Liburan Keluarga ke Bali saat Pandemi 2021 (Part 2) – Seminyak dan Pantai Melasti

Setelah dari Desa Panglipuran (baca Part 1), maka tujuan kami selanjutnya adalah pulang ke penginapan yang sudah kami pesan di Seminyak yang terletak di Kec. Kuta, Kab. Badung. Pasti familiar dong ya dngan nama daerah paling terkenal di Bali ini. Jarak antara Kab. Bangli dengan Kab. Badung mencapai 40 km lebih, ibarat Jakarta-Puncak tapi tanpa kemacetan. Jalannya mulus berkelok-kelok dengan banyak pemandangan cantik dan tentunya bikin ngantuk. Hehehe. Hanya butuh waktu 1,5 jam mencapai penginapan kami yang bernama Anema Villa Seminyak.

Anema Villa Seminyak

Bisa dibilang, ini adalah penginapan dengan fasilitas ‘termewah’ yang kami bayar dengan dana pribadi hehehe. Walau fasilitasnya mewah, namun bukan berarti harganya mahal, justru sebaliknya, menurut kami ‘cukup terjangkau’. Saya rasa ini juga efek dari pandemi, membuat banyak penginapan ‘banting harga’ daripada tidak terisi sama sekali. Dulu pada 2019 saat saya dan suami honeymoon, sulit menemukan villa dengan private pool dengan harga di bawah 1 juta rupiah. Sekarang? Silahkan cari di Traveloka, Anda akan menemukan banyak villa dengan private pool dibanderol harga murah, terutama yang berlokasi di Kuta, Ubud, dan Bali Utara. Seperti Anema Villa Seminyak ini, bisa kami dapatkan dengan harga 700 ribuan saja per malam. Sila cek kamarnya di video saya di bawah dan Traveloka.

Sayangnya, model kamar mandi-nya menurut saya nggak family friendly ya. Konsepnya kamar mandi terbuka, tidak ada pintu menuju bathtub, hanya dihalangi sekat. Pintu kamar mandi hanya terdapat di ruang kecil tempat kloset. Mungkin konsep seperti ini lebih cocok untuk honeymoon ya. Bathtub-nya super besar, namun sayang seperti agak bocor penutup saluran airnya sehingga ketika mnampung air serasa tidak penuh-penuh dan tidak bisa dibuat berendam. Selain itu lantai kamar mandi dan kamar menyatu dengan bahan yang sama (entah marmer atau granit ya), sehingga sehabis mandi jadi becek kemana-mana dan licin. Saya rasa memang kamar mandi ini didesain untuk konsumsi bule yang toiletnya biasanya kering. Saya dan suami beberapa kali hampir terpeleset, untungnya Ghuma tidak mengalami.

Fasilitas dapur cukup lengkap, ada perlengkapan makan seperti piring, sendok, gelas, dan garpu. Juga ada  kompor yang bisa digunakan untuk masak-memasak. Saya sendiri membeeli sabun cuci piring dan detergen sachet agar bisa cuci piring (ada bak cuci piring) dan baju (cuci di wastafel hehehe). Oh ya, ada semacam tangga kecil untuk menjemur pakaian juga. Selama menginap di sana 2 malam, kami bisa meminta staf hotel untuk membersihkan kamar selagi kami jalan-jalan. Sarapan tidak disediakan (memang tidak ada opsi tambah sarapan di Traveloka), tapi kita bisa memesan makanan yang tersedia di menu yang ada di meja makan. Enaknya, villa ini terletak masih di perumahan warga, dekat dengan warung dan laundry, jadi butuh apa-apa lebih mudah.

Jadi, berapa kira-kira rating untuk penginapan ini? Yaaaa 4.5 dari 5 boleh lah ya, hanya minus di kamar mandi dan lantai licin.

Tarif menginap di Anema Villa Seminyak per malam = IDR 650,000-IDR 750,000 (harga Traveloka bisa berubah tergantung weekday/weekend/peak season/promo).

