Short Trip + Kulineran Enak ke Bandung Kota (Itinerary & Biaya)

Assalamualaikum 🙂

Lama tidak menyapa blog ini, saya jadi ingin cerita pengalaman saya melakukan short trip ke Bandung selama 2 hari 1 malam pada 6-7 September lalu. Oya, short trip ini sekaligus birthday trip, dalam rangka ‘menyenangkan diri sendiri’ di hari ulang tahun saya yang ke-25, pada 7 September. Alhamdulillah 🙂

Nah, saya ingin cerita itinerary sekaligus budget yang dihabiskan.

Saya pergi ke Bandung hanya berdua sama Mama dengan menggunakan kereta api. Kenapa? Karena sudah pada tahu dong ya macetnya jalan Jakarta-Bandung yang bikin capek parah. Mungkin kalau perginya serombongan, akan lebih nyaman dan murah dengan mobil karena bensin dan tol bisa ditanggung patungan. Tapi kalau hanya berdua atau kurang dari 4 orang, mending naik KA deh. Gak capek, tinggal duduk dan bisa tidur, serta jauh lebih murah.

Tiket Jakarta-Bandung  Rp. 90,000 X 2 perjalanan PP = Rp. 180,000 per orang. 2 orang menjadi Rp. 320,000. Murah banget!

*Hack: psst, beli tiket KA biasanya lebih murah di app KAI langsung lho. Ada diskon 10-20 ribu dibandingkan beli lewat app pemesanaan lain

Sebelumnya FYI, saya di Bandung kesana kemari menggunakan Go-Car. Dalam posting ini, saya exclude pengeluaran untuk oleh-oleh ya, karena preferensi belanja oleh-oleh tiap orang berbeda 🙂

Top up GoCar Rp 200,000 (cukup dan ngepas dengan itinerary saya di post ini)

Hari Pertama, 6 September 2018

Rasanya udah lamaaa banget saya gak naik kereta api ke Bandung. Terakhir, waktu saya umur 13 tahun bareng kedua orang tua, kami sering banget bolak balik liburan ke kota kembang ini. Jadi menyusuri sepanjang perjalanan kereta seperti flash back kenangan masa kecil :’) Ke Bandung nya sendiri terakhir tahun 2015, menggunakan mobil travel.

Kita berangkat jam 08.45 dari Stasiun Gambir dan tiba di Stasiun Bandung jam 12.01. Begitu sampai, cus kita langsung ke hotel Sentra Inn di kawasan Burangrang.Saya tahu hotel ini dari Traveloka, dan karena memang tujuan jalan-jalan saya gak jauh dari Bandung kota, hotel ini pun menjadi pilihan. Saya sih orang yang gak terlalu rewel urusan hotel. Asalkan hotelnya nyaman, bersih, tersedia handuk dan perlengkapan mandi, dengan kasur cukup empuk, saya akan rating oke. Nah hotel ini termasuk hotel yang saya rekomendasikan jika anda ingin mencari penginapan nyaman dan on budget .

Rate menginap di Sentra Inn satu malam = Rp 284,000

Karena sudah kelaparan, kami pun lanjut ke tujuan pertama kami ke Bandung…Cafe Chingu!

Itinerary 1: Chingu Cafe

Chingu Cafe adalah kafe korea kekinian yang menyediakan berbagai makanan Korea (yang dimodifikasi tentunya) dengan suasana restoran seperti Korea street. Interior Chingu Cafe unik dan colorful banget. Kalau lihat dari foto-foto di Instagram, gak nyangka space restorannya sebenarnya gak luas dan terletak di ruko gitu. Cafe ini sebenarnya memiliki 2 cabang, tapi kami memutuskan pergi ke lokasi yang terdekat dengan hotel kami yaitu Chingu Cafe Buah Batu. Di sini pengunjung juga bisa mencoba hanbook (baju tradisional Korea). Untuk harga, gak terlalu pricey, so so lah dengan kafe di Jakarta. Untuk mengenakan hanbook, dikenai biaya Rp. 30,000 per 15 menit . Lumayan mahal yah.

Di setiap meja disediakan kompor kecil untuk memasak beberapa jenis makanan, seperti contohnya saya dan Mama memesan Premium Mozarella Wings yang terdiri dari chicken wings , french fries, tteopokki (gak tahu apaan, googling aja hahaha) dan tentunya keju mozarella. Keju Mozarella yang disajikan masih dalam bentuk potongan dadu, dan agar nikmat dimakan perlu dipanaskan hingga melted bersamaan dengan daging. Hmm yummy, karena dasaarnya saya suka keju, saya merasa sajian ini enak! Oya, kami juga memesan gimbap (sushi-nya Korea).

Premium Mozarella. Luuuvvv.

 

Total makan siang + sewa baju di Chingu Cafe sekitar Rp 160,000

Itinerary 2: Jalan Asia Afrika dan Braga

Kelar makan siang di Chingu, kami pergi menuju tujuan kedua yaitu Masjid Raya Bandung atau lebih dikenal juga Alun-alun Kota Bandung. Alun-alun terletak di Jalan Asia Afrika, yang merupakan pusat kota Bandung. Surprised, alun-alun Kota Bandung sekarang menjadi begitu kreatif. Di sepanjang trotoar banyak cosplay kreatif yang bisa diminta berfoto dengan pejalan kaki, dengan bayaran tentunya. Ada Naruto, Robot, Kuntilanak, sampai Suster Ngesot. Sebelum sampai ke Masjid Raya, tentunya saya menyempatkan diri berfoto di terowongan yang hits banget di Instagram. Hehehe.

Sayangnya, begitu sampai area masjid, lapangan masjid yang terhampar rumput sintetis sedang direnovasi. Yaaah kuciwa….padahal itu spot foto yang menarik banget dan bisa untuk santai sore. Akhirnya, kami pun memutuskan berjalan kaki lewat Braga ke tujuan berikutnya, yaitu Balai Kota Bandung.

Iya, jalan kaki! Dan ternyata setelah dilakoni…jauh jugaaak :’) Tapi gak papa lah, itung-itung bakar kalori abis makan banyak lemak di Chingu. Plus nya, bisa santai menikmati kawasan Braga yang dipenuhi berbagai restoran dan pertokoan dengan nuansa Tempo Doeloe.

Itinerary 3: Balai Kota Bandung

Bisa kepikiran ke sini karena tertarik dengan taman labirin yang diposting Mantan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil di akun Instagramnya. Tempatnya adem pisaaan euy. Labirinnya gak luas sih, cuma mengelilingi pohon besar di tengah, tapi lumayan lah buat spot foto kece. By the way, saya membayangkan enak ya bisa tinggal di kota yang memiliki banyak taman seperti di Bandung ini. Gak perlu bingung kemana kalau ingin cari udara segar atau ‘yang hijau-hijau’ dan bisa juga untuk area bermain anak. Bisa juga jadi ajang mejeng cantik cari jodoh hahaha. Gratis pulak! Kali lain saya ke Bandung, saya ingin menjajal semua taman di kota Bandung hehehe.

