Pengalaman Tes IELTS di IALF Jakarta (Juli 2018)

Pada tanggal 28 Juli 2018 lalu saya mengikuti tes IELTS di IALF (Indonesia Australia Language Foundation) . Mengapa ambil tes IELTS? Ini terkait dengan rencana S2 yang pernah saya ceritakan. Saya sendiri belum pernah mengambil tes IELTS so, cukup excited sih dengan pengalaman pertama ini. Sebagai penyemangat, saya set target ban atau score IELTS overall 7 (pede bangeeet hehehe).

Cara mendaftar tes IELTS cukup mudah. Bisa dilakukan secara online melalui website IALF disini . Pilih tanggal dan tempat test yang kamu inginkan. Saya memilih test di lokasi IALF langsung di Menara Selatan Plaza Kuningan karena menurut saya biasanya pusat kan dimana-mana fasilitasnya lebih lengkap ya. Ohya, sebenarnya lembaga di Indonesia yang menyelenggarakan IELTS gak Cuma IALF, tapi ada British Council dan IDP juga. Lantas, kenapa saya memilih IALF? Cuma berdasarkan slight blogwalking aja sih dari pengalaman orang-orang yang sudah pernah test di sana dan rata-rata reviewnya oke. Harganya juga lebih murah Rp 50,000 (mayan lho buat ongkos hahah) dibandingkan yang lain.

Saya mendaftar IELTS jauh-jauh hari, karena menurut saran yang dari blog-blog lain bahwa kuota IELTS terkadang bisa cepat penuh di tanggal yang kita mau. Jadi, sekitar sebulan sebelumnya saya mendaftar via online, transfer biaya tes, dan gak lama dikirim email receipt pembayaran. Nomor test akan diberikan on the spot di lokasi tes.

Berapa biayanya?

Hiks…lumayan Kak….Rp 2,850,000 sekali tes. Makanya, harus benar-benar dipersiapkan tuh agar mendapatkan hasil maksimal L 😦 *Eh, kok emote sedih? Baca sampai habis yah..

Persiapan IELTS

Berbekal pede dan niat mau ngirit, saya pun belajar IELTS otodidak mengandalkan soal dari internet, youtube dan app dari Playstore. Persiapan saya lakukan sekitar 1,5 bulan sebelum tes. Tenang, banyak banget kok bahan belajar tersebar. Beberapa sumber yang saya rekomendasikan untuk belajar:

  • IELTS Liz
  • Cambridge Guide to IELTS. Untuk yang ini saya download e-book dari internet. Bagi yang ingin e-book nya juga, bisa email saya di sarah(dot)annisa7(at)gmail(dot)com ya.
  • App yang ada di PlayStore yang saya rekomendasikan: IELTS Prep App (ini dari British Council), IELTS Full-Band 7.5+ (halu banget ban segitu, tapi bagus hahaha), Daily IELTS Listening.
  • Youtube. Search aja IELTS listening. Banyak kook sudah lengkap dengan soal dan jawaban.

Gak hanya itu, saya juga belajar dari buku….(yang murah aja ya Ceu, kalau beli sekelas Barons series mah saya sayang hehehe) . Buku ini kebanyakan readingnya. Cukup sering saya gunakan karena pada dasarnya saya lebih nyaman belajar reading dengan membolak balik kertas ketimbang scroll e-book. Buku ini juga provide CD dan lumayan banyak materi Listening nya Nih saya gunakan sampai rusak begini. Hahaha

Sedangkan untuk latihan speaking saya menggunakan aplikasi Open Talk, app ini adalah wadah untuk berbicara dengan orang-orang di seluruh dunia. Kita bisa pilih nih tujuan kita berbicara apa. Tentunya saya memilih untuk meningkatkan kemampuan speaking. App ini bagus untuk melatih kita-kita yang dalam keseharian jarang berinteraksi dengan native speaker. Kalau dengan sesama orang Indonesia kan kita masih agak ‘manja’ yah pas stuck dengan satu kata eh switch ke bahasa. Tapi tetap hati-hati yah, jangan sampai kemakan modus nih karena kadang ada orang (terutama dari India banyak yang agresif gitu) minta kontak WA atau Instagram. Please don’t give any personal contact. Speak randomly aja dengan orang berbeda. Dan gak perlu jujur amat ngobrolnya karena takutnya informasi pribadi kayak kerja dimana, tinggal dimana dilacak oleh orang yang gak bertanggung jawab.

Apa yang paling susah dari belajar IELTS? Konsisten waktu belajar!

Sebagai office worker yang biasa pergi dari rumah jam setengah 8 pagi dan sampai kembali rumah sekitar jam 8 malam, mengatur waktu untuk belajar sungguh tidak mudah. Jadi, saya sering bangun pukul 2 atau 3 pagi untuk belajar dulu dan gak bobok lagi sampai berangkat kerja. Terkadang di kantor di sela-sela waktu luang saya sempatkan intip-intip bahan belajar di laptop dan mengerjakan satu dua soal.

Capek? Kurang tidur? Pastinya.

Namun terkadang, sebagai manusia biasa saya pun tergoda untuk ‘bolos’ belajar dan main gadget atau melanjutkan bobok lagi hehehe. Ada juga masa-masa dimana saya ngerasa jenuuuh banget belajar. Semua itu terus saya lalui sampai tibalah di hari H tes. Jujur saja, h-seminggu tes saya malah terserang rasa malas yang sangat untuk belajar. Dan ini yang saya masih sesali sampai sekarang karena berdampak pada hasil tes saya. Hiksss

The Day!

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Menjelang hari tes saya malah kurang tidur karena beberapa kali terbangun takut telat. Well, dalam email peserta diharapkan sudah sampai jam setengah 8 pagi di lokasi. Kenyataannya, tes baru dimulai sekitar jam 09.15. Huaaa…..padahal saya sudah berangkat dari rumah jam 5 pagi lho.

