Rumah Idaman

Alhamdulillah, akhirnya proyek renovasi rumah orang tua saya akan segera rampung. Ya, selama kurang lebih 2 bulan terakhir, rumah kami ditingkat menjadi 2 lantai. Secara historis, saya belum pernah merasakan tinggal di rumah tingkat sebelumnya. Jadi, hal ini merupakan sesuatu yang baru untuk saya.

Mengapa merenovasi rumah? Alasan pertama dan terutama, karena di bulan Februari akhir lalu, saya baru saja tukar tambah mobil menjadi Nissan Evalia dari sebelumnya Toyota Agya. Dengan body mobil yang jauh lebih besar membuat garasi rumah kami tak lagi muat sehingga terpaksa parkir mobil di jalan depan rumah tetangga (yang sudah sepas-pasnya). FYI, rumah saya adalah rumah kavling bersama 4 rumah lainnya dengan jalan mobil yang ngepas. Kami nggak mau terus terusan parkir di jalan tetangga meskipun mereka semua pada dasarnya ya boleh boleh saja.

Rencana awalnya, hanya memindahkan kamar saya ke atas. Namun di tengah perjalanan, ikut memindahkan kamar Mama ke atas sehingga ruang tamu menjadi lebih besar. Perubahan rencana ini karena saya berpikir ke depannya keluarga ini akan bertumbuh setelah saya berkeluarga. Akan ada suami dan anak anak yang ikut meramaikan rumah ini. Jika pun saya harus tinggal terpisah setelah berkeluarga, setidaknya keluarga kecil saya akan merasa nyaman mendatangi rumah orang tua saya di akhir pekan 🙂

Kata orang, merenovasi rumah bisa jadi lebih mahal daripada membangun rumah dari awal. Kata orang juga, meningkat rumah bisa menghabiskan biaya seperti membangun rumah. Tapi daripada dengar sana sini “katanya”, yasudah niatkan saja, bismillah, dimulailah renovasi rumah sejak awal Maret.

Dalam pengerjaan renovasi ini, saya berperan sebagai funding, sedangkan Mama sebagai eksekutor alias mandor. Hehehe. Saya serahkan sepenuhnya pengerjaan pada Mama. Hanya beberapa hal terkait desain Mama komunikasikan dengan saya. Alhamdulillah, saat ini pengerjaan sudah 90% menuju selesai.

Bisa dibilang, pengorbanan untuk renovasi ini secara materi cukup besar. Tabungan saya terkuras habis, gaji setiap bulan pun sebagian besar kesana. Bahkan untuk mengencangkan ikat pinggang, saya terpaksa berubah jadi #bekalsquad di kantor. Hahaha. Syukur, saya dan Mama terlepas dari godaan untuk meminjam uang pada bank (serius, godaan ini besar sekali).

Rumah saya sekarang. Finishing luar insya Allah dilanjutkan setelah lebaran.

Hikmahnya, saya jadi lebih memahami makna pengorbanan untuk mendapatkan rumah idaman. Dan bagi setiap orang berbeda beda tingkat kesulitan dan jalan yang ditempuh. Ada sebagian orang yang bekerja keras dari pagi sampai malam untuk melunasi cicilan rumah. Ada pula yang memiliki rumah begitu mudahnya bahkan bisa memiliki beberapa sekaligus. Ada juga yang tak punya cukup uang sehingga terpaksa tinggal di bantaran sungai atau di pemukiman kumuh. Nah, itu hanya pengorbanan untuk mendapatkan sebuah rumah di dunia…gimana mendapatkan sebuah rumah di surga? 🙂

“Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”.(QS. At Tahrim:11, doa Asiyah istri Firaun)

Rumah di surga adalah hal yang diidamkan Asiyah istri Firaun. Sebagai istri dari seorang raja yang sudah tentu tinggal di istana mewah, Asiyah masih menginginkan sebuah rumah lagi…tak tanggung-tanggung…di surga! Apakah Asiyah kurang bersyukur? Tidak. Tetapi Asiyah menurut saya adalah manusia yang benar benar memahami perbedaan ‘house’ dan ‘home’. Istana Firaun dengan segala kemewahannya adalah ‘house’. Namun definisi ‘home’ juga bukanlah ‘rumah yang hangat dengan suami yang penuh kasih sayang dan anak anak yang lucu lalu mereka bercengkrama bersama ditemani teh manis dan biskuit’. Standar ‘home’ bagi Asiyah jauuuh melampaui itu semua. ‘Home’ yang hakiki, yang kekal, dimana kebahagiaan akhirnya menjadi tiada akhir. Sebuah rumah di surga.

Jadi, bagaimana dengan rumah idamanmu?

Advertisements

Vaksin Meningitis dan Manasik Umroh :)

Tanggal 24 Desember 2016 lalu (latepost, baru sempat posting sekarang nih), aku dan Mama melakukan suntik vaksin meningitis dan influenza untuk umroh di Klinik Sehat Cantik, Cibinong, tidak jauh dari kantor pusat biro travel yang kami gunakan, Hannien Tour. Suntik vaksin ini sangat penting, karena Arab Saudi merupakan negara yang epidemi meningitis dan flu babi (mungkin karena dekat dengan Benua Afrika ya). Selain itu dengan suntik vaksin, kita akan menerima buku kuning yang menyatakan diri kita sudah memenuhi syarat kekebalan tubuh terhadap penyakit epidemi. Buku kuning inilah sebagai salah satu persyaratan penerbitan visa masuk Arab Saudi.