Gak sampai 1 jam menghabiskan waktu di Balai Kota, kami pun siap-siap lagi ke destinasi terakhir di hari itu: China Town Bandung.

Itinerary 4: China Town Bandung

Lagi-lagi tahu tempat ini dari posting Pak Ridwan Kamil di IG hahaha. Tempat ini sebenarnya semacam food court yang memiliki spot foto hampir di setiap sisinya. Sesuai namanya, tentu saja desainnya oriental banget ya. Pas kami kesini, entah kenapa tempat ini kok sepi banget. Mungkin karena Kamis malam ya. Niat hati ingin cari makan di dalam, tapi kok ya ga ada yang sreg…akhirnya kami menghabiskan waktu di sana dengan foto-foto dan santai sambil makan es krim Terminale Gelato. Es krimnya enyaaakkk!

Spot foto di China Town ini lucuk-lucuuuk banget. Dari mulai dinding bergambar tukang cukur, lengkap dengan tempat duduk yang bisa kita duduki seolah-olah kita sedang pangkas rambut…sampai dinding bergambar Nyonya pemilik rusun di Kungfu Hustle yang doyan marah-marah. Selain yang bernuansa oriental, ada juga spot-spot foto yang kekinian seperti ruang cermin berwarna-warni. Karena kami sampai disana menjelang magrib, suasana langitnya terlihat match dengan lampion merah yang bergantung dengan cantik.

Fasilitas di China Town cukup lengkap, ada area bermain anak dan juga musholla yang memadai dan terawat. Khusus untuk toilet, ada yang lucu nih…Mama saya takut masuk toilet wanita karena bau hio (dupa) yang menjadi pewangi toilet (?). Kata Mama serasa lagi di kelenteng. Hahaha.

Tiket masuk China Town Bandung= Rp 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000

Es Krim di Terminale Gelato = 35,000 (berdua)

Sudah bosan foto-foto, santai dan es krim pun sudah habis, saya dan Mama memutuskan pulang dan beristirahat. Sebelum sampai Sentra Inn, kami mampir dulu ke Bubur Ayam Pelana yang terletak hanya beberapa meter dari hotel. Bubur ini kayaknya terkenal deh, karena banyak orang makan di sini, gak kalah ramenya dengan Ramen Bajuri yang ada di seberangnya.

Bubur Ayam Pelanan ini syedaap dan harganya tergolong murah. Porsinya super banyak, dan yang paling cihuy bagi saya adalah: bisa ambil bawang goreng dan kerupuk sendiri. Huaaa saya ngefans banget sama bawang goreng! :luvluvluv Makin sukak karena gratis teh tawar hangat.

Dinner di Bubur Ayam Pelana = Rp 15,000 x 2 porsi = Rp 30,000

Setelah makan, kami pun kembali ke hotel dan istirahat bobok.

Hari Kedua, 7 September 2018

Happy birthday to me! Hehehe

Di hari kedua itinerary agak lebih santai karena sore kami sudah harus bertolak ke Jakarta. Pagi-pagi sekitar jam 8, kami sudah rapi jali hendak berangkat ke tempat agak jauhan dikit dari pusat kota Bandung yaitu Farm House yang terletak di Lembang (belum sampai Lembang banget sih).

Itinerary 5, Farm House Lembang

Farm House ini adalah temapt wisata yang udah terkenal ya bagi orang Jakarta yang suka main ke Bandung. Saya sendiri dulu waktu jalan-jalan ke Lembang di 2015, sempat melewati Farm House. FYI, Lembang di weekend itu bagaikan Puncak di weekend. Muaceeet. Makanya di Jumat ceria, kami sengaja berangkat agak pagi sekitar jam 7 dari Sentra Inn dengan menggunakan Go-Car. Sebelum berangkat, saya dan Mama sarapan dulu di tempat nasi uduk pinggir jalan tak jauh dari  Sentra Inn.

Sarapan nasi uduk 2 porsi dengan gorengan dan teh manis= sekitar Rp 15,000

Karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota, tarif Go Car ke Farm House sekitar 50ribuan, masih worth it lah ya. Hanya 1 jam perjalanan, sampai lah kami di Farm House. Yeaay!

Dari luar saja, Farm House ini sudah terlihat cantik dan teduh. Sinar matahari yang hangat menambah cantik tempat ini. Desainnya sebagian besar ter-influence  oleh bangunan Eropa terutama Belanda. Ohya, di sini juga bisa sewa baju khas Belanda ( 60ribuan kalau nggak salah) tapi kami kurang tertarik.

Tiket masuk Farm House: Rp. 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000 (gratis welcome drink susu sapi segar)

Baru tahu Farm House secantik ini, saya jadi mikir-mikir lagi untuk rencana jalan-jalan ke Colmar Tropicale, tempat wisata dengan konsep serupa di Malaysia. Di Bandung aja udah berasa kok Eropa nya. Hahaha.

Sama seperti tempat wisata lainnya, ada beberapa toko di dalam area Farm House untuk membeli oleh-oleh. Untuk souvenir dan pakaian harganya tergolong mahal, tapi untuk makanan masih reasonable lah harganya, contohnya saya membeli beberapa kantong permen susu produksi Farm House.

Bisa kasih makan kelinci juga lho..dan ada domba yang unyu unyuuukk banget kayak di Shaun The Sheep. Hihihi

Puas keliling-keliling Farm House selama sekitar 2 jam an, kami pun pulang ke hotel dulu. Di hotel Mama dan saya packing untuk pulang, tiduran bentar dan siap-siap untuk makan siang.

Makan siang kali ini kami mencoba Mie Merapi yang lumayan terkenal dan murah di daerah Buah Batu, gak jauh dari Chingu Cafe. Kenapa Buah Batu lagi? Karena lagi-lagi dekat dan terdapat gerai Kartika Sari yang cukup besar. Yup, waktunya belanja oleh oleh!

Review untuk Mie Merapi…lumayaaan. Meski menurut saya gak terlalu istimewa sih. Tapi cukup okelah yaa. Menu andalan di sini tentunya mie-mie nya ya.

Makan siang di Mie Merapi = sekitar 50,000

Kelar makan, saya dan Mama belanja oleh-oleh di Kartika Sari. Seperti yang saya bilang di awal, belanja oleh-oleh nggak saya masukkan di sini ya. Nah kelar belanja, masih tersisa waktu sekitar 3 jam sampai keberangkatan kami naik kereta jam 16.10. Karena gak tahu lagi mau kemana, saya dan Mama pun iseng mengunjungi Masjid Trans Studio Bandung. Cuma numpang shalat Zuhur dan foto-foto depan Trans Studio sih. Aaah, saya jadi agak menyesal kenapa gak ke Gedung Sate ajaa.
foto

Sekitar jam 2 siang lewat, kami pun cabut dari Masjid Trans Studio dan tiba di stasiun sekitar setengah jam lebih awal. Yeaaahhh berakhir sudah short trip+kulineran ke Bandung. Seneng? Pasti dooongg, walau cuma sebentar, lumayan bisa refresh otak. Dan saya masih pingin ke Bandung lagi untuk jalan-jalan santai seperti ini. Hahaha.

