Mensyukuri Anak dan Suami Kita

50 Gratitude Memes To Share When You're Feeling Thankful | Thanksgiving  quotes, Gratitude quotes, Thankful quotes

Pernah nggak sih kita ngerasa kesel atau bahkan tidak suka pada suatu hal dari diri anak dan suami kita? Saya pernah. Rasanya bohong banget kalau nggak pernah dengan embel-embel ‘saya mencintai semua yang ada pada diri mereka‘. Karena kita manusia, yang tentu punya keterbatasan dalam mencintai, begitu juga anak dan suami kita adalah manusia yang pasti memiliki kekurangan.

Anak saya, Ghuma, meski sudah mau menjelang usia 10 bulan, tidur malamnya masih saja unpredicted. Kadang bisa pulas sentosa, kadang juga berkali-kali terbangun menangis seperti masih baru lahir. Minta susu, berguling-guling tidak nyaman, bahkan nangis kejer minta digendong. Kondisi ini bagi saya sangat menyebalkan. Kenapa? Karena saya anggap hal ini harusnya adalah newborn things, sudah berlalu berbulan-bulan lalu.

Dalam hati membatin bahkan sampai terucap omelan, “Bunda capek, Nak! Bunda seharian ini capek! Bisa nggak sih tidur lamaan dikit biar Bunda bisa istirahat?!”

Dan Ghuma malah makin menangis keras dengar omelan saya.

Saya makin kesal karena somehow, seperti semua ayah di dunia sepertinya, suami saya tidak akan terbangun (sekencang apapun tangisan Ghuma) kalau bukan saya yang ‘gebrak-gebrak’. “Bantuin dong, jangan tidur aja!”

Esok harinya, setelah otak saya kembali ‘normal’, saya menyesali omelan saya. Begitu terus.

Sampai di suatu ketika, saya membaca stories DSA (Dokter Spesialis Anak) yang saya follow di Instagram. Terkadang para DSA ini membuka sesi Q&A gitu, saya baca saja satu-persatu.

“Dok, gimana sih cara mengatasi anak GTM? Please help udah pusing banget! Berat badan anak makin turun” –> Ini pertanyaan paling sering.

“Anak saya gampang banget sakit. Batuk pilek langganan tiap bulan”

“Gimana ya cara membatasi screen time? Anak saya kecanduan gadget, bisa ngamuk-ngamuk kalau diambil gadgetnya”

Anak saya menderita eksim. Terus saja menggaruk, susah dilarang. Kulitnya makin merah dan luka”

Dan masih banyak lagi permasalahan seputar si kecil ya, Bund.

Tiba-tiba saya tersadar…ya Allah, banyak masalah yang dialami anak-anak di luar sana tidak terjadi pada Ghuma. Ghuma makannya alhamdulillah lahap nggak pilih-pilih, diputerin Youtube oke tapi diajak main dan baca buku juga masih mau, jaraaang banget sakit. Paling banter demam 2 hari yang bisa reda hanya dengan minum Fasidol. Banyak hal-hal yang jauh super menyebalkan (dan menyedihkan) terjadi pada anak-anak di luar sana dan saya sudah mengeluhkan tidur Ghuma? Ya Allah, nggak bersyukur banget saya.

Juga ketika saya sangat nggak suka sifat berantakan suami saya. Apa-apa nggak diberesin, apa-apa nggak bisa rapi. Tapi, rasa nggak suka itu langsung terkikis ketika saya main-main ke:

  1. Asma Nadia Facebook Fanpage.

Asma Nadia adalah salah satu penulis favorit saya. Sekarang beliau lebih berfokus menulis novel atau kumpulan kisah (nyata) seputar poligami, perceraian dan masalah rumah tangga lainnya. Kenapa kesini? Yaaa coba aja cek salah satu posting beliau promosi buku tentang pernikahan. Bacalah komen-komennya, Anda akan menemukan banyak curhatan bertebaran.

Dari mulai suami direbut pelakor (paling sering muncul), nggak menafkahi, mertua jahat, ipar jahat, dan cerita-cerita jahat lainnya.

2. https://ibuhamil.com/

Masuklah ke menu ‘Ngobrol Apa Saja’ dan Anda akan menemukan begitu banyak thread drama rumah tangga di dalamnya. Saya penasaran, apakah rating FTV di Indosiar masih terdongkrak karena banyak kisah dizaliminya sama dengan kehidupan nyata ya?

Dan saya tidak (atau belum, jangan sampai ya Allah) mengalami itu semua. Jadi, suami yang berantakan rasanya nggak ada apa-apanya kan’ ?

Hmm.

Baiklah, kesimpulannya adalah, sebagai self reminder saya, fokuslah pada hal-hal yang bisa disyukuri dari anak dan suami kita. Dan jangan lupa, kita juga memiliki kekurangan. Saya jarang masak, kalau nyoba resep baru lebih sering gagalnya daripada sukses, tetapi suami saya fine-fine saja. Sekalipun saya ngomel, masih bau belum mandi, tetapi yang dicari-cari oleh anak saya ya…tetap saya. Mereka menerima saya, lalu mengapa saya tidak bisa menerima? Tidak perlu mencintai kekurangan, tetapi setidaknya menerima kekurangan tersebut, dan belajar mensyukuri kebaikan dari diri mereka.

Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s