Short Trip + Kulineran Enak ke Bandung Kota (Itinerary & Biaya)

Assalamualaikum ūüôā

Lama tidak menyapa blog ini, saya jadi ingin cerita pengalaman saya melakukan short trip ke Bandung selama 2 hari 1 malam pada 6-7 September lalu. Oya, short trip ini sekaligus¬†birthday trip,¬†dalam rangka ‘menyenangkan diri sendiri’ di hari ulang tahun saya yang ke-25, pada 7 September.¬†Alhamdulillah ūüôā

Nah, saya ingin cerita itinerary sekaligus budget yang dihabiskan.

Saya pergi ke Bandung hanya berdua sama Mama dengan menggunakan kereta api. Kenapa? Karena sudah pada tahu dong ya macetnya jalan Jakarta-Bandung yang bikin capek parah. Mungkin kalau perginya serombongan, akan lebih nyaman dan murah dengan mobil karena bensin dan tol bisa ditanggung patungan. Tapi kalau hanya berdua atau kurang dari 4 orang, mending naik KA deh. Gak capek, tinggal duduk dan bisa tidur, serta jauh lebih murah.

Tiket Jakarta-Bandung  Rp. 90,000 X 2 perjalanan PP = Rp. 180,000 per orang. 2 orang menjadi Rp. 320,000. Murah banget!

*Hack: psst, beli tiket KA biasanya lebih murah di app KAI langsung lho. Ada diskon 10-20 ribu dibandingkan beli lewat app pemesanaan lain

Sebelumnya FYI, saya di Bandung kesana kemari menggunakan Go-Car. Dalam posting ini, saya¬†exclude¬†pengeluaran untuk oleh-oleh ya, karena preferensi belanja oleh-oleh tiap orang berbeda ūüôā

Top up GoCar Rp 200,000 (cukup dan ngepas dengan itinerary saya di post ini)

Hari Pertama, 6 September 2018

Rasanya udah lamaaa banget saya gak naik kereta api ke Bandung. Terakhir, waktu saya umur 13 tahun bareng kedua orang tua, kami sering banget bolak balik liburan ke kota kembang ini. Jadi menyusuri sepanjang perjalanan kereta seperti flash back kenangan masa kecil :’) Ke Bandung nya sendiri terakhir tahun 2015, menggunakan mobil travel.

Kita berangkat jam 08.45 dari Stasiun Gambir dan tiba di Stasiun Bandung jam 12.01. Begitu sampai, cus kita langsung ke hotel Sentra Inn di kawasan Burangrang.Saya tahu hotel ini dari Traveloka, dan karena memang tujuan jalan-jalan saya gak jauh dari Bandung kota, hotel ini pun menjadi pilihan. Saya sih orang yang gak terlalu rewel urusan hotel. Asalkan hotelnya nyaman, bersih, tersedia handuk dan perlengkapan mandi, dengan kasur cukup empuk, saya akan rating oke. Nah hotel ini termasuk hotel yang saya rekomendasikan jika anda ingin mencari penginapan nyaman dan on budget .

Rate menginap di Sentra Inn satu malam = Rp 284,000

Karena sudah kelaparan, kami pun lanjut ke tujuan pertama kami ke Bandung…Cafe Chingu!

Itinerary 1: Chingu Cafe

Chingu Cafe adalah kafe korea kekinian yang menyediakan berbagai makanan Korea (yang dimodifikasi tentunya) dengan suasana restoran seperti Korea street. Interior Chingu Cafe unik dan colorful banget. Kalau lihat dari foto-foto di Instagram, gak nyangka space restorannya sebenarnya gak luas dan terletak di ruko gitu. Cafe ini sebenarnya memiliki 2 cabang, tapi kami memutuskan pergi ke lokasi yang terdekat dengan hotel kami yaitu Chingu Cafe Buah Batu. Di sini pengunjung juga bisa mencoba hanbook (baju tradisional Korea). Untuk harga, gak terlalu pricey, so so lah dengan kafe di Jakarta. Untuk mengenakan hanbook, dikenai biaya Rp. 30,000 per 15 menit . Lumayan mahal yah.