Tapi ya sudahlah, namanya juga perjuangan. Tepat pukul 07.30, semua peserta tes yang sudah menunggu di koridor diminta berbaris dan masuk kantor IALF. Jadi kantor IALF ini terdiri dari satu lantai dimana di dalamnya banyak ruang kelas gitu. FYI, IALF memang menyelenggarakan kursus Bahasa Inggris dan ada juga kelas khusus IELTS Preparation yang konon katanya bagus (pakai native speaker) dengan harga yang bagus pulak. Hehehe.

Saya lupa urutannya, yang jelas ada 4 tahap sebelum masuk ke auditorium yaitu pengecekan ID (saya pakai passport dan ID ini harus benar-benar sama dengan yang kita upload saat mendaftar online), foto, pengambilan sidik jari, dan pengambilan test number. Semua barang bawaan dititipkan kecuali air minum (harus dalam wadah transparan, jika air mineral maka label kemasan harus dicopot) dan ID kita. Handphone harus dalam keadaan off dimasukkan ke tas dan jam tangan juga dicopot. Selama pengerjaan esai ada time keeper yang terus menginfokan waktu pengerjaan.

Kira-kira ada jeda 1 jam menunggu sampai auditorium dibuka yang saya manfaatkan untuk tidur. Ternyata, saat menunggu itu masih ada beberapa orang yang baru datang. Yaaah, kirain sih benar-benar di-close pada pukul 7.30 tadi. Kira-kira 20 menit sebelum tes mulai, kami dipanggil satu persatu memasuki ruang tes. Nggak perlu membawa alat tulis karena sudah disediakan di meja.

Jeng jeng jeng…

Seperti yang sudah diketahui, tes IELTS dimulai dari Listening, Reading dan Writing. Semua ini tanpa jeda 🙂 Jadi, penting banget tuh bawa air minum. Menurut cerita pengalaman di blog lain, AC auditorium dingin banget. Saya sih gak ngerasa ya..tapi kamu bisa bawa jaket untuk jaga-jaga. Berikut ini kesan yang saya rasakan ketika mengerjakan ketiga tes itu:

Listening “Ngomongnya cepet amat siiiihhhh….selow apa selooow?!” Asli ada beberapa soal yang saya keteteran nih disini.

Reading B aja *sombong* Oya, dalam listening dan reading ini kudu hati-hati ya. Ikutin aja plek-plek arahan dari pengawas. Ketika disuruh berhenti nulis yaudah berhenti dan jangan coba-coba bolak-balikin soal lagi. Kalau melanggar, kertas ujian kita bisa langsung diambil dan dapat nilai nol. Peringatan ini sebenarnya juga di-sounding berulang-ulang selama tes. Nah pas saya test reading udah mau kelar nih, ada seorang perempuan yang duduk dekat saya masih terus menulis jawaban padahal sudah disuruh berhenti. Eh, tanpa kata-kata gitu si pengawas mengambil kertas ujiannya duluan (padahal harusnya dikumpulkan berurutan bersama yang lain) dan kelihatan ditandai gitu. Si Mbak yang diambil kertas ujiannya cuma bisa bengong.

Writing Nah ini. Rasanya tuh lancaaar banget…tapi tulisan acak-acakan…duh gimana dong by default tulisan saya memang sudah kayak ceker ayam. Apalagi kalua disuruh nulis 2 esai masing-masing 250 kata dan 150 kata dalam 1 jam. Pfff. Mungkin inilah pula yang menyebabkan nilai saya jatuh di Writing karena fyi, handwriting is also important. Kalau susah dibaca, ya susah buat dinilai.

Kelar Writing sekitar pukul setengah 1 siang, kami dipersilakan untuk melihat jadwal Speaking di sebuah papan. Duh Gusti…cobaan apa lagi ini kenapa Speaking yang hanya 15 menit ini saya kebagian jadwal pukul 18.00 T.T Acara nunggu berjam-jam itu pun saya isi bukannya dengan latihan tapi malah melipir cuci mata ke Kokas 😛

Tibalah saat saya menghadapi speaking test. Anehnya saya nggak begitu deg-degan. Memang dari awal gak deg-an juga sih, karena kita kan’ gak bersaing sama yang lain.

Speaking test lumayan lancar saya jalani. Pengujinya adalah native speaker udah bapak-bapak gitu. Hanya saja ada beberapa kata yang terus saya ulang-ulang karena keterbatasan vocab. Temanya sendiri agak absurd menurut saya, yaitu:

What do you think about noise level in city?

Which one is quieter: in city or in village?

What is your favorite quiet place?

What is the solution to reduce noisy in housing area?

Who are responsible to solve noise pollution?

Which one of the age group who prefer quiet place: young people or elderly?

Sesama peserta tes lain ada yang ditanya tentang sport, building, arts…ya pokoknya tema yang umum lah ada bocorannya di IELTS Liz. Tapi kayaknya tema yang saya alami gak pernah saya temui deh dalam bahan manapun yang saya pelajari. Hahaha. Dan tahu nggak? Ternyata saya benar-benar peserta terakhir di hari itu yang Speaking. Pas keluar, semua nya udah gak bersisa bahkan staf sudah banyak yang pulang 😦

To conclude, tes IELTS di IALF saya nilai bagus dan recommended. Stafnya juga helpful dalam membantu peserta. Hanya saja menunggu waktu speaking yang terlalu lama membuat saya kelelahan sampai harus seharian test.

Hasil Test

Hasil test baru keluar 13 hari setelah waktu test dan bisa dicek online di sini. Certificate bisa diambil langsung di IALF bagi peserta yang tinggal di Jabodetabek dan dikirim Tiki ONS bagi yang tinggal di luar Jabodetabek.

Sewaktu saya mengecek via online, terjadi problem. Entah kenapa, selalu muncul notifikasi ‘We are not able to display your results at the moment bla bla‘ . Berulang kali saya cek semua isian sudah lengkap dari mulai nama, tanggal lahir, tanggal tes dan nomor paspor. Saya juga sudah klik Paper IELTS. Akhirnya saya hubungi via telepon ke IALF dan saya diarahkan untuk mengisi kolom nama dengan nama lengkap langsung dan karena saya gak punya nama keluarga, kolom nama keluarga dikosongkan diganti ‘-‘ (strip).

