Belanja dan Kulineran di Singapore

Meskipun kata orang, Singapore adalah surga belanja, sebenarnya travelling gue kemarin ke Singapore nggak diniatkan untuk berburu barang. Pure pingin liburan, keluar dari rutinitas, refreshing dan ngerasain jalan jalan ke luar negeri. Tapi, gak enak juga rasanya gak bawa oleh oleh dan icip-icip kulineran. Hehehe.

Ada 4 tempat belanja yang gue sambangi selama di sana: Chinatown, Orchard MRT, Bugis Street, dan Arab Street. Dan yang paling murah dan enak adalah jeng jeng…Arab Street!!!

Belanja-belinji

Oke, pertama gue bahas tentang Chinatown ya. At first, gue pikir Chinatown paling murah. Tapi seenggaknya bagi kalian yang mau berburu gantungan kunci, Chinatown lah tempatnya. Di antara 3 destinasi, gantungan kunci Chinatown paling murah: 10SGD dapat 36 pcs. Murah kaaan? Di Chinatown ini gue juga beli kaos I

Tempat belanja kedua adalah Bugis Street dimana gue beli coklat KitKat seharga 10SGD dapat 2. Menurut gue Bugis Street okelah untuk berburu coklat, tapi kalau pernak pernik kayak gantungan kunci, pulpen, aksesoris,dll gitu harganya sama aja kayak Chinatown bahkan beberapa item lebih mahal 1 SGD dari Chinatown. Disini gue juga belanja bolpoin yang ada desain merlion nya seharga 4SGD dapat 5 buah. Sebenernya masih bisa ditawar 3 SGD nih kayaknya :/

Banyak yang menyarankan gue untuk pergi belanja ke Orchard Road, tapi karena keterbatasan waktu, gue cuma sempat belanja sepatu di Orchard MRT, mall Orchard yang berbatasan langsung sama stasiun MRT Orchard. Gue beli sepatu di butik Rubi Shoes dan berhasil mendapatkan 2 sepatu seharga 30 SGD. Yaelaaah, siapa bilang murah? Harganya kok sama aja kayak sepatu di Indonesia. Hahaha.

Sialnya, di hari terakhir gue baru ketemu tempat belanja yang murah meriah dan letaknya dekeeet banget hostel tempat gue menginap di Bugis. Yup, di Arab Street! Disini gue beli tas dan coklat berbentuk Merlion di sebuah toko yang terletak persis di depan Masjid Sultan. Penjual di toko ini seorang bapak orang India (atau Arab ya?) yang berpenampilan kayak syeh syeh gitu, dan fasih berbahasa Indonesia. Si bapak penjual ini ramah banget dan welcome untuk ditawar walau cuma bisa turun 1-2 SGD. Heuheu. Dan asiknya disini bagi kalian yang kekurangan duit dan bawa duit rupiah, bisa banget lho bayar pake rupiah dengan kurs 1 SGD= Rp. 10,000. Hahaha. Lebih mahal sih emang. Bisa nuker duit rupiah juga lho disini, mengingat sekitar Bugis Street memang belum ada Money Changer.

Total belanjaan gue selama di Singapore:

  • 1 kaos = 3 SGD
  • 2 tas (tas goody bag gitu) @ 3 SGD = 6 SGD
  • 2 Coklat Kitkat = 10 SGD
  • 5 bolpoin = 4 SGD
  • 2 pasang sepatu Rubi Shoes = 30 SGD
  • 2 coklat Merlion @4 SGD = 8 SGD
  • 1 gantungan kunci gunting kuku = 1 SGD
  • 1 renceng isi 6 gantungan kunci = 4 SGD
  • Popcorn Garrett rasa Caramel depan USS (ada tulisan gue disini) = 5 SGD

Total = 71 SGD  atau setara Rp. 688,700 (kurs 1 SGD= Rp 9,700). Mayan yaaah :’)

Kulineran

Untuk menghemat pengeluaran selama di Singapore, gue niat banget lho bawa rendang dari rumah. Ciyus! Kenapa rendang? Karena tahan lama dan rasanya gak berubah. Jadi rendang bersama bon cabe dan abon gue jejalkan di dalam koper yang masuk bagasi. Mantapnya, nyokap gue bikinin rendang kering yang super empuk. Makasih Mamakeee.

