Cerita Perjalanan Umroh Part 1: Madinah & Masjid Nabawi Yang Bercahaya

Barangkali, mengunjungi tanah suci, bersujud langsung di depan Ka’bah adalah impian bagi setiap muslim. Dan ketika kesempatan itu dapat kita rasakan, niscaya menjadi pengalaman yang seumur hidup tak akan terlupakan.

Itulah yang aku rasakan pada tanggal 3-11 Februari 2017 kemarin. Sebuah pengalaman yang kurasakan masih amat singkat, tapi begitu membekas di hatiku: menjalani umroh untuk pertama kalinya. Memandang Ka’bah dengan mata kepalaku langsung untuk pertama kalinya. Ini adalah impianku dan ibuku sejak lama, ini adalah puncak semua doa dan ikhtiar kami selama bertahun-tahun, dan ini adalah takdir terindah yang Allah karuniakan untuk kami.

Alhamdulillah, semua pengalaman itu akan aku ceritakan di blog ini, blog yang sudah bertahun-tahun menjadi wadahku berbagi cerita. Semoga tulisan ini menjadi hikmah dan bermanfaat bagi pembacanya ya 🙂

Jumat, 3 Februari 2017

Jumat sore sekitar pukul 16.00, aku dan Mama sudah sampai di kantor pusat Hannien Tour, travel yang kami gunakan untuk umroh yang terletak di Cibinong, Kab. Bogor tak jauh dari rumahku. Kami diantar oleh Bapak tiriku dan Mas Denta (calon suami, isnya Allah, hehehe). Setelah tausyiah dan pembagian ID card, rombongan kami pun naik bus travel diantar ke Bandara Soekarno Hatta. Kebanyakan jamaah berasal dari Bogor dan Depok. Perjalanan Jumat sore terjebak macet cukup lama di jalanan ibukota, sampai akhirnya tiba di Soetta sekitar jam 8 malam. Rombongan kami pun dipertemukan dengan rombongan Hannien lainnya dari Pekanbaru yang akan melebur jadi satu rombongan yang berjumlah 44 orang plus 1 orang Ustadz pembimbing. Setelah makan malam dan mengurus bagasi dan keimigrasian, akhirnya kami pun take off pesawat Etihad Airways tepat pukul 00.15 (sudah masuk hari Sabtu).

Bismillah.

Pesawat tiba di Abu Dhabi sekitar pukul 06.00 pagi, tapi arlojiku sudah menunjukkan pukul 09.00. Rupanya Jakarta-Abu Dhabi ada perbedaan waktu 3 jam. Jadi walau sudah menempuh 9 jam perjalanan, sampai di Abu Dhabi sih masih pagi banget. Pesawat kedua yaitu ke Jeddah, take off sekitar jam 8 pagi. Cuci mata di Abu Dhabi? Boro-boro hehehe. Kita cuma sempat sibuk nyari gate untuk penerbangan selanjutnya. Bandara Abu Dhabi mirip dengan Changi. Bersih, rapi, dan luaaassss.

Dari kiri atas ke kanan: -Pas keberangkatan -Transit di Abu Dhabi -Pemandangan dari pesawat...gak kayak Indonesia yang hijau...ini pasir semua tandus hehe>.< -Etihad -Sampai di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Dari kiri atas ke kanan:
-Pas keberangkatan
-Transit di Abu Dhabi
-Pemandangan dari pesawat…gak kayak Indonesia yang hijau…ini pasir semua tandus hehe>.<
-Etihad
-Sampai di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Di penerbangan kedua, ada juga penumpang asal Abu Dhabi yang sudah memakai pakaian ihram masuk pesawat. Hmm, berarti sebelum naik pesawat mereka sudah mengambil miqot nih. Apa itu miqot? Nanti aku jelaskan di tulisan berikutnya. Singkat cerita, sampailah kami di Jeddah sekitar pukul 11 siang. Setelah melalui pemeriksaan paspor, kami pun menuju bus yang siap mengantar kami ke Madinah. Ternyata pemeriksaan paspor di Arab gak seseram yang sering muncul di cerita, seolah-olah ada polisi yang siap mencambuk gitu. Hehehe. Justru petugas tampak sopan dan ramah banget sama kita orang Indonesia dan menyapa ‘apa kabar?’. Yang penting diingat saja siapa mahram kita (bagi perempuan di bawah 45 tahun yang pergi umrah tanpa ada mahram laki-laki). Kebetulan secara administratif, aku dan ibuku dimahramkan dengan salah satu bapak dari Pekanbaru yang kesini dengan keluarganya.

