Cara Kita Memandang Kapitalisme

“Apa yang bisa mengalahkan agama? Kapitalisme”

Olive Pendhergast dalam film Easy A (2009)

Meskipun aku nggak setuju dengan quote di atas, quote ini hanya sebagai pembuka saja untuk menggambarkan how strong the capitalism is. Kutipan di atas diambil dari salah satu film favoritku sepanjang masa yang berjudul Easy A yang dibintangi Emma Stone. Aku rasa cuma ini satu-satunya teen movie yang berkualitas yang dimiliki Hollywood (selebihnya sampah you know…free sex again and again). Film ini dengan cerdas menyajikan humor, kritik terhadap tokoh agama, prinsip, pencitraan, alienasi publik, dan motivasi dalam menyelesaikan masalah. Wajib tonton deh.

onesheet

Kembali lagi pada kapitalisme. Dua hari yang lalu, tanpa sengaja di Facebook aku chatting dengan teman lama sewaktu masih bimbel di Nurul Fikri Depok dulu. Iyam namanya, mahasiswa tingkat akhir Filsafat UGM. Semula aku nge-chat duluan karena minta tolong like fanpage program Ramadhan with Love (eh btw tolong bantu like juga ya 😀 ), eh jadinya ngobrolin macem-macem deh, salah satunya tentang kapitalisme.

Ada perbedaan mendasar antara Iyam dan aku dalam memandang kapitalisme. Iyam, yang seorang mahasiswa, memandang kapitalisme kira-kira seperti ini:

Konsep kapitalisme sebenarnya bagus, tapi dalam realita sekarang, apa fungsinya? Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kalau ditilik dari sejarahnya, kapitalisme itu lahir dari etika Kristen kalau nggak salah, which is at first it was good. Tetapi ketika sudah sampai dalam tatanan praktik, malah membuat orang semakin greedy. Sekarang kapitalisme itu sudah holistik, nggak hanya mengakar kuat dalam ranah ekonomi, tetapi juga budaya, politik, dan sebagainya. Oleh karena itu, sistem kapitalisme itu harus diperangi. Di Islam juga kita diajarkan untuk meninggalkan hal yang jauh lebih banyak mudharatnya. Dan kapitalisme lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Kemudian, tutup Iyam, “Biarpun utopis banget, mumpung gue masih bisa berjuang ya gue berjuang, sebelum lulus dan gue juga bakal ngerasain kerasnya cari uang. Idealisme cuma satu-satunya barang mewah yang dipunya pemuda, Sar”

Aseeek, ini kayak kata-katanya Tan Malaka nih. Hehehe

Jika pada intinya, Iyam (dan mungkin banyak mahasiswa lainnya) berpikir bahwa kapitalisme harus dienyahkan, maka aku (yang kebetulan menjadi pegawai swasta, menjadi sekrup-sekrup kapitalis katanya hehehe) beranggapan bahwa: kapitalisme tidak bisa dimusnahkan, dan suka atau tidak suka, kapitalisme diperlukan. Kapitalisme jangan berusaha dimusnahkan, tetapi harus dikendalikan. Ini aku berbicara kapitalisme dalam bidang ekonomi ya. I have no idea untuk kapitalisme dalam bidang lainnya, mungkin karena ilmuku masih cetek banget juga. Hehehe. Tapi selama bekerja di perusahaan swasta selama hampir dua tahun, banyak pola pikir yang bergeser dibandingkan saat jadi mahasiswa dulu. Salah satunya dalam memandang kapitalisme. Bukan artinya ketika mahasiswa dulu memerangi kapitalis kemudian saat bekerja jadi bersahabat baik dengan kapitalis ya. Tidak seperti itu. Pergeseran pandangan ini lebih ke ‘menyesuaikan pola pikir sebelumnya dengan sikap yang realistis’.