Total pengeluaran short trip + kulineran Bandung Kota 2D1N untuk 2 orang = Rp.1,194,000

See you on the next trip yah! 😀

Pengalaman Tes IELTS di IALF Jakarta (Juli 2018)

Pada tanggal 28 Juli 2018 lalu saya mengikuti tes IELTS di IALF (Indonesia Australia Language Foundation) . Mengapa ambil tes IELTS? Ini terkait dengan rencana S2 yang pernah saya ceritakan. Saya sendiri belum pernah mengambil tes IELTS so, cukup excited sih dengan pengalaman pertama ini. Sebagai penyemangat, saya set target ban atau score IELTS overall 7 (pede bangeeet hehehe).

Cara mendaftar tes IELTS cukup mudah. Bisa dilakukan secara online melalui website IALF disini . Pilih tanggal dan tempat test yang kamu inginkan. Saya memilih test di lokasi IALF langsung di Menara Selatan Plaza Kuningan karena menurut saya biasanya pusat kan dimana-mana fasilitasnya lebih lengkap ya. Ohya, sebenarnya lembaga di Indonesia yang menyelenggarakan IELTS gak Cuma IALF, tapi ada British Council dan IDP juga. Lantas, kenapa saya memilih IALF? Cuma berdasarkan slight blogwalking aja sih dari pengalaman orang-orang yang sudah pernah test di sana dan rata-rata reviewnya oke. Harganya juga lebih murah Rp 50,000 (mayan lho buat ongkos hahah) dibandingkan yang lain.

Saya mendaftar IELTS jauh-jauh hari, karena menurut saran yang dari blog-blog lain bahwa kuota IELTS terkadang bisa cepat penuh di tanggal yang kita mau. Jadi, sekitar sebulan sebelumnya saya mendaftar via online, transfer biaya tes, dan gak lama dikirim email receipt pembayaran. Nomor test akan diberikan on the spot di lokasi tes.

Berapa biayanya?

Hiks…lumayan Kak….Rp 2,850,000 sekali tes. Makanya, harus benar-benar dipersiapkan tuh agar mendapatkan hasil maksimal L 😦 *Eh, kok emote sedih? Baca sampai habis yah..

Persiapan IELTS

Berbekal pede dan niat mau ngirit, saya pun belajar IELTS otodidak mengandalkan soal dari internet, youtube dan app dari Playstore. Persiapan saya lakukan sekitar 1,5 bulan sebelum tes. Tenang, banyak banget kok bahan belajar tersebar. Beberapa sumber yang saya rekomendasikan untuk belajar:

  • IELTS Liz
  • Cambridge Guide to IELTS. Untuk yang ini saya download e-book dari internet. Bagi yang ingin e-book nya juga, bisa email saya di sarah(dot)annisa7(at)gmail(dot)com ya.
  • App yang ada di PlayStore yang saya rekomendasikan: IELTS Prep App (ini dari British Council), IELTS Full-Band 7.5+ (halu banget ban segitu, tapi bagus hahaha), Daily IELTS Listening.
  • Youtube. Search aja IELTS listening. Banyak kook sudah lengkap dengan soal dan jawaban.

Gak hanya itu, saya juga belajar dari buku….(yang murah aja ya Ceu, kalau beli sekelas Barons series mah saya sayang hehehe) . Buku ini kebanyakan readingnya. Cukup sering saya gunakan karena pada dasarnya saya lebih nyaman belajar reading dengan membolak balik kertas ketimbang scroll e-book. Buku ini juga provide CD dan lumayan banyak materi Listening nya Nih saya gunakan sampai rusak begini. Hahaha

Sedangkan untuk latihan speaking saya menggunakan aplikasi Open Talk, app ini adalah wadah untuk berbicara dengan orang-orang di seluruh dunia. Kita bisa pilih nih tujuan kita berbicara apa. Tentunya saya memilih untuk meningkatkan kemampuan speaking. App ini bagus untuk melatih kita-kita yang dalam keseharian jarang berinteraksi dengan native speaker. Kalau dengan sesama orang Indonesia kan kita masih agak ‘manja’ yah pas stuck dengan satu kata eh switch ke bahasa. Tapi tetap hati-hati yah, jangan sampai kemakan modus nih karena kadang ada orang (terutama dari India banyak yang agresif gitu) minta kontak WA atau Instagram. Please don’t give any personal contact. Speak randomly aja dengan orang berbeda. Dan gak perlu jujur amat ngobrolnya karena takutnya informasi pribadi kayak kerja dimana, tinggal dimana dilacak oleh orang yang gak bertanggung jawab.

Apa yang paling susah dari belajar IELTS? Konsisten waktu belajar!

Sebagai office worker yang biasa pergi dari rumah jam setengah 8 pagi dan sampai kembali rumah sekitar jam 8 malam, mengatur waktu untuk belajar sungguh tidak mudah. Jadi, saya sering bangun pukul 2 atau 3 pagi untuk belajar dulu dan gak bobok lagi sampai berangkat kerja. Terkadang di kantor di sela-sela waktu luang saya sempatkan intip-intip bahan belajar di laptop dan mengerjakan satu dua soal.

Capek? Kurang tidur? Pastinya.

Namun terkadang, sebagai manusia biasa saya pun tergoda untuk ‘bolos’ belajar dan main gadget atau melanjutkan bobok lagi hehehe. Ada juga masa-masa dimana saya ngerasa jenuuuh banget belajar. Semua itu terus saya lalui sampai tibalah di hari H tes. Jujur saja, h-seminggu tes saya malah terserang rasa malas yang sangat untuk belajar. Dan ini yang saya masih sesali sampai sekarang karena berdampak pada hasil tes saya. Hiksss

The Day!

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Menjelang hari tes saya malah kurang tidur karena beberapa kali terbangun takut telat. Well, dalam email peserta diharapkan sudah sampai jam setengah 8 pagi di lokasi. Kenyataannya, tes baru dimulai sekitar jam 09.15. Huaaa…..padahal saya sudah berangkat dari rumah jam 5 pagi lho.

Tapi ya sudahlah, namanya juga perjuangan. Tepat pukul 07.30, semua peserta tes yang sudah menunggu di koridor diminta berbaris dan masuk kantor IALF. Jadi kantor IALF ini terdiri dari satu lantai dimana di dalamnya banyak ruang kelas gitu. FYI, IALF memang menyelenggarakan kursus Bahasa Inggris dan ada juga kelas khusus IELTS Preparation yang konon katanya bagus (pakai native speaker) dengan harga yang bagus pulak. Hehehe.

Saya lupa urutannya, yang jelas ada 4 tahap sebelum masuk ke auditorium yaitu pengecekan ID (saya pakai passport dan ID ini harus benar-benar sama dengan yang kita upload saat mendaftar online), foto, pengambilan sidik jari, dan pengambilan test number. Semua barang bawaan dititipkan kecuali air minum (harus dalam wadah transparan, jika air mineral maka label kemasan harus dicopot) dan ID kita. Handphone harus dalam keadaan off dimasukkan ke tas dan jam tangan juga dicopot. Selama pengerjaan esai ada time keeper yang terus menginfokan waktu pengerjaan.

