Pengalaman Tes IELTS di IALF Jakarta (Juli 2018)

Pada tanggal 28 Juli 2018 lalu saya mengikuti tes IELTS di IALF (Indonesia Australia Language Foundation) . Mengapa ambil tes IELTS? Ini terkait dengan rencana S2 yang pernah saya ceritakan. Saya sendiri belum pernah mengambil tes IELTS so, cukup excited sih dengan pengalaman pertama ini. Sebagai penyemangat, saya set target ban atau score IELTS overall 7 (pede bangeeet hehehe).

Cara mendaftar tes IELTS cukup mudah. Bisa dilakukan secara online melalui website IALF disini . Pilih tanggal dan tempat test yang kamu inginkan. Saya memilih test di lokasi IALF langsung di Menara Selatan Plaza Kuningan karena menurut saya biasanya pusat kan dimana-mana fasilitasnya lebih lengkap ya. Ohya, sebenarnya lembaga di Indonesia yang menyelenggarakan IELTS gak Cuma IALF, tapi ada British Council dan IDP juga. Lantas, kenapa saya memilih IALF? Cuma berdasarkan slight blogwalking aja sih dari pengalaman orang-orang yang sudah pernah test di sana dan rata-rata reviewnya oke. Harganya juga lebih murah Rp 50,000 (mayan lho buat ongkos hahah) dibandingkan yang lain.

Saya mendaftar IELTS jauh-jauh hari, karena menurut saran yang dari blog-blog lain bahwa kuota IELTS terkadang bisa cepat penuh di tanggal yang kita mau. Jadi, sekitar sebulan sebelumnya saya mendaftar via online, transfer biaya tes, dan gak lama dikirim email receipt pembayaran. Nomor test akan diberikan on the spot di lokasi tes.

Berapa biayanya?

Hiks…lumayan Kak….Rp 2,850,000 sekali tes. Makanya, harus benar-benar dipersiapkan tuh agar mendapatkan hasil maksimal L 😦 *Eh, kok emote sedih? Baca sampai habis yah..

Persiapan IELTS

Berbekal pede dan niat mau ngirit, saya pun belajar IELTS otodidak mengandalkan soal dari internet, youtube dan app dari Playstore. Persiapan saya lakukan sekitar 1,5 bulan sebelum tes. Tenang, banyak banget kok bahan belajar tersebar. Beberapa sumber yang saya rekomendasikan untuk belajar:

  • IELTS Liz
  • Cambridge Guide to IELTS. Untuk yang ini saya download e-book dari internet. Bagi yang ingin e-book nya juga, bisa email saya di sarah(dot)annisa7(at)gmail(dot)com ya.
  • App yang ada di PlayStore yang saya rekomendasikan: IELTS Prep App (ini dari British Council), IELTS Full-Band 7.5+ (halu banget ban segitu, tapi bagus hahaha), Daily IELTS Listening.
  • Youtube. Search aja IELTS listening. Banyak kook sudah lengkap dengan soal dan jawaban.

Gak hanya itu, saya juga belajar dari buku….(yang murah aja ya Ceu, kalau beli sekelas Barons series mah saya sayang hehehe) . Buku ini kebanyakan readingnya. Cukup sering saya gunakan karena pada dasarnya saya lebih nyaman belajar reading dengan membolak balik kertas ketimbang scroll e-book. Buku ini juga provide CD dan lumayan banyak materi Listening nya Nih saya gunakan sampai rusak begini. Hahaha

Sedangkan untuk latihan speaking saya menggunakan aplikasi Open Talk, app ini adalah wadah untuk berbicara dengan orang-orang di seluruh dunia. Kita bisa pilih nih tujuan kita berbicara apa. Tentunya saya memilih untuk meningkatkan kemampuan speaking. App ini bagus untuk melatih kita-kita yang dalam keseharian jarang berinteraksi dengan native speaker. Kalau dengan sesama orang Indonesia kan kita masih agak ‘manja’ yah pas stuck dengan satu kata eh switch ke bahasa. Tapi tetap hati-hati yah, jangan sampai kemakan modus nih karena kadang ada orang (terutama dari India banyak yang agresif gitu) minta kontak WA atau Instagram. Please don’t give any personal contact. Speak randomly aja dengan orang berbeda. Dan gak perlu jujur amat ngobrolnya karena takutnya informasi pribadi kayak kerja dimana, tinggal dimana dilacak oleh orang yang gak bertanggung jawab.

Apa yang paling susah dari belajar IELTS? Konsisten waktu belajar!

Sebagai office worker yang biasa pergi dari rumah jam setengah 8 pagi dan sampai kembali rumah sekitar jam 8 malam, mengatur waktu untuk belajar sungguh tidak mudah. Jadi, saya sering bangun pukul 2 atau 3 pagi untuk belajar dulu dan gak bobok lagi sampai berangkat kerja. Terkadang di kantor di sela-sela waktu luang saya sempatkan intip-intip bahan belajar di laptop dan mengerjakan satu dua soal.

Capek? Kurang tidur? Pastinya.

Namun terkadang, sebagai manusia biasa saya pun tergoda untuk ‘bolos’ belajar dan main gadget atau melanjutkan bobok lagi hehehe. Ada juga masa-masa dimana saya ngerasa jenuuuh banget belajar. Semua itu terus saya lalui sampai tibalah di hari H tes. Jujur saja, h-seminggu tes saya malah terserang rasa malas yang sangat untuk belajar. Dan ini yang saya masih sesali sampai sekarang karena berdampak pada hasil tes saya. Hiksss

The Day!

