Catatan untuk Fundraiser Donasi

 

Kamu pernah mencoba menggalang donasi atau istilah kerennya jadi fundraiser? Nah kali ini aku pingin nih ngeshare catatan untuk seorang fundraiser. Tapi dari sisi non teknis ya. Jadi aku nggak membahas tentang gimana sih cara ngegalang dana efektif, gimana sih memviralkan acara penggalangan donasi kita atau gimana sih cara nyari link ke perusahaan-perusahaan besar. Tapi aku ingin ngebahas dari dalam diri fundraiser nya itu sendiri dulu. Ingat lho, ketika kita berusaha untuk memberikan kebaikan pada pihak yang membutuhkan, maka dari dalam diri kita juga harus ditumbuhkan yang baik-baik. Bukan, bukan harus menjadi damn good perfect angelic person  dulu baru membantu orang lain. Tapi bukankah jika kita ingin menularkan semangat positif pada orang lain, maka kita pun juga harus bersikap positif? 🙂

Nah ini catatan dari beberapa pengalamanku menggalang donasi di beberapa event baik offline maupun online sejak kuliah dulu. Dan ini bukan saja catatan untukmu yang membacanya, tapi bagi diriku pribadi sebab, yang menulis ini pun masih jauuuuuh dari kata ikhlas, masih luar biasa bodohnya dan masih benar-benar banyak aibnya.

1. Luruskan niat

Ini penting banget. Jangan pernah deh, aku ulangi, jangan pernah beraksi menggalang donasi dengan niat selain untuk meringankan beban pihak yang akan kita bantu. Hanya ada 2 niat yang boleh kita tanamkan di hati: satu, mencari ridha Allah dan kedua, membantu. Mengapa? Karena jika kamu menggalang donasi hanya untuk pencitraan atau membuat orang lain terkesan niscaya kamu tidak akan dapat apa-apa kecuali: LELAH. Seriusan. Rugi waktu, tenaga, pahalanya rusak, dan tersisa hanya lelah dan penyesalan ketika orang tidak mau menghargai usahamu. Gimana mengukur lurusnya niat? Mudah, jika usahamu tidak dihargai, kamu tidak akan merasa lelah dan kecewa. Itu saja. Karena apa yang kita lakukan bukan untuk cari penilaian manusia, tapi penilaian Allah. Gitu kata Aa Gym.

2. Jangan pernah merasa berjasa

Ini sebuah kesadaran yang baru-baru ini aku resapi dari salah satu ceramah Aa Gym. Segala sesuatu itu sudah dicatat di lauh mahfudz, jauh sebelum kita ada di dunia ini. Siapa presiden Indonesia, apa yang akan hancur, bagaimana sejarah suatu kota, termasuk siapa jodoh kita *eh. Begitu juga apa yang terjadi pada penerima manfaat dari donasi kita. Ketika kita hendak menggalang donasi untuk membangun masjid, percayalah, keberadaan masjid itu sudah tercatat lebih dahulu di lauh mahfudz. Tidak ada yang baru di dunia ini karena everything has been written. We just make small effort based on the written plan. Even ya, apa yang kita lakukan pun sudah tercatat sebelumnya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa berjasa, merasa jadi hero atau telah melakukan something great. Misalnya, karena donasi yang kugalang, kini panti asuhan itu memiliki sanitasi layak.Waduh, ini harus dibuang jauh-jauh. Khawatirnya, timbul penyakit ujub atau bangga diri dalam hati. Naudzubillah.

3. Nurani tidak bisa dipaksa

Pernahkah kamu meminta donasi pada seorang yang bisa dibilang sangat mampu, namun mereka sangat sedikit sekali memberikan donasi atau bahkan sama sekali tidak mau mengulurkan tangannya? Atau bilang janji akan memberi tapi tidak juga? Nah…ini juga yang perlu diingat, nurani tidak bisa dipaksa. Sekalipun kamu minta sama bilioner yang kekayaannya masuk daftar 5 manusia terkaya di dunia, belum tentu ia akan sudi memberi pada pengemis yang menadahkan tangan tepat di hadapannya. Mengapa? Karena nurani manusia tidak bisa dipaksa. Seperti halnya hidayah adalah hak prerogatif Allah, maka terketuknya nurani manusia pun hak mutlak dari yang mengatur si pemilik hati. Siapa yang mengatur pemilik hati? Bukan kamu, bukan aku, tapi Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati. Jadi, jangan dipaksa atau ngedumel dalam hati jika orang yang kamu harapkan tidak mau berdonasi. Karena di luar sana, ada juga orang yang hidupnya serba kekurangan tapi malah lebih ringan untuk memberi. Atau jangan heran ada temanmu yang hidupnya glamor dan hobi dugem tapi jauh lebih sering sedekah daripada temanmu yang aktivis masjid (ini beneran ada lho).Itulah ajaibnya nurani manusia.