Kira-kira ada jeda 1 jam menunggu sampai auditorium dibuka yang saya manfaatkan untuk tidur. Ternyata, saat menunggu itu masih ada beberapa orang yang baru datang. Yaaah, kirain sih benar-benar di-close pada pukul 7.30 tadi. Kira-kira 20 menit sebelum tes mulai, kami dipanggil satu persatu memasuki ruang tes. Nggak perlu membawa alat tulis karena sudah disediakan di meja.

Jeng jeng jeng…

Seperti yang sudah diketahui, tes IELTS dimulai dari Listening, Reading dan Writing. Semua ini tanpa jeda 🙂 Jadi, penting banget tuh bawa air minum. Menurut cerita pengalaman di blog lain, AC auditorium dingin banget. Saya sih gak ngerasa ya..tapi kamu bisa bawa jaket untuk jaga-jaga. Berikut ini kesan yang saya rasakan ketika mengerjakan ketiga tes itu:

Listening “Ngomongnya cepet amat siiiihhhh….selow apa selooow?!” Asli ada beberapa soal yang saya keteteran nih disini.

Reading B aja *sombong* Oya, dalam listening dan reading ini kudu hati-hati ya. Ikutin aja plek-plek arahan dari pengawas. Ketika disuruh berhenti nulis yaudah berhenti dan jangan coba-coba bolak-balikin soal lagi. Kalau melanggar, kertas ujian kita bisa langsung diambil dan dapat nilai nol. Peringatan ini sebenarnya juga di-sounding berulang-ulang selama tes. Nah pas saya test reading udah mau kelar nih, ada seorang perempuan yang duduk dekat saya masih terus menulis jawaban padahal sudah disuruh berhenti. Eh, tanpa kata-kata gitu si pengawas mengambil kertas ujiannya duluan (padahal harusnya dikumpulkan berurutan bersama yang lain) dan kelihatan ditandai gitu. Si Mbak yang diambil kertas ujiannya cuma bisa bengong.

Writing Nah ini. Rasanya tuh lancaaar banget…tapi tulisan acak-acakan…duh gimana dong by default tulisan saya memang sudah kayak ceker ayam. Apalagi kalua disuruh nulis 2 esai masing-masing 250 kata dan 150 kata dalam 1 jam. Pfff. Mungkin inilah pula yang menyebabkan nilai saya jatuh di Writing karena fyi, handwriting is also important. Kalau susah dibaca, ya susah buat dinilai.

Kelar Writing sekitar pukul setengah 1 siang, kami dipersilakan untuk melihat jadwal Speaking di sebuah papan. Duh Gusti…cobaan apa lagi ini kenapa Speaking yang hanya 15 menit ini saya kebagian jadwal pukul 18.00 T.T Acara nunggu berjam-jam itu pun saya isi bukannya dengan latihan tapi malah melipir cuci mata ke Kokas 😛

Tibalah saat saya menghadapi speaking test. Anehnya saya nggak begitu deg-degan. Memang dari awal gak deg-an juga sih, karena kita kan’ gak bersaing sama yang lain.

Speaking test lumayan lancar saya jalani. Pengujinya adalah native speaker udah bapak-bapak gitu. Hanya saja ada beberapa kata yang terus saya ulang-ulang karena keterbatasan vocab. Temanya sendiri agak absurd menurut saya, yaitu:

What do you think about noise level in city?

Which one is quieter: in city or in village?

What is your favorite quiet place?

What is the solution to reduce noisy in housing area?

Who are responsible to solve noise pollution?

Which one of the age group who prefer quiet place: young people or elderly?

Sesama peserta tes lain ada yang ditanya tentang sport, building, arts…ya pokoknya tema yang umum lah ada bocorannya di IELTS Liz. Tapi kayaknya tema yang saya alami gak pernah saya temui deh dalam bahan manapun yang saya pelajari. Hahaha. Dan tahu nggak? Ternyata saya benar-benar peserta terakhir di hari itu yang Speaking. Pas keluar, semua nya udah gak bersisa bahkan staf sudah banyak yang pulang 😦

To conclude, tes IELTS di IALF saya nilai bagus dan recommended. Stafnya juga helpful dalam membantu peserta. Hanya saja menunggu waktu speaking yang terlalu lama membuat saya kelelahan sampai harus seharian test.

Hasil Test

Hasil test baru keluar 13 hari setelah waktu test dan bisa dicek online di sini. Certificate bisa diambil langsung di IALF bagi peserta yang tinggal di Jabodetabek dan dikirim Tiki ONS bagi yang tinggal di luar Jabodetabek.

Sewaktu saya mengecek via online, terjadi problem. Entah kenapa, selalu muncul notifikasi ‘We are not able to display your results at the moment bla bla‘ . Berulang kali saya cek semua isian sudah lengkap dari mulai nama, tanggal lahir, tanggal tes dan nomor paspor. Saya juga sudah klik Paper IELTS. Akhirnya saya hubungi via telepon ke IALF dan saya diarahkan untuk mengisi kolom nama dengan nama lengkap langsung dan karena saya gak punya nama keluarga, kolom nama keluarga dikosongkan diganti ‘-‘ (strip).

  

Oalaaaaahhhh…

Dan keluarlah hasil test saya….*drumroll*

Huaaaaa!!!!! DAKU KUCIWA!

Nilai Writing ini sih yang mengecewakan banget. Padahal pas ngerjain udah yakin banget. Bikin jatuh overall ban. Seandainya 6 saja, pasti ban saya sudah mencapai 6.5. Agak nyesek juga, karena beasiswa yang sedang saya kejar saat ini mensyaratkan overall 6.5 meskipun nilai di masing-masing test minimum 5.5 . Huhuhu….ambil test lagi dong? Iya, ambil lagi deh ini… *lemes*

Dibilang nyesek di kantong iya…agak males juga mengulang fase belajar lagi. Sedih.

Tapi ya sudah. Saya harus semangat. Demi meraih cita-cita. Next time harus lebih baik. Optimis. Doakan yaaaa :’)

La Tansa Project: Sebuah Catatan Kecil

Halo, Assalamualaikum! 🙂

Sebenarnya udah lamaaaaa banget pingin saya tulis tentang ini. Tapi, selalu terhalang karena…ya, karena hal inilah yang bikin saya selalu sibuk. Hal ini apa sih? Ini adalah tentang La Tansa Project 🙂

Barangkali sebagian pembaca (yang berteman juga dengan saya di Instagram) ada yang sudah tahu bahwa saya memiliki usaha bernama La Tansa Project, vendor yang melayani jasa dan sewa dekorasi backdrop untuk hajatan skala kecil seperti acara lamaran, akad nikah sederhana, aqiqah, ulang tahun, khitan, dll. Seperti apa bentuk produknya? Bisa dilihat di gambar-gambar di bawah ini ya, atau klik Instagram @latansa_project

Usaha ini dijalankan sendiri oleh saya sebagai owner, yang punya ide desain, mengatur keuangan, promosi, melayani chat dari client, sampai eksekutor alias kuli dekor. Khusus ketika mendekor, saya dibantu oleh satu orang driver. Yes, its just a small business as my side job in weekend 🙂

Dalam post kali ini, saya akan sharing mengenai La Tansa Project sekaligus tips bagi teman-teman yang ingin mendirikan usaha sendiri.