Oh ya, kebetulan hostel tempat gue menginap menyediakan sarapan, jadi gak nambah biaya lagi tuh untuk sarapan. Tapi, tentu aja selama 4 hari gue gak terus-terusan makan rendang atau ngarepin makanan dari hostel. Yakali. Hehehe. Berikut makanan yang sempet gue coba:

  1. Nasi Ayam Hainan di Chinatown. Saran gue, bagi yang muslim sebaiknya hindari Chinatown deh untuk kulineran karena hampir semua menu gak halal alis mengandung daging babi. Bahkan es krim nya aja mengandung gelatin si piggy. Karena gue pake kerudung, para penjual disana biasanyasebelum gue nanya langsung sigap ngasih tahu, “Sorry, no halal”. Setelah capek-capek muter Chinatown, akhirnya nemu restoran yang hmm sebenernya gak halal sih, tapi Cici-nya yang jual fasih ngomong bahasa Indonesia dan menjelaskan kalo makanan yang ia masak dimasak dengan minyak sayur dan menu selain babi dipisah saat masak dan penyajiannya. Apa boleh buat, karena temen jalan gue udah ribut banget mau makan (Serius, ini pake acara ngambekan juga. Hmm mungkin bisa jadi catatan bahwa akan lebih nyaman travelling dengan teman seiman. Ini no SARA lho ya) akhirnya dengan berat hati gue makan lah nasi ayam hainan itu. Alhasil gue cuma bisa makan sesuap dua suap. Not recommended and pricey.
  2. Mc Donalds di Pulau Sentosa.  Yaelaaah, jauh-jauh makannya McD lagi. Hahaha. Abis udah keburu laper abis main di pantai, nyari yang harganya pasti dan males pake nanya-nanya halal atau engga. McD jelas halal lah ya…beda sama 7 Eleven, kudu diliat-liat dulu tuh nasi onigiri dan rotinya ada yang pakai daging ham juga. Balik lagi ke McD, yang beda disini, selesai makan kita gak bisa main tinggal aja baki makan kita, tapi harus buang dulu piring dan gelas plastik ke tempat sampah serta menaruhnya di tempat baki. Kayaknya emang gak ada yang pake piring deh kayak McD di Indonesia.
  3. Nasi goreng dan nasi lemak di Kampong Glam Cafe, Arab Street. AKHIRNYAH! Nyesel deh, baru ketemu tempat ini di hari ketiga padahal lokasinya deket banget dari hostel kita. Gue dan temen gue makan disini 2 kali, pas dinner di malam ketiga dan pas siang sebelum berangkat ke Changi. Di malam hari, kafe ini menyediakan nasi goreng, kwetiauw, mie goreng, dan aneka menu lain yang udah akrab di lidah orang Indonesia. Bahkan ada menu bernama Mie Bandung lho. Gue pesen Nasi Goreng Cina, insya Allah halal, karena resto ini yang jual orang-orang Malaysia, banyak pegawainya kerudungan juga.  Kayaknya sih kuliner di resto ini emang masakan Indonesia dan Malaysia. Rameee lho…yaiyalah, harganya rata-rata di bawah 5 SGD!  

Keesokan harinya kita kesini lagi. Ternyata menu nasi goreng dan kawan-kawan cuma disediakan malam hari. Siang harinya berubah konsepnya kayak warteg: tunjuk lauk sana-sini trus bayar. Teteuuup, rata-rata di bawah 5 SGD. Gue nyoba Nasi Lemak, makanan khas Malaysia seharga 3 SGD. Menurut gue rasanya kayak nasi uduk tapi santannya lebih gurih atau gimana gitu ya. Ini adalah varian nasi uduk terenak kedua setelah nasi liwet yang pernah gue cicipi di alun-alun Sukoharjo.  Yang jelas enak dan ngenyangin. Sorry gue bukan komentator kuliner. Hehehe. 

Kelar deeeh. Lho, kulinerannya cuma segitu doang? Iyaa…hahaha. Sisanya adalah beli nasi onigiri dipadu rendang yang serasa gak abis-abis. Dan bawa bekel dari rumah ngefek banget lho menekan pengeluaran. Mending duitnya dipake buat belanja…hehehe.

Oke, sekian review tentang belanja dan kulineran yang gue janjiin di posting-posting sebelumnya. See you on next trip!

Advertisements

3 thoughts on “Belanja dan Kulineran di Singapore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s