Perjalanan dari Jeddah ke Madinah memakan waktu sekitar 5 jam. Saat itu kondisi cuaca kurang baik karena beberapa hari sebelumnya terjadi badai pasir. Sekitar pukul 17.00, sampailah juga kami semua di Madinah, begitu memasuki kota ini dan melihat kehidupan penduduknya dari balik jendela bus…hmmm what a lovely city. Di sore hari, aktivitas masyarakat Madinah banyak yang piknik bersama keluarga di taman kota, main bola, dan sebagainya. Seperti umumnya masyarakat kita, namun bedanya tidak ada tempat hiburan yang berpotensi maksiat. Aktivitas kota ini sepertinya terpusat ke Masjid Nabawi dan sekitarnya.

Beberapa menit memasuki kota Madinah, sampailah kami di hotel Dar El Eiman Mukhtara yang jaraknya hanya 500 meter dari Masjid Nabawi. Brrr, hawa dingin langsung menyergap begitu kami turun. Kuperkirakan suhu di bawah 10 derajat celcius, karena dinginnya melebihi kawasan Puncak di waktu subuh. Setelah check in, istirahat, mandi dan makan, alhamdulillah aku dan Mama bisa menyempatkan diri hari itu juga shalat Isya di Masjid Nabawi. Pertama kali lihat Masjid Nabawi…wuiiih masya Allah, megah dan cantiknyaaa. Aku langsung jatuh hati pertama kali menginjakkan kaki di masjid sini. Luaaasss dan adem gitu. Terngiang di benakku sabda Rasulullah SAW, “Shalat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding masjid lainnya kecuali Masjidil Haram” (HR Bukhari)

Ya Rabb, segala puji bagi Engkau yang sudah memperjalanku sampai sini dan diberi kesempatan shalat di masjid kekasih-Mu ini…

Sayang payungnya gak terkembang...tapi tetep indah...huhu

Sayang payungnya gak terkembang…tapi tetep indah…huhu

Jangan takut kehausan di dalam masjid karena buanyaaaak banget dispenser air zam-zam tersebar di sini. Masya Allah, nikmatnya minum air zam-zam…dulu minum zam-zam oleh-oleh dari orang yang baru pulang umroh atau haji tuh rasanya mewah banget, sampai harus antre dan kebagian dikit-dikit. Hehehe. Sekarang disini bisa minum kapan aja dalam jumlah melimpah tanpa antre. Ada 2 macam air zam-zam, yang  dingin (aslinya air zam-zam itu dingin) dan ‘not cold’ alias hangat. Tapi gak tahu kenapa ya, aku yang biasanya gak suka minum air mineral dingin, eh jadi seneng minum zam-zam dingin dan ajaibnya gak bikin panas dalam. Tiap kali minum zam-zam, disunnahkan menghadap kiblat dan berdoa, boleh juga doa khusus seperti yang dilakukan Imam Syafi’i agar beliau diberi kecerdasan. Setiap kali minum aku berdoa semoga tubuhku diberi kekuatan dan kesehatan selama perjalanan umroh dan dihilangkan gatal-gatalnya…hehehe.

img_3814

Model dispensernya kayak gini. Sama aja antara di Nabawi dan Masjidil Haram. Foto ini pas di masjidil haram.

Ohya, antara bulan Desember sampai Februari memang masih dingin. Februari adalah peralihan dari musim dingin ke panas. Karena Arab Saudi cuacanya ekstrem, pas dingin ya dingin banget, pas panas ya panas banget sampai 50 derajat celcius. Bahkan kalau dingin katanya bisa sampai hujan es disini. Ingat peristiwa crane jatuh di Masjidil Haram dulu kan? Nah itu karena badai dan hujan es di musim dingin. Waktu yang paling enak ya di bulan Februari ini. Tapiiii dinginnya cuaca Madinah membuat kulit tangan dan kakiku (yang sebelumnya gak pernah alergi) jadi gatal-gatal dan beruntusan. Kadang gatalnya gak tertahankan di waktu tidur malam sampai aku terbangun. Gak cuma aku, banyak juga jamaah lain yang mengalami serupa. Mungkin karena dinginnya Madinah itu sifatnya kering, tidak lembab seperti di Bogor daerah rumahku. Untuk mengatasinya aku mengoleskan Vaseline Petrolatum Jelly, kubeli di salah satu toko dekat masjid seharga 10 riyal. Beli di Indonesia juga bisa, banyak kok di Tokped seharga 30ribuan.

