Short Trip + Kulineran Enak ke Bandung Kota (Itinerary & Biaya)

Assalamualaikum 🙂

Lama tidak menyapa blog ini, saya jadi ingin cerita pengalaman saya melakukan short trip ke Bandung selama 2 hari 1 malam pada 6-7 September lalu. Oya, short trip ini sekaligus birthday trip, dalam rangka ‘menyenangkan diri sendiri’ di hari ulang tahun saya yang ke-25, pada 7 September. Alhamdulillah 🙂

Nah, saya ingin cerita itinerary sekaligus budget yang dihabiskan.

Saya pergi ke Bandung hanya berdua sama Mama dengan menggunakan kereta api. Kenapa? Karena sudah pada tahu dong ya macetnya jalan Jakarta-Bandung yang bikin capek parah. Mungkin kalau perginya serombongan, akan lebih nyaman dan murah dengan mobil karena bensin dan tol bisa ditanggung patungan. Tapi kalau hanya berdua atau kurang dari 4 orang, mending naik KA deh. Gak capek, tinggal duduk dan bisa tidur, serta jauh lebih murah.

Tiket Jakarta-Bandung  Rp. 90,000 X 2 perjalanan PP = Rp. 180,000 per orang. 2 orang menjadi Rp. 320,000. Murah banget!

*Hack: psst, beli tiket KA biasanya lebih murah di app KAI langsung lho. Ada diskon 10-20 ribu dibandingkan beli lewat app pemesanaan lain

Sebelumnya FYI, saya di Bandung kesana kemari menggunakan Go-Car. Dalam posting ini, saya exclude pengeluaran untuk oleh-oleh ya, karena preferensi belanja oleh-oleh tiap orang berbeda 🙂

Top up GoCar Rp 200,000 (cukup dan ngepas dengan itinerary saya di post ini)

Hari Pertama, 6 September 2018

Rasanya udah lamaaa banget saya gak naik kereta api ke Bandung. Terakhir, waktu saya umur 13 tahun bareng kedua orang tua, kami sering banget bolak balik liburan ke kota kembang ini. Jadi menyusuri sepanjang perjalanan kereta seperti flash back kenangan masa kecil :’) Ke Bandung nya sendiri terakhir tahun 2015, menggunakan mobil travel.

Kita berangkat jam 08.45 dari Stasiun Gambir dan tiba di Stasiun Bandung jam 12.01. Begitu sampai, cus kita langsung ke hotel Sentra Inn di kawasan Burangrang.Saya tahu hotel ini dari Traveloka, dan karena memang tujuan jalan-jalan saya gak jauh dari Bandung kota, hotel ini pun menjadi pilihan. Saya sih orang yang gak terlalu rewel urusan hotel. Asalkan hotelnya nyaman, bersih, tersedia handuk dan perlengkapan mandi, dengan kasur cukup empuk, saya akan rating oke. Nah hotel ini termasuk hotel yang saya rekomendasikan jika anda ingin mencari penginapan nyaman dan on budget .

Rate menginap di Sentra Inn satu malam = Rp 284,000

Karena sudah kelaparan, kami pun lanjut ke tujuan pertama kami ke Bandung…Cafe Chingu!

Itinerary 1: Chingu Cafe

Chingu Cafe adalah kafe korea kekinian yang menyediakan berbagai makanan Korea (yang dimodifikasi tentunya) dengan suasana restoran seperti Korea street. Interior Chingu Cafe unik dan colorful banget. Kalau lihat dari foto-foto di Instagram, gak nyangka space restorannya sebenarnya gak luas dan terletak di ruko gitu. Cafe ini sebenarnya memiliki 2 cabang, tapi kami memutuskan pergi ke lokasi yang terdekat dengan hotel kami yaitu Chingu Cafe Buah Batu. Di sini pengunjung juga bisa mencoba hanbook (baju tradisional Korea). Untuk harga, gak terlalu pricey, so so lah dengan kafe di Jakarta. Untuk mengenakan hanbook, dikenai biaya Rp. 30,000 per 15 menit . Lumayan mahal yah.

Di setiap meja disediakan kompor kecil untuk memasak beberapa jenis makanan, seperti contohnya saya dan Mama memesan Premium Mozarella Wings yang terdiri dari chicken wings , french fries, tteopokki (gak tahu apaan, googling aja hahaha) dan tentunya keju mozarella. Keju Mozarella yang disajikan masih dalam bentuk potongan dadu, dan agar nikmat dimakan perlu dipanaskan hingga melted bersamaan dengan daging. Hmm yummy, karena dasaarnya saya suka keju, saya merasa sajian ini enak! Oya, kami juga memesan gimbap (sushi-nya Korea).

Premium Mozarella. Luuuvvv.

 

Total makan siang + sewa baju di Chingu Cafe sekitar Rp 160,000

Itinerary 2: Jalan Asia Afrika dan Braga

Kelar makan siang di Chingu, kami pergi menuju tujuan kedua yaitu Masjid Raya Bandung atau lebih dikenal juga Alun-alun Kota Bandung. Alun-alun terletak di Jalan Asia Afrika, yang merupakan pusat kota Bandung. Surprised, alun-alun Kota Bandung sekarang menjadi begitu kreatif. Di sepanjang trotoar banyak cosplay kreatif yang bisa diminta berfoto dengan pejalan kaki, dengan bayaran tentunya. Ada Naruto, Robot, Kuntilanak, sampai Suster Ngesot. Sebelum sampai ke Masjid Raya, tentunya saya menyempatkan diri berfoto di terowongan yang hits banget di Instagram. Hehehe.

Sayangnya, begitu sampai area masjid, lapangan masjid yang terhampar rumput sintetis sedang direnovasi. Yaaah kuciwa….padahal itu spot foto yang menarik banget dan bisa untuk santai sore. Akhirnya, kami pun memutuskan berjalan kaki lewat Braga ke tujuan berikutnya, yaitu Balai Kota Bandung.

Iya, jalan kaki! Dan ternyata setelah dilakoni…jauh jugaaak :’) Tapi gak papa lah, itung-itung bakar kalori abis makan banyak lemak di Chingu. Plus nya, bisa santai menikmati kawasan Braga yang dipenuhi berbagai restoran dan pertokoan dengan nuansa Tempo Doeloe.

Itinerary 3: Balai Kota Bandung

Bisa kepikiran ke sini karena tertarik dengan taman labirin yang diposting Mantan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil di akun Instagramnya. Tempatnya adem pisaaan euy. Labirinnya gak luas sih, cuma mengelilingi pohon besar di tengah, tapi lumayan lah buat spot foto kece. By the way, saya membayangkan enak ya bisa tinggal di kota yang memiliki banyak taman seperti di Bandung ini. Gak perlu bingung kemana kalau ingin cari udara segar atau ‘yang hijau-hijau’ dan bisa juga untuk area bermain anak. Bisa juga jadi ajang mejeng cantik cari jodoh hahaha. Gratis pulak! Kali lain saya ke Bandung, saya ingin menjajal semua taman di kota Bandung hehehe.

Gak sampai 1 jam menghabiskan waktu di Balai Kota, kami pun siap-siap lagi ke destinasi terakhir di hari itu: China Town Bandung.

