Mimpi, Rumah dan Visi Pernikahan

Kita tentu memiliki impian dalam hidup. Aku termasuk orang yang punya banyak mimpi, mencatat mimpi-mimpi itu, dan berusaha mewujudkannya dalam tenggat waktu tertentu. Sewaktu masih usia 20, aku pernah me-list  daftar mimpi yang ingin kuwujudkan sebelum usia 30 tahun. Hampir 3 tahun berjalan, alhamdulillah sebagian sudah terealisasi. Salah satu mimpi yang sering menggelitik benakku, karena saking excited nya hehehe, adalah mendirikan sebuah rumah. Eits, ini bukan rumah biasa. Tapi sebuah rumah yang insya Allah akan penuh keberkahan.

Rumah Yatim Annisa. Sebuah rumah yang menampung, mendidik dan menghidupi anak perempuan yatim dan dhuafa. Kenapa perempuan? Simple aja sih, lebih gampang ngurusnya. Hehehe. Rumah yatim itu tidaklah besar, cukup lah untuk menampung 15-20 anak. Setiap hari, anak-anakku itu akan pergi sekolah ke sekolah negeri biasa, lalu sepulang sekolah mereka akan dapat pendidikan agama di rumah. Aku yang mengajari, atau jika tidak sempat, ada guru honorer yang akan mengajari mereka. Dari mulai belajar tahsin, tajwid, tarikh, fiqh, hingga mengajarkan hikmah pada mereka. Syukur-syukur mereka juga bisa menghapal Quran. Malam selepas shalat Magrib adalah waktu bebas untuk mereka main atau belajar mengerjakan PR. Tidur tepat waktu jam 9 malam, lalu bangun pukul 3 untuk qiyamul lail bersama lanjut tilawah hingga subuh. Setelah itu lanjut siap-siap berangkat sekolah. Di hari weekend, mereka akan kuajak jogging, nonton film, berkreasi dengan kerajinan tangan, tidur siang, atau jika lagi ada uang berlebih, rekreasi ke suatu tempat bersama anakku (anak kandungku maksudnya). Eh, sehari-sehari anakku juga akan bergaul dengan mereka ding. Hehehe. Teruuuus begitu, mendidik dan membesarkan mereka semua. Hingga satu persatu akan kuliah, lalu bekerja, eh satu-satu minta dinikahin deh…hihihi.

Aku sering senyam-senyum membayangkan Rumah Yatim Annisa ini. Entah kapan yaaa mimpi ini bisa terwujud, tapi aku yakin insya Allah akan terwujud. Setelah cicilan umroh lunas, berangkat umroh dengan Mama, aku ingin fokus menabung untuk mewujudkan rumah ini. Seringkali aku membicarakan tentang mimpi ini pada Mama. Mamaku, salah satu manusia paling pemurah yang pernah kukenal, amat mendukung mimpiku ini. Mama ingin sekali bisa mengelola dan tinggal di Rumah Yatim Annisa, mengingat Mama akan ‘ditinggal’ olehku ketika sudah berkeluarga. Supaya Mama nggak capek ngurusin anak segitu banyaknya, aku ingin memperkerjakan seorang pembantu di Rumah Yatim Annisa. Mungkin aku tidak tinggal di Rumah Yatim Annisa, tapi setiap hari aku akan berkunjung bersama anak-anak dan suamiku.

Terkadang, saat memikirkan ini, aku sering sangsi, uang dari mana ya…buat membeli sebuah rumah untuk Rumah Yatim Annisa? Lha wong aku sendiri aja masih numpang di rumah orang tua, belum punya rumah sendiri. Suamiku kelak juga belum tentu sudah punya rumah sendiri. Hehehe. Namun suatu ketika, saat aku bercerita kesekian kalinya tentang Rumah Yatim Annisa, Mamaku berkata, “Nanti kamu gunakan saja rumah ini untuk Rumah Yatim Annisa. Kamu kan’ tinggal di rumah suami kamu…nah rumah Mama ini toh akan jadi rumah kamu. Kamu yang mewarisi. Kalau Mama sudah nggak ada, wakafkan rumah ini untuk anak yatim. Terserah kamu apakah kamu ingin langsung tempatkan anak-anak yatim di rumah ini atau kamu jual rumah ini dan membeli rumah baru yang lebih luas untuk anak yatim. Semoga itu jadi amal jariyah Mama di alam kubur”

Terharu nggak? Asli, mataku langsung berkaca-kaca pas Mama ngomong gitu. Tapi cuma sesaat, karena kemudian Mama melanjutkan, “Makanya cari suami yang baik hatinya. Mau dukung kamu mendirikan rumah yatim itu”

Deuuuu ujung-ujungnya ‘cari suami’! Hahaha

 

Sakinah Bersamamu

Tapi, kata-kata Mama ada benarnya. Pasti sulit mewujudkan mimpi tersebut jika pasanganku kelak tidak mendukung.

“Ngapain sih repot-repot mikirin rumah untuk anak yatim? Cicilan rumah kita aja belum lunas!”

