Strategi Mencari Job di Upwork

Get A Job: Video Resume – Outtakes · Get A Job · AppID: 507480 · SteamDB

Untuk bisa di-hire di Upwork kadang bukan saja modal proposal bagus, tapi juga adanya peluang. Lho, bukannya di Upwork banyak banget job yang di-posting  setiap hari? Itu kan’ namanya peluang. No, itu namanya kesempatan, dan dalam setiap kesempatan itu ada yang memiliki peluang, ada yang tidak. Contoh: kita semua yang lulus SMA punya kesempatan yang sama untuk bisa jadi anggota DPR, karena persyaratan pendidikan minimumnya adalah SMA. Tapi nggak semua dari kita punya peluang kan’ untuk jadi anggota DPR?

Nah, kali ini  saya mau membahas strategi yang biasa saya terapkan dalam mencari job di Upwork dengan ‘membaca’ peluang dari setiap job posting. Nggak jitu-jitu amat, tapi sering berhasil. Dan saya tidak menjamin ya ini akan langsung berhasil pada kalian, karena tetap saja ada faktor X yang menggerakkan alias ‘ketetapan rezeki’ dari Yang di Atas. Tapi namanya juga usaha kan’?

Cari job dengan jumlah proposal sedikit

Mungkin ini tips klasik yang kalian sudah dapat di berbagai sumber ya dalam mencari job di Upwork. But yes, it still works for me. Dengan submit proposal di job yang masih sedikit jumlah proposal masuknya, peluang proposal kita dibaca akan semakin besar. Kita lihat dari kacamata client ya (kebetulan saya sendiri pernah dua kali hire orang di Upwork), sebenarnya hanya 5 sampai 10 pertama yang ‘beneran’ di-review oleh client. Mereka butuh cepat, apalagi kalau yang budget-nya terbatas, capek benar rasanya kalau di awal harus mengecek semua proposal masuk. Makanya, saya sarankan teman-teman sebaiknya submit proposal ke job-job yang jumlah proposal masuknya masih dalam kisaran ‘Less than 5’ atau ‘5 to 10’. Manfaatkan filter Number of Proposals untuk menyaring job seperti di bawah ini.

Ada 3 kemungkinan mengapa ada job dengan jumlah proposal sedikit:

  1. Baru saja di-posting, jadi masih sedikit. Maka ketika teman-teman menemukan job okeyang masih ‘fresh’, di-posting kurang dari 30 menit lalu,  langsung deh buruan sikat, karena siapa tahu 30 menit ke depan jumlah-nya sudah di atas 20, dan kecil sudah peluang proposal kalian dibaca dalam antrean.
  2. Job-nya memang susah (atau terlihat susah),makanya sedikit yang ‘berani’ atau tertarik untuk apply. Untuk job seperti ini kita bahas di poin berikutnya ya.
  3. Job-nya nggak jelas, berbau scam, atau salah kamar (freelancer login sebagai client) sehingga membuat orang ragu untuk apply.

Tapi…bagaimana kalau ada job yang kita suka dan kita sudah expert di bidang tersebut tapi sudah banyak jumlah proposalnya? Ingat, bedakan kesempatan dan peluang. Seperti dalam pelajaran Matematika dulu. Peluang munculnya gambar di koin lebih besar dibandingkan angka 6 pada dadu karena sisi koin lebih sedikit kan’? Begitu juga ketika kita dalam area yang lebih minim persaingan.

Meski begitu, ada beberapa client yang memang menyeleksi ketat semua proposal masuk. Biasanya client-nya ini adalah perusahaan yang punya tim khusus untuk me-review puluhan proposal masuk. Posisi yang ditawarkan juga biasanya untuk jangka panjang dan bisa jadi ‘pekerjaan tetap’ bagi si freelancer. Tapiii, jumlah job tipe seperti ini juga tidak banyak. Bahkan biasanya dibuat by invitation. Jadi freelancer yang di-invite saja yang bisa submit proposal. Saya cukup sering dapat model begini, tapi tentu sesudah saya cukup lama Top Rated di Upwork. Jadi kalau untuk pemula, coba tips ini dulu, ya. Eman-eman Connects-nya!