Itinerary 4: China Town Bandung

Lagi-lagi tahu tempat ini dari posting Pak Ridwan Kamil di IG hahaha. Tempat ini sebenarnya semacam food court yang memiliki spot foto hampir di setiap sisinya. Sesuai namanya, tentu saja desainnya oriental banget ya. Pas kami kesini, entah kenapa tempat ini kok sepi banget. Mungkin karena Kamis malam ya. Niat hati ingin cari makan di dalam, tapi kok ya ga ada yang sreg…akhirnya kami menghabiskan waktu di sana dengan foto-foto dan santai sambil makan es krim Terminale Gelato. Es krimnya enyaaakkk!

Spot foto di China Town ini lucuk-lucuuuk banget. Dari mulai dinding bergambar tukang cukur, lengkap dengan tempat duduk yang bisa kita duduki seolah-olah kita sedang pangkas rambut…sampai dinding bergambar Nyonya pemilik rusun di Kungfu Hustle yang doyan marah-marah. Selain yang bernuansa oriental, ada juga spot-spot foto yang kekinian seperti ruang cermin berwarna-warni. Karena kami sampai disana menjelang magrib, suasana langitnya terlihat match dengan lampion merah yang bergantung dengan cantik.

Fasilitas di China Town cukup lengkap, ada area bermain anak dan juga musholla yang memadai dan terawat. Khusus untuk toilet, ada yang lucu nih…Mama saya takut masuk toilet wanita karena bau hio (dupa) yang menjadi pewangi toilet (?). Kata Mama serasa lagi di kelenteng. Hahaha.

Tiket masuk China Town Bandung= Rp 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000

Es Krim di Terminale Gelato = 35,000 (berdua)

Sudah bosan foto-foto, santai dan es krim pun sudah habis, saya dan Mama memutuskan pulang dan beristirahat. Sebelum sampai Sentra Inn, kami mampir dulu ke Bubur Ayam Pelana yang terletak hanya beberapa meter dari hotel. Bubur ini kayaknya terkenal deh, karena banyak orang makan di sini, gak kalah ramenya dengan Ramen Bajuri yang ada di seberangnya.

Bubur Ayam Pelanan ini syedaap dan harganya tergolong murah. Porsinya super banyak, dan yang paling cihuy bagi saya adalah: bisa ambil bawang goreng dan kerupuk sendiri. Huaaa saya ngefans banget sama bawang goreng! :luvluvluv Makin sukak karena gratis teh tawar hangat.

Dinner di Bubur Ayam Pelana = Rp 15,000 x 2 porsi = Rp 30,000

Setelah makan, kami pun kembali ke hotel dan istirahat bobok.

Hari Kedua, 7 September 2018

Happy birthday to me! Hehehe

Di hari kedua itinerary agak lebih santai karena sore kami sudah harus bertolak ke Jakarta. Pagi-pagi sekitar jam 8, kami sudah rapi jali hendak berangkat ke tempat agak jauhan dikit dari pusat kota Bandung yaitu Farm House yang terletak di Lembang (belum sampai Lembang banget sih).

Itinerary 5, Farm House Lembang

Farm House ini adalah temapt wisata yang udah terkenal ya bagi orang Jakarta yang suka main ke Bandung. Saya sendiri dulu waktu jalan-jalan ke Lembang di 2015, sempat melewati Farm House. FYI, Lembang di weekend itu bagaikan Puncak di weekend. Muaceeet. Makanya di Jumat ceria, kami sengaja berangkat agak pagi sekitar jam 7 dari Sentra Inn dengan menggunakan Go-Car. Sebelum berangkat, saya dan Mama sarapan dulu di tempat nasi uduk pinggir jalan tak jauh dari  Sentra Inn.

Sarapan nasi uduk 2 porsi dengan gorengan dan teh manis= sekitar Rp 15,000

Karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota, tarif Go Car ke Farm House sekitar 50ribuan, masih worth it lah ya. Hanya 1 jam perjalanan, sampai lah kami di Farm House. Yeaay!

Dari luar saja, Farm House ini sudah terlihat cantik dan teduh. Sinar matahari yang hangat menambah cantik tempat ini. Desainnya sebagian besar ter-influence  oleh bangunan Eropa terutama Belanda. Ohya, di sini juga bisa sewa baju khas Belanda ( 60ribuan kalau nggak salah) tapi kami kurang tertarik.

Tiket masuk Farm House: Rp. 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000 (gratis welcome drink susu sapi segar)

Baru tahu Farm House secantik ini, saya jadi mikir-mikir lagi untuk rencana jalan-jalan ke Colmar Tropicale, tempat wisata dengan konsep serupa di Malaysia. Di Bandung aja udah berasa kok Eropa nya. Hahaha.

Sama seperti tempat wisata lainnya, ada beberapa toko di dalam area Farm House untuk membeli oleh-oleh. Untuk souvenir dan pakaian harganya tergolong mahal, tapi untuk makanan masih reasonable lah harganya, contohnya saya membeli beberapa kantong permen susu produksi Farm House.

Bisa kasih makan kelinci juga lho..dan ada domba yang unyu unyuuukk banget kayak di Shaun The Sheep. Hihihi

Puas keliling-keliling Farm House selama sekitar 2 jam an, kami pun pulang ke hotel dulu. Di hotel Mama dan saya packing untuk pulang, tiduran bentar dan siap-siap untuk makan siang.

Makan siang kali ini kami mencoba Mie Merapi yang lumayan terkenal dan murah di daerah Buah Batu, gak jauh dari Chingu Cafe. Kenapa Buah Batu lagi? Karena lagi-lagi dekat dan terdapat gerai Kartika Sari yang cukup besar. Yup, waktunya belanja oleh oleh!

Review untuk Mie Merapi…lumayaaan. Meski menurut saya gak terlalu istimewa sih. Tapi cukup okelah yaa. Menu andalan di sini tentunya mie-mie nya ya.

Makan siang di Mie Merapi = sekitar 50,000

Kelar makan, saya dan Mama belanja oleh-oleh di Kartika Sari. Seperti yang saya bilang di awal, belanja oleh-oleh nggak saya masukkan di sini ya. Nah kelar belanja, masih tersisa waktu sekitar 3 jam sampai keberangkatan kami naik kereta jam 16.10. Karena gak tahu lagi mau kemana, saya dan Mama pun iseng mengunjungi Masjid Trans Studio Bandung. Cuma numpang shalat Zuhur dan foto-foto depan Trans Studio sih. Aaah, saya jadi agak menyesal kenapa gak ke Gedung Sate ajaa.
foto

Sekitar jam 2 siang lewat, kami pun cabut dari Masjid Trans Studio dan tiba di stasiun sekitar setengah jam lebih awal. Yeaaahhh berakhir sudah short trip+kulineran ke Bandung. Seneng? Pasti dooongg, walau cuma sebentar, lumayan bisa refresh otak. Dan saya masih pingin ke Bandung lagi untuk jalan-jalan santai seperti ini. Hahaha.