Seperti yang kubilang sebelumnya, kapitalisme itu diperlukan. Dengan adanya persaingan ekonomi, maka ekonomi akan bergerak, semua mahluk ekonomi (yaitu manusia) akan terpacu untuk terus berinovasi dan berusaha survive. Misal, seorang tukang bubur dengan gerobak harus bersaing dengan tukang bubur dengan sepeda motor yang notabene memiliki modal yang lebih besar sehingga bisa mengkredit sepeda motor. Tukang bubur dengan sepeda motor tentu bisa menjangkau konsumen yang lebih luas dibandingkan tukang bubur dengan gerobak. Maka, tukang bubur gerobak pun tidak kehilangan akal: ia sediakan bangku untuk para pembelinya agar bisa menikmati makan bubur tepat dekat gerobak dan mangkal di daerah tertentu yang potensial. Bisa langsung minta kecap dan saus kalau kurang, atau minta tambah kerupuk. Tukang bubur dengan sepeda motor fokus membidik konsumen baru setiap hari, sedangkan tukang bubur dengan gerobak fokus mempertahankan pelanggan setia. Pelanggan setia yang tak perlu khawatir harus teriak-teriak mengejar tukang bubur yang lewat depan rumah mereka (karena tukang bubur dengan sepeda motor tentunya berjalan lebih cepat sedangkan tukang bubur gerobak berjalan alon-alon).

Itu contoh kecil. Contoh lain yang lebih besar dan sedang hangat adalah ketika banyak company berlomba-lomba go online sebagai respon dari suksesnya digital startup. Digital startup yang memiliki modal teknologi, pada akhirnya mendorong perusahaan-perusahaan ‘lama’ mengeluarkan berbagai aplikasi online untuk meningkatkan service, membuka online store, dan sebagainya.

teaserhelsinki5

Sehingga menurutku sekali lagi, ini murni subjektif ya, kapitalisme itu diperlukan, jangan dimusnahkan, tetapi harus dikendalikan. Dikendalikan seperti apa nih? Sebagai contoh ya, kebetulan aku bekerja sebagai analis penjualan di industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods) dengan produk yang dihasilkan adalah susu. Salah satu yang diproduksi di perusahaan tempatku bekerja adalah susu formula (sufor) pengganti ASI. Tentunya kita tahu betapa banyak merk sufor pengganti ASI di pasaran. Semuanya bersaing, semuanya berusaha untuk membuktikan sufornya lah yang paling berkualitas, yang paling bisa ‘mendekati’ manfat ASI (walau impossible sih bisa sebaik ASI). Namun dalam penjualannya, sufor pengganti ASI diawasi ketat oleh pemerintah (inilah yang kumaksud dari mengendalikan kapitalisme) mengacu pada UU No. 36 Tahun 2009 tentang pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, semua brand sufor pengganti ASI tidak boleh mengiklankan diri (kalau yang sering kamu lihat di TV itu iklan susu pendamping anak di atas 2 tahun ya, bukan pengganti ASI), tidak boleh menjual secara langsung ke konsumen dan  tidak boleh didistribusikan lewat toko biasa. Semuanya harus didistribusikan melalui apotek atas rekomendasi dokter (biasanya dalam kondisi si ibu kesehatannya tidak bagus sehingga produksi ASInya sedikit dan harus dibantu sufor atau si anak mengalami keterbelakangan mental yang kondisinya tidak mungkin disusui ibunya).

See? Kapitalisme ada dan tak bisa dipungkiri, tetapi memang keberadaannya perlu dikendalikan. Siapa yang punya wewenang mengendalikan? Tentu saja the ultimate power of economy di negeri ini: pemerintah. Hehehe..ujung-ujungnya pemerintah yee kena lagi. Disinilah peran mahasiswa sangat penting untuk mengawal pemerintah agar bisa mengendalikan kapitalisme secara arif dan benar. Karena ketika kapitalisme dimusnahkan, seperti yang terjadi dalam sejarah yang sudah-sudah, dia akan menjadi sosialisme dan komunisme yang absolut.

Apa lagi yang bisa mengendalikan kapitalisme?

Zakat dan sedekah!

