#PleaseHelp Temanku Mbak Ria

Suatu hari menjelang akhir Ramadhan, seseorang bernama Siti Fatimah, sesama anggota grup whatsapp Komunitas Ummi Annida yang kuikuti, bertanya di grup, “Adakah akhwat yang tinggal di Bogor?”. Beberapa orang menyahut, termasuk aku. Tak lama, japri masuk ke WhatsApp-ku dari Mbak Siti Fatimah ini.

“Saya ingin mengajak untuk menunaikan kewajiban kita atas sesama muslim, Ukh”

Apakah itu?

Ternyata menjenguk seorang saudari yang sedang sakit. Saudari itu adalah bernama Ria, atau yang kupanggil kemudian Mbak Ria. Mbak Siti Fatimah ini tidak pernah berkenalan secara langsung dengan Mbak Ria, hanya kenal lewat sesama komunitas grup One Day One Juz (ODOJ), itu lho..gerakan nasional membaca Quran sehari 1 juz. Kebetulan aku juga masih aktif ikut grup ODOJ, sehingga merasa sudah seharusnya bersimpati pada Mbak Ria ini. Mbak Ria, teman Mbak Siti Fatimah ini sedang sakit asam lambung akut yang berkomplikasi pada pneumonia atau radang paru-paru. Mbak Siti Fatimah ini pun berniat menjenguk, tapi sayangnya ia berdomisili di Palembang, jadi sulit untuk bisa ke Pulau Jawa ‘hanya’ untuk menjenguk. Tanpa pikir panjang, kuiyakan ajakan tersebut meski lokasi rumah Mbak Ria letaknya di Jonggol, yang walaupun sama-sama di Kab. Bogor tapi jaraknya memakan waktu 2 jam perjalanan dengan mobil dari rumahku di Bojong Gede.

Awalnya niatku hanya sekedar menjenguk. Kuajak serta Mama menemaniku. Sesampainya disana, ya Allah…kondisi Mbak Ria langsung membuatku menangis. Tubuhnya kurus kering seperti pengungsi di Afrika, sesak terus dan sulit bicara. Dengan perlahan Mbak Ria menceritakan tentang penyakitnya.

Pada Februari 2016, Mbak Ria mengalami sesak yang teramat sangat dan sekujur tubuh kaku sulit digerakkan. Mbak Ria kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat, setelah 2 kali pemeriksaan (rontgen dan hasil lab), dokter mendiagnosis Mbak Ria sakit pneumonia dan dirujuk untuk melakukan endoskopi. Sayang, pengobatan dan pemeriksaan tersebut tidak dapat dilanjutkan, karena kekurangan dana. Akhirnya selama kurang lebih 5 bulan terakhir, Mbak Ria hanya bisa bedrest di rumah, sesekali minum obat herbal sederhana sambil dengan tabah terus menahan sakit di dadanya. Cairan di paru-paru dan saluran pernapasannya semakin menggumpal, sementara berat badannya turun drastis hingga sekarang hanya 25 Kg. Ya, hanya 25 kg! Bayangkan!

Mbak Ria sendiri adalah sulung dari 4 bersaudara, satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Ibundanya telah meninggal dunia 5 tahun lalu (dengan penyakit yang sama,komplikasi ke jantung), dan saat ini Mbak Ria tinggal bersama ayah dan adik bungsunya yang baru masuk SMA. Kedua adik lelakinya (yang kedua dan ketiga) sudah menikah dan pindah rumah sementara Mbak Ria sendiri belum menikah. Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, hanya mengandalkan uang pensiun ayah Mbak Ria sedangkan adiknya masih butuh dana untuk sekolah. Praktis, selama sakit,tidak ada yang bisa sepenuhnya telaten menjaga dan merawat Mbak Ria. Sebelum sakit, Mbak Ria bekerja sebagai penjaga counterpulsa di sebuah toko dekat rumah sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Semenjak sakit, Mbak Ria tidak lagi dapat mengurus rumah dan pergi bekerja.

Pada saat awal sakit, salah seorang saudara Mbak Ria sempat berinisiatif mengurus pembuatan BPJS Kesehatan untuk PBI untuk Mbak Ria, namun entah mengapa pengurusan itu terhenti di tengah jalan. Kini Mbak Ria sedang menunggu pihak RT di lingkungan rumahnya yang menjanjikan pengurusan BPJS Kesehatan setelah libur lebaran. Masih teramat lama, sedangkan makin hari sesak dan tukak makin menghujam dada Mbak Ria. Namun meski dalam kondisi lemah tak berdaya, Mbak Ria tetap optimis untuk sembuh dan tak surut semangatnya dalam membaca Al-Quran sehari 1 juz walau lisannya tersendat. Sedangkan ibadah shalat dijalaninya sambil duduk, karena tidak kuat bergerak terlalu banyak.