  

Oalaaaaahhhh…

Dan keluarlah hasil test saya….*drumroll*

Huaaaaa!!!!! DAKU KUCIWA!

Nilai Writing ini sih yang mengecewakan banget. Padahal pas ngerjain udah yakin banget. Bikin jatuh overall ban. Seandainya 6 saja, pasti ban saya sudah mencapai 6.5. Agak nyesek juga, karena beasiswa yang sedang saya kejar saat ini mensyaratkan overall 6.5 meskipun nilai di masing-masing test minimum 5.5 . Huhuhu….ambil test lagi dong? Iya, ambil lagi deh ini… *lemes*

Dibilang nyesek di kantong iya…agak males juga mengulang fase belajar lagi. Sedih.

Tapi ya sudah. Saya harus semangat. Demi meraih cita-cita. Next time harus lebih baik. Optimis. Doakan yaaaa :’)

La Tansa Project: Sebuah Catatan Kecil

Halo, Assalamualaikum! 🙂

Sebenarnya udah lamaaaaa banget pingin saya tulis tentang ini. Tapi, selalu terhalang karena…ya, karena hal inilah yang bikin saya selalu sibuk. Hal ini apa sih? Ini adalah tentang La Tansa Project 🙂

Barangkali sebagian pembaca (yang berteman juga dengan saya di Instagram) ada yang sudah tahu bahwa saya memiliki usaha bernama La Tansa Project, vendor yang melayani jasa dan sewa dekorasi backdrop untuk hajatan skala kecil seperti acara lamaran, akad nikah sederhana, aqiqah, ulang tahun, khitan, dll. Seperti apa bentuk produknya? Bisa dilihat di gambar-gambar di bawah ini ya, atau klik Instagram @latansa_project

Usaha ini dijalankan sendiri oleh saya sebagai owner, yang punya ide desain, mengatur keuangan, promosi, melayani chat dari client, sampai eksekutor alias kuli dekor. Khusus ketika mendekor, saya dibantu oleh satu orang driver. Yes, its just a small business as my side job in weekend 🙂

Dalam post kali ini, saya akan sharing mengenai La Tansa Project sekaligus tips bagi teman-teman yang ingin mendirikan usaha sendiri.

Awal Berdiri

Back to Umroh 2017, saya ingat saya berdoa juga begini: berikanlah saya jalan untuk membuka usaha yang menguntungkan hingga jutaan rupiah. Hehehe. Yah namanya udah sampai depan Ka’bah, doa mah jangan tanggung tanggung dong. Kasarnya, minta aja semua sampai terkesan kemaruk dan gak tahu diri hahaha. Kan’ mintanya sama Yang Maha Kaya 🙂 #Tips1: Sebelum memulai berdoa dulu, minta petunjuk

Tidak lama, di bulan Ramadhan di tahun yang sama, saya terpikir ide untuk membuka usaha ini. Dari mana bisa terpikir dekorasi backdrop, mungkin tidak perlu saya ceritakan ya. Yang jelas, setiap kondangan saya memang paling suka memperhatikan dekorasinya, termasuk juga interior suatu ruangan. Selain itu, saya memang termasuk suka bereksperimen membuat benda-benda DIY gitu. So, bisnis ini adalah seperti mengerjakan hobi yang dibayar 😀 #Tips2: Pilih jenis usaha yang kita memang sukai dan bisa enjoy mengerjakannya

Sebelum mempersiapkan, saya melakukan riset pasar kecil-kecilan berapa range harga sewa backdrop di pasaran. Ternyata, saat itu harga sewa backdrop rata-rata 1 juta ke atas. Menurut saya, harga tersebut cukup mahal untuk masyarakat menengah ke bawah. Sedangkan pengguna Instagram yang ingin eksis kan gak cuma orang menegah ke atas toh? Hehehe. Mungkin karena saya dulu bekerja sebagai sales analyst, hahaha…saya mencium adanya demand yang menjanjikan di bidang ini. Disitulah saya membidik peluang 🙂 Saran dari saya, jika usaha baru berdiri sebaiknya kejar dulu volume order, jangan dulu kejar besarnya margin atau keuntungan dari tiap order. Jika market udah terbentuk, lama kelamaan margin juga akan semakin besar kook. #Tips3: tentukan produk dan segmentasi pasar. Jangan pernah buka usaha tanpa strategi.

Dengan modal awal 5 juta rupiah, saya pun memesan bahan-bahan yang dibutuhkan (dari mulai backdrop palet kayu sampai printilan daun plastik, paper flower, artificial flower, dsb). Ohya, saya juga membuat konsep usaha, browsing sana sini ide desain (mostly dari Instagram dan Pinterest) dan membuat pricelist. Kebetulan saat itu libur lebaran dan saya ambil cuti tambahan untuk belajar mendekor secara otodidak. Hasilnya kemudian saya posting di akun instagram baru yang saya buat, @latansa_project . Awalnya desain yang sangat sederhana seperti di bawah ini 😀 #Tips4: Segera action, jangan kelamaan ditunda dan banyak excuse 🙂

30 Juni 2017 adalah event pertama La Tansa Project yaitu mendekorasi backdrop untuk acara pengajian dan siraman di Hotel Grantage, BSD. Huaaa, deg degan rasanya. Saya mendekor bersama Mama pada H-1 acara, dan itu adalah pertama kalinya saya bawa mobil masuk tol tanpa dibimbing hahaha. Setelah dekorasi siap pun saya masih kepikiran karena backdrop ditempatkan di lantai atas hotel yang berbentuk sky lounge yang beratap…dan malam itu juga hujan deras turun X.X. Semalaman saya berdoa agar backdrop nggak kenapa-kenapa, takut mengecewakan client.