Suntik vaksinnya sendiri dilaksanakan bersama dengan medical check up. Nggak ribet, cuma ukur tensi darah, gula darah dan asam urat. Khusus wanita juga harus melakukan tes kehamilan dengan test pack. Asli ini baru sekali seumur hidup pakai test pack. Hahaha. Cuma bagian dari prosedur aja sih untuk memastikan calon jemaah nggak sedang dalam keadaan hamil. Trus suntik deeh, lengan kiri dan kanan untuk vaksin meningitis dan influenza. Biaya seluruhnya saat ini (2016 akhir-2017 awal) sebesar Rp 750,000.

Khusus untuk wanita yang masih dalam kondisi subur, disarankan juga untuk minum pil Primolut, yaitu pil penahan menstruasi selama umroh (abis sayang banget dong 9 hari di sana trus kena siklus menstruasi yang bisa seminggu…duh jangan sampai deh). Pil ini nih yang sejak awal Januari aku minum setiap hari 2 butir sampai selesai umroh. Tenang, pil ini nggak akan mengganggu hormon kok, cuma menunda siklus menstruasi sehingga saat kita selesai umroh, lepas dari pil tsb, menstruasi kita akan lebih ‘deras’ dari biasanya. Kayak ditabung gitu deh. Pil Primolut ini dijual di apotek besar kok, harganya cukup pricey sih, Rp6,500-Rp8,000 per butirnya. Nah dikali tuh berapa hari pemakaian :’)

img_2828

Keesokan harinya, tanggal 25 Desember 2016, aku dan Mama melaksanakan manasik umroh di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Tanggal keberangkatan kami, alhamdulillah, sudah keluar yaitu insya Allah 1 Februari 2017. Wayoooo tinggal berapa hari lagi tuh? Deg-degan? Banget. Tapi tetap saja, sampai sekarang aku masih merasa serba ‘kurang’ dalam mempersiapkan diri untuk umroh. Terutama dari sisi spiritual.

Seperti manasik umroh biasa, kami dibimbing oleh travel kami dalam mengerjakan ibadah umroh. Rangkaian ibadah umroh sendiri sebenarnya mirip haji kecuali wukuf di Padang Arafah dan melempar jumrah. Banyak pengetahuan baru tentang umroh yang kudapat dari manasik ini seperti:

Darimana start tawaf mengelilingi Ka’bah? Dari hajar aswad. Jalan dari hajar aswad hingga kembali ke hajar aswad dihitung satu putaran.

Lari dari Bukit Safa dan Marwah itu sebanyak 7x hitungannya gimana ya? Ternyata Safa ke Marwah dihitung sekali, Marwah ke Safa dihitung sekali. Jadi rangkaian sa’i ini pasti akan berakhir di Bukit Marwah.

Tahalul buat cewek tuh gimana sih? Cukup memasukkan tangan ke dalam kerudung, gunting 3 helai rambut. FYI, gak boleh mentahalul orang jika diri sendiri belum tahalul. Sama seperti gak boleh mengumrohkan orang (misal mengumrohkan orang tua /saudara yang telah tiada jika diri sendiri belum selesai umroh)

Jika diurutkan, rangkaian ibadah umroh begini:

-Niat, kemudian berihram. Ini dari sejak Kota Madinah.

-Sampai di Masjidil Haram, mulai tawaf mengelilingi Ka’bah

-Selesai 7x tawaf, disunnah shalat di belakang Hijr Ismail, disunnahkan juga mencicipi air zam-zam

-Sa’i

-Ditutup dengan tahalul atau menggunting rambut.

Jadi umroh itu memang hanya sehari, sisanya adalah memperbanyak ibadah. Kalau di itinerary travelku sih (dari 2 hari perjalanan & city tour+3 hari di Madinah+4 hari di Mekkah), umroh wajib sehari, umroh sunnah sehari (nah disini bisa nih untuk mengumrohkan orang lain), sisanya (2 hari di Mekkah) bisa digunakan untuk memperbanyak ibadah sendiri di Masjidil Haram. seperti shalat wajib, sunnah, mengaji, berdoa, mencium hajar aswad, menyentuh Ka’bah, dsb. Menurut teman kerjaku yang sudah pernah umroh, waktu-waktu lengang di MAsjidil Haram itu sekitar waktu dhuha, nah disitu bisa digunakan tuh untuk mencium hajar aswad dan menyentuh Ka’bah.

Di atas itu semua, sebagai catatan untuk pribadi, jangan terlalu lebay. Lebay disini bukan saja sering selfie atau dikit-dikit ambil video, tapi jangan terlalu lebay juga berdoa menadahkan tangan di depan Ka’bah karena akan diingatkan oleh askar (polisi yang berjaga) bahwa berdoa itu kepada Allah, bukan kepada Ka’bah.

Bagiku pribadi, sekali manasik aja nggak cukup untuk benar-benar paham. Jadi perbanyaklah mencari informasi tentang ibadah umroh. Ingat, ini kata ustad pembina manasik yang sangat kena dengan hatiku: ibadah umroh bukanlah ibadah main-main. Bukan sekedar travelling dan kesempatan belanja. Ibadah umroh harus ikhlas, dari sejak sebelum berangkat, dan harus mengubah diri kita setelahnya menjadi lebih baik. Mengutip kata-kata Ustadz Bachtiar Natsir: jangan sampai ke Baitullah, tapi tak jumpa Allah. Rugiiiii 😦

Sebagai referensi bagi pembaca yang juga akan menunaikan umroh, bisa banget nih nonton kedua video di bawah ini.

