Commuter Line

Perjalananku dari rumah ke kantor memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Pertama-tama aku naik motor dari rumah sekitar 7 menit sampai di Stasiun Citayam yang eksotis itu. Titip kendaraan di penitipan motor yang abangnya selalu nanya “Kok berangkatnya siang, Teh?”. Padahal selalu sampai di tempat penitipan motor tsb antara jam tujuh, tujuh lewat beberapa menit, setengah delapan, sampai jam delapan (eh ini termasuk siang ya untuk pekerja Jakarta?hehehe).

Naik KRL, waktu perjalanan antara 45 menit sampai 1 jam. Aku biasanya sih naik gerbong wanita, walaupun banyak yang bilang gerbong wanita Commuter Line jalur Jakarta-Bogor itu bak arena hunger games yang sesungguhnya.

Ini dia penampakan KRL di jam-jam sibuk, biasanya tiap pagi dari subuh sampai jam sembilan dan jam 4 sore sampai isya. Yup, aku mengalami ini tiap hari, selalu kebagian berdiri 🙂 Sebagai pengguna kereta sejak masih pintunya nggak bisa ketutup saking nggak manusiawinya dan masih adanya kereta ekonomi yang bahkan nggak ada AC dang nggak ada pintu, menurutku sebenarnya kondisi sekarang sudah jauh better setelah perbaikan KAI besar-besaran oleh Jonan sebagai Dirut sebelum beliau jadi menteri yang suka dibully

 

Ini sih masih versi ringannya...hehe

Ini sih masih versi ringannya…hehe. Versi beratnya beberapa kali ada yang sampai pingsan karena sesak napas kurang udara. Alhamdulillah  sebagai cewek strong aku belum pernah sampai mengalami gitu.

Cadasss. Pernah lho beberapa kali ada yang sampai tasnya kejepit pintu dan bahkan ada yang sempat jarinya kejepit. Tahu nggak diapain? Diomelin sama segerbong wanita :P

Cadasss. Pernah lho beberapa kali ada yang sampai tasnya kejepit pintu dan bahkan ada yang sempat jarinya kejepit. Tahu nggak diapain? Diomelin sama segerbong wanita 😛

 

Yang ngeselin nih ya: susah masuk karena pada berdiri dekat pintu, padahal turunnya masih jauh.

Yang ngeselin nih ya: susah masuk karena pada berdiri dekat pintu, padahal turunnya masih jauh.

 

Luar biasa yah...Aura Kasih sebagai duta KRL bisa nggak awut-awutan naik KRL.

Luar biasa yah…Aura Kasih sebagai duta KRL bisa nggak awut-awutan naik KRL.

Dulu sih aku masih sesukanya naik KRL antara gerbong wanita dan gerbong campur. Agak dilematis sebenarnya, di gerbong wanita plusnya adalah relatif lebih ‘aman’ karena berdesak-desakan dengan sesama wanita. Minusnya ya itu tadi…karena sesama wanita, toleransinya jadi terasa kurang. Kesenggol dikit, langsung ngomel-ngomel. Kedorong dikit langsung merepet ,”Makanya tangannya pegangan dong, Mbak!”. Biasanya yang kayak gitu suka lupa wujud teori pengaruh gaya di pelajaran IPA karena rem kaget-kagetannya masinis (gaya banget lu Sar padahal dulunya anak IPS juga :P). Adu mulut, nyinyir-nyinyiran di gerbong wanita…oh sudah biasa. Kalau yang kayak gini mah aku udah males ambil pusing. Masih pagi kok udah ngerusak mood sendiri. Bodo amat, rugi lho buang-buang energi. Sekali-kalinya aku adu mulut sama sesama penumpang wanita adalah ketika si Mbak tsb ngedumel saat disuruh memberikan duduk untuk Ibu hamil. Karena kasihan dengan si Ibu hamil yang tak enak hati, aku omelilah si Mbak tadi.

*PS. Untuk Ibu hamil, sebaiknya hindari deh gerbong wanita. The Hell. Posisikan diri di peron untuk naik gerbong campur, pasti langsung dikasih duduk. Di gerbong wanita, jika bisa mendapat duduk kurang dari 5 menit merupakan berkah. Yang ngaco, kadang Bumil-nya disuruh jalan ke kursi prioritas di ujung, menerobos padatnya kereta.

Itu sedikit gambaran tentang gerbong wanita. Di gerbong campur, kans-ku untuk duduk jauh lebih besar. Masih banyak lah laki-laki yang berpikir bahwa laki-lakilah yang berkorban untuk perempuan. Meskipun nggak selalu, banyak juga yang dengan enaknya tidur pulas. Aku sih nggak masalah ya, namanya juga orang kerja..mana ada sih yang nggak capek. Kalau sekarang sih kereta sudah tergolong aman ya, udah jarang banget pencopetan atau perilaku kurang ajar di gerbong campur. Nah sayangnya, di gerbong campur ini rawan sekali sesi pandang-pandangan. Namanya laki-laki, kalau kata lady rocker Nicky Astria dalam lagu Mata Lelaki, tatapannya ngeriiiii.