Total pengeluaran short trip + kulineran Bandung Kota 2D1N untuk 2 orang = Rp.1,194,000

See you on the next trip yah! 😀

The Amazing Museum Angkut dan Taman Bunga Selecta

Hari ketiga sekaligus hari terakhir gue dan Ween travelling di Malang. Cuma 3 hari, tapi kayak udah banyaaak banget tempat dikunjungi. Hehehe
Pagi pagi abis subuh, kami sudah siap siap. Kalau kemarin kita pakai outfit ‘seadanya’, kali ini kita pakai outfit yang rada gayaan dikit…ootd (alias outfit of the day) ceritanya. Masih dengan motor sewaan, gue dan Ween cusss ke tujuan pertama kami, Taman Bunga Selecta. Lokasinya sekitar setengah jam dari homestay kami dan surprised, Senin pagi sama sekali gak macet lho (yaiyalaaa lu kira Jakarta). Kayaknya Selecta ini letaknya di daerah Batu yang agak ke atas, dan saat kami kesana, cuaca mendung mendung syahdu sambil sesekali gerimis semriwing gitu. Tiket masuk Selecta 25 ribu saja, dengan parkir motor 5 ribu. Pas kita lagi di Selecta, banyak rombongan sekolah lagi karyawisata juga. Duh berasa jadi dedek dedek lagi deeeh. Hahaha.

Menurut gue Taman Bunga Selecta indah sih, tapiiii not so special hehehe. Cuma bunga bunga gitu aja dan kebanyakan ornamen hati nya. Bikin miris yang jomblo aja hahaha. Tapi beneran deh, masih jauh lebih istimewa taman bunga matahari yang di Puncak dengan ornamen dinosaurus, labirin, dan sebagainya. Mungkin satu satunya yang keren disini adalah skyride nya yang gue dan Ween gak naikin karena pertama, males bayar lagi. Dan kedua, betis udah gede boook, gak sanggup deh ngendarain sepeda lagi (iyes, sepeda ini jalannya pakai tenaga kita,bukan mesin).

image109

olof30701

DCIM100MEDIA

image116
image118

Yaaaudah gitu doang Selecta. Foto foto jadi indah mungkin karena ada gue nya kali ya. Bwahahaha *ketawa setan*. Sekitar jam setengah 11, gue dan Ween menuju Alun Alun Kota Batu lagi untuk makan siang-yang cukup mengecewakan karena banyak penjual makanan masih tutup dan akhirnya makan di Pujasera dengan penjual yang galak abis-kemudian ke destinasi terakhir kami: Museum Angkuuuuut 😀

Museum Angkut

Museum Angkut terletak gak jauh dari Alun Alun Kota Batu, gak jauh juga dari homestay kita. Ya pokoknya semua ditempuh menggunakan Gmaps deh. Hehehe. Jam bukanya pukul 12.00 siang sampai 20.00 malam. Tiket masuknya sendiri memang agak pricey untuk ukuran museum, yautu 60ribu weekday dan 100rb saat weekend. Pas gue dan Ween kesana, tanggal 19 Desember 2016 sudah masuk musim liburan alias peak season jadi harganya disamain kayak weekend. Tapi gapapa, karenaaaa…..*take a breath* Museum Angkut was soooo coooooollll!!! Bagi yang belum pernah kesana, siap siap ini rangkaian fotonya spoiler abis dan bikin mupeng.

Pertama tama, kita masuk zona kendaraan tua yang pernah ada di Indonesia dan buatan luar negeri. Yang paling ‘wow’ tentunya adalah mobil dan helikopter kepresidenan milik Presiden Soekarno.

image119

image123image121

 

image125

Dan ternyata gue baru ngeh, kalau mobil jaman dulu ukuran mesinnya gede banget, 4000 cc ke atas. Kata Mas gue yang pecinta otomotif, mesin mobil jaman dulu memang gede karena butuh mesin gede dulu agar jalannya cepet. Tapi efeknya tarikan mobil lebih berat dan bensin jauh lebih boros. Beda dengan mobil jaman sekarang yang gak perlu cc besar untuk bisa jalan kenceng. Agya gue aja cuma 1000cc. Hehehe.

 

nhpl14571

Ada juga mobil yang dipakai racing jaman dulu. Vintage Racing 🙂bywy88771

Dan alat transportasi lainnya…dari yang jadul parah sampai kekinian.
lqqd08251

 

Gak hanya sekedar lihat-lihat, ada juga sarana belajar dan games edukasi seperti menebak suara knalpot, pengetahuan perkembangan transportasi dan dampaknya bagi lingkungan sampai diajak berandai-andai gimana kendaraan masa depan. Btw, ada gambar transportasi masa depan di 2017 tuh…bener gak ya bakal ada flying car? *mikir keras Yang menarik, di sini juga ada Tucuxi,mobil listrik pertama Indonesia yang sayangnya mengalami kecelakaan saat uji coba dikendarai oleh Dahlan Iskan pada 5 Januari 2013. Masih ingat kan beritanya? Sayang banget yah, padahal mobil ini aslinya keren 😦

uwqx76381

qhrg32701

Uang bisa mengangkut kita jalan kemana-mana, bisa juga mengangkut kita ke…pelaminan #eaaa

Naik lift, kita masuk ke area transportasi udara yang lebih keren lagi. Wow, ternyata luas yah museum ini. Di area ini kita bisa memasuki pesawat Boeing (gratis!) untuk berfoto di dalam pesawat sampai di kokpit pilot. Sayangnya ngantre bangeeet, karena keterbatasan waktu, gue dan Ween cukup berfoto-foto di luarnya aja. Di area ini kita bisa juga main mobil-mobilan yang ngelinding, gak jelas sih apa namanya, tapi kayaknya seru. Tapi gue males nyoba karena antre dan bayar lagi. Hehehe.

tkoj44001

Sampai ada miniatur apollo lho.

Bosen lihat alat transportasi mulu? Waaaah jangan salah, Museum Angkut gak cuma sekadar itu. Sesuai namanya sekarang, Museum Angkut juga plus Movie Star, area wisata yang didesain dengan miniatur berbagai tempat di dunia. Dari mulai Broadway, Hollywood, Prancis, Jerman, sampai Buckingham Palace. Kesan gue pas masuk area ini…gak nyangka banget lah di Indonesia, apalagi di sebuah kota kecil Batu yang jauh banget dari ibu kota (bahkan jauh dari ibu kota provinsi Jatim, Surabaya) ada museum sekeren ini. Perlu banget nih untuk dipromosikan sampai keluar negeri. Jadi inget waktu ke Singapore pada September lalu….sekeren apa museum disana juga gak punya beginian. Hehehe. Puas banget, lucu-lucu dan keren. Selfieable banget deh!