Labaikallahummalabaik…labaikala syarikalaka labbaik…innal hamda, wa ni’mata laka wa mulka, la syarikalaka…

Semangat! 🙂

 

Asyiknya Nulis Resep di Cookpad

Halo, kali ini gue mau sharing dikit nih pengalaman gue nulis resep di Cookpad. Mungkin sebagian dari kalian udah sering dengar atau mengunjungi situs Cookpad ini ya. Yaiyalah, setiap kali googling suatu resep makanan, resep dari Cookpad pasti nangkring di halaman pencarian pertama.

Jadi, apa sih itu Cookpad? Simplenya adalah situs sosial media yang memberikan wadah untuk user berbagi dan membaca resep masakan secara gratis.  Kontennya dari user untuk user. Dan rameee lho disini. Banyak ‘Bun-Bun’ muda dan kreatif yang eksis disini saling share tentang masakan, chat, komentar, dll.

Sebenernya gue udah  lama tahu Cookpad, sering ngunjungin juga kalau lagi stuck nyari ide untuk eksperimen resep masakan. Tapi selama itu gue hanya jadi silent reader sampai suatu ketika pas nunggu masakan selesai dikukus, gue iseng browsing Cookpad dan…kenapa engga nulis resep gue sendiri juga disini? Bukan ngejar popularitasnya sih (banyak like, comment atau view), cuma supaya resep eksperimen masakan yang pernah gue buat gak terlupakan gitu aja alias terdokumentasi dengan baik. Zaman udah berubah yah, mencatat resep gak lagi dengan nulis di buku tulis sidu kayak nenek gue dulu (sampe  dekil banget tuh buku karena diwariskan ke Nyokap dan sodara-sodara terus gue ikutan pake dan sekarang udah entah kemana :P)

Oh ya, kelebihan lain dari Cookpad adalah interfacenya yang simple membuat kita gak bertele-tele dalam menulis resep (beda dengan ditulis di blog malah crita dan jokes kemana-mana hehe :D). Trus untuk save resep yang mau kita coba gak perlu copas atau screenshot, cukup di-cookmark aja (Plesetan Bookmark. Hehehe). Sejauh ini belum ada seminggu gue coba nulis resep di Cookpad, statistiknya lumayan lah…pamer dulu boleh ya…hihihi.

cookpad2

cookpad1

Kunjungi ya profil gue di Cookpad Sarah Annisa. Sudah ada 3 resep lhooo.

Happy Cooking 😀

23 Years, Countless Happiness

Countless happiness.

Mungkin ini frasa yang tepat untuk menggambarkan hidup gue selama 23 tahun, dari mulai 7 September 1993 sampai hari ini. Kebahagiaan yang nggak terhitung. Meski banyak juga episode nggak bahagia, tapi kayaknya masih kalah jauuuuh deh sama kebahagiaan yang udah Allah kasih sama gue, terus-menerus, unlimited.

img-20160907-wa0007

Nikmat yang terbesar bagi gue tentunya adalah iman dan Islam. Yaaah walaupun iman gue masih naik turun, kadang ngembang kayak adonan bolu, kadang layu kayak kerupuk direndam kuah sayur. ..but I’m happy to be who I am, to be a moslem.  Setelah iman dan Islam, ada nikmat rezeki. Dan ini maknanya luaaaass banget bagi gue. Beberapa rezeki yang sangat gue syukuri di antara rezeki lainnya yang Allah karuniakan untuk gue antara lain:

img20160907132115.jpg

Kado dari lunch mate gank.

1) Rezeki kesehatan. Gue itu jarang sakit anaknya. Paling parah sih sakit tipes…paling sering masuk angin (akibat lembur kerja haha). Alhamdulillah sejauh ini gue baik-baik saja. Cuma ya kemarin sempat sih gue keserang asam lambung akibat telat makan dan kebanyakan ngopi…but overall my body is totally fine, I think. Sungguh beruntung tubuh gue terlahir normal dengan semua organnya berfungsi dengan baik. Pup aja sangat teratur, sehari sekali setiap pagi. Bahkan ya, gue gak pernah tuh ngalamin mulas-mulas parah kayak cewek-cewek lain pas datang bulan. Paling-paling gue jadi senggol bacok sensi doang. Dan konon, nyokap gue bilang, kalo anak tunggal itu biasanya akan melahirkan anak banyak. Waaah aamiin banget deh kalo gitu. Gue pengen banget punya anak banyak. Hihihi.

2) Cinta yang besar dari orang tua. Terutama dari Mama, yang berjuang dengan pengorbanan sedemikian besar untuk hidup gue. Ini termasuk rezeki yang gak semua orang bisa dapatkan lho. Jadi, bersyukurlah terhadap ortu kalian yaa. Kita gak bisa memilih dari rahim siapa kita lahir,  dalam keluarga seperti apa kita dibesarkan. Tapi seandainya gue bisa milih, gue gak tahu apakah ada pilihan terbaik lainnya selain keluarga gue sekarang 🙂

img_20160907_133029.jpg

Traktiran ultah dengan lunch mate gank gue: Mbak Dian (ibu anak 1), Mbak Anggi (ibu anak 2), Mbak Ade (bentar lagi married). Gue? Tape ketan belum jadi-jadi. Hahahah

3) Rezeki dari pekerjaan. Sudah hampir 2 tahun gue bekerja. Ada suka, ada duka. Alhamdulillah, gue merasa pencapaian gue saat ini sudah sampai di titik ‘cukup puas’. Cukup puas, karena gak semua lulusan sarjana seumuran gue bisa merasakan pengalaman bekerja di perusahaan asing dengan penghasilan yang alhamdulillah-yah-sesuatu. Tapi tentunya, gue masih ingin mengembangkan diri gue lagi. Gue masih muda, dan kayaknya gue udah mulai nemuin passion kerja gue di bidang sales & marketing.  Cuma karena gue berasal bukan dari background pendidikan bidang sales & marketing research, gue pingin deh ngerasain program Management Trainee (biar bisa di-coach sekalianatau beasiswa S2 di bidang tersebut. Sayang Gan, belum ada yang lolos..hehehe.

