Gampang Curhat

Apakah kamu punya teman yang berkarakter “senggol curhat”? Gak bisa ‘kesenggol’ dikit soal masalah yang dialaminya…ia langsung curhat panjang lebar. Padahal kamu pun gak begitu minat mendengar kisahnya. Adakah temanmu yang begitu? Saya juga kenal orang seperti ini..tidak jauh jauh, saya sendiri orangnya šŸ™‚

Saya menyadari kebiasaan gampang curhat ini barangkali berangkat dari pribadi saya yang ekstrovert, juga tidak lepas dari latar belakang saya sebagai anak tunggal. Saya tidak punya kakak atau adik yang bisa dijadikan tempat curhat, akhirnya lari ke teman. Dan karena saya orangnya tergolong supel (cieee),jadilah saya cukup punya banyak teman sejak sekolah sampai sekarang. Nah, filter saya untuk teman curhat tergolong longgar. Hanya kalau sudah ketemu teman yang ‘nyambung’ diajak ngobrol…suatu hari pasti kapan-kapan saya curhat. Husnudzon saja semua orang peduli pada curhatan saya hahaha. Tidak seperti orang orang yang untuk sampai tahap curhat saja paling tidak harus memenuhi sekian waktu pertemanan, harus bisa dipercaya dulu, harus satu inner circle, satu sosialita, dan sebagainya. Monmaap, memang standar pertemanan saya ini agak receh saudara-saudara :’)

Parahnya, kebiasaan gampang curhat ini tak hanya di kehidupan nyata, tapi suka terseret ke dunia maya. Memang sih, saya tidak sampai menceritakan secara gamblang apa yang terjadi, tapi update status, caption dan stories cukup menyiratkan. Begitu juga blog ini. Apalagi di blog yang ibaratnya adalah ruang setiap orang untuk menuangkan pikirannya…saya bisa curhat dengan jor-joran. Meski saya tidak secara jelas menyebutkan siapa saja tokoh yang terlibat dalam curhat saya, tapi tetap saja judulnya…curhat.

Segala sesuatu yang berlebihan tentunya tidak baik. Saya sadari itu. Setelah beberapa kali ter-encourage dari kajian Ustadz Khalid Basalamah mengenai penting tidaknya menceritakan atau berbagi masalah pada orang lain, saya pun berniat untuk pelan-pelan mengurangi kebiasaan ini. Bagi kalian yang juga ingin mengurangi kebiasaan ini, saya ingin berbagi alasan saya yang mudah-mudahan bisa jadi motivasi kita-saya dan kalian-untuk berhenti gampang curhat.

Alasan pertama, saya merasa semakin berjalannya waktu, teman teman yang bisa saya curhati pun semakin sedikit. Mereka juga memiliki kehidupan sendiri dengan masalah mereka sendiri-sendiri. Saat ini, masalah saya mungkin bisa didengarkan. Tapi pada akhirnya, mereka hanya akan benar benar peduli pada masalah mereka sendiri.

Kedua, mungkin, agar sajadah saya bisa lebih lembab dari biasanya karena tumpahan air mata sewaktu sujud. Tsaahhh…jadi lembab atau apek Sar? šŸ˜€ Saya bisa lebih serius benar benar menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan bergantung. Dan, bukankah tak ada yang bisa memberikan solusi terbaik untuk semua permasalahan hidup selain Allah?

Ketiga, pentingnya menjaga nama baik diri. Saya memang belum pernah merasakan pengkhianatan semacam kisah pribadi saya diumbar oleh pihak lain dan dijadikan bahan nyinyir. Tapi sebelum sampai kejadian, tidak gampang curhat adalah langkah preventif yang sangat baik untuk menghindari drama pertemanan.

Jadi ketika menuliskan ini, saya sudah memindahkan banyak konten blog ini yang berisi curhat tidak berfaedah ke dalam folder trash. Begitu juga aktivitas di social media mulai dibatasi. Semoga ke depannya blog yang sudah saya tulis sejak beberapa tahun lalu ini bisa menuliskan sesuatu yang lebih bermanfaat šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s