca. Oke…listed.

  1. Freelance analyst

Ini enaknya disebut apa ya? Ya pokoknya kalau ada yang butuh dibikin kalkulasi penghitungan yang cepat menggunakan Ms. Excel baik itu untuk penjualan, pencatatan keuangan, riset, dll…aku lumayan jago deh karena sehari-hari di kantor kerjanya beginian. Hehehe. Mau pakai VLOOKUP, HLOOKUP, SUM, SUMIF, CONCATENATE, IF, IFERROR, COUNT COUNTA, COUNTIF, NESTED IF, AND, OR dan buanyaaak modifikasi rumus Excel lainnya aku bisa deeeh. Eh, tapi ada ngga ya yang mau bayar jasa beginian?

  1. Jadi sista-sista online shop

Kebetulan dulu sewaktu kuliah, selain mengajar aku juga pernah jualan kerudung, binder dan boneka. Lumayan berjalan sih..sayangnya ngga dilanjutin pas sibuk skripsi dan magang sana-sini. Mungkin ini bisa jadi alternatif, meski belum tahu mau jualan apa.

  1. Buka catering bareng Mama

Aku sih nggak ngebayangin catering besar yang melayani acara wedding  atau event besar ya…aku sih ngebayanginnya catering kantoran aja yang didistribusikan ke kantor-kantor saat makan siang. Masak, bungkus, trus keliling deh naik mobil anterin pesenan.

  1. Jadi penulis beneran dan terkenal (hahahaha).

Saat dulu aku masih aktif-aktifnya menulis, sering banget mikir pengen menjadikan penulis sebagai profesi seperti penulis favoritku, Asma Nadia.

  1. Supir Taksi Online (nggak ngerti deh, kepikiran aja)
  2. Desain Undangan (suka aja gitu)
  3. ..

Membaca list ini membuatku jadi termenung sendiri. Aku masih punya banyak pilihan. Bekerja sebagai pegawai bukan satu-satunya cara memperoleh rezeki, bukan? Dan yang terpenting, aku bisa lebih banyak berbakti pada suami dan anak-anak. Apalagi jika sang suami nanti sudah menyuruh berhenti kerja,

“Dek, sudah ya…kamu ngga usah kerja lagi. Malu ah sama orang, mosok punya suami bergaji ribuan dollar tapi istrinya masih kerja? Nanti dikiranya Mas memecut istri. Sudahlah, kamu habiskan saja uang Mas, foya-foya sana…ke mall, ke spa, ke arisan ibu ibu sosialita, ke pagelaran busana…”

Gajinya ribuan dollar banget? Uang beneran atau uang monopoli nih? Ini panggilannya Dedek dan Mas banget? Huahahahaha 😛

Advertisements

4 thoughts on “Ketika Harus Memilih

  1. Katanya, memulai pernikahan itu tentang kompromi, tentang saling mengerti. Tidak bisa saling memaksakan kehendak… kemudian ketika suatu bab bisa dikompromikan kenapa mesti dipaksakan alias tidak bisa tidak? 😀

    • Yup, setuju Mas..termasuk mengompromikan ambisi diri, kadang harus mengorbankan cita cita,dan saling betenggang rasa. But thats worth it. Thats why disebut mitsaqan ghalida..hehe

  2. Memang sebagusnya kalo sudah menikah dan punya anak berkarir buat keluarga saja. Itulah karir yang cemerlang disisi Allah swt (semoga). Menurut saya, lho.
    Apapun bidang ditekuni dengan serius, tak kenal menyerah dan berusaha sesuai jalan-NYA saya yakin akan berjaya.
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s