Di setiap meja disediakan kompor kecil untuk memasak beberapa jenis makanan, seperti contohnya saya dan Mama memesan Premium Mozarella Wings yang terdiri dari chicken wings , french fries, tteopokki (gak tahu apaan, googling aja hahaha) dan tentunya keju mozarella. Keju Mozarella yang disajikan masih dalam bentuk potongan dadu, dan agar nikmat dimakan perlu dipanaskan hingga melted bersamaan dengan daging. Hmm yummy, karena dasaarnya saya suka keju, saya merasa sajian ini enak! Oya, kami juga memesan gimbap (sushi-nya Korea).

Premium Mozarella. Luuuvvv.

 

Total makan siang + sewa baju di Chingu Cafe sekitar Rp 160,000

Itinerary 2: Jalan Asia Afrika dan Braga

Kelar makan siang di Chingu, kami pergi menuju tujuan kedua yaitu Masjid Raya Bandung atau lebih dikenal juga Alun-alun Kota Bandung. Alun-alun terletak di Jalan Asia Afrika, yang merupakan pusat kota Bandung. Surprised, alun-alun Kota Bandung sekarang menjadi begitu kreatif. Di sepanjang trotoar banyak cosplay kreatif yang bisa diminta berfoto dengan pejalan kaki, dengan bayaran tentunya. Ada Naruto, Robot, Kuntilanak, sampai Suster Ngesot. Sebelum sampai ke Masjid Raya, tentunya saya menyempatkan diri berfoto di terowongan yang hits banget di Instagram. Hehehe.

Sayangnya, begitu sampai area masjid, lapangan masjid yang terhampar rumput sintetis sedang direnovasi. Yaaah kuciwa….padahal itu spot foto yang menarik banget dan bisa untuk santai sore. Akhirnya, kami pun memutuskan berjalan kaki lewat Braga ke tujuan berikutnya, yaitu Balai Kota Bandung.

Iya, jalan kaki! Dan ternyata setelah dilakoni…jauh jugaaak :’) Tapi gak papa lah, itung-itung bakar kalori abis makan banyak lemak di Chingu. Plus nya, bisa santai menikmati kawasan Braga yang dipenuhi berbagai restoran dan pertokoan dengan nuansa Tempo Doeloe.

Itinerary 3: Balai Kota Bandung

Bisa kepikiran ke sini karena tertarik dengan taman labirin yang diposting Mantan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil di akun Instagramnya. Tempatnya adem pisaaan euy. Labirinnya gak luas sih, cuma mengelilingi pohon besar di tengah, tapi lumayan lah buat spot foto kece. By the way, saya membayangkan enak ya bisa tinggal di kota yang memiliki banyak taman seperti di Bandung ini. Gak perlu bingung kemana kalau ingin cari udara segar atau ‘yang hijau-hijau’ dan bisa juga untuk area bermain anak. Bisa juga jadi ajang mejeng cantik cari jodoh hahaha. Gratis pulak! Kali lain saya ke Bandung, saya ingin menjajal semua taman di kota Bandung hehehe.

Gak sampai 1 jam menghabiskan waktu di Balai Kota, kami pun siap-siap lagi ke destinasi terakhir di hari itu: China Town Bandung.

Itinerary 4: China Town Bandung

Lagi-lagi tahu tempat ini dari posting Pak Ridwan Kamil di IG hahaha. Tempat ini sebenarnya semacam food court yang memiliki spot foto hampir di setiap sisinya. Sesuai namanya, tentu saja desainnya oriental banget ya. Pas kami kesini, entah kenapa tempat ini kok sepi banget. Mungkin karena Kamis malam ya. Niat hati ingin cari makan di dalam, tapi kok ya ga ada yang sreg…akhirnya kami menghabiskan waktu di sana dengan foto-foto dan santai sambil makan es krim Terminale Gelato. Es krimnya enyaaakkk!