Event pertama, 30 Juni 2017

Suka Duka

Mungkin saja jasa atau produk kita kurang maksimal, tapi jangan sampai bikin kecewa. Kalaupun terlanjur mengecewakan berusahalah untuk memperbaiki dengan pemberian kompensasi seperti next order dikasih diskon, pengembalian uang sebagian, dll. Percaya deh, excellent service itu akan membekas bagi pelanggan dan bahkan dipromosikan dari mulut ke mulut. Saya sering mendapat repeat order seperti waktu lamaran pakai La Tansa, kemudian pas resepsi pakai La Tansa lagi untuk photobooth. Dan banyak juga client yang menggunakan La Tansa karena rekomendasi teman atau saudara yang pernah pakai. #Tips4 ini klise, but it works..semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk pelanggan

Namun, meskipun kita ingin memberikan yang terbaik, jangan juga memaksakan diri melebihi kemampuan kita. Sekalipun client merayu minta upgrade atau diskon ini itu. Please dont. Penyakitnya orang sales, terkadang suka overpromise, alias menjanjikan banyak. Akibatnya, client jadi set high expectation, makin runyam kalau si client adalah tipe perfeksionis…ketika kita nggak mampu memenuhi satu hal kecil dari yang kita janjikan, langsung jadi bahan omelan. Hehehe. #Tips5 hindari overpromise, boleh tonjolkan kelebihan produk tapi jangan terlalu berlebihan dan nggak sesuai kenyataan

Alhamdulillah, setelah event pertama La Tansa Project banjir order. Dari yang tadinya saya nyetir sendiri, mau nggak mau hire driver untuk bantuin. Dari yang semula melayani 1 hari 1 acara jadi sampai 1 hari 2-3 acara dan Sabtu Minggu setiap weekend selalu FULL BOOKED, bahkan sampai beberapa bulan setelahnya. Dari followers Instagram hanya puluhan, ratusan hingga sekarang sudah 1800an dan kini sudah melayani lebih dari 190 event. Nggak nyangka, dalam waktu hanya beberapa bulan saja, La Tansa jadi vendor incaran para capeng yang sedang mempersiapkan lamaran atau client dengan keperluan lainnya. Hehehe.#Tips6 Selalu ukur milestone (capaian) kita udah sampai mana

Saya bersyukur banget, Allah selalu memberikan kelimpahan rezeki yang tak diduga duga. Saya nggak bisa menyebutkan secara rinci omzet dari La Tansa Project, tetapi saya bisa cerita bahwa usaha ini impactful membantu saya mewujudkan beberapa target seperti renovasi rumah orang tua jadi 2 lantai, melunasi cicilan mobil Toyota Agya saat itu dan ganti mobil jadi Nissan Evalia bekas (supaya muat banyak barang dekor), plus masih tersisa tabungan untuk menikah someday. Hal-hal yang mungkin tidak akan cukup jika hanya mengandalkan gaji karyawan swasta. Semoga ini tidak dipandang sebagai riya ya, karena ketika kita sharing tentang entrepreneurship, tentu pembaca ingin tahu seperti apa capaian dan real result dari usaha tsb bagi si wirausahawan kan? 🙂 #Tips7 La Tansa = Jangan Lupa. Jangan lupa bersyukur, jangan lupa sedekah! 🙂

 

Tetapi, dalam menjalankan usaha tentu tidak terlepas dari duka. Bohong banget kalau ada orang yang mengatakan bisnis bisa mulus-mulus saja. Pernah ngerasain hampir gagal dekor karena telat. Sebetulnya tidak telat, tapi ada bahan yang tertinggal dan itulah yang makan waktu sehingga akhirnya backdrop siap betul-betul mepet acara. Pernah ngalamin backdrop rubuh kena angin, client marah-marah, dikhianati partner usaha, diomelin keluarga client, driver tiba-tiba resign, foto dicuri akun vendor lain, terpaksa nginep di tol semalaman demi agar tidak telat, harus rela beberapa kali pulang pagi, kurangnya waktu istirahat karena weekend dipakai kerja juga, sampai kejadian pribadi yang sempat bikin benar-benar sedih dan suffering dalam mendekor, daaaaaan masih banyak lika-liku yang menempa saya jadi struggle #Tips8 Jalankan usaha dengan tabah. Karena nggak ada usaha yang cuma enak-enaknya aja. Be strong, be struggle, be survive!

 

 

Di bulan Desember 2017, setelah saya melihat dalam dua bulan sebelumnya keuntungan bersih dari La Tansa sudah melebihi gaji saya di kantor, saya memutuskan resign. Sebenarnya keputusan resign itu tidak semata-mata saya ingin jadi full entrepreneur, tapi karena ada plan besar lain. Sayangnya, that plan didn’t work out, dan saya terlalu desperate untuk hanya sibuk menjalankan La Tansa. Yang jelas bukan masalah ekonomi yang membuat saya kembali bekerja pada Februari 2018. #Tips9 Jika mau resign, lakukan hal tsb ketika hasil dari usaha kita sudah setara atau melebihi salary kita.

Oya, ketika tidak bekerja kantoran, saya tetap sibuk di rumah. Jadi, jangan kira jika kita keluar dari perusahaan dan memutuskan wirausaha kemudian kita bisa ongkang ongkang kaki. Justru yang terjadi adalah sebagian besar waktu kita untuk fokus mengembangkan usaha. Jika di kantor kita diperintah bos, ketika wirausaha pun secara nggak langsung kita ‘diperintah’ pelanggan. Jadi jelas salah, kalau motivasi menjadi entrepreneur cuma supaya bisa hidup ‘suka-suka gue’. #Tips10 Wirausaha bukan artinya kerja santai dan gak ada beban.

April 2018, La Tansa Project berinovasi dengan design yang lebih premium dari sebelumnya. Follower instagram La Tansa dari awal tentu bisa melihat perbedaan tsb, Tentunya, ini berefek pada kenaikan harga. Namun, meski harga naik, harus dibarengi juga dengan peningkatan kualitas 🙂 Harapan saya, dengan harga naik, volume order bisa dikurangi (capek juga yaah Ceu) tetapi tetap menghasilkan keuntungan yang sama. Less effort, earn more. #Tips11 Teruslah berinovasi dan upgrade

Nah, begitulah perjalanan La Tansa Project sejauh ini. Bagaimana ke depannya , saya sendiri tidak terlalu ambisius dan lebih go with the flow. Bukan berarti nggak punya visi, tapi masih ada target-target lain yang juga sedang saya kejar selain mengembangkan La Tansa. Bagi teman-teman yang mau membuka usaha, saya cuma bisa bilang: semangat, jangan menyerah. Sebelum La Tansa, saya sempat beberapa kali bisnis dan semuanya rugi kok. Anggap saja kegagalan adalah ongkos belajar kita 😀

Satu lagi,saya berterima kasih sebesar besarnya banyak pada semua client dan followers La Tansa Project. Tanpa kalian, La Tansa hanyalah remah rengginang disiram kuah soto.Hahaha.