So? Ya syukurilah sambil jalan…hehehe

Di usia 23 ini, ada 3 permohonan yang gue panjatkan ke langit. Salah satunya adalah kemudahan langkah gue dan nyokap menuju Tanah Suci dalam ibadah umroh Februari tahun depan. Sisanya? Aminkan aja deh, gak usah ditulis disini. Hahaha.

See? How blessed I am. And so do you. Jangan lupa bahagia yaaa 🙂

 

#PleaseHelp Temanku Mbak Ria

Suatu hari menjelang akhir Ramadhan, seseorang bernama Siti Fatimah, sesama anggota grup whatsapp Komunitas Ummi Annida yang kuikuti, bertanya di grup, “Adakah akhwat yang tinggal di Bogor?”. Beberapa orang menyahut, termasuk aku. Tak lama, japri masuk ke WhatsApp-ku dari Mbak Siti Fatimah ini.

“Saya ingin mengajak untuk menunaikan kewajiban kita atas sesama muslim, Ukh”

Apakah itu?

Ternyata menjenguk seorang saudari yang sedang sakit. Saudari itu adalah bernama Ria, atau yang kupanggil kemudian Mbak Ria. Mbak Siti Fatimah ini tidak pernah berkenalan secara langsung dengan Mbak Ria, hanya kenal lewat sesama komunitas grup One Day One Juz (ODOJ), itu lho..gerakan nasional membaca Quran sehari 1 juz. Kebetulan aku juga masih aktif ikut grup ODOJ, sehingga merasa sudah seharusnya bersimpati pada Mbak Ria ini. Mbak Ria, teman Mbak Siti Fatimah ini sedang sakit asam lambung akut yang berkomplikasi pada pneumonia atau radang paru-paru. Mbak Siti Fatimah ini pun berniat menjenguk, tapi sayangnya ia berdomisili di Palembang, jadi sulit untuk bisa ke Pulau Jawa ‘hanya’ untuk menjenguk. Tanpa pikir panjang, kuiyakan ajakan tersebut meski lokasi rumah Mbak Ria letaknya di Jonggol, yang walaupun sama-sama di Kab. Bogor tapi jaraknya memakan waktu 2 jam perjalanan dengan mobil dari rumahku di Bojong Gede.

Awalnya niatku hanya sekedar menjenguk. Kuajak serta Mama menemaniku. Sesampainya disana, ya Allah…kondisi Mbak Ria langsung membuatku menangis. Tubuhnya kurus kering seperti pengungsi di Afrika, sesak terus dan sulit bicara. Dengan perlahan Mbak Ria menceritakan tentang penyakitnya.

Pada Februari 2016, Mbak Ria mengalami sesak yang teramat sangat dan sekujur tubuh kaku sulit digerakkan. Mbak Ria kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat, setelah 2 kali pemeriksaan (rontgen dan hasil lab), dokter mendiagnosis Mbak Ria sakit pneumonia dan dirujuk untuk melakukan endoskopi. Sayang, pengobatan dan pemeriksaan tersebut tidak dapat dilanjutkan, karena kekurangan dana. Akhirnya selama kurang lebih 5 bulan terakhir, Mbak Ria hanya bisa bedrest di rumah, sesekali minum obat herbal sederhana sambil dengan tabah terus menahan sakit di dadanya. Cairan di paru-paru dan saluran pernapasannya semakin menggumpal, sementara berat badannya turun drastis hingga sekarang hanya 25 Kg. Ya, hanya 25 kg! Bayangkan!

Mbak Ria sendiri adalah sulung dari 4 bersaudara, satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Ibundanya telah meninggal dunia 5 tahun lalu (dengan penyakit yang sama,komplikasi ke jantung), dan saat ini Mbak Ria tinggal bersama ayah dan adik bungsunya yang baru masuk SMA. Kedua adik lelakinya (yang kedua dan ketiga) sudah menikah dan pindah rumah sementara Mbak Ria sendiri belum menikah. Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, hanya mengandalkan uang pensiun ayah Mbak Ria sedangkan adiknya masih butuh dana untuk sekolah. Praktis, selama sakit,tidak ada yang bisa sepenuhnya telaten menjaga dan merawat Mbak Ria. Sebelum sakit, Mbak Ria bekerja sebagai penjaga counterpulsa di sebuah toko dekat rumah sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Semenjak sakit, Mbak Ria tidak lagi dapat mengurus rumah dan pergi bekerja.