Ohya, sebenarnya ada juga area khas Indonesia yang mengambil setting Batavia Tempo Doeloe, dari mulai suasana Stasiun Jakarta Kota sampai Pelabuhan Sunda Kelapa. Kita melewati ini ketika perpindahan antara ruang pamer alat transportasi (asli lupa urutannya, karena luas banget siiih area museum ini). Berikut beberapa fotonya.

gnsa43971

Area mancanegara pertama yang kita masuki adalah Gangster Town, kayaknya sih terinspirasi dari New York masa lampau gitu deh. Spot yang ikonik buat foto-foto tentunya di gerbang Gangster Town, tapi rameee banget, butuh kesabaran buat dapet angle bagus. Area ini juga bersambung dengan Broadway Theater.

qevq50661

xgix05501

Dalam miniatur Broadway Theater ini juga diputarkan film film jadul Hollywood lho.

fizb98231

Habis? Masih buanyaaaak zona zona lain. Biarkan gambar bercerita deh yaaa. Hehehe

Zona Italy

Zona Italy

egjb91581

Zona Paris

xnps11411

Zona Jerman

pkga61571

Zona Inggris. Eh, ada peron di Harry Potter jugaaak.

Kirain setelah zona negara-negara, bakalan kelar…secara kita udah capek juga. Hahaha. Tapi ternyata masih ada dooong yang lebih keren: Buckingham Palace. Heran, kayak gak ada abisnya nih museum. Dan kayaknya setiap sudut museum ini tertata dengan keren. Loooovveeee it!

img_30801

Buckingham Palace ini bukan cuma miniatur dari luar lho, di dalamnya juga masih ada koleksi yang juga lucu. Dari mulai miniatur bus tingkat London sampai Ratu Elizabeth!

Sungkem dulu sama camer

Sungkem sama calon mertua.

img_30821

 

Keluar dari Buckingham Palace, kita pun memasuki zona Las Vegas. Wah apalagi ini? Ternyata isinya miniatur ikon-ikon dunia.

vctw31201

Jalan dikit, ketemu Zona Hollywood. Asli kaki udah pegel-pegel. Untung zona Hollywood ini cuma ‘sekedar’ doang.

Waaaah Om Hulk gede aneeet ya. Si dedek sampe takjub.

Waaaah Om Hulk gede aneeet ya. Si dedek sampe takjub.

DCIM100MEDIA

img_25921

Salah satu kartun kesukaan gue nih: Scooby Doo

Last but not least, pintu keluar yang unik banget berupa gerbong kereta. Bukan sekadar miniatur, gerbong ini lantainya bergoyang goyang lho sehingga pas kita jalan kayak di dalam kereta beneran.

img_26091

Daaaaan…….finallyyyyyy….selesailah sudah kunjungan kita ke Museum Angkut. Gimana? Keren kan? Eh gak keren deng, keren bangeeet. Bagi kalian yang mau kesini, sebaiknya pas low season, karena pas high season museum ini rame buanget, jadi agak sesak gitu. Trus untuk yang bawa kamera, akan kena charge sebesar 30 ribu, dan masuk ke dalam pun air minum akan disita. Kalau haus/lapar, beli di kafe yang ada di dalam. Tenang, harganya nggak bikin kaget kok. Jadi siap-siap untuk mengeluarkan uang lebih ya, terutama kalau kalian tertarik untuk mencoba wahana berbayar di dalam. Tapi worth it banget kok, apalagi buat pecinta otomotif dan ngajak anak-anak jalan pas liburan sekolah. Gue sendiri pingin deh kesini lagi sama….suami dan anak-anak gue nantinya. Hehehe.

Bagi yang belum sempet liburan pas tahun baru kemarin, tenang, banyak long weekend di 2017 ini. Book lah salah satunya untuk ke Museum Angkut ! 🙂

Kota Batu, Aku Padamu

Gue dan Ween berpisah dari rombongan open trip sekitar jam 3 siang di Pusat Oleh Oleh Malang Sananjaya. Dari Gubug Klakah gue udah beli apel dan keripik apel, next gue pengen belanja kue strudel malang. Tapi karena strudel sifatnya hanya tahan 3-4 hari, jadi gue memilih untuk berburu strudel di stasiun pas mau pulang aja.

Anyway, kemana lagi nih gue dan Ween? Goes to Batuuuuu!

Karena bawaan kita banyak, gue dan Ween akhirnya memutuskan menuju Kota Batu dengan Grab Car (memang armadanya masih dikit di kota ini, tapi ada lah satu dua) dengan ongkos cuma 80 ribu.

Gak sampai satu jam, kami sudah sampai di Batu. Meskipun agak jauh, perjalanan Malang-Batu dapat ditempuh maksimal 1 jam (itu pun karena macet sebentar di Malang nya).

Kami menginap di homestay bernama Villa Tahta yang letaknya dekat dengan BNS (Batu Night Spectacular), dengan tarif 180 ribu saja per malam, pesan lewat Traveloka. Homestaynya kayak gimana? Bisa dilihat disini. Rate nya baik di Traveloka maupun Trip Advisor bagus kooo. Yang jelas gue dan Ween cukup puas menginap di homestay ini. Fasilitas sebanding dengan harga lah. Bahkan tergolong bagus dan nyaman. Tapi anehnya, dari kita check in sampai keluar, kita sama sekali gak ketemu tuh sama pemilik atau penjaga homestaynya. Hayooo jangan-jangan…engga deeng, bapak yang punya homestay memang sedang sakit. Pas gue telpon, suaranya lemes banget gitu kayak orang bangun tidur. Gue kira cuma di awal kayak gitu, eh kok pas gue telpon lagi mau sewa motor, masih gitu juga. Baru deh si bapak ngaku lagi sakit jadi gabisa menemui kami.

Untuk keliling Kota Batu gue sarankan sewa motor aja, karena gojek atau ojek online disini tergolong masih jarang. Di homestay Villa Tahta ini sebenernya menyewakan motor juga dengan tarif 75ribu selama 24 jam. Cukup murah kan? Sayangnya pas kami mau sewa, motornya sudah habis disewa. Jadilah kami googling sewa motor terdekat lainnya. Beberapa kali telpon, akhirnya kamu dapat rental motor dengan harga sama, yaitu Midi Rental dengan Pak Bandiono (0812 31389809). Karena Midi Rental ini sama sama di Batu, asiknya bisa dianter langsung ke homestay kami. Fasilitasnya juga lengkap, dengan 2 helm dan jas hujan untuk 2 orang. Syaratnya cukup mudah, hanya dengan bayar di muka dan menyerahkan e-ktp sebagai jaminan.

Jam 5 tepat, gue dan Ween pun cusss ke Alun Alun Kota Batu yang letaknya gak jauh juga dari homestay kami. Thanks to Google Maps, ternyata homestay kami dekat kemana mana!

 

image051

image055

Gue salut banget dengan bagusnya  alun alun ini. Kelihatan banget pemerintah setempat serius menggarap potensi pariwisata kota ini. Taman kota ini bener-bener dimanfaatkan banget oleh warga untuk bersantai, olahraga, hangout, main, pacaran #eh. Dekornya pun bagus, ga nyangka kota kecil bisa kayak gini. Hmm kapan ya Kabupaten Bogor tempat gue tinggal bisa bangun kayak gini?

wmss29661

mtey10651

Di alun alun ini juga ada bianglala yang keren. Tempat duduknya tertutup, jadi gak perlu takut masuk angin. Dari atas bianglala bisa terlihat pemandangan Kota Batu seluruhnya. Pas malam, lampu bianglala akan menyala kerlap kerlip dengan efek dramatis.


image065 image067

image069

image071

Pemandangan dari atas

 

Tau nggak? Tiket masuknya cuma 3 ribu perak! Iya, gue ga salah ketik, cuma 3 ribu! Di pasar malam abal abal aja sekarang gak dapet naik komidi putar 3 ribu. Meski antrean panjang, gue dan Ween menyempatkan diri naik bianglala ini. Yeaaay.

