Ketika Teror itu Benar-benar Datang

Sumber gambar: http://www.dream.co.id/news/suami-nikah-lagi-istri-panggil-pasukan-anti-teror-150227j.html

Sumber gambar: http://www.dream.co.id

Sesak dan kepikiran. Begitulah yang kurasakan ketika horor ‘kapan-nikah-siapa-calonnya’ ini benar-benar kualami di lebaran tahun ini.

Sebenarnya, pertanyaan ‘kapan nikah?’, ‘siapa calonnya?’, dan sejenisnya ini sudah sering kuhadapi seperti yang pernah kuceritakan disini. Tapi, saat itu masih dalam jajaran pertemanan. Jadi, bisa dipastikan pertanyaan yang dilontarkan hanyalah ledekan, sindiran, atau basa-basi semata. Bukan benar-benar serius nanya dan perhatian. Kadang yang nanya juga adalah teman-teman yang juga senasib, sebagai cara sarkastik kami (atau kamu juga?hehehe) untuk menghibur diri. Namun pada lebaran kali ini…berbeda.

Jika hanya teman-teman, paling maksimal reaksiku adalah sewot sesaat. Setelah itu yasudah…akan tetapi beda ketika yang menanyakan adalah keluarga, saudara dan tetangga. Kali ini benar-benar serius bertanya, bukan meledek nggak jelas. Teror itu pun benar-benar datang…

Tahun lalu, belum ada satu pun dari keluarga menanyakan hal ini padaku. Mungkin karena saat itu aku masih 22 tahun, baru lulus kuliah, baru masuk kerja…jadi ya…alhamdulillah, yang ditanyakan adalah ‘kerja dimana?’, ‘di bagian apa?’, atau yang kebangetan kepo nanya ‘gajinya berapa?’. Aku pun lancar bercerita kalau aku sudah diterima kerja seminggu setelah sidang skripsi, dengan posisi lumayan, perusahaan tempatku bekerja bergerak di bidang bla bla bla seterusnya. Ya pokoknya sepanjang tahun kemarin, setiap kali kontak maka keluarga dan saudara masih bertanya seputar pekerjaan atau keheranan mereka aku dua kali pindah kerja dalam setahun pertamaku bekerja. Jawabanku pun lancar selancar jalanan tol dalam Jakarta saat sedang ditinggal mudik.

Tetapi begitulah hidup. Seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kalau tahun lalu aku bisa dengan bangga menceritakan pekerjaanku, serta keluarga dan tetangga memuji-muji karierku…kini aku hanya bisa menjawab dengan seulas senyum dan gagap, “a…i…u…e..o” ketika mereka mulai bertanya,

“Sarah udah ada calonnya sekarang?”

“Sarah udah ada rencana nikah?”

“Kapan nih Mamanya dikasih cucu…”

“Kapan undangannya nih…”

“Sarah jangan mikirin karier terus, jangan lupa cari jodoh…”

“Mana calonnya nih nggak silaturahmi ke rumah?”

Atau yang lebih ngaco lagi,

“Itu siapa tuh calon kamu waktu itu…si X ya? Dia udah sungkem belum ke rumah?”

Yang dimaksud adalah seorang pemuda yang dulu pernah…ya pokoknya ceritanya pernah kuceritakan disini. Padahal itu terjadi akhir tahun 2014, tapi entah kenapa masih ada saja yang menanyakan -___-

Sesak dan kepikiran.

Bukan, bukan sesak karena diungkit-ungkit masa lalu, hanya sesak saja menyadari bahwa tanpa mereka tahu (dan sebelum mereka nanyain), aku sebenarnya pun berusaha. Kepikiran, karena akhir-akhir ini ibuku pun terus-terusan menyinggung hal yang sama dalam berbagai kesempatan *bold, italic, underline*.

Pas lagi ngobrol sama tetangga yang bawa bayi…

“Aduh lucunya bayinya…kapan ya Mama bisa nimang-nimang bayi?”

