Dari Sa’i sampai Ashabul Kahfi

Tidak sengaja, beberapa waktu lalu aku membaca sebuah tulisan bagus di suatu blog. Aku bisa tahu tulisan ini dari hasil repost blog kakak kelasku dulu di kampus . Okelah, akan aku repost juga cuplikan tulisan tersebut di blog ini. 🙂

Putaran Ketujuh
oleh Hilmi Sulaiman Rathomi
Dua minggu yang lalu anak saya yang kedua sempat kurang sehat. Napasnya cepat dan berbunyi khas anak yang punya bakat asma. “Kambuh nih”, pikir saya. Biasanya kami biarkan karena gejala macam ini sering sembuh sendiri.
 
Menjelang hari ketiga, kondisinya memburuk. Napasnya makin cepet, bunyi napasnya makin kenceng, dan nggak mau makan/minum. Saya dan istri punya pengalaman menangani anak meninggal karena asma di Rumah Sakit. Jadi karena kuatir makin kenapa2, pagi2 sebelum mulai kerja kami beli alat nebulizer. Harganya lumayan.
 
Waktu sampai di rumah setelah beli nebu, si adek lagi tidur. Yang nggak terduga, waktu saya periksa, bunyi wheezingnya sudah hilang sama sekali, dan napasnya juga udah normal!
Saya antara senang dan sedih. Senang karena si adek udah sehat. Sedih karena udah terlanjur beli nebulizer, hahaha. Sampai sekarang si nebulizer ini belum kepakai sama sekali. 
 
Waktu saya ceritakan kejadian itu ke mertua pas main ke bekasi, sambil ketawa mertua saya bilang,”Nah itu, berarti sa’i putaran yang ketujuhnya adalah sampai beli nebu. Usaha maksimalnya adalah sampai beli alat nebu, tapi sembuhnya bukan karena itu.”
 
Tanpa kita sadari, tidak sedikit kejadian di hidup kita yang merefleksikan peristiwa sa’i yang dilakukan oleh ibunda Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya Ismail.
Beliau usaha mati-matian, lari bolak-balik bukit Shofa-Marwah tapi nggak dapet2 air yang dicari. Sampai akhirnya di putaran ketujuh, barulah air itu muncul. Dan ketemunya bukan di jalur Shofa-Marwah rute beliau lari, tapi di dekat kakinya Ismail, yang sekarang jadi sumur zam-zam.
 
Hasil tidak pernah mengkhianati proses. Ketika kita sudah sa’i 7 putaran, sudah berusaha maksimal untuk mencapai sesuatu, pasti hasil yang sesuai akan Allah berikan. Tapi, darimana sumber rejekinya, tentu terserah Allah. Ada sales yang mati2an mendekati calon pembeli A, ternyata justru yang akhirnya closing adalah pembeli B. Ada orang yang banting tulang merintis usaha bengkel mobil, pelanggannya nggak nambah2, tapi tetap dijalani terus dari pagi sampai sore… dan bisa sukses justru dari bisnis ayam bakar yang modalnya dikasih sama salah satu customer bengkel mobil. Yang seperti ini kasusnya nggak sedikit.
 
Trus bagaimana kalau kita sudah belajar mati2an, tapi nilai ujian tetep jelek? Ngelamar kerjaan sana-sini, tapi masih belum ada yang mau nerima? Udah kerja abis2an, tapi rejeki tetap seret? Udah banting tulang, tapi hasil nggak sesuai harapan?
 
Sederhana saja, mungkin kita baru sa’i sampai di putaran keenam. Tinggal 1 putaran lagi, air zamzamnya akan muncul dari arah yang tidak diduga-duga. Apa tandanya kita udah di putaran ketujuh? Cuma Allah yang tau, dan sengaja dirahasiakan.
 
Ayo terus berlari, sampai putaran ketujuh!

Sa’i. Aku tidak tahu bagaimana si penulis bisa kepikiran mengaitkan pengalamannya dengan hikmah Sa’i. Dan aku juga -atau kalian juga?- sebenarnya tidak pernah benar-benar paham apakah itu sa’i? Apa tujuan sa’i? Apa hikmah yang terkandung dalam ritual sa’i? Mengapa sa’i menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji?

Mengingat sekitar tujuh  bulan lagi, jika Allah mengizinkan, aku juga akan melakukan sa’i dalam ibadah umrah, tulisan tentang sa’i itu menjadi berbekas di benakku. Ya, seperti pengalaman penulis tersebut, ada benang merah antara sa’i dengan kejadian-kejadian yang kualami, terutama selama setahun terakhir saat aku mencoba fokus untuk menjemput suatu urusan. Segala ikhtiar yang pantas sudah kucoba lakukan, dan entah berapa ratus kali doa terucap dalam setiap sujud. Namun aku, dengan segala keterbatasan seorang hamba, memang tidak pernah tahu Allah menghendakiku harus “sa’i” berapa kali hingga urusan itu akhirnya kudapatkan. Sama seperti Siti Hajar saat berlari-lari mengejar mata air. Saat berlari ke Shofa dia melihat fatamorgana mata air di bukit Marwah, saat berlari ke Marwah yang terjadi sebaliknya, ia kembali melihat fatamorgana di bukit Shofa. Begitu terus hingga tujuh kali.

Mengapa harus sampai tujuh kali? Dan mengapa pada akhirnya bukanlah di kedua bukit tersebut mata air muncul?