4. Hindari suudzan

Kenapa sih orang-orang pada nggak mau donasi? Kenapa sih si Anu susah banget dimintain tolong? Jangan keburu suudzan dulu. Bisa jadi, mereka pun sedang ada keperluan. Ada banyaaaak faktor orang tidak mau berdonasi dalam program amal yang kamu selenggarakan. Bisa jadi dia sendiri juga lagi bokek, bisa jadi dia tadinya mau donasi terus lupa, bisa jadi dia memang tidak tertarik, atau bisa jadi dia memilih berdonasi untuk program lainnya. Ada begiiiiitu banyak program donasi di dunia ini, kenapa yang dipilih adalah programmu? Dan jika pengandaian ini kita balik: mengapa ia tidak memilih program donasimu? Ya karena ada banyak program donasi lainnya. Sesimpel itu. Jangan terburu-buru menjudge dia pelit atau gimana, karena kita mana tahu apa yang ada dalam hati orang lain? Tinggalkan suudzan, move on, cari calon donatur lainnya yang potensial. 🙂

5. Berlindung dari penyakit riya

Ini adalah penyakit yang luar biasa rawannya bagi seorang fundraiser. Masih setali tiga uang dengan penyakit ujub. Jujur, aku sendiri pun sering berulang kali mengingatkan diriku sendiri dan berdoa, “Ya Allah lindungilah aku dari sifat riya”. Ketika ada yang bertanya tentang program donasi kita, dengan semangat kita menceritakannya eh tahu-tahu ikutan ‘curcol’ menceritakan kontribusi kita dalam kegiatan tersebut. Ketika ada yang memuji diri kita yang aktif menggalang dana untuk organisasi kemanusiaan, tahu-tahu kita keterusan cerita panjang lebar awal kita bergabung dan apa motivasi kita. Tuuuh rawan banget kan ranjau riya itu? Kawan, hal-hal itu tak perlu diketahui semua orang dalam semua kesempatan. Cukuplah pada beberapa kesempatan seperti publikasi yang memang perlu menyertakan nama dan profil kita agar orang mau mempercayakan donasinya pada kita. Selebihnya, batasi. Semoga Allah melindungi kita semua dari sifat riya.

6. Jangan sampai merasa kelelahan

Tak jarang, ada event yang menargetkan nominal donasi sekian yang harus dikumpulkan fundraiser. Waduh, udah kayak sales aja ya. Hehehe. Nah biasanya ini sumber dari ‘merasa lelah’. Kita terus-menerus memforsir tenaga kita menggalang dana, memfokuskan seluruh konsentrasi kita pada penggalangan dana….dan ketika ‘target’ belum juga tercapai, atau teman-teman sesama panitia kerjanya nggak bener, kita stress sendiri, dan mulai merasa lelah. Lalu keluar deh keluhan-keluhan “Gue capek banget lho sama kayak beginian…” atau “Kayaknya cuma gue doang yang paling capek disini. Yang lain nggak ada yang bantuin!”. Ingat lho, ini kegiatan sosial. Jangan sampai kita merasa lelah di dalamnya. Kegiatan sosial mestilah memperkaya hati kita, bukan membuat kita merasa ‘habis-habisan’. Aku pribadi terkadang mengalami ini, terutama dalam berkoordinasi dengan teman-teman lainnya. Bahkan sampai ngomel-ngomel karena ketidakpedulian teman-teman terhadap keberlangsungan event ini. Tapi balik lagi, aku pun berpikir nggak semestinya aku merasa lelah dan jangan sampai silaturahmi rusak hanya karena koordinasi dalam kebaikan. Kan aneh toh. It should be fun and peaceful.

7. Sabar

Ini adalah satu kata yang gampang banget diucapkan, tapi aplikasinya sussssah banget. Yup, kamu kudu sabar. Nggak bisa ujug-ujug weh dapat donatur dan donasi gede (maap ya yang non Sunda pasti roaming hehehe). Sabar, nikmati prosesnya. Sesuatu akan indah pada waktunya, eh, maksudnya donasi akan terkumpul pada waktunya. Proposal CSR yang udah kamu kerjain sampe nggak tidur ditolak perusahaan? Sabar aja, cari lagi perusahaan lain. Ada calon donatur nuduh event  donasi yang kamu galang mencurigakan? Sabar aja, coba jelaskan baik-baik. Si penerima manfaat kurang berterima kasih? Sabar aja, kita kan’ nggak ngarepin terima kasihnya, harapkan aja ridha Allah. Beres. Ada temen yang bawa kabur uang donasi? Wah ini sih nggak pake sabar, segera tindak dan laporkan ke yang berwajib. Hehehe.

Semoga bermanfaat 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s