Awal Berdiri

Back to Umroh 2017, saya ingat saya berdoa juga begini: berikanlah saya jalan untuk membuka usaha yang menguntungkan hingga jutaan rupiah. Hehehe. Yah namanya udah sampai depan Ka’bah, doa mah jangan tanggung tanggung dong. Kasarnya, minta aja semua sampai terkesan kemaruk dan gak tahu diri hahaha. Kan’ mintanya sama Yang Maha Kaya 🙂 #Tips1: Sebelum memulai berdoa dulu, minta petunjuk

Tidak lama, di bulan Ramadhan di tahun yang sama, saya terpikir ide untuk membuka usaha ini. Dari mana bisa terpikir dekorasi backdrop, mungkin tidak perlu saya ceritakan ya. Yang jelas, setiap kondangan saya memang paling suka memperhatikan dekorasinya, termasuk juga interior suatu ruangan. Selain itu, saya memang termasuk suka bereksperimen membuat benda-benda DIY gitu. So, bisnis ini adalah seperti mengerjakan hobi yang dibayar 😀 #Tips2: Pilih jenis usaha yang kita memang sukai dan bisa enjoy mengerjakannya

Sebelum mempersiapkan, saya melakukan riset pasar kecil-kecilan berapa range harga sewa backdrop di pasaran. Ternyata, saat itu harga sewa backdrop rata-rata 1 juta ke atas. Menurut saya, harga tersebut cukup mahal untuk masyarakat menengah ke bawah. Sedangkan pengguna Instagram yang ingin eksis kan gak cuma orang menegah ke atas toh? Hehehe. Mungkin karena saya dulu bekerja sebagai sales analyst, hahaha…saya mencium adanya demand yang menjanjikan di bidang ini. Disitulah saya membidik peluang 🙂 Saran dari saya, jika usaha baru berdiri sebaiknya kejar dulu volume order, jangan dulu kejar besarnya margin atau keuntungan dari tiap order. Jika market udah terbentuk, lama kelamaan margin juga akan semakin besar kook. #Tips3: tentukan produk dan segmentasi pasar. Jangan pernah buka usaha tanpa strategi.

Dengan modal awal 5 juta rupiah, saya pun memesan bahan-bahan yang dibutuhkan (dari mulai backdrop palet kayu sampai printilan daun plastik, paper flower, artificial flower, dsb). Ohya, saya juga membuat konsep usaha, browsing sana sini ide desain (mostly dari Instagram dan Pinterest) dan membuat pricelist. Kebetulan saat itu libur lebaran dan saya ambil cuti tambahan untuk belajar mendekor secara otodidak. Hasilnya kemudian saya posting di akun instagram baru yang saya buat, @latansa_project . Awalnya desain yang sangat sederhana seperti di bawah ini 😀 #Tips4: Segera action, jangan kelamaan ditunda dan banyak excuse 🙂

30 Juni 2017 adalah event pertama La Tansa Project yaitu mendekorasi backdrop untuk acara pengajian dan siraman di Hotel Grantage, BSD. Huaaa, deg degan rasanya. Saya mendekor bersama Mama pada H-1 acara, dan itu adalah pertama kalinya saya bawa mobil masuk tol tanpa dibimbing hahaha. Setelah dekorasi siap pun saya masih kepikiran karena backdrop ditempatkan di lantai atas hotel yang berbentuk sky lounge yang beratap…dan malam itu juga hujan deras turun X.X. Semalaman saya berdoa agar backdrop nggak kenapa-kenapa, takut mengecewakan client.

Event pertama, 30 Juni 2017

Suka Duka

Mungkin saja jasa atau produk kita kurang maksimal, tapi jangan sampai bikin kecewa. Kalaupun terlanjur mengecewakan berusahalah untuk memperbaiki dengan pemberian kompensasi seperti next order dikasih diskon, pengembalian uang sebagian, dll. Percaya deh, excellent service itu akan membekas bagi pelanggan dan bahkan dipromosikan dari mulut ke mulut. Saya sering mendapat repeat order seperti waktu lamaran pakai La Tansa, kemudian pas resepsi pakai La Tansa lagi untuk photobooth. Dan banyak juga client yang menggunakan La Tansa karena rekomendasi teman atau saudara yang pernah pakai. #Tips4 ini klise, but it works..semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk pelanggan

Namun, meskipun kita ingin memberikan yang terbaik, jangan juga memaksakan diri melebihi kemampuan kita. Sekalipun client merayu minta upgrade atau diskon ini itu. Please dont. Penyakitnya orang sales, terkadang suka overpromise, alias menjanjikan banyak. Akibatnya, client jadi set high expectation, makin runyam kalau si client adalah tipe perfeksionis…ketika kita nggak mampu memenuhi satu hal kecil dari yang kita janjikan, langsung jadi bahan omelan. Hehehe. #Tips5 hindari overpromise, boleh tonjolkan kelebihan produk tapi jangan terlalu berlebihan dan nggak sesuai kenyataan

Alhamdulillah, setelah event pertama La Tansa Project banjir order. Dari yang tadinya saya nyetir sendiri, mau nggak mau hire driver untuk bantuin. Dari yang semula melayani 1 hari 1 acara jadi sampai 1 hari 2-3 acara dan Sabtu Minggu setiap weekend selalu FULL BOOKED, bahkan sampai beberapa bulan setelahnya. Dari followers Instagram hanya puluhan, ratusan hingga sekarang sudah 1800an dan kini sudah melayani lebih dari 190 event. Nggak nyangka, dalam waktu hanya beberapa bulan saja, La Tansa jadi vendor incaran para capeng yang sedang mempersiapkan lamaran atau client dengan keperluan lainnya. Hehehe.#Tips6 Selalu ukur milestone (capaian) kita udah sampai mana

Saya bersyukur banget, Allah selalu memberikan kelimpahan rezeki yang tak diduga duga. Saya nggak bisa menyebutkan secara rinci omzet dari La Tansa Project, tetapi saya bisa cerita bahwa usaha ini impactful membantu saya mewujudkan beberapa target seperti renovasi rumah orang tua jadi 2 lantai, melunasi cicilan mobil Toyota Agya saat itu dan ganti mobil jadi Nissan Evalia bekas (supaya muat banyak barang dekor), plus masih tersisa tabungan untuk menikah someday. Hal-hal yang mungkin tidak akan cukup jika hanya mengandalkan gaji karyawan swasta. Semoga ini tidak dipandang sebagai riya ya, karena ketika kita sharing tentang entrepreneurship, tentu pembaca ingin tahu seperti apa capaian dan real result dari usaha tsb bagi si wirausahawan kan? 🙂 #Tips7 La Tansa = Jangan Lupa. Jangan lupa bersyukur, jangan lupa sedekah! 🙂

 

Tetapi, dalam menjalankan usaha tentu tidak terlepas dari duka. Bohong banget kalau ada orang yang mengatakan bisnis bisa mulus-mulus saja. Pernah ngerasain hampir gagal dekor karena telat. Sebetulnya tidak telat, tapi ada bahan yang tertinggal dan itulah yang makan waktu sehingga akhirnya backdrop siap betul-betul mepet acara. Pernah ngalamin backdrop rubuh kena angin, client marah-marah, dikhianati partner usaha, diomelin keluarga client, driver tiba-tiba resign, foto dicuri akun vendor lain, terpaksa nginep di tol semalaman demi agar tidak telat, harus rela beberapa kali pulang pagi, kurangnya waktu istirahat karena weekend dipakai kerja juga, sampai kejadian pribadi yang sempat bikin benar-benar sedih dan suffering dalam mendekor, daaaaaan masih banyak lika-liku yang menempa saya jadi struggle #Tips8 Jalankan usaha dengan tabah. Karena nggak ada usaha yang cuma enak-enaknya aja. Be strong, be struggle, be survive!