IMG20160626132137

Aku dan Mbak Ria. Duh Mbak...ingin rasanya aku kasih lemakku ke Mbak :(

Aku dan Mbak Ria. Duh Mbak…ingin rasanya aku kasih lemakku ke Mbak 😦

Hanya satu setengah jam aku dan Mama menjenguk Mbak Ria. Karena kasihan juga beliau tidak bisa terlalu lama diajak bicara. Ngomong-ngomong, aku jadi kepikiran terus, takut asam lambung yang Mama idap komplikasi kemana-mana. Secara sekarang Mama udah kena darah tinggi juga. Tahu nggak? Sepanjang jalan pulang sambil menyetir beberapa kali aku nangis sesenggukan…bukan hanya menangis ingat kondisi Mbak Ria, tetapi menangisi ketidakbersyukuranku selama ini. Ya Allah, sungguh teramat sering aku tidak bersyukur…teramat banyak nikmat yang kuabaikan hanya karena aku belum mendapat nikmat yang kuinginkan. Sedangkan Mbak Ria? Untuk nikmat sehat yang begitu banyak orang miliki saja ia harus berjuang…

Dari situlah, semula tadinya aku hanya akan menjenguk, aku jadi tergerak untuk membantu Mbak Ria. Niatku, untuk menggalang dana agar bisa membantu pengobatan Mbak Ria selama menunggu BPJS Kesehatan beliau selesai diurus. Kucoba membuat campaign lagi di KitaBisa.com untuk Mbak Ria di link https://kitabisa.com/bantumbakria

 

Titik Terang

Selama kita-kira seminggu aku berusaha mengumpulkan donasi (kebanyakan dari hasil ngemis via chat whatsapp hehehe), terkumpullah 2 juta rupiah.  Melihat usahaku, keluarga Mbak Ria pun termotivasi lagi untuk mengusahakan pengobatan Mbak Ria. Ayah Mbak Ria pun pinjam sana-sini demi bisa membawa Mbak Ria ke RS.

628999585443

Alhamdulillah, pada tanggal 30 Juni 2016 lalu, Mbak Ria sudah dibawa ke RSUD Cileungsi untuk pemeriksaan kembali dan melanjutkan pengobatan yang sudah berbulan-bulan terhenti. Hasil pemeriksaan dokter, kondisi tubuh Mbak Ria semakin memburuk dibandingkan saat pertama kali pemeriksaan pada Februari lalu. Paru-paru semakin parah, liver lemah, neutrofil lemah radang akut, syaraf pun bermasalah sehingga tubuh Mbak Ria terasa kaku dan sulit digerakkan. Tubuh Mbak Ria sangat lemas dan berjalan pun masih tertatih-tatih meski obat sudah rutin diminum. Untuk melakukan (maaf) buang air saja kini Mbak Ria menggunakan pampers karena tidak sanggup melakukannya secara normal. Namun meski kondisi Mbak Ria sangat memperihatinkan, dokter yang menangani Mbak Ria memperkirakan bahwa pneumonia Mbak Ria masih bisa disembuhkan asalkan konsumsi obat tidak putus. Allahuakbar…sebuah titik terang muncul. Aku dan Mbak Ria pun bertambah optimis.

Mbak Yeni dan Mbak Ria

Mbak Yeni dan Mbak Ria

Tanggal 2 Juli 2016, aku dan admin di grup ODOJ-ku, Mbak Yeni, kembali menjenguk Mbak Ria dan menyalurkan donasi yang ada. Pada hari Senin, 4 Juli 2016, Mbak Ria kembali ke rumah dan menjalani rawat jalan. Biaya pemeriksaan, pengobatan dan rawat inap selama kurang lebih 4 hari di RSUD saja sudah memakan sekitar 4 juta rupiah. Saat ini, Mbak Ria masih membutuhkan dana untuk menopang biaya rawat jalan beliau hingga BPJS Kesehatannya sudah jadi (diperkirakan paling lambat akhir Juli). Berikut ini salah satu kwitansi pembayaran biaya perawatan Mbak Ria selama di RS.

WhatsApp-Image-20160707

Teman-teman blog yang kucintai, aku mohon doa, dukungan dan bantuan untuk Mbak Ria. Please help her, salurkan bantuanmu dengan berdonasi melalui https://kitabisa.com/bantumbakria . Bantuanmu sangat berarti untuk beliau. Tentunya, kita pernah mendengar sebuah hadits bahwa persaudaraan sesama muslim ibarat satu tubuh. Jika yang satu anggota tubuh merasa sakit, maka anggota tubuh lainnya pun merasakan sakit. Aku sangat, sangat, sangat, mengharapkan bantuan teman-teman sekalian… *udah speechless ini mau ngomong apa lagi hehehe* Ohya, jika ada pertanyaan dan sebagainya feel free untuk tinggalkan di komentar posting ini atau bisa menghubungi via WhatsApp di 081280101156

Terima kasih banyak ya… 🙂

Musa a.s. pernah bersabda, “Wahai Rabbku, beritahukanlah kepadaku siapa orang yang paling Engkau cintai?”

Allah SWT bertanya, “Untuk apa?”

“Agar aku bisa mencintainya seperti cinta-Mu padanya”

Allah SWT berfirman, “Yaitu hamba yang berada di ujung dunia atau di pinggir dunia lalu ada hamba lain di ujung dunia atau di pinggir dunia lain yang tidak melihatnya namun mendengarnya. Jika hamba yang pertama ditimpa musibah maka seakan-akan musibah itu juga menimpa dirinya dan jika hamba yang pertama tertusuk duri seakan-akan duri itu juga menusuknya. Dia tidak mencintainya melainkan karena Aku. Itulah hamba yang paling kucintai” (dalam salah satu hikmah yang diriwayatkan Imam Ahmad, dikutip dari Ketika Aku Mencintaimu oleh Wulandari Ekasari dan Amatullah Shafiyyah)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s