Spot foto di China Town ini lucuk-lucuuuk banget. Dari mulai dinding bergambar tukang cukur, lengkap dengan tempat duduk yang bisa kita duduki seolah-olah kita sedang pangkas rambut…sampai dinding bergambar Nyonya pemilik rusun di Kungfu Hustle yang doyan marah-marah. Selain yang bernuansa oriental, ada juga spot-spot foto yang kekinian seperti ruang cermin berwarna-warni.¬†Karena kami sampai disana menjelang magrib, suasana langitnya terlihat¬†match¬†dengan lampion merah yang bergantung dengan cantik.

Fasilitas di China Town cukup lengkap, ada area bermain anak dan juga musholla yang memadai dan terawat. Khusus untuk toilet, ada yang lucu nih…Mama saya takut masuk toilet wanita karena bau hio (dupa) yang menjadi pewangi toilet (?). Kata Mama serasa lagi di kelenteng. Hahaha.

Tiket masuk China Town Bandung= Rp 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000

Es Krim di Terminale Gelato = 35,000 (berdua)

Sudah bosan foto-foto, santai dan es krim pun sudah habis, saya dan Mama memutuskan pulang dan beristirahat. Sebelum sampai Sentra Inn, kami mampir dulu ke Bubur Ayam Pelana yang terletak hanya beberapa meter dari hotel. Bubur ini kayaknya terkenal deh, karena banyak orang makan di sini, gak kalah ramenya dengan Ramen Bajuri yang ada di seberangnya.

Bubur Ayam Pelanan ini syedaap dan harganya tergolong murah. Porsinya super banyak, dan yang paling cihuy bagi saya adalah: bisa ambil bawang goreng dan kerupuk sendiri. Huaaa saya ngefans banget sama bawang goreng! :luvluvluv Makin sukak karena gratis teh tawar hangat.

Dinner di Bubur Ayam Pelana = Rp 15,000 x 2 porsi = Rp 30,000

Setelah makan, kami pun kembali ke hotel dan istirahat bobok.

Hari Kedua, 7 September 2018

Happy birthday to me! Hehehe

Di hari kedua itinerary agak lebih santai karena sore kami sudah harus bertolak ke Jakarta. Pagi-pagi sekitar jam 8, kami sudah rapi jali hendak berangkat ke tempat agak jauhan dikit dari pusat kota Bandung yaitu Farm House yang terletak di Lembang (belum sampai Lembang banget sih).

Itinerary 5, Farm House Lembang

Farm House ini adalah temapt wisata yang udah terkenal ya bagi orang Jakarta yang suka main ke Bandung. Saya sendiri dulu waktu jalan-jalan ke Lembang di 2015, sempat melewati Farm House. FYI, Lembang di weekend itu bagaikan Puncak di weekend. Muaceeet. Makanya di Jumat ceria, kami sengaja berangkat agak pagi sekitar jam 7 dari Sentra Inn dengan menggunakan Go-Car. Sebelum berangkat, saya dan Mama sarapan dulu di tempat nasi uduk pinggir jalan tak jauh dari  Sentra Inn.

Sarapan nasi uduk 2 porsi dengan gorengan dan teh manis= sekitar Rp 15,000

Karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota, tarif Go Car ke Farm House sekitar 50ribuan, masih worth it lah ya. Hanya 1 jam perjalanan, sampai lah kami di Farm House. Yeaay!

Dari luar saja, Farm House ini sudah terlihat cantik dan teduh. Sinar matahari yang hangat menambah cantik tempat ini. Desainnya sebagian besar ter-influence  oleh bangunan Eropa terutama Belanda. Ohya, di sini juga bisa sewa baju khas Belanda ( 60ribuan kalau nggak salah) tapi kami kurang tertarik.

Tiket masuk Farm House: Rp. 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000 (gratis welcome drink susu sapi segar)

Baru tahu Farm House secantik ini, saya jadi mikir-mikir lagi untuk rencana jalan-jalan ke Colmar Tropicale, tempat wisata dengan konsep serupa di Malaysia. Di Bandung aja udah berasa kok Eropa nya. Hahaha.