Masih tentang Nabawi, disini terdapat ribuan (atau mungkin jutaan ya?) Quran dengan model serupa di setiap sudut, tiang dan rak-rak. Quran ini merupakan wakaf dari para jamaah yang datang kesini. Maksudnya? Jadi kita yang datang ke Masjid Nabawi bisa membeli Quran di luar masjid dan disumbangkan dengan cara menaruh langsung saja di rak. Niatkan untuk wakaf, insya Allah pahalanya akan terus mengalir setiap kali Quran tersebut dibaca oleh jamaah yang datang kesini. Ada pengalaman unik tentang Al Quran ini. Jadi aku ingin membeli Quran di sebuah bookstore yang terletak persis di depan Masjid Nabawi, tapi Quran yang ada disana mahal-mahal, paling murah 100  riyal. Aku tawar 50 riyal, eh syaikh penjualnya galak gitu “Quran di Madinah 50 riyal NO,  70 riyal NO, 90 riyal NO”. Huu, bakhil ente, batinku astaghfirullah. Hmm padahal sebelumnya aku baca pengalaman seorang blogger yang baru menunaikan umroh Des 2016, quran wakaf ini bisa dibeli di luar masjid seharga 20 riyal dan budgetku sendiri 100 riyal (rencana beli 5 buah). Akhirnya aku gak jadi beli deh. Esok subuhnya, saat berjalan ke masjid, aku terpikir lagi tentang Quran wakaf tersebut.

Dari kiri atas ke kanan bawah: -Foto setelah shalat pertama di Nabawi -salah satu menara Nabawi -Selfie iseng nunggu waktu shalat -Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram) -Di depan salah satu pintu Nabawi

Dari kiri atas ke kanan bawah:
-Foto setelah shalat pertama di Nabawi
-salah satu menara Nabawi
-Selfie iseng nunggu waktu shalat
-Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram)
-Di depan salah satu pintu Nabawi

Yaudah gak papa deh kalau 100 riyal. Biarpun cuma dapat 1 Quran gak apalah yang penting ada wakaf buat di Nabawi”

Baru beberapa menit setelah aku berpikir gitu, di antara kegelapan aku melihat 2 orang pemuda Madinah menjual Quran. Mereka memanggil-manggil jamaah yang lewat (kebetulan yang lewat blok itu sepi), cuma ada beberapa orang.

“Hei, Siti Masyithah! Ayo beli! 20 Riyal!”

Cling! Langsung tanpa pikir panjang aku datangi penjual itu.

“Ayo Siti Masyithah, beli 5 100 riyal. Dari Indonesia atau Malaysia?”

“Indonesia, beli 5 ya”

“Alhamdulillah…namanya siapa, Siti Masyithah?”

Yee malah ngajak kenalan. Buru-buru aku kasih uangnya dan ngacir. Eh tapi ya…di subuh besok-besoknya gak ada lagi lho penjual Quran ini. Nah lho…

Soal godaan dan suitan pedagang kayak gini, jangan khawatir, cuma sebatas ramah tamah mereka aja kok. Di lain waktu aku dipanggil-panggil “Cantik…cantik…ayo sini mampir”. Karena itu hari pertama tiba di Madinah dan aku masih was-was banget, aku pun pasang tampang galak. Eh, gak taunya di depanku ada nenek-nenek dari Indonesia juga dipanggil “Cantik…cantik…” Halah! Hahaha