Pada saat awal sakit, salah seorang saudara Mbak Ria sempat berinisiatif mengurus pembuatan BPJS Kesehatan untuk PBI untuk Mbak Ria, namun entah mengapa pengurusan itu terhenti di tengah jalan. Kini Mbak Ria sedang menunggu pihak RT di lingkungan rumahnya yang menjanjikan pengurusan BPJS Kesehatan setelah libur lebaran. Masih teramat lama, sedangkan makin hari sesak dan tukak makin menghujam dada Mbak Ria. Namun meski dalam kondisi lemah tak berdaya, Mbak Ria tetap optimis untuk sembuh dan tak surut semangatnya dalam membaca Al-Quran sehari 1 juz walau lisannya tersendat. Sedangkan ibadah shalat dijalaninya sambil duduk, karena tidak kuat bergerak terlalu banyak.

IMG20160626132137

Aku dan Mbak Ria. Duh Mbak...ingin rasanya aku kasih lemakku ke Mbak :(

Aku dan Mbak Ria. Duh Mbak…ingin rasanya aku kasih lemakku ke Mbak 😦

Hanya satu setengah jam aku dan Mama menjenguk Mbak Ria. Karena kasihan juga beliau tidak bisa terlalu lama diajak bicara. Ngomong-ngomong, aku jadi kepikiran terus, takut asam lambung yang Mama idap komplikasi kemana-mana. Secara sekarang Mama udah kena darah tinggi juga. Tahu nggak? Sepanjang jalan pulang sambil menyetir beberapa kali aku nangis sesenggukan…bukan hanya menangis ingat kondisi Mbak Ria, tetapi menangisi ketidakbersyukuranku selama ini. Ya Allah, sungguh teramat sering aku tidak bersyukur…teramat banyak nikmat yang kuabaikan hanya karena aku belum mendapat nikmat yang kuinginkan. Sedangkan Mbak Ria? Untuk nikmat sehat yang begitu banyak orang miliki saja ia harus berjuang…

Dari situlah, semula tadinya aku hanya akan menjenguk, aku jadi tergerak untuk membantu Mbak Ria. Niatku, untuk menggalang dana agar bisa membantu pengobatan Mbak Ria selama menunggu BPJS Kesehatan beliau selesai diurus. Kucoba membuat campaign lagi di KitaBisa.com untuk Mbak Ria di link https://kitabisa.com/bantumbakria

 

Titik Terang

Selama kita-kira seminggu aku berusaha mengumpulkan donasi (kebanyakan dari hasil ngemis via chat whatsapp hehehe), terkumpullah 2 juta rupiah.  Melihat usahaku, keluarga Mbak Ria pun termotivasi lagi untuk mengusahakan pengobatan Mbak Ria. Ayah Mbak Ria pun pinjam sana-sini demi bisa membawa Mbak Ria ke RS.

628999585443

Alhamdulillah, pada tanggal 30 Juni 2016 lalu, Mbak Ria sudah dibawa ke RSUD Cileungsi untuk pemeriksaan kembali dan melanjutkan pengobatan yang sudah berbulan-bulan terhenti. Hasil pemeriksaan dokter, kondisi tubuh Mbak Ria semakin memburuk dibandingkan saat pertama kali pemeriksaan pada Februari lalu. Paru-paru semakin parah, liver lemah, neutrofil lemah radang akut, syaraf pun bermasalah sehingga tubuh Mbak Ria terasa kaku dan sulit digerakkan. Tubuh Mbak Ria sangat lemas dan berjalan pun masih tertatih-tatih meski obat sudah rutin diminum. Untuk melakukan (maaf) buang air saja kini Mbak Ria menggunakan pampers karena tidak sanggup melakukannya secara normal. Namun meski kondisi Mbak Ria sangat memperihatinkan, dokter yang menangani Mbak Ria memperkirakan bahwa pneumonia Mbak Ria masih bisa disembuhkan asalkan konsumsi obat tidak putus. Allahuakbar…sebuah titik terang muncul. Aku dan Mbak Ria pun bertambah optimis.

Mbak Yeni dan Mbak Ria

Mbak Yeni dan Mbak Ria

Tanggal 2 Juli 2016, aku dan admin di grup ODOJ-ku, Mbak Yeni, kembali menjenguk Mbak Ria dan menyalurkan donasi yang ada. Pada hari Senin, 4 Juli 2016, Mbak Ria kembali ke rumah dan menjalani rawat jalan. Biaya pemeriksaan, pengobatan dan rawat inap selama kurang lebih 4 hari di RSUD saja sudah memakan sekitar 4 juta rupiah. Saat ini, Mbak Ria masih membutuhkan dana untuk menopang biaya rawat jalan beliau hingga BPJS Kesehatannya sudah jadi (diperkirakan paling lambat akhir Juli). Berikut ini salah satu kwitansi pembayaran biaya perawatan Mbak Ria selama di RS.

WhatsApp-Image-20160707

Teman-teman blog yang kucintai, aku mohon doa, dukungan dan bantuan untuk Mbak Ria. Please help her, salurkan bantuanmu dengan berdonasi melalui https://kitabisa.com/bantumbakria . Bantuanmu sangat berarti untuk beliau. Tentunya, kita pernah mendengar sebuah hadits bahwa persaudaraan sesama muslim ibarat satu tubuh. Jika yang satu anggota tubuh merasa sakit, maka anggota tubuh lainnya pun merasakan sakit. Aku sangat, sangat, sangat, mengharapkan bantuan teman-teman sekalian… *udah speechless ini mau ngomong apa lagi hehehe* Ohya, jika ada pertanyaan dan sebagainya feel free untuk tinggalkan di komentar posting ini atau bisa menghubungi via WhatsApp di 081280101156

Terima kasih banyak ya… 🙂

Musa a.s. pernah bersabda, “Wahai Rabbku, beritahukanlah kepadaku siapa orang yang paling Engkau cintai?”