IMG-20160401-WA0000

Darimana aku tahu kalau sedang dipandangi sedemikian rupa?Well, biasanya orang akan sadar kalau sedang dipandangi. Ini teori yang selalu berlaku waktu contek-contekan di sekolah dulu. Misalnya keadaan nggak memungkinkan untuk manggil teman dengan ‘Pssst!’, maka pandangi saja terus temanmu, insya Allah secara alamiah dia akan balik memandangmu. Hehehe, bener kaaan. Kalau sudah sadar dipandangi oleh laki-laki maka aku pun mengeluarkan jurus keong: cepat-cepat nunduk, sembunyikan pandanganku, terus komat-kamit istighfar dan baca ta’awudz. Biasanya, kalau tatapannya ngga direspons-respons, pada akhirnya laki-laki akan memalingkan wajahnya. Apalagi kalau sudah ada penumpang wanita lain yang lebih kinclong. Tapi kadang ada juga laki-laki yang nggak tahu diri, dari pertama aku naik kereta sampai turun Stasiun Tebet matanya nggak berhenti jelalatan. Dan yah…karena aku nggak bisa melarang semua laki-laki untuk ghadul bashar alias jaga pandangan, akulah yang akhirnya mengalah berusaha survive  di gerbong perempuan.

Apa saja yang bisa dilakukan selama di kereta? Banyak. Paling sering sih yang punya pacar atau suami, bakalan chatting  dengan pasangan mereka. Yang punya anak, bakalan video call sama anaknya di rumah. Berhubung aku nggak melakukan hal-hal itu, maka ini beberapa yang bisa ku-suggest dan biasa kulakukan selama di KRL:

  1. Tilawah aja. Lumayan tuh bisa dapat 1 juz sehari. Mulut terhindar juga dari ngrasani Ada dua pilihan dalam tilawah: tilawah pakai Quran kecil atau di aplikasi Quran android. Kalau pakai Quran kecil kadang agak repot memegangnya saat desak-desakan. Sedangkan dengan Quran android, kadang saat KRL sedang bergejolak, nggak sengaja tuh ke-tap ke ayat lain entah dimana. Bingung deh nyari-nyari lagi tadi sampai ayat berapa.
  2. Main game. Hehehe. Kalau sekarang sih aku masih fokus main Candy Crush Jelly Saga. Kebetulan game-gamenya Candy Crush in termasuk favorit para commuters Lumayan sering sih aku ngintip jika di sebelahku ada yang sedang main game ini juga.
  3. Menghapal dan melafalkan Asmaul Husna.
  4. Baca al-matsurat.
  5. Nonton film di android pakai headset. Aku sih nggak terlalu sering kayak gini…commuters wanita yang begini biasanya fans film-film Korea yang sweet Sampai marathonan nontonin berepisode-episode selama perjalanan.
  6. Baca buku. Ahaaa! Ini aku banget sih. Dan sekarang makin mudah lagi dengan kehadiran perpustakaan digital i-Jak.
  7. Tidur sambil berdiri. Percaya nggak aku bisa melakukan ini? Ternyata bisa lho…sangking capek dan keadaan memaksa demikian. Anehnya, baik tidur duduk maupun berdiri, aku nggak pernah kelewatan stasiun yang dituju. Selalu bisa terbangun tepat pada waktunya. Emang udah commuters Hahaha.
  8. Mendengarkan musik. Aku sih termasuk jarang gitu melakukan ini. Kalau lagi pengin aja. Abis berasa pekak ngga sih telinga terus-terusan dengerin musik? Tapi kayaknya justru paling banyak orang melakukan ini di KRL sambil kepala ngangguk-ngangguk asik atau malah bengong sama sekali melihat keluar jendela.

Ada lagi? Di suatu kesempatan, aku malah pernah melihat ibu hamil menyulam kaos kaki rajut calon bayinya selama perjalanan. Ada juga yang bisa make-up dan memperbaiki kerudung. Kalau yang lagi jalan sama teman, tentu saja langsung bikin sesi infotainment. Yang bawa anak, tentunya sembari momong anak: dari mulai menyusui, ngajak main, menyuapi, meninabobokan, atau membimbing anak membaca cerita bergambar di tablet. Bahkan masih ada yang diam-diam jualan bakpao, pempek, kue basah, dan aneka penganan lainnya (tentunya tanpa sepengetahuan petugas). Luar biasa yah perempuan. Memang mahluk multitasking banget. Kalau laki-laki mah…bisanya buka detik.com mulu di KRL. Hehehe.

Wah, sebenarnya masih mau melanjutkan tentang cerita Trans Jakarta yang baru beroperasi di depan Stasiun Tebet sebagai saingannya angkot 44 nih. Namun apa daya mata sudah mulai mengantuk. Besok Senin pagi, rutinitas yang sama siap diulang. Semangat!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s