Cari Job yang ‘Susah’

Kenapa? Karena job yang susah biasanya sedikit pelamarnya sehingga memperbesar peluang untuk diterima. Job yang ‘susah’ ini ada 2 macam: pertama, job yang memang beneran susah dan kita nggak bisa mengerjakannya, tentu saja yang ini jangan di-apply. Kedua, job yang susah dimengerti maunya apa, tapi sebenarnya kita masih bisa mengerjakannya.

Kok ada? Begini, nggak semua client bisa menulis lowongan kerja dengan baik seperti seorang HRD. Ada yang asal tulis saja, bahkan ada yang copas mentah-mentah pekerjaan yang diminta ke job posting sehingga akan terlihat panjaaang sekali padahal perintahnya sederhana. Saya kasih contoh dari pengalaman saya ya, dulu saya pernah di-hire untuk job posting di bawah.

Bagaimana? Pusing nggak bacanya? Hehehe. Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk memahami maksudnya apa, sambal mencocokkan dengan dua file Word yang ia lampirkan. Ternyata pekerjaannya simple banget: copy paste data tertentu dari satu file ke file lainnya, yang penting teliti. Nggak lama saya submit proposal, saya langsung di­kirimkan contract offer tanpa di-interview dulu. Hehehe. Ada, adaaaa saja client yang malas untuk sesi interview. Pokoknya kalau dia lihat kita bisa, yasudahlah cuss buruan sana kerjain. 😀

Saya kasih contoh-contoh lain ya yang susah dimengerti tapi ternyata bisa dikerjakan dan saya akhirnya di-hire.

Bahasanya ‘belepotan’ tetapi sebenarnya dia minta bantuan business plan-nya dalam format Word didesain ulang.
Padahal aslinya job ini hanya minta peraturan pemerintah kota dirangkum dalam poin-poin singkat dalam bentuk fact sheet atau brosur yang menarik.
Pekerjaan sebenarnya adalah klasifikasi genre degan kriteria tertentu di Amazon. Asli ini gampang banget sebenarnya

Nah, sekarang kebayang kan job posting yang susah dimengerti tapi sebenarnya bisa dikerjakan? Menurut saya ya, lebih baik kita menghabiskan waktu 1-2 jam untuk memahami dan submit proposal untuk satu job posting tipe seperti ini dengan peluang diterima jauh lebih besar, daripada menghabiskan 2 jam tersebut untuk submit 5 proposal secara ‘brutal’ dan nggak berhasil di-hire.

Job yang ‘seadanya’

Job ‘seadanya’ ini mudah diidentifikasi, biasanya terlihat dari informasinya yang terlalu minim. Si client adalah tipe orang yang malas ketik panjang lebar, jadi mem-posting job ‘seadanya’. Contohnya seperti di bawah ini, job posting yang terlalu singkat dan bikin orang malas untuk submit.

Aneh banget lho job ini pasang budget tarif per jam tinggi, tetapi yang submit  kurang dari 5, termasuk saya. Ternyata setelah saya di-hire, saya baru tahu client saya ini juragan apartemen di suatu kota di California. Pantas saja ia mengetik job posting singkat banget, mungkin sibuk banget ya. Sampai sekarang kontrak ini masih berjalan, dan saya diberikan tugas-tugas admin yang berbeda dari tugas awal yang di-posting. Mungkin karena sultan, si client nggak menurunkan rate saya $20 per jam. Hanya untuk tugas data entry yang gampang banget! Hehehe.

Payment unverified? Saya sih Yes!

Mungkin di banyak artikel, teman-teman disarankan untuk nggak submit proposal ke job posting dengan status Payment Unverified dengan alasan ‘takut ada masalah pembayaran’. Padahal sebenarnya ketika si client akan kirim contract offer ke freelancer, dia harus menyetorkan uangnya dulu ke Upwork Escrow, yang mana sebelum setor dia wajib memverifikasi Credit Card-nya. Jadi ujung-ujungnya, semua client yang meng-hire freelancer akan jadi payment verified.