Meski sangat luas, tidak terlalu sulit sebenarnya mencari pintu keluar Masjid Nabawi. Aku selalu mengingat nomor gerbang 25 atau 26 dengan patokan hotel Dar El Taqwa.Enaknya, sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi melalui pintu ini terdapat banyak pertokoan murah-murah. Abis ngantuk-ngantuk ngaji di masjid, mata pun langsung seger lagi cuci mata lihat barang-barang. Hahaha. Gak bisa bahasa Arab? Jangan khawatir, pedagang disini sudah fasih sekali bahasa Indonesia. Bahkan mereka juga terima rupiah. Menurutku barang-barang di Madinah lebih variatif dan lucu-lucu daripada di Mekkah. Kalau harga sih relatif sama yah. Untuk kurma, sebaknya beli di Mekkah karena lebih murah beberapa riyal. Tapi untuk cemilan lain selain kurma seperti coklat dan permen, sebaiknya beli di Madinah karena lebih murah. Begitu juga yang kain-kain seperti gamis, baju koko, sajadah dan mukena lebih bervariasi di Madinah dan harganya juga lebih murah.

Sifat orang Madinah itu lembut dan ramah-ramah, berbeda dengan orang Mekkah yang agak keras. Dan itu memang sudah sifat mereka dari dulu, dimana penduduk Madinah sangat welcome dengan Rasulullah SAW bahkan bisa menerima kaum Muhajirin (penduduk Mekkah yang berhijrah ke Madinah saat itu bersama Rasulullah SAW) seperti sudara mereka sendiri, membagi tempat tinggal dan harta mereka untuk saudara sesama muslim. Sifat itu juga yang terlihat pada penjual di Madinah, mereka benar-benar merayu terhadap jamaah yang lewat dan sangat ramah. Berbeda dengan penjual di Mekkah yang rada galak, susah untuk ditawar. Istilahnya, beli syukur, gak beli yaudah. Tiap kali kita lewat, ada saja panggilan yang disebutkan penjual Madinah pada jamaah Indonesia yang bikin ketawa “Ayo Syahrini mampir yuk…Ayu Teng Teng (???)…Isyana…Julia Perez…” Eh yaampun update banget sama artis-artis Indo. Dan anehnya, penjual di Madinah yang kebanyakan cowok kok kasep kasep pisan yaaah. Hahaha. Banyak yang mirip Fatih Serefagic, Zayn Malik, sampai ada yang mirip Jonas Brothers. Jadi makin semangat deh belanjanya. Hehehe.

Setiap waktu shalat, seluruh toko menghentikan aktivitasnya. Mereka tutup aja tuh sekedarnya toko mereka, barang dagangan masih tergelar gak dipeduliin. Hukum yang ketat membuat masyarakatnya merasa aman. Tidak main-main, mencuri kena hukum potong tangan. Pas di Madinah ini aku juga sempat melihat beberapa pengemis, gak banyak sih, duduk di tengah jalan meminta sedekah. Tangan mereka buntung, bahkan ada yang kakinya buntung. Konon mereka ini dulunya pencuri yang kena hukum potong tangan.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Alhamdulillah, selama disana gak ada tuh yang aneh-aneh. Aku juga gak abis pikir, kenapa sih banyak cerita bersileweran kalau laki-laki Arab itu mesum, suka memperkosa, ‘garang’, dsb? Bahkan ada yang bilang hati-hati diseret ke balik pintu terus diperkosa. Yaampun…emang gak ada polisi atau hukum yang berlaku apa? Disini hukumnya keras banget lho untuk pemerkosa: dirajam sampai mati. Tapi yaaa itulah media. Hobi banget mendiskreditkan Islam. Karena Arab identik dengan Islam, banyak deh kejadian yang dilebih-lebihkan. Padahal aku melihat mereka sopan (bahkan sama perempuan asing, selain penjual laki-laki, mereka dingin dan cuek tuh, menjaga pandangan gitu lho) dan memuliakan perempuan. Duuuh, suka melting deh lihat pasangan Arab. Si suami menggendong anaknya sambil menggandeng tangan istrinya. Gerak-geriknya melindungi banget sang istri. Di minimarket, kebanyakan yang belanja kebutuhan dapur adalah para suami. Aku belum pernah lihat tuh lelaki Arab yang jalan sambil gandeng beberapa istri kayak harem gitu. Bahkan kalau di pintu keluar tempat shalat wanita, aku lihat paling banyak adalah lelaki arab yang menunggui istrinya kelar shalat dengan sabar. Kebalikannya, kalau di pintu shalat pria malah wanita Indonesia dan Melayu yang menunggui suaminya selesai shalat. Hehehe.