Sama seperti tempat wisata lainnya, ada beberapa toko di dalam area Farm House untuk membeli oleh-oleh. Untuk souvenir dan pakaian harganya tergolong mahal, tapi untuk makanan masih reasonable lah harganya, contohnya saya membeli beberapa kantong permen susu produksi Farm House.

Bisa kasih makan kelinci juga lho..dan ada domba yang unyu unyuuukk banget kayak di Shaun The Sheep. Hihihi

Puas keliling-keliling Farm House selama sekitar 2 jam an, kami pun pulang ke hotel dulu. Di hotel Mama dan saya packing untuk pulang, tiduran bentar dan siap-siap untuk makan siang.

Makan siang kali ini kami mencoba Mie Merapi yang lumayan terkenal dan murah di daerah Buah Batu, gak jauh dari Chingu Cafe. Kenapa Buah Batu lagi? Karena lagi-lagi dekat dan terdapat gerai Kartika Sari yang cukup besar. Yup, waktunya belanja oleh oleh!

Review untuk Mie Merapi…lumayaaan. Meski menurut saya gak terlalu istimewa sih. Tapi cukup okelah yaa. Menu andalan di sini tentunya mie-mie nya ya.

Makan siang di Mie Merapi = sekitar 50,000

Kelar makan, saya dan Mama belanja oleh-oleh di Kartika Sari. Seperti yang saya bilang di awal, belanja oleh-oleh nggak saya masukkan di sini ya. Nah kelar belanja, masih tersisa waktu sekitar 3 jam sampai keberangkatan kami naik kereta jam 16.10. Karena gak tahu lagi mau kemana, saya dan Mama pun iseng mengunjungi Masjid Trans Studio Bandung. Cuma numpang shalat Zuhur dan foto-foto depan Trans Studio sih. Aaah, saya jadi agak menyesal kenapa gak ke Gedung Sate ajaa.
foto

Sekitar jam 2 siang lewat, kami pun cabut dari Masjid Trans Studio dan tiba di stasiun sekitar setengah jam lebih awal. Yeaaahhh berakhir sudah short trip+kulineran ke Bandung. Seneng? Pasti dooongg, walau cuma sebentar, lumayan bisa refresh otak. Dan saya masih pingin ke Bandung lagi untuk jalan-jalan santai seperti ini. Hahaha.

Total pengeluaran short trip + kulineran Bandung Kota 2D1N untuk 2 orang = Rp.1,194,000

See you on the next trip yah! ūüėÄ

#Latepost 24 Jam Kulineran di Kota Bogor

24 jam kulineran? Makan selama 24 jam gitu? Not literally sih. 24 jam disini artinya seharian, dimulai dari makan siang di hari Sabtu yang cerah sampai makan siang keesokan harinya di Minggu yang gerimis.

Yup, itulah yang gue dan keluarga gue lakukan pada suatu weekend di akhir Oktober lalu. Kemana aja sih? Intip yuk! *halah

#1st Destination: Cimory Riverside, Cisarua, Puncak

Sebenernya restoran dengan bahan baku susu ini udah lama banget ngehitsnya, tapi anehnya baru kali ini gue kunjungi padahal masih di Bogor which is terbilang gak jauh amat lah dari rumah gue. Setahu gue Cimory ini ada 2 tempat, yang baru yaitu Cimory Mountain View ada di dekat Puncak Pass dengan pemandangan gunung.

img_0188

img_0067

Sesuai namanya, Cimory Riverside terletak di sisi sungai dan menawarkan wisata hutan tepi sungai. Sebelum makan gue dan keluarga menyempatkan berkunjung dulu ke Cimory Forest melewati jalan di sisi sungai. Untuk masik ke Cimory Forest ini cukup bayar tiket Rp 10K dan kita akan diberi welcome drink susu soya Cimory. Tangan kita juga akan digelangi dengan stiker Cimory.