Sekali lagi, semangat!

Memantapkan Diri untuk S2

Halo!

Pertama-tama, karena masih suasana Idul Fitri, saya mohon maaf lahir bathin yaa, wabilkhusus, pada teman-teman yang mengunjungi blog ini kemudian meninggalkan komentar berupa pertanyaan atau mengontak saya langsung via email. Mohon maaf karena kealpaan saya, saya sering lupa balas. Atau karena yang ditanyakan sudah berkali-kali ditanya, atau saya sudah tidak capable lagi untuk menjawab (contoh bertanya seputar pengalaman kerja saya di kantor-kantor sebelumnya), saya jadi menunda untuk menjawab, trus lama-lama….kelupaan deh. Hehehe. Mohon dimaafkan yaa. 🙂

Salam lebaran dari Ayana Moon KW super. Hehehe.

Anyway, bagaimana Ramadan-nya? Saya biasanya malas bertanya tentang ‘lebaran-nya’ karena rata-rata jawabannya sama di antara dua ini: mudik atau gak kemana-mana. Dan saya termasuk kelompok yang boring, alias ‘anti mudik mudik club’. Menurut saya ketika di hari kemenangan lebih berfaedah bertanya “bagaimana Ramadan-nya?” bukan “kapan nikah?” …betul?

Jika bertanya pada saya, maka saya merasa Ramadan ini kesannya adalah sungguh menyedihkan. Kenapa? Banyak kejadian pahit tak terduga yang tiba-tiba ‘menubruk’ saya. Hikmahnya, di akhir Ramadan ini saya akhirnya mencapai satu titik balik, untuk kemudian menemukan lagi bagian dari diri saya yang sempat hilang #hasik

Apakah itu? Semangat belajar. Bukan, bukan belajar tentang kehidupan ya. Itu sih nggak akan pernah berhenti. Belajar disini dalam artian menempuh pendidikan formal. Sebenarnya sejak lulus S1 pada awal 2015, saya sudah berencana untuk kuliah S2 suatu hari nanti. Ya, masih dilabeli ‘someday’. Hingga kini hampir 4 tahun bekerja (wew!), baru sekarang saya akhirnya bisa terlepas dari belenggu kata ‘someday’ tersebut.

Ada beberapa alasan mengapa untuk melanjutkan pendidikan tertahan lama (bagi saya ini agak terlambat ya…karena teman-teman seangkatan saya sudah banyak yang ambil S2 hiks). Pertama, sebagai tulang punggung keluarga saya berpikir kalau saya kembali kuliah, siapa yang bekerja untuk menafkahi keluarga saya? Sementara untuk mengambil kelas S2 program eksekutif (kelas karyawan) yang rata rata mahal, saya tidak mampu. Jika dengan beasiswa, maka saya hanya bisa fokus kuliah tanpa bekerja karena rata-rata beasiswa tidak ditawarkan untuk program eksekutif. Itu block pertama dalam otak saya.

Block kedua, anjuran Ibu saya untuk menikah dulu. Ibu saya khawatir laki-laki akan minder untuk bersanding dengan saya jika saya sudah bergelar master. Saya sebenarnya tidak ingin percaya pikiran semacam ini, tapi beberapa kejadian pernah seakan mengamini anggapan ini.

Di sisi lain, motivasi saya untuk S2 semakin tahun semakin kuat. Saya menyadari, background pendidikan saya yang jauuuh dari bidang pekerjaan saya saat ini ‘agak’ memberi gap bagi saya untuk bisa maksimal meningkatkan karier. Terkadang saya merasa kurang percaya diri di antara kolega yang berada di ranah yang sama dengan saya dan berasal dari jurusan yang sesuai-jurusan beken macam Ekonomi, Manajemen, dll. Memang, background pendidikan tidak menentukan suksesnya karier, saat ini pun alhamdulillah saya sudah naik jenjang sebagai supervisor dibandingkan dulu saat masih entry level (tapi antara dulu dan sekarang sih masih sama-sama cungpret hehehe). Namun kata Jouska (itu lho, akun konsultan keuangan yang popular di Instagram), bahwa diri kita adalah investasi terbaik untuk membuat kita survive di tengah kompetisi yang makin lama tentu gak makin mudah. Sekarang saya baru akan 25, tergolong masih muda dan segar di dunia kerja…but eits, jangan salah, dedek-dedek yang usia 21, 22, 23 makin banyak bermunculan dengan semangat oke dan otak yang encer-encer.

So, gimana cara menginvestasikan diri? Salah satunya melalui pendidikan. Terus, gimana dengan block-block di atas yang sebelumnya sering membayangi saya?

Erin yang berbaju kuning. Insya Allah high quality jomblo. Hahaha. Nah, makanya biar manfaat, bukber itu jangan cuma wakanda, eh, wacana.

Alhamdulillah, seperti yang saya katakan, di Ramadan ini saya menemukan titik balik: sebuah pencerahan dari salah satu teman saya di Rumbel BEM UI dulu saat kami bertemu dalam acara buka bersama. Teman saya namanya Erin, baru saja diterima untuk melanjutkan S2 dengan beasiswa full dari Stuned ke Belanda (tepatnya University of Groningen) dan akan berangkat September tahun ini. Wow. Ngobrol dengan Erin sebentar, membuka mata saya bahwa pilihan bagi saya gak sesulit itu kok. Gak sesulit ‘S2’ atau ‘kerja’ karena jika saya mau berjuang, biasanya biaya hidup yang diberikan lembaga beasiswa pada umumnya berlebih, dan dengan sedikit kerja keras (mencari tambahan kerja part time misalnya) masih tetap memungkinkan untuk mengirim uang ke orang tua. Lagipula, jika saya benar-benar niat, saya bisa jual ‘aset’ yang selama ini saya miliki agar lega meninggalkan orang tua dengan simpanan yang insya Allah mencukupi selama saya merantau.