Dalam sebuah acara kajian yang pernah diselenggarakan dulu di kampus tentang kapitalisme dalam perspektif Islam, aku mendapat sebuah pencerahan luar biasa dan juga membuktikan keluarbiasaan Al-Quran. Al-Quran sudah membahas tentang kapitalisme dan cara mengendalikannya sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum para tokoh yang merumuskan kapitalisme itu lahir.

Dalam surat Al Qalam ayat 17-33.

(17) Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari

(18) dan mereka tidak mengucapkan, “In syaa Allah”,

(19) lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,

(20) maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita

(21) lalu mereka panggil memanggil di pagi hari

(22) Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya

(23) Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan.

(24)”Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu

(25) Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)

(26) Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)

(27) bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)

(28) Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?”

(29) Mereka mengucapkan, “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim”.

(30) Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela.

(31) Mereka berkata, “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”.

(32) Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.

(33) Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.

 

Kapitalis diistilahkan dalam ayat tersebut sebagai pemilik kebun yang kikir dan tidak ingin memberikan sedekah atas hasil kebunnya pada orang miskin. Saking kikirnya, mereka bahkan sembunyi-sembunyi untuk memetik hasil panen mereka karena takut diminta oleh orang miskin. Akibatnya, Allah mengazab mereka dengan menghabuskan seluruh kebun kepunyaan mereka. Secara tersirat, Allah tidak melarang seseorang menjadi pemilik kebun dengan hasil panen yang melimpah. Namun secara tegas, Allah melarang si pemilik kebun hanya menikmati hasil kebunnya sendirian dan mengabaikan hak-hak orang miskin di dalamnya. Sehingga Islam memberikan jalan tengah: tidak serta merta melarang orang memiliki modal dan meraup keuntungan dari modal tersebut dan tidak juga membebaskannya tanpa batas sehingga melupakan orang-orang lain yang kurang mampu, tetapi bagaimana agar kekayaan harta juga selaras dengan kekayaan hati dalam kehidupan sosial.  Maha benar Allah dengan firman-Nya. Wallahualam.

Well, untuk Bro Iyam (yang pastinya baca tulisan ini karena kuberikan link-nya di Facebook. Hehehe), jangan ajak gue diskusi tentang kapitalisme lagi ya pas gue ke Jogja ntar. Udah ah males otak mikir yang berat-berat lagi liburan. Hehehe. Mending elo ajak gue ke Taman Sari, Prambanan, atau wisata kuliner di angkringan sekitaran Malioboro 😀

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” -Tan Malaka

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Cara Kita Memandang Kapitalisme

    • Wah bagus juga Mas tulisannya beliau. Tapi mungkin ya, ini mungkin saja…Pak Dwi Condro tsb missed kalau dana simpanan di bank tidak hanya diputar untuk kredit perusahaan besar, tetapi juga permodalan usaha kecil dan menengah. Trus kayaknya imajinatif bgt perusahaan besar sampai mengucurkan dana eksklusif untuk NGO atau LSM, lha wong menghadapi pasar saja masih kebat kebit…manajemen keuangan internal saja masih sangat bergantung dengan daya beli masyarakat. Hehehe. Kalau NGO dan LSM itu dibiayai oleh aparat hukum negara/organisasi kebudayaan tertentu, dengan baru saya agaknya percaya, hehehe

      • Menurut saya sih, kalau perusahaan besar yang dimaksud itu bergerak di sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. bukan tidak mungkin mereka dapat membiayai NGO atau LSM. Karena bisnis di sektor strategis, hampir tidak mungkin rugi.

        Sekelas perusahaan rokok saja, kita ketahui mampu menggelontorkan dana beasiswa yang nilainya tidaklah sedikit, apalagi perusahaan besar yang produk/jasanya memang menjadi kebutuhan masyarakat, denga kata lain bukan kebutuhan sekunder masyarakat. 🙂

      • Tentu ada bedanya Mas antara membiayai NGO dengan Corporate Social Responsibility. CSR perusahaan rokok besar itu wajar, karena penjualannya memang luar biasa. Kenapa penjualannya luar biasa? Karena daya beli konsumennya tetap kuat, sekalipun sedang melarat. Biar susah makan, yang penting merokok tetap jalan. Hehehe. Kita sendiri nggak pernah tahu persis statistik home industry yang dikembangkan oleh NGO tsb karena faktanya sebagian besar UKM dihidupkan oleh pemerintah daerah dan bank-bank lokal.Disinilah lagi-lagi contoh bagaimana semestinya peran pemerintah mengendalikan dan membendung kapitalisme dengan meningkatkan ekonomi lokal. CMIW 🙂

      • Waduh, lha… Apakah sektor yg saya sebutkan di atas, penjualannya tidak luar biasa Mbak?