Pantai Double Six Seminyak

Sebenarnya saya malas ke pantai deretan Kuta, Seminyak, dan sekitarnya karena selalu crowded dan kotor.  Dan benar saja, kondisinya tidak berubah sejak saya ke area sana pada 2017 (sebelum honeymoon pada 2019). Jadi kami bertiga berjalan agak jauh ke arah Canggu untuk mencari spot pantai yang lebih bersih. Saya rasa daya tarik pantai ini hanyalah hingar-bingar dari cafe-cafe yang berjejer di sepanjang garis pantai dan satu lagi: sunset-nya yang menawan. Sampai di area yang agak lebih sepi dan bersih, kami pun memutuskan istirahat berdiam menunggu matahari terbenam. Kami menyewa sepasang kursi santai dengan harga Rp 50,000 sambil menyeruput es kelapa segar langsung dari batoknya. Jika ingin lebih hemat, Anda bisa membawa tikar atau alas kain sendiri.

Alhamdulillah, kali ini Ghuma nggak rewel, bahkan sebaliknya, sangat enjoy bermain pasir. Sengaja sebelum ke Bali saya belikan alat mainan pasir. Tambah menyenangkan lagi karena bisa melihat sunset yang Masya Allah bagusnya…

Sampai setengah 7 malam, langit masih berwarna jingga keemasan. Alhamdulillah, kami bisa menikmati sunset dengan cuaca cerah sehingga dapat pemandangan yang begitu bagus. Dan tentunya alhamdulillah, bisa menikmati momen indah ini bersama….

Setelah dari Double Six kami menyempatkan diri belanja oleh-oleh sebentar ke Krisna. Dan mungkin karena mood-nya happy habis bermain di pantai, Ghuma sama sekali nggak rewel diajak belanja.

Harga sewa kursi santai dan payung = Rp 50,000
Jajan es kelapa batok = Rp 25,000
Belanja oleh-oleh = Tergantung keinginan

Pantai Melasti

Esok harinya, kami memulai agenda agak santai, baru keluar villa sekitar pukul 9 pagi. Tujuan kami awalnya: tes PCR dan antigen (lagi) di Bumame Benoa Square sebagai syarat perjalanan pesawat pulang, kemudian ke Pantai Melasti dan belanja lagi di Joger. Eh ternyata, kami mengalami sedikit trouble dalam memesan rental mobil di Traveloka. Rental tidak kunjung menghubungi dan juga tidak bisa dikontak. Kami pun melaporkan masalah ini ke Traveloka dan dana yang sudah dibayarkan berhasil di-refund 2 hari kemudian.

Supaya tidak bosan, sambil tektokan dengan Traveloka dan rental ybs, kami pun mengubah sedikit jadwal dengan ambil pesanan oleh-oleh khas Bali yang terkenal, Pie Susu Enaaak (‘a’nya ada tiga)  yang sudah diorder sebelumnya via WhatsApp. Yup, saking larisnya pie susu ini, sampai harus diorder dulu 2 hari sebelumnya. Nomor WhatsApp untuk pemesana bisa dilihat di Instagram @piesusuaslienaaakreal .Anda juga bisa order via Tokopedia/Shopee/Grab, tapi harganya sedikit lebih mahal sekitar 10% dibandingkan order via WhatsApp dan ambil sendiri. Karena outlet Pie Susu Enaaak ini hanya sekitar 200 meter dari villa, kami pun jalan kaki saja kesana dengan membawa Ghuma naik stroller. Sesampainya di outlet, ternyata pie susunya sudah habis untuk dibeli on the spot dan yang datang kesana adalah yang sudah pesan online semua seperti kami. Pie susu yang bisa dibeli langsung hanyalah pie susu reject dengan harga yang lebih murah, Rp 20,000 per kotak (harga asli Rp 30,000-Rp,35,000 tergantung varian). Kondisi reject ini bukan artinya mendekati expired ya, tapi hanya bentuknya yang retak atau terbelah. Rasa dan kualitas tetap sama, jadi kami beli juga 1 kotak untuk cemilan selama di jalan nanti.