 

 

Di bulan Desember 2017, setelah saya melihat dalam dua bulan sebelumnya keuntungan bersih dari La Tansa sudah melebihi gaji saya di kantor, saya memutuskan resign. Sebenarnya keputusan resign itu tidak semata-mata saya ingin jadi full entrepreneur, tapi karena ada plan besar lain. Sayangnya, that plan didn’t work out, dan saya terlalu desperate untuk hanya sibuk menjalankan La Tansa. Yang jelas bukan masalah ekonomi yang membuat saya kembali bekerja pada Februari 2018. #Tips9 Jika mau resign, lakukan hal tsb ketika hasil dari usaha kita sudah setara atau melebihi salary kita.

Oya, ketika tidak bekerja kantoran, saya tetap sibuk di rumah. Jadi, jangan kira jika kita keluar dari perusahaan dan memutuskan wirausaha kemudian kita bisa ongkang ongkang kaki. Justru yang terjadi adalah sebagian besar waktu kita untuk fokus mengembangkan usaha. Jika di kantor kita diperintah bos, ketika wirausaha pun secara nggak langsung kita ‘diperintah’ pelanggan. Jadi jelas salah, kalau motivasi menjadi entrepreneur cuma supaya bisa hidup ‘suka-suka gue’. #Tips10 Wirausaha bukan artinya kerja santai dan gak ada beban.

April 2018, La Tansa Project berinovasi dengan design yang lebih premium dari sebelumnya. Follower instagram La Tansa dari awal tentu bisa melihat perbedaan tsb, Tentunya, ini berefek pada kenaikan harga. Namun, meski harga naik, harus dibarengi juga dengan peningkatan kualitas 🙂 Harapan saya, dengan harga naik, volume order bisa dikurangi (capek juga yaah Ceu) tetapi tetap menghasilkan keuntungan yang sama. Less effort, earn more. #Tips11 Teruslah berinovasi dan upgrade

Nah, begitulah perjalanan La Tansa Project sejauh ini. Bagaimana ke depannya , saya sendiri tidak terlalu ambisius dan lebih go with the flow. Bukan berarti nggak punya visi, tapi masih ada target-target lain yang juga sedang saya kejar selain mengembangkan La Tansa. Bagi teman-teman yang mau membuka usaha, saya cuma bisa bilang: semangat, jangan menyerah. Sebelum La Tansa, saya sempat beberapa kali bisnis dan semuanya rugi kok. Anggap saja kegagalan adalah ongkos belajar kita 😀

Satu lagi,saya berterima kasih sebesar besarnya banyak pada semua client dan followers La Tansa Project. Tanpa kalian, La Tansa hanyalah remah rengginang disiram kuah soto.Hahaha.

Sekali lagi, semangat!

Rumah Idaman

Alhamdulillah, akhirnya proyek renovasi rumah orang tua saya akan segera rampung. Ya, selama kurang lebih 2 bulan terakhir, rumah kami ditingkat menjadi 2 lantai. Secara historis, saya belum pernah merasakan tinggal di rumah tingkat sebelumnya. Jadi, hal ini merupakan sesuatu yang baru untuk saya.

Mengapa merenovasi rumah? Alasan pertama dan terutama, karena di bulan Februari akhir lalu, saya baru saja tukar tambah mobil menjadi Nissan Evalia dari sebelumnya Toyota Agya. Dengan body mobil yang jauh lebih besar membuat garasi rumah kami tak lagi muat sehingga terpaksa parkir mobil di jalan depan rumah tetangga (yang sudah sepas-pasnya). FYI, rumah saya adalah rumah kavling bersama 4 rumah lainnya dengan jalan mobil yang ngepas. Kami nggak mau terus terusan parkir di jalan tetangga meskipun mereka semua pada dasarnya ya boleh boleh saja.

Rencana awalnya, hanya memindahkan kamar saya ke atas. Namun di tengah perjalanan, ikut memindahkan kamar Mama ke atas sehingga ruang tamu menjadi lebih besar. Perubahan rencana ini karena saya berpikir ke depannya keluarga ini akan bertumbuh setelah saya berkeluarga. Akan ada suami dan anak anak yang ikut meramaikan rumah ini. Jika pun saya harus tinggal terpisah setelah berkeluarga, setidaknya keluarga kecil saya akan merasa nyaman mendatangi rumah orang tua saya di akhir pekan 🙂

Kata orang, merenovasi rumah bisa jadi lebih mahal daripada membangun rumah dari awal. Kata orang juga, meningkat rumah bisa menghabiskan biaya seperti membangun rumah. Tapi daripada dengar sana sini “katanya”, yasudah niatkan saja, bismillah, dimulailah renovasi rumah sejak awal Maret.

Dalam pengerjaan renovasi ini, saya berperan sebagai funding, sedangkan Mama sebagai eksekutor alias mandor. Hehehe. Saya serahkan sepenuhnya pengerjaan pada Mama. Hanya beberapa hal terkait desain Mama komunikasikan dengan saya. Alhamdulillah, saat ini pengerjaan sudah 90% menuju selesai.

Bisa dibilang, pengorbanan untuk renovasi ini secara materi cukup besar. Tabungan saya terkuras habis, gaji setiap bulan pun sebagian besar kesana. Bahkan untuk mengencangkan ikat pinggang, saya terpaksa berubah jadi #bekalsquad di kantor. Hahaha. Syukur, saya dan Mama terlepas dari godaan untuk meminjam uang pada bank (serius, godaan ini besar sekali).

Rumah saya sekarang. Finishing luar insya Allah dilanjutkan setelah lebaran.