Jalan ke alun alun gak lengkap tanpa mencicipi kuliner setempat. Gue dan Ween beralih ke Pasar Laron, pasar malam yang terletak gak jauh dari alun alun dan mencicipi Pos Ketan yang konon makanan terenak disini dan jajanan yang belum pernah gue coba: sempol. Ini kayak semacam aci (tepung sagu) digulung telur gitu.

image073 image075

image077 image079

 

 

Ketika waktu shalat tiba, pengunjung bisa langsung ke Masjid yang terletak di seberang alun-alun, sebuah masjid besar dan ramai. Lengkap kaaan.

Puas mengeksplor alun alun, gue dan Ween pun beranjak ke destinasi kami berikutnya: Batu Night Spectacular atau biasa disebut BNS. Biarpun badan capek karena paginya habis mendaki bromo, tapi jangan kasih kendor shaaay!

 Batu Night Spectacular

Sebenernya yang kita bener bener pingin lihat di BNS cuma Taman Lampion sih. Makanya gue dan Ween cuma beli tiket masuk aja pas di loket. Untuk weekend, tiket masuk seharga 40 ribu rupiah. Jika hanya beli tiket masuk, maka di tiap wahana kita harus bayar lagi tiket wahana. Untuk ke taman lampion gue membayar lagi tiket seharga 15ribu. Ada juga tiket terusan yang busa digunakan untuk semua wahana seharga 100ribu. Yang jelas jauh lebih murah sih kalau memang niat mau nyobain semua wahana.

image081
image083

image087

BNS ini bisa dibilang ‘dufan’nya Batu lah. Dengan kapasitas yang jauh kecil, tapi yaaa lumayan lah. Dan asli, taman lampion keren banget. Romantis syahdu giduuu deh.

image089
image091

image097image093
image096
image099
image101

image105

image107

Kayaknya ada yang kurang….

Selesai mengeksplor BNS, kami pun memutuskan pulang. Berakhir sudah hari kedua di kota orang. Gue dan Ween pun langsung terlelap tidur, tabung tenaga untuk esok harinya!

 

Bromo yang Tetap Mempesona

Jam setengah 2 dinihari, gue dan Ween udah ‘grabag grubug’ siap siap. Niat hati pingin bangun lebih awal lagi, eh gak taunya alarm gue gak nyala. Iya, bodohnya gue setel alarm bukan jam 1 pagi,malah jam 1 siang. Untung masih kekejar. Gue lapisi badan gue dengan baju tebal, 2 jaket dan celana jeans. Gak lupa sarung tangan dan slayer untuk menutupi wajah. Eh eh, kita mau kemana sih sebenernya?

Bromooooo! 😀 😀

Mungkin bagi sebagian orang udah biasa aja gitu ya ke Bromo.Tapi serius gue dan Ween belum pernah. Semua rombongan kita juga belum pernah sih, makanya excited banget. Hehehe.

Perjalanan dari Gubug Klakah menggunakan jeep terbuka di dini hari itu rasanya….ewwwwww dingin!

Mungkin karena saking semangatnya, gak gitu kerasa tuh dinginnya menembuh jalan berkelok kelok di antara jurang dan hutan. Sekitar jam 3 sampai lah kami di Seruni point. Seruni point merupakan spot untuk melihat sunrise di atas Gunung Bromo. Dari sini juga terlihat Mahameru, puncaknya Gunung Semeru. Untuk mencapai puncak Seruni Point perlu berjalan kaki menanjak sekitar 1 km. Bagi yang gak kuat, bisa menggunakan jasa naik kuda yang tersedia dengan bayaran berkisar 50-100 ribu. Jam 4,memasuki waktu shalat Subuh, kita sudah sampai di puncak Seruni point. Selesai shalat, gue dan Ween pun langsung asik foto foto menangkap keindahan sunrise.

image021

img_1654

 

Sayang sunrise gak gitu kelihatan karena tertutup awan. Maklum udah masuk bulan Desember. Segini masih mending cuaca cerah karena beberapa hari lalu terus terusan hujan.

Turun dari Seruni Point cepet banget, bahkan mungkin bisa lari. Mengingatkan gue debgan pengalaman mendaki Gunung Ijen pada bulan Mei lalu. Di sekitar jalan berbaris pemandangan bukit bukit yang indah.

image023

Di bawah Seruni Point dengan gampang kita temui warung dan penjual makanan. Karena gue terbiasa sarapan pagi banget, langsung lah gue serbu bakso malang yang mangkal disitu dan ajaibnya…enak banget!

Gak lama, kita pun naik jeep lagi menuju destinasi sebenarnya: Bromo. Kali ini posisi gue di jeep lebih seru lagi, benar benar duduk di atas jeep. Sepanjang jalan menuju Bromo!

Gile bener, kayaknya dari kemarin gue dan Ween serasa lagi syuting MTMA aja deh. Hahaha.

image025

Sampai Bromo, pendakian dimulai. Eits, foto foto duluuu. Hehehe

img_1664image028

image030

 

Pendakian Gunung Bromo bisa dibilang nggak terlalu berat karena sudah tersedia jalur yang landai dan tangga untuk naik ke kawah. Bahkan untuk mencapai tangga kawah bisa ditempuh dengan kuda sewaan seharga 100-150ribu. Di sepanjang jalan menuju tangga yang ke kawah, kita melalui celah-celah tempat lahat mengalir. Terlihat jelas bekas lahar yang hitam mengering. Kawah ya, bukan hati yang mengering hahaha.

image037
image034

image039

image032

 

Hup! *serasa loncat* Sampai lah juga gue ke tangga kawah. Berhubung ini weekend, tangga ke kawah rameeee banget. Tua muda semangat banget ngeliat kawah dan begitu sampai kawah….zonk. Belerangnya lagi naik, akibatnya gue terbatuk batuk cantik. Pake masker, pake kacamata hitam buat menangkal pasir masuk ke mata. Nengok ke kawah? Boro boro deh bisa. Selain rame, hawa belerangnya kuat banget. Akhirnya ga ada tuh 10 menit gue di atas situ. Mau foto juga susah cyiiin.

image043 image041

 

Turunnya jelas lebih cepat. Selesai? Beluuum. Masih ada lagi nih yang gak kalah indah: perbukitan Teletubbies.

Yup, dinamakan Teletubbies karena yaaa mirip bukit teletubbies. Itu lho, bukit dimana matahari bayinya terbit. Gak tau teletubbies? Hmm, saya ikut prihatin. :’)

Asli ya ini perbukitan baguuussss banget. Gue serasa di alam lain, eh serasa dimanaaaa gitu. Mirip setting Lord of The Ring, mirip setting Kuch Kuch Hota Hai juga pas mereka nyanyi dan lari lari di soundtrack utama Kuch Kuch Hota Hai…hehehe.

img_1763

img_1760

image049
img_1753Sekitar pukul setengah 11, kami semua pun kembali ke homestay.