Membicarakan Masjid Nabawi, gak lepas dari askar. Askar lho ya, buka asgar Asli Garut. Hehehe. Askar itu adalah petugas yang ditempatkan di masjid Nabawi dan Masjidil Haram untuk mengatur ketertiban jamaah. Yaaa kayak polisi syariah gitu deh ya. Kalau denger cerita orang-orang, askar itu galak-galak. Kalau yang aku alami sendiri sih..biasa aja tuh. Galak kalau memang jamaah susah diatur. Malah setiap kali memeriksa tas ketika baru masuk pintu masjid, askar perempuan yang bercadar suka nyapa “Apa kabar Ibu?”. Yaiyalah, jamaah Indonesia kan tergolong paling buanyaaak di Madinah dan Mekkah, jadi penduduk sana pun udah familiar banget sama orang kita. Tapi anehnya, ada aja ibu-ibu yang suka nyelonong masuk gak mau diperiksa tasnya. Padahal itu kan bagian dari prosedur, dan askarnya gak bentak-bentak tuh, cuma bilang “Sabr! Sabr!” . Maksudnya disuruh sabar, mau diperiksa dulu tasnya. Kalau diperhatikan, baik di Madinah atau di Mekkah, mungkin jamaah yang paling ngeyel adalah jamaah dari Turki. Disuruh lewat sana, ngotot mau lewat sini. Kalau kita orang Melayu mah yaudah nurut aja sih…tapi orang Turki mah pake acara ngedebat dulu. Padahal menurutku para askar itu helpful kok. Kalau kita bingung sesuatu tinggal tanya aja, pasti dituntun.

Hari kedua di Madinah, aku pun menyempatkan diri untuk qiyamul lail dan shalat subuh di Masjid Nabawi. Di luar hotel sudah ramai orang berduyun-duyun ke Masjid Nabawi. Masjid ini seolah tak pernah tertidur, aktivitas hidup 24 jam. Jamaah shalat subuh sudah berdatangan sejak jam 2 pagi.

Sekitar pukul setengah 5 pagi, suara adzan berkumandang. Aku mengecek handphone ku, namun ini belum masuk waktu Subuh (waktu Subuh sekitar jam setengah 6). Ternyata adzan subuh di Nabawi dan Masjidil Haram dikumandangkan 2 kali, sejam sebelum masuk waktu shalat dan saat waktu shalat. Mungkin untuk bangunin orang kali ya?

Oh ya, setiap selesai shalat berjamaah, selalu ada shalat jenazah. Beneran, shalat jenazah itu sampai 5 waktu. Masya Allah, betapa banyak yang berpulang di sini, dan betapa beruntungnya mereka yang bisa berpulang disini. Dishalati ribuan jamaah di masjid suci ini, dimakamkan di Baqi dimana sahabta dan istri rasul juga dimakamkan, dan terutama: dimakamkan di kota dimana Rasulullah SAW dimakamkan. What a peaceful leaving, right? Setiap kali shalat jenazah, kusempatkan untuk berdoa agar aku juga bisa ditakdirkan menjemput ajal di Madinah. Aamiin.

Sekitar jam 8 pagi setelah sarapan, rombongan travelku pun berkumpul. Kali ini kami akan tur keliling masjid Nabawi, makam Baqi dan Quran exhibition. Makam Baqi gak jauh dari Masjid Nabawi, makam ini hanya berupa areal yang cukup luas dan berpasir. Disinilah istri-istri Rasulullah SAW dan para sahabat serta penduduk Madinah dari dulu sampai sekarang dimakamkan. Tidak ada nisan yang membatasi, jadi gak ada tuh cerita susah nyari lahan buat pekuburan atau bayar pajak makam seperti di negara kita. Awalnya makam Baqi ini masih dibuka untuk peziarah laki-laki, tapi saat ini nggak dibuka karena biasa deh, ada aja oknum yang suka mengkeramatkan makam. Pakai segala diambil batu dan pasir nya lah nyari berkah. Padahal di Arab Saudi, syirik dan sihir itu merupakan kesalahan yang sangat berat dan tergolong pidana.