Wallahualam.

Jika dulu dalam buku teks keagamaan, ritual sa’i hanya tertulis sebagai ‘berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah sebanyak tujuh kali dengan tujuan syiar’, kini aku mengerti makna sa’i jauh lebih dalam daripada itu. Sa’inya Siti Hajar barangkali merupakan contoh nyata bagaimana ikhtiar dan keikhlasan berpadu. Di tengah gurun yang tandus dan panas terik, Siti Hajar mungkin tidak berpikir apapun lagi selain bagaimana menemukan mata air untuk Ismail yang kehausan. Tidak mencaci penglihatannya sendiri yang berulang kali hanya melihat fatamorgana. Atau berprasangka buruk pada Allah mengapa kondisi seperti itulah yang ia alami. Ikhlas saja dan penuh optimisme berlari bolak-balik. Hingga ribuan tahun kemudian, jutaan umat manusia terus datang berduyun-duyun ke tanahnya dan ikut meniru ikhtiarnya.

Kisah lainnya yang ingin kubahas disini adalah kisah Ashabul Kahfi. Perlu berpuluh-puluh kali membacanya di hari Jumat hingga aku mengerti mengapa kisah ini disebut salah satu kisah paling indah dalam Al Quran. Ketujuh pemuda beriman (jumlah sebenarnya tidak ada yang tahu persis), datang ke gua dengan hati yang sudah pasrah sepasrah-pasrahnya setelah berbagai ikhtiar mereka dalam mempertahankan keislaman menemui jalan buntu.

Ceramah Ustadz Nouman Ali Khan tentang pemuda Ashabul Kahfi

Dari mulai beriman pada Allah secara diam-diam, sampai akhirnya tidak bisa ditutupi lagi, dibully masyarakat, lalu harus diseret berhadapan dengan raja yang lalim dan tidak menerima keesaan Allah, hingga akhirnya mereka dikejar…semua jalan terasa sudah buntu bagi ketujuh pemuda tersebut. Mereka pun memutuskan bersembunyi di dalam gua, tanpa tahu apa langkah selanjutnya. No plans, no clues. Semuanya benar-benar dipasrahkan saja pada Allah.

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” QS. Al-Kahfi:10

Ibarat kata nih, “Terserah Allah deh, pasrah weh lah. Allah pasti menolong kita. Kita udah nggak tahu lagi harus kemana”. Ending terburuk ya…ketahuan ngumpet di gua, ditangkap, dieksekusi. Namun Maha Besar Allah dan rencanaNya. Ketujuh pemuda tersebut telah sampai di titik batas ikhtiar, lalu mereka bertawakkal, menyerahkan semua urusan mereka pada Allah, lalu Allah-lah yang menyelesaikan urusan mereka dengan cara yang sama sekali tak mereka sangka: ditidurkan 309 tahun lamanya untuk kembali bangun dan hidup di tengah masyarakat yang kondusif untuk keislaman mereka. Suatu jalan keluar yang tentunya tak pernah terlintas sedikit pun dalam benak dan logika ketujuh pemuda tersebut. Sama halnya dengan Siti Hajar yang tidak pernah menyangka mata air itu akan keluar dari telapak kaki Ismail dan menjadi air zam-zam yang masih bisa kita nikmati hingga sekarang.

Perbedaan di kedua cerita tersebut menurutku adalah: adanya fase jeda antara ikhtiar dan jawaban atau solusi yang Allah berikan. Pada Siti Hajar, tidak ada jeda waktu antara ikhtiar hingga jalan keluar yang Allah berikan. Terus mencoba dan mencoba hingga pada sa’i ketujuh, jawaban atas doa diberikan. Namun pada kisah Ashabul Kahfi, ada jeda sekian ratus tahun lamanya antara ikhtiar yang mereka lakukan dengan jalan keluar. Ada waktu dimana mereka ‘sembunyi, istirahat, dan menanti’. Ada fase ‘berdiam dan pasrah’. Namun pasti, jalan keluar akan datang.

Kedua kisah di atas kuresapi akhir-akhir ini setiap kali tilawah. Ya, barangkali aku telah bolak-balik sa’i, namun mungkin Allah menghendakiku masuk dulu ke dalam ‘gua’. Menenangkan diriku dalam diam dan tawakkal. Jika ketujuh pemuda tersebut ditidurkan namun tetap digerakkan anggota tubuhnya, maka Allah mungkin menghendakiku bergerak dengan kegiatan-kegiatan positif yang sebenarnya sudah lama kurindukan dari masa kuliahku dulu. Sensasi kesenangan dalam kegiatan seperti ini yang sudah lama tak kurasakan karena aku terlalu cenderung fokus mencari satu urusan yang hanya menyangkut tentang diriku dan kebahagiaanku sendiri. Setelah lelah bersa’i dan yang kutemui hanyalah fatamorgana, maka sekarang mungkin saatnya aku untuk ‘memasuki gua’, berdiam untuk beberapa lama, memasrahkan segalanya sampai jalan keluar itu akhirnya datang padaku. Lagi-lagi, hanya Allah yang tahu kapan.

Sa’i, lalu menjadi ashabul kahfi 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Dari Sa’i sampai Ashabul Kahfi

  1. Pingback: Cerita Umroh Part 3: Di Bawah Lindungan Ka’bah | Annisarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s