Gimana dengan block kedua? Well, dulu saya berkeinginan menikah maksimal di usia 25. Kenyataannya, sekitar 2 bulan lagi saya akan berusia 25 tahun dan masih belum ada pasangan apalagi rencana menikah. Jadi, mengapa saya tidak fokus dulu pada apa yang di depan mata yang masih sangat mungkin saya perjuangkan? Kalau kata Vira Cania Arman, salah satu vlogger inspiratif yang melanjutkan S2 di luar dengan beasiswa, “Jangan mengkompromikan mimpimu dengan suatu hal yang belum pasti seperti pernikahan”. Yes, insya Allah akan, tapi statusnya saat ini belum pasti kan?:D

Setelah melalui shalat istikharah yang panjang dan minta doa restu orang tua, akhirnya saya mantap untuk mengatakan target saya terdekat saat ini adalah memperjuangkan S2. Inilah saatnya. Katanya Idul Fitri itu adalah lahir kembali, seperti itulah yang saya rasakan: ada semangat yang lahir kembali. Tahu-tahu, saya sudah membuka buku belajar lagi, sibuk browsing dan tanya sana-sini, merancang study plan, dsb. Insya Allah, sebelum saya menginjak 30 tahun, saya sudah menyelesaikan S2. Boleh minta aamiin? Aamiin ya Allah… 🙂

The Last Ten Nights

Assalamualaikum 🙂

Tidak terasa Ramadan tahun ini sudah memasuki 10 malam terakhir. Alhamdulillah. Adakah di antara kita yang sudah berguguran? Baik dari semangat ibadahnya atau berguguran selama-lamanya alias berpulang pada Allah. Ya, saya yakin ada saja dari kita mendengar berita orang meninggal di Ramadan ini. Saya sendiri merasa sudah mendengar banyak berita duka. Terakhir, teman kantor saya-beda divisi, secara personal saya tidak kenal-meninggal kemarin padahal terakhir saya lihat masih sehat sehat saja dan bisa merokok sambil bercanda di kantor. Usia tidak ada yang tahu.

Berita duka yang lebih besar, dan membuat saya-dan mungkin sebagian besar umat Islam- terpukul adalah tewasnya Razan Najjar, paramedis Palestina yang ditembak sniper Israel saat sedang bertugas menyelamatkan korban. Mengikuti berita Razan ini, air mata saya terus tumpah. Awalnya iri, sedih, duka, lalu menjadi geram, marah dan sakit hati. Geram, karena dunia seakan menutup mata. International Criminal Court pun diam, padahal ini adalah kejahatan perang yang sangat berat. Marah, pada Israel dan Amerika yang begitu biadabnya melakukan hal ini, di saat bulan suci Ramadan. Sakit hati, karena saya tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan Razan Najjar yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Barangkali terbalik, almarhumah lah yang mendoakan saya, dan kita semua, yang masih terpenjara di dunia yang fana ini sementara kepulangannya sebagai martir di hari Jumat bulan Ramadan sudah lebih dari cukup menjadi alasan bagi Allah memasukkannya ke dalam surgaNya. Saya, dan saya harap kita semua, tidak akan pernah melupakan kejadian ini, mengenang saudari kita seiman sebagaimana yang dilukiskan dalam firman Allah dengan begitu indahnya.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Hal lainnya yang membuat saya menangis (entah,saya jadi mudah sekali menangis di Ramadan kali ini) adalah kepulangan saudara kita seiman yang juga viral di media sosial bernama Ali Banat. Saya tidak akan menjelaskan siapa Ali Banat ini dan bagaimana kisahnya, karena Google sepertinya lebih lengkap ya hehehe. Sudah lihat video final message nya Ali Banat? Kalau belum, saya lampirkan di bawah ini ya.

Bagian dari video ini yang sukses membuat air mata saya tumpah adalah ketika Ali Banat merasa mengetahui kapan ia mati-setidaknya, tahu penyakitnya itu akan mematikannya-membuat ia jadi terpacu untuk berbuat kebaikan sebanyak banyaknya semampu yang ia bisa. Dan ia bersyukur tidak mati secara tiba tiba sehingga belum sempat bertaubat. Logikanya sih, sebenarnya tanpa harus divonis kanker pun kita-kita keadaannya sama seperti Ali Banat. Tahu sih tahu bakal mati, tapi tingkahnya kayak hidup selama-lamanya. Yuk, perbaiki lagi bekal kita :’)

***

Oke, sudahi dulu sedih-sedihnya ya 😀

Kalau baca judul posting ini, berasa kayak judul film adventure atau sejarah gitu gak sih? Hahaha. Keren gitu ya. The Last Ten Nights *apa sih Sar

Tak sengaja ketika sedang scroll home Facebook, saya melihat sebuah quotes bagus tentang 10 malam terakhir Ramadan. Karena saya baik hati dan tidak sombong, saya share disini juga ya. Hehehe.

Membaca quotes ini, saya yang semula merasa doa saya kering selama ini, jadi menemukan arti doa sesungguhnya. Saya,dan mungkin kamu juga mengalaminya, dalam berdoa kita cenderung meminta. Minta ini itu…minta, minta dan minta. Tapi kita lupa satu hal, yaitu ‘bercerita’. Ibaratnya ketika kita minta pertolongan seorang dokter, tentu kita harus cerita dulu apa saja keluhan yang dirasakan. Dengan bercerita, dokter menjadi tahu apa penanganan yang tepat untuk kita.

Namun dalam berdoa, kita seolah terburu-buru. Bahasa Sunda nya, ujug ujug minta. Memang, tanpa kita cerita, Allah Maha Tahu keadaan kita. Tapi bukankah sebenarnya Allah juga Maha Tahu apa yang kita butuhkan tetapi Allah tetap menyuruh kita meminta?