Oh ya, sebelum sampai homestay kami sempat mampir ke wisata agro apel. Wisata agro apel ini semacam Taman Buah Mekarsari gitu deh. Kita petik sendiri apel yang mau kita beli. Bedanya, disini kita bisa makan apel sepuasnya. Rugi nggak tuh? Ya enggaklah..wong di Desa Gubug Klakah ini setiap rumah ada pohon apelnya. Gak abis abis deh. Dari yang tadinya ngerasa enak, sampe enek gue makan apel mulu. Hehe. Tapi oleh oleh apel wajib nih kalo ke Malang karena apelnya memang beda. Bentuknya kecil, warnanya dominan hijau, rasanya asem campur manis. Seger deh. Harga per kilo nya di Gubug Klakah ini adalah 20 ribu, tapi dengan jurus silat lidah orang sales, gue bisa dapet 3 kg dengan 50 ribu. Hoho.

Sepulang dari Agro Apel, kami pun mandi, packing dan bersiap untuk… pulang 😦

Eits, petualangan gue dan Ween belum berakhir sampai disini. To be continued…ke post berikutnya 😀

Menyapa Malang dan Asyiknya Memacu Adrenalin di River Tubing Sungai Amprong

Hai hai haiiiii

Lama gak menyapa blog ini, rasanya pingin ‘memuntahkan’ semua cerita. Hehehe.

Bulan Desember identik dengan liburan. Apalagi di penghujung tahun gini. Yup, gue pingin cerita nih tentang liburan gue di pertengahan Desember kemarin, tepatnya tanggal 16-20 Desember 2016 (ambil cuti 2,5 hari cyiin). Ngeselin yee, sekalinya cerita eh tentang liburan. Hahaha.
Liburan kali ini gue habiskan bersama sohib gue sejak kuliah, Ween namanya, sekitar  3 hari (5 hari dengan perjalanan) ke Bromo, Sungai Amprong, dan Kota Wisata Batu. Untuk trip ke Bromo dan Sungai Amprong gue bergabung dengan open trip Rani Journey sedangkan sisanya (kota Batu) adalah perjalanan gue bersama Ween sendiri.

Day 1/2-Day 1

Jumat siang, 16 Des 2016 gue dan Ween namanya, sudah mendarat dengan cantik (apasih) di Stasiun Pasar Senen. Sekitar jam 15.15, KA Matarmaja yang kami tumpangi berangkat. Wah, sepanjang jalan berkesan deh. Kebetulan kami dapat duduk di antara dua macam geng yang selalu rame di kereta: geng anak gunung dan geng nenek nenek piknik. Berawal dari tukaran tempat duduk, jadilah gue, Ween dan kedua geng itu terlibat kebersamaan yang hangat sepanjang perjalanan. Ngobrol, bercanda, dan tentunya saling berbagi makanan. Sooo Indonesia 😀

img_1491

Sayangnya Geng Anak Gunung udah turun duluan di Solo Brebes karena mau naik Lawu. Gue dan Ween sempat tukaran nomor hp nih sama Geng Nenek Piknik ini.

Kami sampai tepat waktu di Stasiun Malang sekitar jam 8 pagi dengan lancar meskipun sempat mati genset (ac dan lampu mati huhu) di tengah malam. Di stasiun ini kita sudah dijemput oleh guide dari Rani Journey, Mas Mukhsin dan Mas Iqbal. Peserta open trip lainnya yan bersama kami adalah satu keluarga asal Cengkareng dan 2 orang cewek temanan kayak kami asal Sumedang. Sebagai pemanasan, kami berfoto foto dulu di Alun Alun Balai Kota Malang.
lohm27331

Hanya sekitar 30 menit di alun alun, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Wisata selanjutnya adalah mampir ke Candi Jago, sayangnya gak ada guide yang bisa memberikan penjelasan tentang candi yang terletak di tengah tengah rumah penduduk ini. Alhasil kami hanya asik selfie-selfie aja disini.

image007

 

mywa71771

Matahari makin naik, perut mulai terasa lapar. Rombongan kami pun mampir lagi ke rumah makan Pecel Pincuk Madiun yang terletak di jalan menuju Desa Gubug Klakah, homestay kami berada. Asli disini makanannya murah murah bangeeet, enak pula.

Sedikit info tentang Desa Gubug Klakah. Desa Gubug Klakah adalah sebuah kecamatan yang terletak di jalan menuju Bromo dan Semeru. Penduduk desa ini sedang mengembangkan potensi pariwisata desa mereka. Karena letaknya dekat dengan Bromo dan Semeru, di desa ini banyak rumah penduduk yang disediakan untuk wisatawan dan pendaki. Tapi gak cuma itu aja. Ada wisata agro apel, coban, dan yang gue coba dan menurut gue wajib dicoba pas kesini adalah: River Tubing Sungai Amprong. Lebih lengkapnya tentang desa inj cek aja @desawisatagubugklakah

Menjelang zuhur kami tiba di homestay, ehhh disambut makan siang lagi.Open trip ini memang sudah termasuk makan 3x di homestay. Kami diberikan waktu sampai jam 2 siang untuk mandi dan istirahat. Lho memang jam 2 kemana lagi? Jalan lagi dooong. Seperti yang gue bilang sebelumnya, kita akan jalan ke Sungai Amprong untuk merasakan sensasi river tubing.

Apa itu river tubing? River Tubing adalah aktivitas memacu adrenalin, bertualang di sungai dengan ban. Satu orang satu ban. Cukup duduk aja di ban, dan biarkan arus sungai membawa dan mengayun ayun kita. Trus selama di ban kita ngapain dong? Jaga keseimbangan sambil teriak teriak karena sport jantung. Hahaha.

Siaaaap 86!

Sebelum ‘terjun’, kami dibriefing dulu panduan keselamatan. Asli, gue agak mengkeret juga dengan briefing gak boleh gak boleh itu. Tapi yaaa mau gimana lagi. Cuss lah! YOLO hehehe

Untuk melakukan river tubing, kami harus jalan dulu cukup jauh ke hulu lintasan river tubing sambil bawa ban. Ugh, berat, hitung hitung pemanasan lah. Daaan mulailah kita beriver tubing!!! Foto aja gak cukup, ini videonya yeaaay.

Tau gak, tiap kali ban gue jalan dengan arah membelakangi arus, gue selalu deg degan khawatir nabrak batu. Dan ini durasi river tubing nya sekitar 1 jam lho. Tapi sumpah seru! Bikin ketagihan! Aaaah asiiiik! Recomended! 😀 😀

ftgp14561
Sekitar jam 3 siang, kita pun cabut dari area river tubing. Ohiya, untuk menuju lokasi river tubing Ledok Amprong ini kita pulang pergi menggunakan jeep lho, karena memang medan jalannya sulit dilalui mobil biasa. Asli itu pertama kali gue naik jeep bak terbuka.

Selesai river tubing, gak ada agenda lain yang kami lakukan kecuali istirahat, tabung tenaga untuk petualangan esok hari!