img_0184

Ini tangannya nggak ada yang menggenggam? Hahaha

Begitu masuk, jalan tepi sungai merupakan spot menggoda untuk foto-foto.Cekrek cekrek!

img_0081

img_0079

img_0078

Jalan teruuus kita akan menemukan jembatan yang menghubungkan ke Cimory Forest di seberang. Cimory Forest ini cukup sejuk dan terawat. Meski areanya gak luas, tapi setiap sudutnya ditata dengan cukup cantik.

img_0094

img_0100

img_0109

img_0068

img_0316

img_0124

img_0138

Gak hanya hijau-hijauan, di sini juga ada sangkar burung dan kandang sapi. Di kandang sapi ini pengunjung bisa merasakan praktik memerah susu sapi juga lho.

img_0157

Setelah puas keliling-keliling Cimory Forest, kini waktunya makaaaan di bagian restonya. Restoran adalah bagian yang terpisah dari Cimory Forest. Jadi sebenernya kalau mau ke Cimory Forest aja tanpa makan di resto nya juga bisa kok. Kita pesan sosis, pasta, soto mie, dan zuppa soup. FYI menu favorit di sini adalah sosis. Soal rasa? Hmmm rated 8.0¬†out of 10 mungkin ya. Kalau untuk menu lain selain sosis rasanya¬†just so so¬†ya. Dan untuk zuppa soupnya…hmm, gue agak ribet tuh dengan lapisan roti yang ditaruh di atas permukaan¬†cream soup¬†nya gak nempel dengan mangkuk. Jadi agak berantakan gitu pas menyendoknya, gak kayak zuppa soup yang biasanya.

Harga makanan disini tergolong pricey. Satu porsi seharga Rp 45K ke atas, so siap-siap merogoh kocek lebih deh ya pas makan di sini.

img_0183

img_0177

img_0178

img_0179

Nenek gue pesan soto mie.

img_0169

Ada tempat mainan anak juga.

Sekitar jam setengah 1, kita pun selesai makan dan cabut dari Cimory.

#2nd Destination: Bubur Ayam Kabita, Gunungbatu, Bogor Kota

Bubur Ayam ini terletak di … . Sebenernya gak ada yang spesial sih, cuma bubur biasa yang terkenal enak dan….emang beneran enak ūüėÄ Harganya pun terjangkau banget. Rp. 20 K aja udah bisa makan bubur kenyang lengkap dengan sate.

img_02051

Pas kita makan disini, ada aja tuh motor atau mobil mampir makan disini. Sayang untuk parkir mobil agak susah, pas banget di pinggir jalan raya dan gak ada yang markirin. Oh ya, bubur ayam ini buka 24 jam lho.

#3rd Destination: Bakso Gulung Bragi

Bakso gulung Bragi merupakan bakso yang terkenal kedua di Bogor setelah Bakso Seuseupan. Letaknya juga gak jauh dari Bakso Seuseupan yaitu di Jalan Palayu Raya No. 21, Bogor Utara (pakai waze aja kalo mau nyari). Yang unik di Bakso Gulung Bragi adalah gulungnya yang terbuat dari kulit tahu dan bakso. Jadi bakso yang yang digulung kulit tahu gitu deh. Baksonya ngenyangin, rasanya mantap segar, dan ngangetin di tengah cuaca yang sedang gerimis saat itu. Hehehe.

img_03141

Lihat penampakannya aja udah ngiler yah :9

img_03151

Ada beberapa varian bakso gulung disini kayak bakso gulung telor, bakso gulung urat, bakso gulung daging, dll. Tempat bakso ini selalu rame dikunjungi saat weekend, pas gue kesana di jam makan siang aja nih, beberapa menu udah abis. Jadi mungkin jika ingin kesana usahakan sebelum jam makan siang ya.

Naaah, permisaaah, sampailah kita di penghujung acara wiskul alias wisata kuliner. Hehehe. Kelar sudah ‘hutang diri sendiri’ untuk posting kulineran ini.¬†See you on another weekend culinary adventure¬†ya ūüėÄ