        Saya setuju kalau pemerintah perlu mengatur hal tersebut, tetapi bagi kapitalis jika negara masih ikut campur, itu belum kapitalis murni. Lha yang diinginkan para kapitalis itu kan hilangnya peran negara dalam mengatur urusan tersebut (ekonomi). 🙂

      • Betul,penjualannya luar biasa. Kan point saya sebelumnya adalah: kita gak bisa judge mereka membiayai NGO utk memperkuat paham kapitalisme mereka karena memang ada kebijakan utk tiap badan usaha beromzet besar utk melakukan CSR (Corporate Social Responsibility),tanggung jawab sosial utk menggelontorkan dana,menyisihkan sebagian dari keuntungan mereka utk membangun masyarakat. Jadi gak semata mata mereka memang sengaja lho utk membiayai NGO dan LSM,memang sudah ada aturannya dari pemerintah. Nah, maka dari itu Mas…krn mereka ingin kapitalisme murni, pemerintah makanya harus jadi kendali agar tidak jadi kapitalisme murni.Begitu…hehe

      • Oh seperti itu ya Mbak, soalnya saya tidak tahu fakta di lapangan soal CSR ini. Saya kira perusahaan besar melakukan CSR itu atas kehendak mereka sendiri, bukan kebijakan dari pemerintah. Ok ok tambah ilmu saya. 🙂

        Soal kapitalis harus diatur oleh pemerintah, saya kurang setuju, apa tidak ada sistim alternatif yang lebih sesuai fitrah manusia? Kan Islam juga sistim kehidupan, pastilah di dalam Islam ada aturan yang dapat mengatur masalah ekonomi ini, bukan dari sistim kapitalis, apalagi sistim sosialis/komunis.

        “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang dan api.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Baihaqi).

        Yg saya pahami, dalam Islam dibedakan kepemilikan individu dan kepemilikan umum, yang terjadi sekarang ketika kapitalisme menguasai suatu negara, mereka menjadikan kepemilikan umum ini boleh dikuasai oleh segelintir orang. Padahal jika kita kembali pada aturan Islam, api, air, dan padang gembalaan yang jika dijabarkan akan mencakup banyak hal, diantaranya bahan tambang, tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang saja. Tugas negara seharusnya mengelola untuk kepentingan rakyat, negara menjualnya, sebatas pengganti biaya produksi, atau mengambil untung yg wajar jika dijual untuk keperluan produksi komersial. Eh, maaf Mbak, jadi panjang komentarnya. 🙂

  1. hmm, boleh sih gitu juga, tp kapitalisme itu emang nyebelin bgt sar, nanti deh ke jogja gue kasi kopian bukunya katalis, “mengapa kapitalisme itu menyebalkan?”, siapa tau ya gitu, haha

  2. Saya pikir gak ada negara di dunia ini yang gak dimasuki kapitalisme. China, -mbahnya komunis- malah mengundang kapitalis untuk membuat negara mereka maju pesat. Uni Soviet jadi almarhum karena rakyatnya sudah bosan jadi komunis, jadilah mereka kapitalis. Kapitalis memang harus dikendalikan negara secara adil untuk membuat rakyat menikmati apa yang kapitalis usahakan dan mendapat untung berlipat. Kapitalis adalah sebuah keniscayaan.

  3. Kalo masih mahasiswa mmg keras memandang kapitalisme dan idealisme nya berapi2. Tapi ntar kalo dah lulus dan sibuk cari kerja tuntutan perut maka semua berubah akan wolesss wae seng penting oleh duiwet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s