Memantapkan Diri untuk S2

Halo!

Pertama-tama, karena masih suasana Idul Fitri, saya mohon maaf lahir bathin yaa, wabilkhusus, pada teman-teman yang mengunjungi blog ini kemudian meninggalkan komentar berupa pertanyaan atau mengontak saya langsung via email. Mohon maaf karena kealpaan saya, saya sering lupa balas. Atau karena yang ditanyakan sudah berkali-kali ditanya, atau saya sudah tidak capable lagi untuk menjawab (contoh bertanya seputar pengalaman kerja saya di kantor-kantor sebelumnya), saya jadi menunda untuk menjawab, trus lama-lama….kelupaan deh. Hehehe. Mohon dimaafkan yaa. 🙂

Salam lebaran dari Ayana Moon KW super. Hehehe.

Anyway, bagaimana Ramadan-nya? Saya biasanya malas bertanya tentang ‘lebaran-nya’ karena rata-rata jawabannya sama di antara dua ini: mudik atau gak kemana-mana. Dan saya termasuk kelompok yang boring, alias ‘anti mudik mudik club’. Menurut saya ketika di hari kemenangan lebih berfaedah bertanya “bagaimana Ramadan-nya?” bukan “kapan nikah?” …betul?

Jika bertanya pada saya, maka saya merasa Ramadan ini kesannya adalah sungguh menyedihkan. Kenapa? Banyak kejadian pahit tak terduga yang tiba-tiba ‘menubruk’ saya. Hikmahnya, di akhir Ramadan ini saya akhirnya mencapai satu titik balik, untuk kemudian menemukan lagi bagian dari diri saya yang sempat hilang #hasik

Apakah itu? Semangat belajar. Bukan, bukan belajar tentang kehidupan ya. Itu sih nggak akan pernah berhenti. Belajar disini dalam artian menempuh pendidikan formal. Sebenarnya sejak lulus S1 pada awal 2015, saya sudah berencana untuk kuliah S2 suatu hari nanti. Ya, masih dilabeli ‘someday’. Hingga kini hampir 4 tahun bekerja (wew!), baru sekarang saya akhirnya bisa terlepas dari belenggu kata ‘someday’ tersebut.

Ada beberapa alasan mengapa untuk melanjutkan pendidikan tertahan lama (bagi saya ini agak terlambat ya…karena teman-teman seangkatan saya sudah banyak yang ambil S2 hiks). Pertama, sebagai tulang punggung keluarga saya berpikir kalau saya kembali kuliah, siapa yang bekerja untuk menafkahi keluarga saya? Sementara untuk mengambil kelas S2 program eksekutif (kelas karyawan) yang rata rata mahal, saya tidak mampu. Jika dengan beasiswa, maka saya hanya bisa fokus kuliah tanpa bekerja karena rata-rata beasiswa tidak ditawarkan untuk program eksekutif. Itu block pertama dalam otak saya.

Block kedua, anjuran Ibu saya untuk menikah dulu. Ibu saya khawatir laki-laki akan minder untuk bersanding dengan saya jika saya sudah bergelar master. Saya sebenarnya tidak ingin percaya pikiran semacam ini, tapi beberapa kejadian pernah seakan mengamini anggapan ini.

Di sisi lain, motivasi saya untuk S2 semakin tahun semakin kuat. Saya menyadari, background pendidikan saya yang jauuuh dari bidang pekerjaan saya saat ini ‘agak’ memberi gap bagi saya untuk bisa maksimal meningkatkan karier. Terkadang saya merasa kurang percaya diri di antara kolega yang berada di ranah yang sama dengan saya dan berasal dari jurusan yang sesuai-jurusan beken macam Ekonomi, Manajemen, dll. Memang, background pendidikan tidak menentukan suksesnya karier, saat ini pun alhamdulillah saya sudah naik jenjang sebagai supervisor dibandingkan dulu saat masih entry level (tapi antara dulu dan sekarang sih masih sama-sama cungpret hehehe). Namun kata Jouska (itu lho, akun konsultan keuangan yang popular di Instagram), bahwa diri kita adalah investasi terbaik untuk membuat kita survive di tengah kompetisi yang makin lama tentu gak makin mudah. Sekarang saya baru akan 25, tergolong masih muda dan segar di dunia kerja…but eits, jangan salah, dedek-dedek yang usia 21, 22, 23 makin banyak bermunculan dengan semangat oke dan otak yang encer-encer.

So, gimana cara menginvestasikan diri? Salah satunya melalui pendidikan. Terus, gimana dengan block-block di atas yang sebelumnya sering membayangi saya?

Erin yang berbaju kuning. Insya Allah high quality jomblo. Hahaha. Nah, makanya biar manfaat, bukber itu jangan cuma wakanda, eh, wacana.

Alhamdulillah, seperti yang saya katakan, di Ramadan ini saya menemukan titik balik: sebuah pencerahan dari salah satu teman saya di Rumbel BEM UI dulu saat kami bertemu dalam acara buka bersama. Teman saya namanya Erin, baru saja diterima untuk melanjutkan S2 dengan beasiswa full dari Stuned ke Belanda (tepatnya University of Groningen) dan akan berangkat September tahun ini. Wow. Ngobrol dengan Erin sebentar, membuka mata saya bahwa pilihan bagi saya gak sesulit itu kok. Gak sesulit ‘S2’ atau ‘kerja’ karena jika saya mau berjuang, biasanya biaya hidup yang diberikan lembaga beasiswa pada umumnya berlebih, dan dengan sedikit kerja keras (mencari tambahan kerja part time misalnya) masih tetap memungkinkan untuk mengirim uang ke orang tua. Lagipula, jika saya benar-benar niat, saya bisa jual ‘aset’ yang selama ini saya miliki agar lega meninggalkan orang tua dengan simpanan yang insya Allah mencukupi selama saya merantau.

Gimana dengan block kedua? Well, dulu saya berkeinginan menikah maksimal di usia 25. Kenyataannya, sekitar 2 bulan lagi saya akan berusia 25 tahun dan masih belum ada pasangan apalagi rencana menikah. Jadi, mengapa saya tidak fokus dulu pada apa yang di depan mata yang masih sangat mungkin saya perjuangkan? Kalau kata Vira Cania Arman, salah satu vlogger inspiratif yang melanjutkan S2 di luar dengan beasiswa, “Jangan mengkompromikan mimpimu dengan suatu hal yang belum pasti seperti pernikahan”. Yes, insya Allah akan, tapi statusnya saat ini belum pasti kan?:D

Setelah melalui shalat istikharah yang panjang dan minta doa restu orang tua, akhirnya saya mantap untuk mengatakan target saya terdekat saat ini adalah memperjuangkan S2. Inilah saatnya. Katanya Idul Fitri itu adalah lahir kembali, seperti itulah yang saya rasakan: ada semangat yang lahir kembali. Tahu-tahu, saya sudah membuka buku belajar lagi, sibuk browsing dan tanya sana-sini, merancang study plan, dsb. Insya Allah, sebelum saya menginjak 30 tahun, saya sudah menyelesaikan S2. Boleh minta aamiin? Aamiin ya Allah… 🙂

12 thoughts on “Memantapkan Diri untuk S2

  1. Aamiin.. smg lancar ya s2 nya.. yak bener.. ambil kesempatan apa yg keliatan lebih pasti sdh ada di dpn mata.. smg seiring menjalani kuliah ketemu jodohnya dan sgr menikah.. salam kenal 😊

  2. Pingback: Pengalaman Tes IELTS di IALF Jakarta (Juli 2018) |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s