Allah SWT bertanya, “Untuk apa?”

“Agar aku bisa mencintainya seperti cinta-Mu padanya”

Allah SWT berfirman, “Yaitu hamba yang berada di ujung dunia atau di pinggir dunia lalu ada hamba lain di ujung dunia atau di pinggir dunia lain yang tidak melihatnya namun mendengarnya. Jika hamba yang pertama ditimpa musibah maka seakan-akan musibah itu juga menimpa dirinya dan jika hamba yang pertama tertusuk duri seakan-akan duri itu juga menusuknya. Dia tidak mencintainya melainkan karena Aku. Itulah hamba yang paling kucintai” (dalam salah satu hikmah yang diriwayatkan Imam Ahmad, dikutip dari Ketika Aku Mencintaimu oleh Wulandari Ekasari dan Amatullah Shafiyyah)

 

Ramadhan with Love: Sebuah Epilog

Sebelumnya aku ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H, mohon maaf lahir bathin ya jika ada salah dan khilaf Sarah selama ngeblog di wordpress ini…semoga Allah menerima amalku dan amalmu 🙂

Alhamdulillah, PR besar selama Ramadhan berakhir sudah pada tanggal 2 Juli 2016 lalu, ketika sekitar pukul 8 pagi, aku telah mengirim Laporan Pertanggung Jawaban Ramadhan with Love ke seluruh donatur yang berjumlah 94 orang. Aku harap nggak ada donatur yang terlewat ya (kalau ada, boleh ya email ke harirayauntukmereka@gmail.com). Ditanya rasanya gimana? Luar biasa lega dan bahagia! Sebagai ketua panitia yang bertanggung jawab penuh atas amanah ini, aku merasa…sungguh, Ramadhan with Love ini benar-benar menjadikan Ramadhanku tahun ini begitu bermakna. Terharu banget sama kebaikan hati para donatur, bahkan di detik-detik terakhir campaign. Ketika campaign di Kitabisa sudah ditutup, masih ada saja yang mau donasi , pas banget sebelum kita belanja baju lebaran gelombang terakhir. Namun di atas itu semua, percayalah….yang paling bikin bahagia adalah ketika melihat anak-anak yatim dan dhuafa tersebut benar-benar mengenakan baju lebaran pemberian kita semua. Priceless….ya Allah, nikmat mana lagikah yang bisa kami dustakan? Allahuakbar…masya Allah..

Selesai LPJ dikirimkan, aku dan teman-teman panitia RWL saling mengharu-biru di grup WhatsApp kepanitiaan kami ini. Hiks :’)

13439162_10206180089292885_1885952880458515638_n

Nah, walaupun LPJ Ramadhan with Love sudah dikirim dan dipublish juga di https://kitabisa.com/ramadhanwithlove , aku pingin mengupdatenya juga disini nih. Ya kan sebelumnya aku juga udah sering woro-woro di blog ini tentang RWL. Biar keliatan gitu endingnya gimana, apalagi banyak juga yang terketuk untuk donasi setelah membaca postinganku di blog ini.

Oya, versi lengkap dari LPJ ini bisa diunduh di https://goo.gl/uDn3iz

Foto dokumentasi lengkap https://www.facebook.com/Ramadhan-With-Love-478906738960142/photos/?tab=album&album_id=510743705776445

Video dokumentasi:

Taraaaa ini quick updatenya!

***

Alhamdulillah, program Ramadhan with Love telah dilaksanakan dan insya Allah telah memberi manfaat bagi 221 anak yatim dan dhuafa yang tersebar di wilayah Bogor, Bekasi, Depok, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Boyolali, Sukoharjo, Purworejo, Kebumen, dan Jayawijaya Papua. Total donasi yang masuk baik dari online maupun offline adalah senilai Rp. 17,597,456.

Di bawah ini adalah detail kegiatan yang telah dilaksanakan oleh panitia Ramadhan with Love selama program berlangsung.

Tanggal Kegiatan
15 Mei 2016 Penggalangan donasi Ramadhan with Love resmi diluncurkan di Kitabisa.com ( https://kitabisa.com/ramadhanwithlove ) dan viral di media sosial dan jaringan komunikasi lainnya.
11 Juni 2016 Pembelanjaan baju lebaran gelombang pertama untuk anak muslim Papua sebanyak 50 stel baju lebaran di Pasar Tanah Abang
13 Juni 2016 Pengiriman paket baju lebaran ke BSMI Jayawijaya, Wamena, Papua melalui Pos Indonesia
21 Juni 2016 Baju lebaran baru sampai di Papua dan didistribusikan langsung oleh BSMI Jayawijaya Papua
18 Juni 2016 Pembelanjaan baju lebaran gelombang kedua untuk anak yatim dan dhuafa di Bogor, Bekasi, Sukoharjo, Jakarta Timur, dan Purworejo sebanyak 51 stel
23 Juni 2016 Periode donasi di https://kitabisa.com/ramadhanwithlove berakhir
24 Juni 2016 Periode donasi via transfer rekening berakhir
25 Juni 2016 Pembelanjaan baju lebaran gelombang ketiga untuk anak yatim dan dhuafa di Jakarta Utara, Bogor, Bekasi, Kebumen, dan Sukoharjo sebanyak 120 stel baju lebaran.
26 Juni 2016 s/d 1 Juli 2016 Distribusi di Bogor, Bekasi, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Sukoharjo, Boyolali, Purworejo, dan Kebumen