Selama ini, kepada siapa kita bercerita tentang perasaan kita, apa yang kita alami, dan keadaan kita saat ini. Ada yang bercerita pada orang tua, ada juga yang pada teman atau pasangan. Tidak salah sih, tapi, lagi lagi..kita minta nya sama siapa? Kebayang nggak sikap kita dalam berdoa ke Allah seperti kita curhat sama satu teman, tapi endingnya ngerepotin teman lain yang tidak tahu-menahu awalnya masalah kita.

“Ceritanya ke yang lain, terus minta tolongnya ke gue gitu?”

Pas sahur tadi, saya mencoba praktekkan apa yang quote tadi sarankan. Saya ceritakan apa saja keadaan yang sudah saya lalui, apa yang masih mengganjal dalam benak saya dan bagaimana keadaan saya saat ini. Kemudian disambung doa berisikan permintaan dan harapan saya. Sebagai penutup, saya enclose dengan doa yang mungkin sudah cukup sering didengar, yaitu

“Wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.”

Seusai menutup muka dengan kedua telapak tangan, saya merasa beban saya sedikit terangkat. Saya merasa lega sudah bercerita pada Zat yang selama ini memang mengawasi gerak gerik saya. Begini lho ya Rabb, saya itu bla bla bla…baru curhat sedikit saja saya sudah merasa hidup saya jadi terpetakan dengan lebih jelas. Apa sih yang saya mau sebenarnya, apa yang saya butuhkan dan yang terpenting: apa doa yang saya harus panjatkan untuk melengkapi ikhtiar saya selama ini. Curhat dulu,baru doa. Sesimpel itu. Wah kemana saja ya saya selama ini!

Sekian sharing saya. Saya berharap teman teman juga bisa menemukan ‘sesuatu’ di 10 malam terakhir ini. Terutama goal yang kita kejar banget yaitu malam LailatuL Qadr. Jangan kasih kendor! 😀

Ramadan Malam ke-23

Rumah Idaman

Alhamdulillah, akhirnya proyek renovasi rumah orang tua saya akan segera rampung. Ya, selama kurang lebih 2 bulan terakhir, rumah kami ditingkat menjadi 2 lantai. Secara historis, saya belum pernah merasakan tinggal di rumah tingkat sebelumnya. Jadi, hal ini merupakan sesuatu yang baru untuk saya.

Mengapa merenovasi rumah? Alasan pertama dan terutama, karena di bulan Februari akhir lalu, saya baru saja tukar tambah mobil menjadi Nissan Evalia dari sebelumnya Toyota Agya. Dengan body mobil yang jauh lebih besar membuat garasi rumah kami tak lagi muat sehingga terpaksa parkir mobil di jalan depan rumah tetangga (yang sudah sepas-pasnya). FYI, rumah saya adalah rumah kavling bersama 4 rumah lainnya dengan jalan mobil yang ngepas. Kami nggak mau terus terusan parkir di jalan tetangga meskipun mereka semua pada dasarnya ya boleh boleh saja.

Rencana awalnya, hanya memindahkan kamar saya ke atas. Namun di tengah perjalanan, ikut memindahkan kamar Mama ke atas sehingga ruang tamu menjadi lebih besar. Perubahan rencana ini karena saya berpikir ke depannya keluarga ini akan bertumbuh setelah saya berkeluarga. Akan ada suami dan anak anak yang ikut meramaikan rumah ini. Jika pun saya harus tinggal terpisah setelah berkeluarga, setidaknya keluarga kecil saya akan merasa nyaman mendatangi rumah orang tua saya di akhir pekan 🙂

Kata orang, merenovasi rumah bisa jadi lebih mahal daripada membangun rumah dari awal. Kata orang juga, meningkat rumah bisa menghabiskan biaya seperti membangun rumah. Tapi daripada dengar sana sini “katanya”, yasudah niatkan saja, bismillah, dimulailah renovasi rumah sejak awal Maret.

Dalam pengerjaan renovasi ini, saya berperan sebagai funding, sedangkan Mama sebagai eksekutor alias mandor. Hehehe. Saya serahkan sepenuhnya pengerjaan pada Mama. Hanya beberapa hal terkait desain Mama komunikasikan dengan saya. Alhamdulillah, saat ini pengerjaan sudah 90% menuju selesai.

Bisa dibilang, pengorbanan untuk renovasi ini secara materi cukup besar. Tabungan saya terkuras habis, gaji setiap bulan pun sebagian besar kesana. Bahkan untuk mengencangkan ikat pinggang, saya terpaksa berubah jadi #bekalsquad di kantor. Hahaha. Syukur, saya dan Mama terlepas dari godaan untuk meminjam uang pada bank (serius, godaan ini besar sekali).

Rumah saya sekarang. Finishing luar insya Allah dilanjutkan setelah lebaran.

Hikmahnya, saya jadi lebih memahami makna pengorbanan untuk mendapatkan rumah idaman. Dan bagi setiap orang berbeda beda tingkat kesulitan dan jalan yang ditempuh. Ada sebagian orang yang bekerja keras dari pagi sampai malam untuk melunasi cicilan rumah. Ada pula yang memiliki rumah begitu mudahnya bahkan bisa memiliki beberapa sekaligus. Ada juga yang tak punya cukup uang sehingga terpaksa tinggal di bantaran sungai atau di pemukiman kumuh. Nah, itu hanya pengorbanan untuk mendapatkan sebuah rumah di dunia…gimana mendapatkan sebuah rumah di surga? 🙂

“Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”.(QS. At Tahrim:11, doa Asiyah istri Firaun)

Rumah di surga adalah hal yang diidamkan Asiyah istri Firaun. Sebagai istri dari seorang raja yang sudah tentu tinggal di istana mewah, Asiyah masih menginginkan sebuah rumah lagi…tak tanggung-tanggung…di surga! Apakah Asiyah kurang bersyukur? Tidak. Tetapi Asiyah menurut saya adalah manusia yang benar benar memahami perbedaan ‘house’ dan ‘home’. Istana Firaun dengan segala kemewahannya adalah ‘house’. Namun definisi ‘home’ juga bukanlah ‘rumah yang hangat dengan suami yang penuh kasih sayang dan anak anak yang lucu lalu mereka bercengkrama bersama ditemani teh manis dan biskuit’. Standar ‘home’ bagi Asiyah jauuuh melampaui itu semua. ‘Home’ yang hakiki, yang kekal, dimana kebahagiaan akhirnya menjadi tiada akhir. Sebuah rumah di surga.

