Renungan Malam Dua Puluh Sembilan

 

Malam kedua puluh sembilan. I’tikaf tahun ketiga. Akhirnya…sebuah visi hidup.

Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah broadcast message di WhatsApp tentang perjalanan Rasulullah SAW menemukan makna hidup hingga turun wahyu pertama dan diangkat menjadi Rasul. Tiga tahun beruzlah di Gua Hira setiap Ramadhan dan menempuh perjalanan kaki berkilo-kilometer jauhnya dari pusat kota Mekkah. Semua bermula dari kerisauan hati Rasulullah melihat kehidupan di sekitarnya yang sedemikian rusak. Padahal, kalau ingin tak peduli dan menjalani hidup dengan senang dan tenang saja, sungguh teramat bisa bagi Rasulullah saat itu. Berasal dari keluarga bangsawan, memiliki istri kaya raya, usaha perdagangan sukses…untuk apa memilih menyepi dan merenungi hidup yang sudah sedemikian mapan dan nyaman bagi laki-laki di masa itu?

Sebuah visi hiduplah yang mendorong Rasulullah. Visi hidup yang tertanam dalam hati beliau bahwa tak semestinya kehidupan manusia seperti itu. Bersenang-senang saja dalam kerusakan akhlak. Dan visi hidup datang pada manusia mulia tersebut bukan sebagai wangsit yang ‘tahu-tahu turun dari langit’. Visi hidup itulah yang mengantarkan turunnya wahyu Allah yang mengandung kabar gembira dan peringatan, yang mengubah hidup Rasulullah SAW selama-lamanya. Dan juga mengubah hidup jutaan umat manusia sesudahnya, termasuk kita.

Hidup tanpa punya visi hidup itu rasanya enak yang nggak enak. Lho, kok gitu? Maksudnya apa tuh? Iya, terasa enak, karena hidup dijalani dengan enjoy saja. Nggak perlu mikir berat-berat. Asal kebutuhan tercukupi, hati happy, istilah kerennya sekarang: YOLO (You Only Live Once). Toh, yang penting nggak menyalahi aturan agama. Ibadah tetap jalan kok, walau hal yang sia-sianya nggak juga berkurang. Shalat jalan, pacaran langgeng. Ngaji iya, nongkrong berlama-lama hayuk. Sedekah oke, hura-hura harus lebih oke lagi. Itu baru enaknya…trus apa nggak enaknya? Nggak enaknya…tanpa visi hidup, kita seolah-olah memang hanya berpikir YOLO. Meski ibadah juga kita jalani, tapi terasa kering. Bukankah sudah sampai pada kita suatu ayat yang menerangkan orang-orang yang lalai dalam shalatnya? Dan padahal, hidup kita bukan cuma sekali, tapi masih ada tahapan-tahapan kehidupan selanjutnya. Apa makna hidup kita? Apa makna kita bagi hidup? Apakah hidup kita sudah bermakna? Nah lho pusing deh tuh bolak-balik nanya. Hehehe.

Apakah kita bisa bernyaman-nyaman terus selamanya tanpa pernah mengerti esensi hidup yang kita jalani? Itulah yang kumaksud disini sebagai perasaan enak yang nggak enak.

 

I’tikaf dan Visi Hidup

Hidup kita ini hanyalah jeda antara Ramadhan satu dengan Ramadhan lainnya. Itulah kesadaran yang kudapati dalam i’tikaf di malam ke-29 Ramadhan tahun ini. Sebelas bulan berikutnya adalah aplikasi dari ‘pendidikan’ yang kita jalani sebulan dalam Ramadhan, sekaligus realisasi dari doa dan istighfar kita.

Maka, sungguh sayang rasanya jika hidup yang kita jalani dari Ramadhan satu ke Ramadhan lainnya berlalu tanpa adanya visi. Lebih sayang lagi ketika Ramadhan, tak jua kita temukan visi hidup. Mungkin kita belum bisa memikirkan sebuah visi hingga sepuluh tahun ke depan, but at least kita bisa menyusun visi hidup sebagai bekal kita sebelas bulan ke depan sampai bertemu Ramadhan lagi. Salah satunya melalui kesempatan i’tikaf.

Di tahun ini, aku menjalani i’tikaf dengan hati yang jauh lebih tenang, masih dengan penuh harap mendapat malam Lailatul Qadar, meskipun baru kumulai di malam ke-28 Ramadhan. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, meski i’tikaf yang kujalani masih jauh dari sempurna, begitu juga ibadah-ibadahku yang lain selama Ramadhan…namun aku merasa Ramadhan ini adalah Ramadhan terbaik sepanjang hidupku selama hampir 23 tahun hidup di dunia. Terutama karena melalui berbagai peristiwa di bulan Ramadhan dan ‘itikaf, akhirnya sebuah visi hidup kembali kutemukan. Visi hidup yang dulu sering ku-azzam-kan dalam hati, namun sempat perlahan terkikis oleh berhala bernama karier, uang dan kesenangan hidup. Visi hidup yang membuatku kembali percaya diri dan merasa utuh. Memberiku arah. Setelah Ramadhan, lalu apa? Berusaha menjalani hidup dengan visi hidupku ini.

Selamat menemukan visi hidup 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s