Hikmahnya, saya jadi lebih memahami makna pengorbanan untuk mendapatkan rumah idaman. Dan bagi setiap orang berbeda beda tingkat kesulitan dan jalan yang ditempuh. Ada sebagian orang yang bekerja keras dari pagi sampai malam untuk melunasi cicilan rumah. Ada pula yang memiliki rumah begitu mudahnya bahkan bisa memiliki beberapa sekaligus. Ada juga yang tak punya cukup uang sehingga terpaksa tinggal di bantaran sungai atau di pemukiman kumuh. Nah, itu hanya pengorbanan untuk mendapatkan sebuah rumah di dunia…gimana mendapatkan sebuah rumah di surga? 🙂

“Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”.(QS. At Tahrim:11, doa Asiyah istri Firaun)

Rumah di surga adalah hal yang diidamkan Asiyah istri Firaun. Sebagai istri dari seorang raja yang sudah tentu tinggal di istana mewah, Asiyah masih menginginkan sebuah rumah lagi…tak tanggung-tanggung…di surga! Apakah Asiyah kurang bersyukur? Tidak. Tetapi Asiyah menurut saya adalah manusia yang benar benar memahami perbedaan ‘house’ dan ‘home’. Istana Firaun dengan segala kemewahannya adalah ‘house’. Namun definisi ‘home’ juga bukanlah ‘rumah yang hangat dengan suami yang penuh kasih sayang dan anak anak yang lucu lalu mereka bercengkrama bersama ditemani teh manis dan biskuit’. Standar ‘home’ bagi Asiyah jauuuh melampaui itu semua. ‘Home’ yang hakiki, yang kekal, dimana kebahagiaan akhirnya menjadi tiada akhir. Sebuah rumah di surga.

Jadi, bagaimana dengan rumah idamanmu?

Vaksin Meningitis dan Manasik Umroh :)

Tanggal 24 Desember 2016 lalu (latepost, baru sempat posting sekarang nih), aku dan Mama melakukan suntik vaksin meningitis dan influenza untuk umroh di Klinik Sehat Cantik, Cibinong, tidak jauh dari kantor pusat biro travel yang kami gunakan, Hannien Tour. Suntik vaksin ini sangat penting, karena Arab Saudi merupakan negara yang epidemi meningitis dan flu babi (mungkin karena dekat dengan Benua Afrika ya). Selain itu dengan suntik vaksin, kita akan menerima buku kuning yang menyatakan diri kita sudah memenuhi syarat kekebalan tubuh terhadap penyakit epidemi. Buku kuning inilah sebagai salah satu persyaratan penerbitan visa masuk Arab Saudi.

Suntik vaksinnya sendiri dilaksanakan bersama dengan medical check up. Nggak ribet, cuma ukur tensi darah, gula darah dan asam urat. Khusus wanita juga harus melakukan tes kehamilan dengan test pack. Asli ini baru sekali seumur hidup pakai test pack. Hahaha. Cuma bagian dari prosedur aja sih untuk memastikan calon jemaah nggak sedang dalam keadaan hamil. Trus suntik deeh, lengan kiri dan kanan untuk vaksin meningitis dan influenza. Biaya seluruhnya saat ini (2016 akhir-2017 awal) sebesar Rp 750,000.

Khusus untuk wanita yang masih dalam kondisi subur, disarankan juga untuk minum pil Primolut, yaitu pil penahan menstruasi selama umroh (abis sayang banget dong 9 hari di sana trus kena siklus menstruasi yang bisa seminggu…duh jangan sampai deh). Pil ini nih yang sejak awal Januari aku minum setiap hari 2 butir sampai selesai umroh. Tenang, pil ini nggak akan mengganggu hormon kok, cuma menunda siklus menstruasi sehingga saat kita selesai umroh, lepas dari pil tsb, menstruasi kita akan lebih ‘deras’ dari biasanya. Kayak ditabung gitu deh. Pil Primolut ini dijual di apotek besar kok, harganya cukup pricey sih, Rp6,500-Rp8,000 per butirnya. Nah dikali tuh berapa hari pemakaian :’)

img_2828

Keesokan harinya, tanggal 25 Desember 2016, aku dan Mama melaksanakan manasik umroh di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Tanggal keberangkatan kami, alhamdulillah, sudah keluar yaitu insya Allah 1 Februari 2017. Wayoooo tinggal berapa hari lagi tuh? Deg-degan? Banget. Tapi tetap saja, sampai sekarang aku masih merasa serba ‘kurang’ dalam mempersiapkan diri untuk umroh. Terutama dari sisi spiritual.

Seperti manasik umroh biasa, kami dibimbing oleh travel kami dalam mengerjakan ibadah umroh. Rangkaian ibadah umroh sendiri sebenarnya mirip haji kecuali wukuf di Padang Arafah dan melempar jumrah. Banyak pengetahuan baru tentang umroh yang kudapat dari manasik ini seperti:

Darimana start tawaf mengelilingi Ka’bah? Dari hajar aswad. Jalan dari hajar aswad hingga kembali ke hajar aswad dihitung satu putaran.

Lari dari Bukit Safa dan Marwah itu sebanyak 7x hitungannya gimana ya? Ternyata Safa ke Marwah dihitung sekali, Marwah ke Safa dihitung sekali. Jadi rangkaian sa’i ini pasti akan berakhir di Bukit Marwah.

Tahalul buat cewek tuh gimana sih? Cukup memasukkan tangan ke dalam kerudung, gunting 3 helai rambut. FYI, gak boleh mentahalul orang jika diri sendiri belum tahalul. Sama seperti gak boleh mengumrohkan orang (misal mengumrohkan orang tua /saudara yang telah tiada jika diri sendiri belum selesai umroh)

Jika diurutkan, rangkaian ibadah umroh begini:

-Niat, kemudian berihram. Ini dari sejak Kota Madinah.

-Sampai di Masjidil Haram, mulai tawaf mengelilingi Ka’bah

-Selesai 7x tawaf, disunnah shalat di belakang Hijr Ismail, disunnahkan juga mencicipi air zam-zam

-Sa’i

-Ditutup dengan tahalul atau menggunting rambut.

Jadi umroh itu memang hanya sehari, sisanya adalah memperbanyak ibadah. Kalau di itinerary travelku sih (dari 2 hari perjalanan & city tour+3 hari di Madinah+4 hari di Mekkah), umroh wajib sehari, umroh sunnah sehari (nah disini bisa nih untuk mengumrohkan orang lain), sisanya (2 hari di Mekkah) bisa digunakan untuk memperbanyak ibadah sendiri di Masjidil Haram. seperti shalat wajib, sunnah, mengaji, berdoa, mencium hajar aswad, menyentuh Ka’bah, dsb. Menurut teman kerjaku yang sudah pernah umroh, waktu-waktu lengang di MAsjidil Haram itu sekitar waktu dhuha, nah disitu bisa digunakan tuh untuk mencium hajar aswad dan menyentuh Ka’bah.

Di atas itu semua, sebagai catatan untuk pribadi, jangan terlalu lebay. Lebay disini bukan saja sering selfie atau dikit-dikit ambil video, tapi jangan terlalu lebay juga berdoa menadahkan tangan di depan Ka’bah karena akan diingatkan oleh askar (polisi yang berjaga) bahwa berdoa itu kepada Allah, bukan kepada Ka’bah.