Karena tidak memungkinkan lagi dapat rental mobil yang langsung siap untuk berangkat lewat Traveloka, kami akhirnya mengontak Bli Gede, driver kami semalam dari Double Six yang sebenarnya sudah menawarkan jasanya. Mengapa kami tidak memesan beliau lagi sebelumnya? Karena dari pengalaman kami dulu pada 2019, biasanya rental mobil di luar Traveloka harganya lebih mahal. Tapi ternyata saat kami kontak Bli Gede dan kami tanya berapa harganya, ia justru menjawab “Berapa saja Pak, saya ngga ada kerjaan hari ini”. Ya, efek pandemi memang sangat terasa bagi semua driver di Bali. Hampir semua driver rental yang kami gunakan jasanya curhat betapa nelangsanya kondisi mereka sampai banting setir menjadi driver taksi online dan bekerja serabutan lainnya. Subhanallah, padahal dulu waktu 2017 saya kesini bersama Mama saya, kami harus ‘kucing-kucingan’ untuk naik GrabCar karena masih suka bentrok dengan supir rental, sering juga dengar cerita orang yang sampai ‘digetok’ harganya saat naik mobil rental. Segitunya ya kalau Allah mau balikkan keadaan.

Kami pun sepakat dengan Bli Gede untuk sewa setengah hari Rp 350,000 sudah bersih tidak perlu menambah untuk bensin, dan bahkan pun Bli Gedee merasa sungkan dan tidak mau ikut makan siang bersama kami. Jika Anda berminat menggunakan jasa rental mobil untuk di Bali, silahkan kontak beliau di

Sesuai itinerary yang kami susun, kami pertama ke Bumame Benoa Square untuk tes PCR dan antigen. Tes dijalankan secara drive thru di mobil dan harganya sama saja dengan Jabodetabek. Lalu kami melnajutkan ke Pantai Melasti. Kira-kira 4 km lagi sampai Pantai Melasti,, hujan deras sederas-derasnya membuat kami terpaksa balik arah ke Joger dulu untuk belanja baju kemudian makan di Ayam Plengkung yang terletak tidak jauh dari outlet Joger. Yaa begitulah, terkadang kita harus berkompromi dengan keadaan yang tidak diduga dan legowo untuk mengubah itinerary.

Akhirnya pukul setengah 3 siang, kami benar-benar baru jalan ke Pantai Melasti. Sekitar satu jam kemudian sampailah kami disana dengan cuaca mendung sedikit cerah, tapi alhamdulillah sama sekali tidak hujan lagi. Yeaaay.

Pantai Melasti terletak tidak jauh dari Pantai Pandawa di daerah Ungasan, berada di balik tebing yang dibuka jalannya oleh pengembang. Mengapa tidak ke Pantai Pandawa sekalian? Saya pernah kesana pada 2017, saat itu Pantai Pandawa belum lama dibuka, jadi kondisinya masih belum tertata dengan baik. Banyak kapal bersandar, toilet jorok, dan musholla ala kadarnya. Tapi kalau kata Bli Gede sih skarang kondisi Pantai Pandawa sudah jauh lebih baik. Nah, Pantai Melasti ini kondisinya sudah sangat rapi dengan fasilitas umum yang terawat dan area parkir yang luas. Mengingatkan saya pada Pantai Siloso di Singapore yang saya kunjungi pada 2016 juga memiliki kondisi terawat (tapi soal indah sih yaa pantai-pantai disini lah yaa hehehe). Untuk masuk Pantai Melasti per orang dikenakan biaya Rp 7,000 dan tidak perlu membayar parkir mobil. Cukup murah, bukan?