Jadi, bagaimana dengan rumah idamanmu?

Gampang Curhat

Apakah kamu punya teman yang berkarakter “senggol curhat”? Gak bisa ‘kesenggol’ dikit soal masalah yang dialaminya…ia langsung curhat panjang lebar. Padahal kamu pun gak begitu minat mendengar kisahnya. Adakah temanmu yang begitu? Saya juga kenal orang seperti ini..tidak jauh jauh, saya sendiri orangnya 🙂

Saya menyadari kebiasaan gampang curhat ini barangkali berangkat dari pribadi saya yang ekstrovert, juga tidak lepas dari latar belakang saya sebagai anak tunggal. Saya tidak punya kakak atau adik yang bisa dijadikan tempat curhat, akhirnya lari ke teman. Dan karena saya orangnya tergolong supel (cieee),jadilah saya cukup punya banyak teman sejak sekolah sampai sekarang. Nah, filter saya untuk teman curhat tergolong longgar. Hanya kalau sudah ketemu teman yang ‘nyambung’ diajak ngobrol…suatu hari pasti kapan-kapan saya curhat. Husnudzon saja semua orang peduli pada curhatan saya hahaha. Tidak seperti orang orang yang untuk sampai tahap curhat saja paling tidak harus memenuhi sekian waktu pertemanan, harus bisa dipercaya dulu, harus satu inner circle, satu sosialita, dan sebagainya. Monmaap, memang standar pertemanan saya ini agak receh saudara-saudara :’)

Parahnya, kebiasaan gampang curhat ini tak hanya di kehidupan nyata, tapi suka terseret ke dunia maya. Memang sih, saya tidak sampai menceritakan secara gamblang apa yang terjadi, tapi update status, caption dan stories cukup menyiratkan. Begitu juga blog ini. Apalagi di blog yang ibaratnya adalah ruang setiap orang untuk menuangkan pikirannya…saya bisa curhat dengan jor-joran. Meski saya tidak secara jelas menyebutkan siapa saja tokoh yang terlibat dalam curhat saya, tapi tetap saja judulnya…curhat.

Segala sesuatu yang berlebihan tentunya tidak baik. Saya sadari itu. Setelah beberapa kali ter-encourage dari kajian Ustadz Khalid Basalamah mengenai penting tidaknya menceritakan atau berbagi masalah pada orang lain, saya pun berniat untuk pelan-pelan mengurangi kebiasaan ini. Bagi kalian yang juga ingin mengurangi kebiasaan ini, saya ingin berbagi alasan saya yang mudah-mudahan bisa jadi motivasi kita-saya dan kalian-untuk berhenti gampang curhat.

Alasan pertama, saya merasa semakin berjalannya waktu, teman teman yang bisa saya curhati pun semakin sedikit. Mereka juga memiliki kehidupan sendiri dengan masalah mereka sendiri-sendiri. Saat ini, masalah saya mungkin bisa didengarkan. Tapi pada akhirnya, mereka hanya akan benar benar peduli pada masalah mereka sendiri.

Kedua, mungkin, agar sajadah saya bisa lebih lembab dari biasanya karena tumpahan air mata sewaktu sujud. Tsaahhh…jadi lembab atau apek Sar? 😀 Saya bisa lebih serius benar benar menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan bergantung. Dan, bukankah tak ada yang bisa memberikan solusi terbaik untuk semua permasalahan hidup selain Allah?

Ketiga, pentingnya menjaga nama baik diri. Saya memang belum pernah merasakan pengkhianatan semacam kisah pribadi saya diumbar oleh pihak lain dan dijadikan bahan nyinyir. Tapi sebelum sampai kejadian, tidak gampang curhat adalah langkah preventif yang sangat baik untuk menghindari drama pertemanan.

Jadi ketika menuliskan ini, saya sudah memindahkan banyak konten blog ini yang berisi curhat tidak berfaedah ke dalam folder trash. Begitu juga aktivitas di social media mulai dibatasi. Semoga ke depannya blog yang sudah saya tulis sejak beberapa tahun lalu ini bisa menuliskan sesuatu yang lebih bermanfaat 🙂

Akhir Pekan

Assalamualaikum.

Setelah sekian lama, nama blog ini berubah menjadi Akhir Pekan, bukan lagi Annisarah 🙂 Saya menyadari banyak inspirasi yang muncul di kepala saya ketika akhir pekan tiba. Akhir pekan adalah saat yang selalu saya tunggu tunggu, bukan karena saya benci bekerja pada weekday ya. Tapi lebih karena di akhir pekan lah saya bisa lebih leluasa berkumpul dengan keluarga,teman teman, menjalankan bisnis yang merupakan hobi saya, bersantai, dan entah kenapa, makan lebih banyak (dan enak-karena wisata kuliner) dari hari biasanya. Hahaha.

Sebenarnya posting ini bukanlah yang pertama sejak terakhir saya bercerita pengalaman umroh. Di bulan Januari 2018, saya sempat membuat membuat posting yang bercerita kemana saja saya selama ‘menghilang’ dari blog ini. Semacam kaleidoskop yang saya rasa kurang bermanfaat untuk dibaca orang lain. Terutama sebagian besar isinya berupa curhat. Jadi, saya memutuskan untuk menghapusnya 🙂

Akhir Pekan selain sebagai nama baru (pertama kali ganti nama sejak saya menulis blog ini di tahun 2013), juga menjadi warna baru bagi blog ini agar isinya lebih bermanfaat, mature dan sebisa mungkin keep on positive vibes.

Selamat membaca.