Bagiku pribadi, sekali manasik aja nggak cukup untuk benar-benar paham. Jadi perbanyaklah mencari informasi tentang ibadah umroh. Ingat, ini kata ustad pembina manasik yang sangat kena dengan hatiku: ibadah umroh bukanlah ibadah main-main. Bukan sekedar travelling dan kesempatan belanja. Ibadah umroh harus ikhlas, dari sejak sebelum berangkat, dan harus mengubah diri kita setelahnya menjadi lebih baik. Mengutip kata-kata Ustadz Bachtiar Natsir: jangan sampai ke Baitullah, tapi tak jumpa Allah. Rugiiiii 😦

Sebagai referensi bagi pembaca yang juga akan menunaikan umroh, bisa banget nih nonton kedua video di bawah ini.

Labaikallahummalabaik…labaikala syarikalaka labbaik…innal hamda, wa ni’mata laka wa mulka, la syarikalaka…

Semangat! 🙂

 

Asyiknya Nulis Resep di Cookpad

Halo, kali ini gue mau sharing dikit nih pengalaman gue nulis resep di Cookpad. Mungkin sebagian dari kalian udah sering dengar atau mengunjungi situs Cookpad ini ya. Yaiyalah, setiap kali googling suatu resep makanan, resep dari Cookpad pasti nangkring di halaman pencarian pertama.

Jadi, apa sih itu Cookpad? Simplenya adalah situs sosial media yang memberikan wadah untuk user berbagi dan membaca resep masakan secara gratis.  Kontennya dari user untuk user. Dan rameee lho disini. Banyak ‘Bun-Bun’ muda dan kreatif yang eksis disini saling share tentang masakan, chat, komentar, dll.

Sebenernya gue udah  lama tahu Cookpad, sering ngunjungin juga kalau lagi stuck nyari ide untuk eksperimen resep masakan. Tapi selama itu gue hanya jadi silent reader sampai suatu ketika pas nunggu masakan selesai dikukus, gue iseng browsing Cookpad dan…kenapa engga nulis resep gue sendiri juga disini? Bukan ngejar popularitasnya sih (banyak like, comment atau view), cuma supaya resep eksperimen masakan yang pernah gue buat gak terlupakan gitu aja alias terdokumentasi dengan baik. Zaman udah berubah yah, mencatat resep gak lagi dengan nulis di buku tulis sidu kayak nenek gue dulu (sampe  dekil banget tuh buku karena diwariskan ke Nyokap dan sodara-sodara terus gue ikutan pake dan sekarang udah entah kemana :P)

Oh ya, kelebihan lain dari Cookpad adalah interfacenya yang simple membuat kita gak bertele-tele dalam menulis resep (beda dengan ditulis di blog malah crita dan jokes kemana-mana hehe :D). Trus untuk save resep yang mau kita coba gak perlu copas atau screenshot, cukup di-cookmark aja (Plesetan Bookmark. Hehehe). Sejauh ini belum ada seminggu gue coba nulis resep di Cookpad, statistiknya lumayan lah…pamer dulu boleh ya…hihihi.

cookpad2

cookpad1

Kunjungi ya profil gue di Cookpad Sarah Annisa. Sudah ada 3 resep lhooo.

Happy Cooking 😀

23 Years, Countless Happiness

Countless happiness.

Mungkin ini frasa yang tepat untuk menggambarkan hidup gue selama 23 tahun, dari mulai 7 September 1993 sampai hari ini. Kebahagiaan yang nggak terhitung. Meski banyak juga episode nggak bahagia, tapi kayaknya masih kalah jauuuuh deh sama kebahagiaan yang udah Allah kasih sama gue, terus-menerus, unlimited.

img-20160907-wa0007

Nikmat yang terbesar bagi gue tentunya adalah iman dan Islam. Yaaah walaupun iman gue masih naik turun, kadang ngembang kayak adonan bolu, kadang layu kayak kerupuk direndam kuah sayur. ..but I’m happy to be who I am, to be a moslem.  Setelah iman dan Islam, ada nikmat rezeki. Dan ini maknanya luaaaass banget bagi gue. Beberapa rezeki yang sangat gue syukuri di antara rezeki lainnya yang Allah karuniakan untuk gue antara lain:

img20160907132115.jpg

Kado dari lunch mate gank.

1) Rezeki kesehatan. Gue itu jarang sakit anaknya. Paling parah sih sakit tipes…paling sering masuk angin (akibat lembur kerja haha). Alhamdulillah sejauh ini gue baik-baik saja. Cuma ya kemarin sempat sih gue keserang asam lambung akibat telat makan dan kebanyakan ngopi…but overall my body is totally fine, I think. Sungguh beruntung tubuh gue terlahir normal dengan semua organnya berfungsi dengan baik. Pup aja sangat teratur, sehari sekali setiap pagi. Bahkan ya, gue gak pernah tuh ngalamin mulas-mulas parah kayak cewek-cewek lain pas datang bulan. Paling-paling gue jadi senggol bacok sensi doang. Dan konon, nyokap gue bilang, kalo anak tunggal itu biasanya akan melahirkan anak banyak. Waaah aamiin banget deh kalo gitu. Gue pengen banget punya anak banyak. Hihihi.

2) Cinta yang besar dari orang tua. Terutama dari Mama, yang berjuang dengan pengorbanan sedemikian besar untuk hidup gue. Ini termasuk rezeki yang gak semua orang bisa dapatkan lho. Jadi, bersyukurlah terhadap ortu kalian yaa. Kita gak bisa memilih dari rahim siapa kita lahir,  dalam keluarga seperti apa kita dibesarkan. Tapi seandainya gue bisa milih, gue gak tahu apakah ada pilihan terbaik lainnya selain keluarga gue sekarang 🙂

img_20160907_133029.jpg

Traktiran ultah dengan lunch mate gank gue: Mbak Dian (ibu anak 1), Mbak Anggi (ibu anak 2), Mbak Ade (bentar lagi married). Gue? Tape ketan belum jadi-jadi. Hahahah

3) Rezeki dari pekerjaan. Sudah hampir 2 tahun gue bekerja. Ada suka, ada duka. Alhamdulillah, gue merasa pencapaian gue saat ini sudah sampai di titik ‘cukup puas’. Cukup puas, karena gak semua lulusan sarjana seumuran gue bisa merasakan pengalaman bekerja di perusahaan asing dengan penghasilan yang alhamdulillah-yah-sesuatu. Tapi tentunya, gue masih ingin mengembangkan diri gue lagi. Gue masih muda, dan kayaknya gue udah mulai nemuin passion kerja gue di bidang sales & marketing.  Cuma karena gue berasal bukan dari background pendidikan bidang sales & marketing research, gue pingin deh ngerasain program Management Trainee (biar bisa di-coach sekalianatau beasiswa S2 di bidang tersebut. Sayang Gan, belum ada yang lolos..hehehe.

So? Ya syukurilah sambil jalan…hehehe

Di usia 23 ini, ada 3 permohonan yang gue panjatkan ke langit. Salah satunya adalah kemudahan langkah gue dan nyokap menuju Tanah Suci dalam ibadah umroh Februari tahun depan. Sisanya? Aminkan aja deh, gak usah ditulis disini. Hahaha.

See? How blessed I am. And so do you. Jangan lupa bahagia yaaa 🙂