Setelah sekian lama kondisi pandemi membuat saya jarang keluar rumah, juga sekian lama tidak ke pantai yang bersih di dalam negeri, saya begitu happy dengan keindahan dan kebersihan Pantai Melasti. Ahhh senangnya bisa merasakan pantai yang cantik lagi…

Pantai Melasti memiliki pasir tebal berwarna kuning terang hampir putih dengan ombak yang tidak terlalu besar. Tebing hijau sekitarnya pun makin mempercantik pantai. Sebenarnya garis pantai ini masih lebih luas tapi kami memiljh stay di satu tempat saja agar Ghuma nggak kecapekan. Oya, pantai ini cukup berangin jadi sebaiknya membawa sweater, obat anti masuk angin, dan minyak gosok untuk anak. Walaupun begitu, tampak banyak anak kecil yang asik berenang. Sayangnya Ghuma masih belum berani ke dekat air dan tetap asik main di pasir. Hehehe.

Jalan menuju pantai

Overall kami sangat senang bisa mengunjungi Pantai Melasti walau hanya duduk-duduk saja menikmati suasana pantai. Pantai ini juga tergolong family friendly, tidak banyak hingar-bingar cafe dan kebanyakan pengunjung adalah keluarga dan rombongan tur sekolah. Karena pantai ini terletak di barat Pulau Dewata, jadi tidak bisa melihat sunset dengan jelas, jadi pukul 5.20 kami pun sudah beranjak pulang. Jika Anda merencanakan ke Bali dengan budget terbatas tapi tetap ingin lihat pantai bagus (karena kebanyakan pantai terawat di Bali adalah milik hotel bintang 5 dan beach club), maka Pantai Melasti sangat worth it untuk dikunjungi.

Sewa mobil setengah hari Rp 350,000

Tiket masuk Pantai Melasti Rp 7,000 per orang

Biaya tidak termasuk makan dan oleh-oleh

Tips Membawa Balita dalam Liburan Keluar Kota

– Selalu cek peraturan transportasi yang sedang berlaku seperti tes PCR dan sebagainya. Selain check in aplikasi PeduliLindungi, nantinya di bandara tujuan kita juga akan mengisi aplikasi EHAC.

– Buat itinerary sefleksibel mungkin dan jangan paksakan ke banyak tempat dalam satu hari. Maksimal 2 tempat saja dan jangan berjauhan letaknya karena anak bisa kecapekan dan ujungnya jadi rewel atau tantrum.

– Banyak sabar ketika anak tantrum di tempat umum. Klise sih, dan pada prakteknya saya juga ga segampang itu bisa sabar. Hahaha.

– Membawa anak identik dengan membawa banyak barang, jadi usahakan mencuci baju agar tidak terlalu banyak membawa pakaian. Untuk keperluan yang bisa dibeli di minimarket seperti popok dan susu sebaiknya dibawa sedikit saja karena bisa dibeli juga di tempat liburan.

– Untuk anak yang beratnya sudah di atas 10kg, sebaiknya bawa stroller yang ringkas saja. Saya sendiri sebelum Ghuma semakin berat lebih enak menggendong saja. Tapi karena sekarang beratnya sudah 14kg lebih, kami memilih menggunakan stroller traveling. Ohya, ada beberapa teman yang tanya merk apa saya gunakan karena melihat di stories IG dan WA kok kayak oke di segala medan: jalan menanjak di Desa Adat Panglipuran dan di pantai. Saya menggunakan Magic Stroller Pacific LW 212 yang sejauh ini masih baik-baik saja sih (bukan endorse lho ya).

Akhirnya berakhirlah liburan singkat kami di Bali. We were really happy, alhamdulillah, ya Allah masih diberi nikmat mencicipi liburan singkat ini. Esoknya kami pulang dengan Citilink penerbangan pagi hari dan mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah.

Okay deh, saya rasa sekian cerita liburan keluarga kecil kami. Semoga bermanfaat, happy holiday! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s