Nah lho….susah deh kalau punya pasangan kayak gini. Ingin aku sih ya… jauuuuh dari hati yang terdalam, pingin banget punya suami yang jiwa sosialnya tinggi. Hobi sedekah, hobi nolong orang baik dengan harta, waktu dan tenaga, pokoknya berkomitmen deh untuk bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi orang yang membutuhkan. Ya nggak musti sih dia itu punya harta bejibun supaya bisa bantu orang. Atau nggak musti juga dia itu kerja di lembaga sosial. Karyawan kantoran biasa juga nggak apa-apa, asalkan hatinya luaaaassss, rela-rela aja jika dalam pengaturan keuangan rumah tangga akan kuberi pos khusus untuk zakat dan sedekah. Suami kayak gini, kalau sama orang lain aja nggak pelit, apalagi sama istri sendiri (uhuk!). Lagian biar ‘aman’ duitnya kularikan ke zakat dan sedekah, daripada dipakai doi buat jajan nongkrong sama teman-temannya di kafe eh…terus kenalan sama cewek dan ngaku masih single. Hahaha.

Lama-lama aku jadi menyimpulkan, pendampingku kelak…jika ia sulit mencintai orang-orang yang membutuhkan, maka ia pun akan sulit untuk mencintaiku. Juga sebaliknya, jika ia sulit mencintai orang-orang yang membutuhkan, maka aku pun akan sulit untuk mencintainya. Tsaaaah.

Ya, aku percaya, pernikahan itu harus dibangun di atas visi yang sama antara kita dan pasangan. Dulu nih ya, aku agak-agak nggak percaya gitu…apa iya pernikahan harus memiliki visi? Kayaknya banyak pernikahan yang biasa aja, nggak ada visi khusus, tapi baik-baik aja tuh. Namun semakin dewasa, aku semakin menyadari bahwa visi itu penting banget melandasi sebuah pernikahan. Visi tersebut akan mengarahkan: mau dibawa kemana pernikahan ini? Dan jika suatu saat pernikahan goyah (ya nggak ada dong ya pernikahan yang selamanya bahagia), maka visi itu yang akan menjadi ‘pegangan’ keduanya untuk mempertahankan pernikahan.

Pernah dengar kisah cinta heroik dari orang tuanya Salahudin Al Ayubi? Konon kedua orang tua beliau (ayahnya bernama Najmuddin Ayub Sultan Tikrit sedangkan ibunya berasal dari masyarakat miskin) menikah karena kesamaan visi: ingin memiliki dan membesarkan anak yang akan menjadi pejuang dan mengembalikan kaum muslimin ke Baitul Maqdis, Palestina. Cerita lainnya pernah kudengar dari seorang ustadzah dalam suatu kajian pra nikah tentang pasangan suami istri dokter yang bertugas di Palestina. Visi mereka sama, berjuang sekuat tenaga untuk ummat. Terlalu heroik? Nah disini ada juga pasangan Achmad Zaky pendiri Bukalapak.com dan istrinya Diajeng Lestari pendiri Hijup.com yang sama-sama bervisi memanfaatkan internet untuk berbisnis. Masih ketinggian? Di bulan Ramadhan tahun ini, aku bersama teman-teman alumni pengurus Rumah Belajar BEM UI 2013 berkesempatan menyelenggarakan acara bakti sosial di sebuah panti asuhan bernama Domyadhu (Dompet Yatim Dhuafa) yang terletak di Tanah Baru, Depok. Panti asuhan ini dikelola oleh sepasang suami istri yang luar biasa ikhlasnya mengurus, mendidik dan membesarkan anak-anak yatim piatu. Suami istri ini masih muda, baru saja punya sepasang anak kembar yang lucu-lucu. Sang suami dipanggil Abah dan sang istri dipanggil Umi. Jika Abah berperan mendidik pelajaran agama, maka Umi berperan di dapur. Umi tersebut bercerita, beliau sampai bisa masak 5 kali lho dalam sehari (ya maklum lagi masa pertumbuhan, anak-anak makannya banyak hehehe). Sedangkan tugas lainnya seperti menyapu, mengepel, mencuci baju dibagi-bagi pada semua anak  panti. Pernikahan mereka benar-benar bervisi untuk memelihara anak yatim piatu. Indah sekali.

Visi dalam pernikahan bukan berarti mengharuskan suami istri memiliki mimpi yang sama persis atau berkiprah di bidang yang sama. Sederhananya sih menurutku, ada benang merah dari apa yang mereka perjuangkan setiap harinya. Jikalau suami sehari-hari kerja sebagai masinis dan si istri kerja sebagai teller bank, maka boleh jadi visi mereka berdua adalah memberikan pelayanan terbaik bagi orang banyak. Aku sendiri hanya mengharapkan dukungan bagiku untuk mewujudkan mimpi mendirikan Rumah Yatim Annisa. Tidak muluk-muluk sampai suami menyokong dana atau mempublikasikannya di media (Lho ini suaminya mau nyaleg ya? Hehehe), yang penting dukungan saja. Karena, menjadi ibu bagi anak-anak kandung sendiri saja belum tentu mudah, apalagi juga menjadi ibu bagi anak-anak orang lain. Sehingga visi yang ingin kuwujudkan dalam pernikahan pun jelas: sakinah dalam rangka menjadi sebaik-baiknya manfaat untuk sesama. So, mumpung masih muda, yuk tentukan mimpimu dan tentukan pula kriteria pasangan yang bisa mendukungmu mewujudkan mimpi! 😀

Bonus: salah satu lagu kesukaaanku.

 

You were my strength when I was weak

You were my voice when I couldn’t speak

You were my eyes when I couldn’t see

You saw the best there was in me

Lifted me up when I couldn’t reach

You gave me faith cause you believe

I am everything I am

Because you loved me

 

‘Because You Loved Me’ by Celine Dion

Advertisements

2 thoughts on “Mimpi, Rumah dan Visi Pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s