Mengapa sampai ada status payment unverified? Itu dikarenakan ada client yang posting job, tapi belum mau memverifikasi CC-nya. Bisa jadi dia berpikir,”Ahh, nanti sajalah kalau udah mau hire orang. Daripada repot-repot verifikasi ternyata nggak dapat freelancer yang cocok”.

Jadi, jangan langsung anggap remeh job posting yang payment unverified ya. Saya sering dapat client yang awalanya payment unverified (termasuk client sultan yang sebelumnya saya ceritakan), dan baik-baik saja tuh. Sistem Upwork menjamin setiap freelancer pasti dibayar pekerjaannya. Jadi, tenang saja ya.

Cari job yang ‘kepepet’

Kalau kalian punya waktu lebih, coba submit proposalke job posting yang meminta tenggat waktu cepat, misal harus selesai hari ini atau harus selesai besok. Client yang memasang job seperti ini biasanya akan peduli 2 hal: kita bisa mengerjakan dan kita bisa memenuhi deadline. Perkara reputasinya masih sedikit atau bukan Top Rated, akan dilihat belakangan. Ssst, saya kasih bocoran ya, biasanya job model begini banyak bertebaran di hari Jumat menjelang weekend atau ketika weekend. Karena ketika weekend, kebanyakan orang malas untuk kerja, padahal biasanya ada saja yang harus selesai di hari Senin (ngerti kan’ drama hari Senin). Biar gampang, sudah deh hire orang saja di Upwork untuk mengerjakan, pikir client tipe ini. Di sisi lain, banyak freelancer meliburkan diri di waktu weekend. Saya pun sekarang begitu ketika sudah punya anak. Makanya, job seperti ini juga sering sepi peminat.

Oya, ada lagi yang perlu diperhatikan: jam deadline. Untuk negara-negara di belahan bumi utara seperti US dan Canada yang rata-rata berbeda 12 jam di belakang kita, mungkin kita bisa lebih ‘agak santai’. Misalkan mereka minta pekerjaan tersebut selesai pukul 8 am waktu mereka, maka disini kita bisa mengerjakan sampai Senin jam 8 malam. Tapi nggak semua negara bagian US itu gap waktunya 12 jam lho, jadi sebaiknya tanyakan dengan jelas lebih dahulu. Yang agak buru-buru mungkin jika kita menerima job kepepet dari client Australia yang 4 jam lebih cepat dari WIB. Deadline jam 10 pagi, maka kita harus sudah selesai jam 6 pagi.

Job kepepet memang seru dan peluangnya besar, tapi selalu pastikan kita memang bisa memenuhi tenggat waktu, ya. Bule-bule nggak ngerti konsep Insya Allah, jadi selalu bilang begini ‘I will submit the work on time, if there is any issue, I will let you know”. Jika memang ada halangan yang benar-benar nggak memungkinkan selesai tepat waktu, komunikasikanlah ke client sebelum waktu deadline, at least sehari atau beberapa jam sebelumnya. Jangan ujug-ujug baru bilang pas di last minute ya. Sekali kita melakukan ini, maka trust si client pada kita akan menurun banget.

Catatan terakhir: jangan brutal submit proposal

Kalau nggak salah, Upwork menerapkan kebijakan suspension untuk freelancer yang submit proposal terlalu banyak tapi tak kunjung dapat. Sama kayak Jobstreet kan’. Kenapa? Karena aktivitas seperti ini malah membuktikan bahwa kita nggak cukup layak untuk di-hire oleh siapa pun. Batasilah sehari misalnya submit 2 proposal saja. Selain beresiko di-suspend, Connects pun terbuang sia-sia, dan Connects itu kan’ berbayar…

Sekali lagi, lebih baik waktu dihabiskan memilih job berkualitas dengan peluang besar untuk di-hire, daripada terus-terusan submit proposal di job yang peluangnya kecil. Saya sendiri sering dalam sehari hanya klik tanda Wishlist di job posting, lalu akan terkumpul semua job yang saya wishlist di Saved Jobs, barulah besoknya saya seleksi ulang mana yang worth it untuk di-apply, dan baru deh saya submit…

Bahasa Jowo-nya: alon-alon asal kelakon…😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s