Pas lagi di mobil…

“Kapan ya bisa jalan-jalan bertiga? Kamu nggak perlu capek-capek nyetir lagi…”

Pas lagi belanja…

“Yaampun lucu banget kaos kaki bayi…Mama mau beli ah buat anak kamu nanti…”

Pas lagi nonton TV, infotainment menampilkan pernikahan artis

“Tuh, nanti kalau kamu nikah pakai jilbab model gitu aja…”

Pas aku baru pulang kantor abis lembur…

“Kamu lembur lama banget…Mama kan sepi…coba udah ada cucu…”

Pas abis pulang dari suatu tempat…

“Tadi Mama lihat di kereta ada cowok…duh kayaknya cocok deh kalo diambil jadi mantu!”

PAS LAGI SUNGKEM LEBARAN (!)…

“Mama berharap ada anak Mama satu lagi yang ikut sungkem juga sama Mama…”

Pas lagi melankolis, biasanya tiap abis asam lambung dan darah tingginya kumat…

“Mama berharap banget sebelum Mama menutup mata, kamu sudah ada yang tanggung jawab. Kamu anak Mama satu-satunya, Mama nggak tega…”

Nah bisa dibayangkan kan gimana aku nggak kepikiran dengan urusan satu ini (!). Embel-embel ‘sebelum Mama menutup mata’ itu lho yang bikin nyesss, mengingat aku anak tunggal. Oh ya, bahkan nggak hanya di rumah, di kantor pun sering kena pertanyaan sejenis dari atasan-atasanku dengan nada bercanda. Untung pertanyaan ini kuhadapi bersama teman-teman lain yang singlenya lebih senior daripadaku. Jadi ya nggak diambil pusing sih. Hehehe. Yang beneran bikin pusing, terus sesak dan kepikiran ya dari keluarga, saudara dan tetangga ini yang notabene benar-benar hidup berdampingan denganku.. Dan, nggak ada lagi yang bertanya soal pekerjaan. Mungkin mereka pikir saat ini pekerjaanku sudah cukup settled, kini saatnya urusan jodoh. Padahal aku sudah beberapa kali lho ‘membelokkan’ topik pembicaraan.

“Oh ya, bingkisan susu Anl*n* dari Sarah udah diminum belum? Itu bingkisan lebaran dari kantor aku lho…”tanyaku.

“Iya, udah diminum kok…teman kantor nggak ada yang main Sar ke rumah?”

Gubrak! Teman kantorku yang cowok semuanya sudah nikah…kalaupun ada, tapi nonmuslim. Hadeeeh.

Di keluarga besar, tinggal aku cucu yang belum menikah…sisanya masih anak-anak semua. Salah satu sepupuku bahkan baru nambah anak lagi pas malam takbiran kemarin. Keponakanku nambah lagi. Eh ada sih sepupu yang seusiaku dan belum menikah, tapi sedang merencanakan pernikahan dengan pacarnya. Nah kan, mentok lagi. Lebaran tahun ini adalah awal, teror ini akan terus datang sampai entah kapan….ha-ha-hah *ketawa setan buncit

Meskipun begitu, mungkin aku ingin berterima kasih pada sebagian dari mereka yang tulus memanjatkan doa,

“Semoga Sarah cepat dapat jodoh ya…”

“Semoga tahun depan sudah nikah ya…”

“Semoga sudah bisa bawa suami kesini juga ya lebaran besok..”

Apa lagi yang bisa kuucapkan selain kata ‘aamiin’ dengan tampang cengegesan? Hehehe. Dan tujuan ngepost beginian? Nggak ada. Berkeluh kesah saja. Hehehe. Maaf jika posting ini menambah panjang ‘sampah-sampah sosial media’ dengan tema norak ‘kapan nikah’. Bagi yang sudah menikah, barangkali tertawa geli baca tulisan ini. Bagi yang masih kuliah/sekolah, barangkali jadi merasa ngeri. Selamat datang deh di zona 20 tahunan. Happy Ied Mubarak! 😀

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Teror itu Benar-benar Datang

  1. Aku gak ketawa geli kok haha. *tapi tetep ketawa. Teorinya sih mau bilang “slow aja” tapi susah ya kalo udah ditanyain terus. Dan ketawanya bukan karena ngetawain kamu, tapi ya ampun berarti skrg baru 23 th kan yaa? Waktu aku mau nikah pas 26 th aja malah hampir nggak dibolehin hahahaha 😅

    • Haha iya mba..baru 23 padahal.Di keluargaku semuanya memang nikah sblm 25 thn.Hehe.Mungkin karena aku anak tunggal,jadi gitu deh si emak.ga ada yg bisa ditagihin selain aku.haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s