 

#Latepost Pengalaman Menginap di Braja Mustika Hotel & Convention Centre, Kota Bogor

 

Dalam seri kulineran bersama keluarga yang gue tulis di posting sebelumnya, gue dan keluarga menginap di Braja Mustika Hotel & Convention Centre atau yang biasa disebut Hotel Braja Mustika saja. Hotel ini termasuk hotel jadul, tapi masih terawat bagus sampai sekarang. Ngapain nginap di hotel? Ya nggak papa sih…berhubung bonus tahunan gue di kantor udah turun (plus merayakan naik gaji horeee), alhamdulillah…pingin aja ngajak keluarga liburan, ganti suasana, cari udara sejuk, leha-leha, sekali-kali nginep di hotel…hehehe.

hotel-braja-mustika-bogor

Gue tahu hotel ini dari Pegipegi, banyak yang kasih review bagus dan room ratenya sendiri cukup terjangkau. Gue pesan kamar twin deluxe seharga Rp. 525,500 sudah termasuk tax. Hotel Braja Mustika sendiri terletak di Jalan Dr. Semeru, masih termasuk kawasan Perumahan Bogor Golf. Kontur tanahnya berbukit gitu dengan jalan yang agak curam dan dikelilingi pepohonan yang hijau. Sejuk banget gituh.  Oh ya, hotel ini terdiri dari dua gedung, satu gedung hotel dan satu gedung untuk balai. Pas gue kesana, lagi ada acara respsi pernikahan baru selesai digelar. Untuk mencapai lokasi, saran gue: jangan percaya Google Maps. Atau bolehlah elo pakai Gmaps, tapi cukup sampai mengantarkan ke Jalan Dr. Semeru saja. Selanjutnya pas udah sampai Dr. Semeru, aktifkanlah GPS (Gunakan Penduduk Setempat) daripada kesasar masuk gang kecil kayak gue kemaren. Nyebelin :’)

 

Day 1

Kita sampe sekitar jam 13.30,  lalu gue samperin resepsionis dengan membawa confirmation letter dari situs Pegipegi.

“Mohon tunggu sebentar lagi ya Bu, kamarnya masih belum dibersihkan”

“Lho kok belum dibersihkan?”

“Iya, karena penghuni sebelumnya baru saja check out”.

“Kok baru check out?”

“Iya Bu memang baru check out”

“Memang disini waktu check outnya jam berapa? Di website ditulis jam 12, kemarin saya confirm by phone juga jam 12, kenapa sampai jam segini penghuninya belum check out?”

Dan jadilah gue ngomel-ngomel. Gue habis menembus macetnya Puncak dan jalanan kota Bogor (abis makan siang di Cimory), sambil nyetir gue berusaha telpon si resepsionis untuk ngasih tahu kita bakal late check in, sempet nyasar pula, eh…pas sampe malah harus nunggu 1 jam hanya karena urusan tamu lain. Kesel gak tuh? Usut punya usut, banyak kamar dibooking untuk keluarga dan tamu di acara resepsi pernikahan barusan. Belakangan pas gue ngobrol sama satpam besoknya, acara resepsi pernikahan yang digelar adalah anak pejabat apaaa gitu Kota Bogor…atau anak bupati Bogor gitu kalo gak salah. Kesimpulan gue, pantesan lah pihak hotel segan untuk menyuruh tamu-tamu itu check out tepat waktu. Yeeee, gak gitu juga dong, gue juga bayar kaleee disini. Kamar deluxe pula.

Akhirnya jam 3 siang kita baru dapat kamar. Fiuhh gue langsung merebahkan badan. Menurut gue kamarnya sebanding lah ya dengan harga. Semua fasilitasnya berfungsi dengan baik. Kamarnya lega, air panas nya ‘nyala’, ada saluran tv kabel yang tayang dengan jernih, kasur dan bantalnya pun empuk, nikmat lah ya untuk tidur, lemari yang cukup besar, alat-alat mandi juga lengkap serta ada hairdryer. Sebenarnya sih quite OK, hanya masalah check in saja yang annoying.

img_02021

 

img_02001

Rencana tidur siang pupus sudah. Gue isi waktu dengan leha-leha sambil ngemil, nonton World War Z, mandi yang lama dengan berendam di bathub, duduk-duduk bengong di balkon sambil menghirup udara segar. Pelan-pelan otak mulai fresh lagi deh, gak terganggu lagi dengan pembukaan menginap yang annoying.

Malamnya, gue dan keluarga nyari makan malam di Bubur Ayam Kabita yang terletak di daerah Gunungbatu, beli nasi bebek pinggir jalan bentar, lalu balik ke hotel. Sampai di hotel sekitar jam 9 malam dengan kehujanan, lalu gue lanjut nonton film lagi dan akhirnya bobo.

Day 2

Gue bangun sekitar jam 5 kurang, shalat Subuh, lalu siap-siap untuk melihat sunrise dari balkon kamar. Wew…ternyata benar kayak di review Pegipegi bahwa view dari balkon kamar hotel ini bisa langsung melihat Gunung Salak. Kemarin siang pas pertama kali masuk kamar, Gunung Salak gak kelihatan sama sekali. Barulah pas subuh gue bisa melihat gunung ini dengan jelas karena kabut yang menutupinya pudar. Tapi ternyata itu gak lama, sekitar jam 7 pagi,Gunung Salak sudah gak terlihat lagi tertutupi oleh awan.

img_02151

Duh pardon kakinya haha

img_02131

img_02041

img_02141

Puas mengamati sunrise, perut pun mulai berbisik manja, “Kak, laper niiih…”. So, tanpa perlu disuruh dua kali, gue dan keluarga langsung menyeret kaki ke restoran hotel yang terletak dekat lobi. Breakfast sudah termasuk dalam room rate. Model breakfastnya prasmanan, dengan tiga macam menu: appetizer, main course dan dessert. Rasa? Yaaaa so so lah ya. Cukup puas kok.

img_0260

img_0261

Kelar sarapan, waktunya….berenang! Hehehe.

Meski gak jago-jago amat berenang, gue cukup suka berenang. Kolam renang Braja Mustika terletak agak ke bawah melalui jalan menurun  yang dilalui dengan tangga. Sepanjang jalan ke kolam renang, taman-taman tertata dengan apik, cocok untuk bersantai keluarga juga.

img_0226

img_0248

Anda ingin mengecilkan paha? Berlatihlah yoga dengan mountain pose seperti ini.

img_02371

Ini emak gue ya….tolong jangan ditindak yah Pak Satpam…

Ada dua kolam renang: kolam renang anak lengkap dengan perosotan dan kolam renang ‘beneran’ yang memiliki kedalaman 1-2 meter. Secara gue gak bisa ‘ngambang’ jadilah cuma berani main di sekitar kedalaman 1-1,5 meter. Eh tapi gue bisa gaya dada lho…gaya kodok kejepit juga bisa *bela diri. Padahal ada beberapa anak-anak dan ibu-ibu yang ‘jago’ renang di kedalaman 2 meter lho. Hehehe 😛

img_0234

img_0233

img_0275

Gayanya macam atlet Sea Games aja…

img_0263

Kok aku gak bisa ngambang sih…hubungan aja bisa ngambang, kenapa aku engga? #eh

2 jam berenang cukup. Setelah bilas (kamar bilasnya bersih dan bagus kok), ke kamar lagi untuk leha-leha sambil ngemil di balkon, barulah gue turun lagi untuk….main sepedaan! Hehehe. Iya dong, gak mau rugi memanfaatkan banget semua fasilitas hotel.

img_0276

Tempat peminjaman sepeda persis di depan pintu masuk,  gue tinggal bilang aja sama satpamnya sebagai tamu kamar nomor sekian. Dan syuuuut gak berapa lama kemudian gue udah asyik deh meliuk-liuk di halaman hotel yang luas dan sejuk. Karena area hotel berbukit bukit, seru deh pas sepedahan ketemu banyak turunan (juga tanjakan). Perasaan senengnya kayak anak kecil main perosotan air. Hehehe.

img_0308

img_02831

Treknya adem beneeer.