Dari kiri atas ke kanan: -Bergaya ala selebgram hahaha -Foto bareng Mama -Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi -Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Dari kiri atas ke kanan:
-Bergaya ala selebgram hahaha
-Foto bareng Mama
-Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi
-Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Jalan lagi, sampailah kami di Quran exhibition, sebuah museum pameran Quran bersejarah. Disini ada Quran terbesar di dunia, ada Quran yang ditulis tinta emas, Quran dari kulit kambing, dan yang bersejarah tentunya: Quran pertama yang dihimpun dan ditulis pada masa Khalifah Abu Bakar dan disempurnakan terus sampai Khalifah Ustman bin Affan.

dari kiri atas ke kanan bawah: -Quran terbesar di dunia -Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah -Aku...ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng :( -Mama di museum Quran exhibition

dari kiri atas ke kanan bawah:
-Quran terbesar di dunia. Guide memberikan penjelasan.
-Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah
-Aku…ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng 😦
-Mama di museum Quran exhibition

Jalan agak keluar dari area Nabawi, ada masjid Ghamamah, yang artinya ‘awan’. Dinamakan demikian karena ketika Rasulullah SAW singgah di masjid ini dan mendirikan shalat, saat itu beliau dinaungi awan. Masjid ini terlihat sepi, karena sudah ada masjid Nabawi. Aku dan Mama pun asik berfoto bersama merpati. Ohya, bagi yang mau berfoto di antara merpati bisa dilakukan di Madinah. Kalau di Mekkah kurang banyak merpati (ini tips apasih hehe)

Di sela-sela tur, Ustadz membimbing kami untuk melihat dua kubah yang ikonik banget bagi masjid Nabawi. Dua kubah tersebut: kubah hijau, persis di bawahnya adalah makam Rasulullah SAW bersama dua sahabat beliau: Abu Bakar As-Shidiq dan Umar bin Khattab. Sedangkan kubah satunya lagi yang berwarna silver persis di bawahnya adalah mimbar Rasulullah SAW tempat beliau biasa memberikan khutbah. Nah, di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW ini terdapat area bernama Raudhah, artinya taman surga. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, “Antara mimbarku dan rumahku terdapat taman (raudhah) di antara taman surga ” (HR Bukhari-Muslim)

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Lho, memang rumah Rasulullah SAW dimana? Ya itu…makam Rasulullah SAW tadinya adalah rumah beliau. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar tidurnya bersama Aisyah RA kemudian menyusul Abu Bakar dan Umar bin Khattab. FYI, Aisyah RA tetap menempati kamar tsb meskipun sudah ada tiga makam di dalamnya. Kisah lengkapnya ada di Sirah Nabawiyah…hayooo siapa yang belum baca? Kitab yang wajib dibaca nih setelah Al Quran.

Raudhah ini termasuk tempat mustajabnya doa. Oleh karena itu, banyak orang antre untuk masuk sini walaupun area ini hanya bisa menampung puluhan orang saja, ditandai dengan karpet hijau. Akibatnya banyak yang berdesakan, dan untuk masuk area ini pun butuh perjuangan yang luar biasa. Kayak gimana perjuangannya? Ada di posting berikutnya yah…

Balik lagi ke acara tur, pas menghadap kedua kubah tersebut, eh ustadz pembimbing malah melambai gitu ke kubah hijau. Sontak para jamaah yang lain mengikuti. Aku mah gak ikutan, malah sibuk foto-foto, karena sebelumnya aku banyak baca di internet bahwa gerakan yang menjurus pengkultusan dilarang disini. Eh beneran aja…gak lama kemudian seorang askar laki-laki mendatangi rombongan kami dan menegur baik-baik, “Haji, salah Haji…An-Nisa 48” (btw, disini kita semua dipanggil Hajj atau Haji atau Hajjah bagi yang cewek). Nah kan…gak boleh tuh ngelambai lambai gitu. Berdiri diam dan menengadahkan tangan berdoa aja gak boleh, jadi lebih baik berdoa dan shalawat dalam hati aja.

Selesai sudah rangkaian tur pertama. Tur di sekitar Madinah lainnya adalah tur ke Masjid Quba dan Gunung Uhud.

 Bersambung…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s