Ramadhan, Kita dan Mereka

Tak terasa, sudah memasuki H-45 Ramadhan, persiapan apakah yang sudah kita lakukan? Di sisi lain, berbagai ekspresi mulai terasa ketika semakin dekat memasuki bulan Ramadhan. Ada yang mulai heboh susun target, ada yang sudah pesan tiket pulang kampung, ada yang makin rajin ibadah, ada pula yang merasa biasa-biasa saja, atau bahkan ada juga yang panik, merasa bulan Ramadhan itu berat karena merasa teramat susah menjalankan puasa. Di kantorku sendiri, terutama rekan-rekanku yang perempuan, lagi pada blingsatan mengganti puasa Ramadhan yang ‘bolong’. Aku sendiri termasuk yang nggak terlalu memusingkan ganti puasa, karena alhamdulillah sudah jadi habit bagiku mengganti begitu selesai Idul Fitri tahun lalu. Bukan apa-apa, cuma takutnya nggak capai umur tahun depan >.< Lagipula puasa kan’ untuk Allah, masak sesuatu untuk Allah kita tunda-tunda? Uniknya, meski kita ‘berhutang’ puasa, Allah pun nggak butuh juga sama puasa kita. Nggak kayak kita minjem duit teman, terus teman merasa butuh uangnya dibalikin. So,sudah semestinya kita-lah yang butuh untuk bayar hutang puasa 🙂

Bayar hutang puasa sudah…terus apa lagi dong? Biasanya sih bagi teman-teman yang punya hapalan Quran, pingin berusaha menambah hapalannya. Yang tadinya hanya 1 juz, jadi 2 juz, atau bahkan ngebut gigi empat mau langsung 5 juz. Da aku mah apa atuh 1 juz mulu dari tahun kapan  Selain tambah mantap hapalannya juga makin berlipat pahalanya makin kece depan camer. Yang shalatnya semula hanya wajib 5 waktu, pingin juga ditambah shalat-shalat sunnah seperti dhuha, tahajud…dan tentunya ada juga nih shalat sunnah spesial yang ngga ada di bulan-bulan lainnya: shalat tarawih. Ada juga yang merasa tahun lalu tarawihnya kebanyakan bolos gara-gara kekenyangan makan atau asyik nonton sinetron Ramadhan (berarti Marshanda ngga main sinetron Ramadhan lagi dong ya hehe), mulai tahun ini ingin bisa full tarawih. Kalau perlu aktivitas tarawih dan khutbah tarawihnya dicatat di buku agenda Ramadhan kayak waktu SD dulu. Hehehe.

Macam-macam deh target dan harapan masing-masing orang pada bulan Ramadhan. Semoga selalu dalam kebaikan, dan mudah-mudahan diridhai oleh Allah SWT 🙂 Ada juga lho yang berharap bulan Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir sebagai jomblo lajang. Kalau ada yang punya harapan kayak gini, maka harus dipol-polin deh tuh amalan selama Ramadhan. Mumpung masih bebas kemana-mana, i’tikaf bisa makin digetolin, Quran dikhatamin, tarawih dirajinkan, dan Qiyamul Lail diperpanjang. Karena tidak bisa dipungkiri, ketika sudah berkeluarga, ibadah atau amalan nggak bisa semuanya dilakukan. Qiyamul lail misalnya, nggak bisa lagi tuh berlama-lama trus dilanjut tilawah karena sudah harus bangkit menyiapkan makan sahur sekeluarga. Tapi insya Allah, pahalanya tetap luar biasa kok 😉

Nah…itu semua kan’ ibadah yang sifatnya personal, trus gimana ibadah lainnya yang melibatkan sesama? Kata ustadz nih, Ramadhan itu adalah bulan yang mendidik kita untuk lebih berempati dengan orang lain. Gimana ngga empati…kita bahkan diperintahkan berpuasa: suatu hal yang mungkin saja sudah biasa dilakukan saudara-saudara kita yang kurang mampu. Ketika THR kita dari tempat kerja turun, maka dengan suka hati kita membelanjakannya untuk baju baru, belanja untuk masak-masak lebaran sampai dekorasi rumah. Nggak apa-apa sih, namanya juga euforia menyambut hari kemenangan. Namun sayangnya, kadang agak berlebihan. Keponakanku yang masih kecil-kecil bahkan bisa punya beberapa baju lebaran: satu untuk shalat Ied, satu untuk dipakai di rumah, satu untuk silaturrahim ke rumah Kakek Nenek, satu untuk halal bihalal di sekolah…dan keblinger-nya lagi, dari sebelum Ramadhan sudah belanja baju lebaran. Di saat yang sama, di luar sana ada pula teman temannya yang sudah yatim atau dalam keadaan dhuafa, gigit jari nggak punya lebaran. Akhirnya pakai baju lebaran tahun lalu, itu juga baju lebaran sumbangan orang. Kepingin nggak sih bisa bahagiakan mereka juga?

Maka, Ramadhan tidak melulu lagi tentang kita, tetapi juga tentang hidup sesama kita yang membutuhkan. Yuk, hiasi juga Ramadhan tahun ini dengan memperbanyak sedekah dan membantu orang-orang di sekitar kita. Percayalah, sekecil apapun amal kita, ingatlah bahwa Allah adalah Al-Hasib, yang Maha Teliti Perhitungannya, Maha Cepat Hisabnya, dan Maha Pemberi Balasan. Tidak ada yang kita harapkan selain pahala yang baik dan ridha dari sisi-Nya. Aamiin 🙂

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s