Selesai sepedaan sekitar hampir jam setengah 11, gue masih ada waktu di kamar untuk mandi lagi, packing, dan tiduuuur. Kita check out sekitar jam 1 lewat, bodo, pembalasan karena kemarin late check in.  Hehehe.

Daaaan selesailah sudah short escape gue bersama keluarga di Hotel Braja Mustika Bogor. Overall sebenernya gue nyaman sih nginap di hotel ini. Pelayanan stafnya pun ramah, hanya agak kurang responsif aja gitu. Tapi it doesnt matter, karena suasana hotel ini memang bikin betah. Cuma kebijakan check in nya itu loooh bikin ilfil. Jadi mikir-mikir deh untuk nginep disana lagi. Saran gue jika mau kesini pastikan dengan jelas bahwa kamar kita sudah ready sebelum kita datang.

Okee, happy weekend, Good People! 😀

#Latepost 24 Jam Kulineran di Kota Bogor

24 jam kulineran? Makan selama 24 jam gitu? Not literally sih. 24 jam disini artinya seharian, dimulai dari makan siang di hari Sabtu yang cerah sampai makan siang keesokan harinya di Minggu yang gerimis.

Yup, itulah yang gue dan keluarga gue lakukan pada suatu weekend di akhir Oktober lalu. Kemana aja sih? Intip yuk! *halah

#1st Destination: Cimory Riverside, Cisarua, Puncak

Sebenernya restoran dengan bahan baku susu ini udah lama banget ngehitsnya, tapi anehnya baru kali ini gue kunjungi padahal masih di Bogor which is terbilang gak jauh amat lah dari rumah gue. Setahu gue Cimory ini ada 2 tempat, yang baru yaitu Cimory Mountain View ada di dekat Puncak Pass dengan pemandangan gunung.

img_0188

img_0067

Sesuai namanya, Cimory Riverside terletak di sisi sungai dan menawarkan wisata hutan tepi sungai. Sebelum makan gue dan keluarga menyempatkan berkunjung dulu ke Cimory Forest melewati jalan di sisi sungai. Untuk masik ke Cimory Forest ini cukup bayar tiket Rp 10K dan kita akan diberi welcome drink susu soya Cimory. Tangan kita juga akan digelangi dengan stiker Cimory.

img_0184

Ini tangannya nggak ada yang menggenggam? Hahaha

Begitu masuk, jalan tepi sungai merupakan spot menggoda untuk foto-foto.Cekrek cekrek!

img_0081

img_0079

img_0078

Jalan teruuus kita akan menemukan jembatan yang menghubungkan ke Cimory Forest di seberang. Cimory Forest ini cukup sejuk dan terawat. Meski areanya gak luas, tapi setiap sudutnya ditata dengan cukup cantik.

img_0094

img_0100

img_0109

img_0068

img_0316

img_0124

img_0138

Gak hanya hijau-hijauan, di sini juga ada sangkar burung dan kandang sapi. Di kandang sapi ini pengunjung bisa merasakan praktik memerah susu sapi juga lho.

img_0157

Setelah puas keliling-keliling Cimory Forest, kini waktunya makaaaan di bagian restonya. Restoran adalah bagian yang terpisah dari Cimory Forest. Jadi sebenernya kalau mau ke Cimory Forest aja tanpa makan di resto nya juga bisa kok. Kita pesan sosis, pasta, soto mie, dan zuppa soup. FYI menu favorit di sini adalah sosis. Soal rasa? Hmmm rated 8.0 out of 10 mungkin ya. Kalau untuk menu lain selain sosis rasanya just so so ya. Dan untuk zuppa soupnya…hmm, gue agak ribet tuh dengan lapisan roti yang ditaruh di atas permukaan cream soup nya gak nempel dengan mangkuk. Jadi agak berantakan gitu pas menyendoknya, gak kayak zuppa soup yang biasanya.

Harga makanan disini tergolong pricey. Satu porsi seharga Rp 45K ke atas, so siap-siap merogoh kocek lebih deh ya pas makan di sini.

img_0183

img_0177

img_0178

img_0179

Nenek gue pesan soto mie.

img_0169

Ada tempat mainan anak juga.

Sekitar jam setengah 1, kita pun selesai makan dan cabut dari Cimory.

#2nd Destination: Bubur Ayam Kabita, Gunungbatu, Bogor Kota

Bubur Ayam ini terletak di … . Sebenernya gak ada yang spesial sih, cuma bubur biasa yang terkenal enak dan….emang beneran enak 😀 Harganya pun terjangkau banget. Rp. 20 K aja udah bisa makan bubur kenyang lengkap dengan sate.

img_02051

Pas kita makan disini, ada aja tuh motor atau mobil mampir makan disini. Sayang untuk parkir mobil agak susah, pas banget di pinggir jalan raya dan gak ada yang markirin. Oh ya, bubur ayam ini buka 24 jam lho.

#3rd Destination: Bakso Gulung Bragi

Bakso gulung Bragi merupakan bakso yang terkenal kedua di Bogor setelah Bakso Seuseupan. Letaknya juga gak jauh dari Bakso Seuseupan yaitu di Jalan Palayu Raya No. 21, Bogor Utara (pakai waze aja kalo mau nyari). Yang unik di Bakso Gulung Bragi adalah gulungnya yang terbuat dari kulit tahu dan bakso. Jadi bakso yang yang digulung kulit tahu gitu deh. Baksonya ngenyangin, rasanya mantap segar, dan ngangetin di tengah cuaca yang sedang gerimis saat itu. Hehehe.

img_03141

Lihat penampakannya aja udah ngiler yah :9

img_03151

Ada beberapa varian bakso gulung disini kayak bakso gulung telor, bakso gulung urat, bakso gulung daging, dll. Tempat bakso ini selalu rame dikunjungi saat weekend, pas gue kesana di jam makan siang aja nih, beberapa menu udah abis. Jadi mungkin jika ingin kesana usahakan sebelum jam makan siang ya.

Naaah, permisaaah, sampailah kita di penghujung acara wiskul alias wisata kuliner. Hehehe. Kelar sudah ‘hutang diri sendiri’ untuk posting kulineran ini. See you on another weekend culinary adventure ya 😀