Sasaran donasi Ramadhan with Love yang utama di luar Pulau Jawa adalah anak muslim Papua yang tinggal di desa-desa binaan Lembaga Kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia dan bagi di Pulau Jawa adalah anak yatim dan dhuafa di lingkungan rumah dan kampung halaman panitia Ramadhan with Love yang didata melalui RT RW. Anak yatim dan dhuafa ini tidak diasuh dalam panti atau yayasan, hanya ada beberapa yang mengikuti komunitas pendidikan masyarakat lokal seperti Badan Narkotika Nasional Sukoharjo dan Rumah Belajar Impian Bojong Gede. Dikarenakan donasi yang masuk berlebih, maka kami menambah alokasi pemberian baju lebaran untuk diikutsertakan dalam acara santunan dan buka bersama Forum Indonesia Muda bersama anak dhuafa warga eks Pasar Ikan yang masih tinggal di penampungan Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Sisa dari pembelanjaan donasi ada pula yang tidak disalurkan dalam bentuk baju lebaran, namun dalam bentuk sumbangan alat sholat untuk mushola BNN Sukoharjo serta sembako dan santunan untuk seorang anak disabilitas di Boyolali.

Daftar anak yatim dan dhuafa penerima baju lebaran baru yang diikutsertakan dalam Ramadhan with Love.

-50 anak muslim Papua di Jayawijaya, Wamena, Papua

-65 anak dhuafa warga penggusuran Pasar Ikan di penampungan Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara

-13 anak yatim dan dhuafa asuhan Rumah Belajar Impian di Kp. Pulo, Bojong Gede, Kab. Bogor

-5 anak yatim dan dhuafa di Kp. Susukan, Bojong Gede, Kab. Bogor

-8 anak yatim dan dhuafa di Kp. Sawah Poncol, Bojong Gede, Kab. Bogor

-6 anak yatim asuhan Sanggar Badan Narkotika Nasional Sukoharjo

-4 Anak yatim dan dhuafa di Desa Kokopan, Kab. Kebumen, Jawa Tengah

-20 anak yatim dan dhuafa yg tersebar di Kec. Sukoharjo, Kec. Nguter, Kec. Bendosari, Kab. Sukoharjo.

– 10 anak yatim dan dhuafa di Karanggede, Boyolali

-7 anak yatim dan dhuafa di Kelurahan Munjul, Cipayung, Jakarta Timur

-5 anak dhuafa di Kec. Gebang dan Kec. Banyuurip, Purworejo,Jawa Tengah

-2 anak dhuafa di Kel. Pondok Cina, Depok.

-29 anak yatim & dhuafa di Kp. Pabuaran dan Desa Cikopomayak, Jasinga, Kab. Bogor.

-10 anak yatim dan dhuafa di Kp. Tugu, Bekasi Timur

Total Donasi Terkumpul Rp. 17,597,456
Rincian Pengeluaran:
Potongan biaya admin campaign di Kitabisa.com Rp.       473,868
Belanja gelombang 1 (50 stel baju lebaran) Rp.   3,000,000
Ongkos kirim paket kilat ke Papua Rp.   1,217,500
Belanja gelombang 2 (51 stel baju lebaran) Rp.   3,608,000
Belanja gelombang 3 (127 stel baju lebaran)     Rp.   8,530,000
Plastik goody bag Rp.         36,000
Stiker goody bag Rp.         60,000
4 mukena + 4 sarung untuk disumbangkan ke mushola BNN Sukoharjo Rp.       480,000
1 paket sembako+ amplop untuk 1 orang anak disabilitas di Boyolali Rp.       200,000
Total Pengeluaran Rp. 17,605,368
 
Defisit Rp.           7,912

Tak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua donatur yang telah mempercayakan donasinya kepada kami. Semoga Allah membalasnya dengan pahala terbaik dan melimpahkan rahmatNya kepada para donatur sekeluarga. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih pada berbagai pihak yang telah mendukung dan membantu pelaksanaan program ini:

-Kitabisa.com (https://kitabisa.com) sebagai media campaign Ramadhan with Love yang sangat efektif membantu dalam publikasi dan memfasilitasi hubungan kami dengan para donatur dan rekapitulasi donasi.

-Lembaga Kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Jayawijaya Papua yang telah mendistribusikan baju lebaran baru untuk anak muslim Papua.

-Penerbit Bintang Pelangi yang telahmengikutsertakan kami dalam project ‘Menulis Sambil Beramal’ dimana peserta project selain mempublikasikan tulisan bertema Ramadhan juga menyalurkan donasi ke Ramadhan with Love

-Badan Narkotika Nasional Sukoharjo, Rumah Belajar Impian Bojong Gede dan Forum Indonesia Muda atas kerjasamanya dalam penyaluran sebagian baju lebaran baru.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur tak terhingga pada Allah SWT yang telah mencatatkan program ini sebelumnya sejak jauh hari di lauh mahfudz dan telah memperjalankan berbagai pihak dan peristiwa serta mengijabah doa kita semua sehingga program Ramadhan with Love ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses tanpa suatu hambatan berarti. Shalawat serta salam juga kami haturkan pada Rasulullah SAW beserta keluarga dan sahabatnya dalam kesejahteraan hingga hari kiamat kelak. Kami menyadari selama penyelenggaraan program ini tak lepas dari kekurangan-kekurangan, sehingga kami mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dari ikhtiar kami. Semoga laporan pertanggung jawaban ini bermanfaat dan menjadi bentuk amanah yang dapat kami pertanggung jawabkan baik di dunia maupun di akhirat serta program ini dicatat sebagai amal yang akan menjadi syafaat atau pertolongan bagi kita semua saat bersaksi di hadapan Allah SWT kelak. 🙂

Renungan Malam Dua Puluh Sembilan

 

Malam kedua puluh sembilan. I’tikaf tahun ketiga. Akhirnya…sebuah visi hidup.

Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah broadcast message di WhatsApp tentang perjalanan Rasulullah SAW menemukan makna hidup hingga turun wahyu pertama dan diangkat menjadi Rasul. Tiga tahun beruzlah di Gua Hira setiap Ramadhan dan menempuh perjalanan kaki berkilo-kilometer jauhnya dari pusat kota Mekkah. Semua bermula dari kerisauan hati Rasulullah melihat kehidupan di sekitarnya yang sedemikian rusak. Padahal, kalau ingin tak peduli dan menjalani hidup dengan senang dan tenang saja, sungguh teramat bisa bagi Rasulullah saat itu. Berasal dari keluarga bangsawan, memiliki istri kaya raya, usaha perdagangan sukses…untuk apa memilih menyepi dan merenungi hidup yang sudah sedemikian mapan dan nyaman bagi laki-laki di masa itu?

Sebuah visi hiduplah yang mendorong Rasulullah. Visi hidup yang tertanam dalam hati beliau bahwa tak semestinya kehidupan manusia seperti itu. Bersenang-senang saja dalam kerusakan akhlak. Dan visi hidup datang pada manusia mulia tersebut bukan sebagai wangsit yang ‘tahu-tahu turun dari langit’. Visi hidup itulah yang mengantarkan turunnya wahyu Allah yang mengandung kabar gembira dan peringatan, yang mengubah hidup Rasulullah SAW selama-lamanya. Dan juga mengubah hidup jutaan umat manusia sesudahnya, termasuk kita.

Hidup tanpa punya visi hidup itu rasanya enak yang nggak enak. Lho, kok gitu? Maksudnya apa tuh? Iya, terasa enak, karena hidup dijalani dengan enjoy saja. Nggak perlu mikir berat-berat. Asal kebutuhan tercukupi, hati happy, istilah kerennya sekarang: YOLO (You Only Live Once). Toh, yang penting nggak menyalahi aturan agama. Ibadah tetap jalan kok, walau hal yang sia-sianya nggak juga berkurang. Shalat jalan, pacaran langgeng. Ngaji iya, nongkrong berlama-lama hayuk. Sedekah oke, hura-hura harus lebih oke lagi. Itu baru enaknya…trus apa nggak enaknya? Nggak enaknya…tanpa visi hidup, kita seolah-olah memang hanya berpikir YOLO. Meski ibadah juga kita jalani, tapi terasa kering. Bukankah sudah sampai pada kita suatu ayat yang menerangkan orang-orang yang lalai dalam shalatnya? Dan padahal, hidup kita bukan cuma sekali, tapi masih ada tahapan-tahapan kehidupan selanjutnya. Apa makna hidup kita? Apa makna kita bagi hidup? Apakah hidup kita sudah bermakna? Nah lho pusing deh tuh bolak-balik nanya. Hehehe.

Apakah kita bisa bernyaman-nyaman terus selamanya tanpa pernah mengerti esensi hidup yang kita jalani? Itulah yang kumaksud disini sebagai perasaan enak yang nggak enak.

 

I’tikaf dan Visi Hidup

Hidup kita ini hanyalah jeda antara Ramadhan satu dengan Ramadhan lainnya. Itulah kesadaran yang kudapati dalam i’tikaf di malam ke-29 Ramadhan tahun ini. Sebelas bulan berikutnya adalah aplikasi dari ‘pendidikan’ yang kita jalani sebulan dalam Ramadhan, sekaligus realisasi dari doa dan istighfar kita.

Maka, sungguh sayang rasanya jika hidup yang kita jalani dari Ramadhan satu ke Ramadhan lainnya berlalu tanpa adanya visi. Lebih sayang lagi ketika Ramadhan, tak jua kita temukan visi hidup. Mungkin kita belum bisa memikirkan sebuah visi hingga sepuluh tahun ke depan, but at least kita bisa menyusun visi hidup sebagai bekal kita sebelas bulan ke depan sampai bertemu Ramadhan lagi. Salah satunya melalui kesempatan i’tikaf.

Di tahun ini, aku menjalani i’tikaf dengan hati yang jauh lebih tenang, masih dengan penuh harap mendapat malam Lailatul Qadar, meskipun baru kumulai di malam ke-28 Ramadhan. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, meski i’tikaf yang kujalani masih jauh dari sempurna, begitu juga ibadah-ibadahku yang lain selama Ramadhan…namun aku merasa Ramadhan ini adalah Ramadhan terbaik sepanjang hidupku selama hampir 23 tahun hidup di dunia. Terutama karena melalui berbagai peristiwa di bulan Ramadhan dan ‘itikaf, akhirnya sebuah visi hidup kembali kutemukan. Visi hidup yang dulu sering ku-azzam-kan dalam hati, namun sempat perlahan terkikis oleh berhala bernama karier, uang dan kesenangan hidup. Visi hidup yang membuatku kembali percaya diri dan merasa utuh. Memberiku arah. Setelah Ramadhan, lalu apa? Berusaha menjalani hidup dengan visi hidupku ini.

Selamat menemukan visi hidup 🙂