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Menjelang hari tes saya malah kurang tidur karena beberapa kali terbangun takut telat. Well, dalam email peserta diharapkan sudah sampai jam setengah 8 pagi di lokasi. Kenyataannya, tes baru dimulai sekitar jam 09.15. Huaaa…..padahal saya sudah berangkat dari rumah jam 5 pagi lho.

Tapi ya sudahlah, namanya juga perjuangan. Tepat pukul 07.30, semua peserta tes yang sudah menunggu di koridor diminta berbaris dan masuk kantor IALF. Jadi kantor IALF ini terdiri dari satu lantai dimana di dalamnya banyak ruang kelas gitu. FYI, IALF memang menyelenggarakan kursus Bahasa Inggris dan ada juga kelas khusus IELTS Preparation yang konon katanya bagus (pakai native speaker) dengan harga yang bagus pulak. Hehehe.

Saya lupa urutannya, yang jelas ada 4 tahap sebelum masuk ke auditorium yaitu pengecekan ID (saya pakai passport dan ID ini harus benar-benar sama dengan yang kita upload saat mendaftar online), foto, pengambilan sidik jari, dan pengambilan test number. Semua barang bawaan dititipkan kecuali air minum (harus dalam wadah transparan, jika air mineral maka label kemasan harus dicopot) dan ID kita. Handphone harus dalam keadaan off dimasukkan ke tas dan jam tangan juga dicopot. Selama pengerjaan esai ada time keeper yang terus menginfokan waktu pengerjaan.

Kira-kira ada jeda 1 jam menunggu sampai auditorium dibuka yang saya manfaatkan untuk tidur. Ternyata, saat menunggu itu masih ada beberapa orang yang baru datang. Yaaah, kirain sih benar-benar di-close pada pukul 7.30 tadi. Kira-kira 20 menit sebelum tes mulai, kami dipanggil satu persatu memasuki ruang tes. Nggak perlu membawa alat tulis karena sudah disediakan di meja.

Jeng jeng jeng…

Seperti yang sudah diketahui, tes IELTS dimulai dari Listening, Reading dan Writing. Semua ini tanpa jeda 🙂 Jadi, penting banget tuh bawa air minum. Menurut cerita pengalaman di blog lain, AC auditorium dingin banget. Saya sih gak ngerasa ya..tapi kamu bisa bawa jaket untuk jaga-jaga. Berikut ini kesan yang saya rasakan ketika mengerjakan ketiga tes itu:

Listening “Ngomongnya cepet amat siiiihhhh….selow apa selooow?!” Asli ada beberapa soal yang saya keteteran nih disini.

Reading B aja *sombong* Oya, dalam listening dan reading ini kudu hati-hati ya. Ikutin aja plek-plek arahan dari pengawas. Ketika disuruh berhenti nulis yaudah berhenti dan jangan coba-coba bolak-balikin soal lagi. Kalau melanggar, kertas ujian kita bisa langsung diambil dan dapat nilai nol. Peringatan ini sebenarnya juga di-sounding berulang-ulang selama tes. Nah pas saya test reading udah mau kelar nih, ada seorang perempuan yang duduk dekat saya masih terus menulis jawaban padahal sudah disuruh berhenti. Eh, tanpa kata-kata gitu si pengawas mengambil kertas ujiannya duluan (padahal harusnya dikumpulkan berurutan bersama yang lain) dan kelihatan ditandai gitu. Si Mbak yang diambil kertas ujiannya cuma bisa bengong.

Writing Nah ini. Rasanya tuh lancaaar banget…tapi tulisan acak-acakan…duh gimana dong by default tulisan saya memang sudah kayak ceker ayam. Apalagi kalua disuruh nulis 2 esai masing-masing 250 kata dan 150 kata dalam 1 jam. Pfff. Mungkin inilah pula yang menyebabkan nilai saya jatuh di Writing karena fyi, handwriting is also important. Kalau susah dibaca, ya susah buat dinilai.

Kelar Writing sekitar pukul setengah 1 siang, kami dipersilakan untuk melihat jadwal Speaking di sebuah papan. Duh Gusti…cobaan apa lagi ini kenapa Speaking yang hanya 15 menit ini saya kebagian jadwal pukul 18.00 T.T Acara nunggu berjam-jam itu pun saya isi bukannya dengan latihan tapi malah melipir cuci mata ke Kokas 😛

Tibalah saat saya menghadapi speaking test. Anehnya saya nggak begitu deg-degan. Memang dari awal gak deg-an juga sih, karena kita kan’ gak bersaing sama yang lain.

Speaking test lumayan lancar saya jalani. Pengujinya adalah native speaker udah bapak-bapak gitu. Hanya saja ada beberapa kata yang terus saya ulang-ulang karena keterbatasan vocab. Temanya sendiri agak absurd menurut saya, yaitu:

What do you think about noise level in city?

Which one is quieter: in city or in village?

What is your favorite quiet place?

What is the solution to reduce noisy in housing area?

Who are responsible to solve noise pollution?

Which one of the age group who prefer quiet place: young people or elderly?

Sesama peserta tes lain ada yang ditanya tentang sport, building, arts…ya pokoknya tema yang umum lah ada bocorannya di IELTS Liz. Tapi kayaknya tema yang saya alami gak pernah saya temui deh dalam bahan manapun yang saya pelajari. Hahaha. Dan tahu nggak? Ternyata saya benar-benar peserta terakhir di hari itu yang Speaking. Pas keluar, semua nya udah gak bersisa bahkan staf sudah banyak yang pulang 😦

To conclude, tes IELTS di IALF saya nilai bagus dan recommended. Stafnya juga helpful dalam membantu peserta. Hanya saja menunggu waktu speaking yang terlalu lama membuat saya kelelahan sampai harus seharian test.

Hasil Test

Hasil test baru keluar 13 hari setelah waktu test dan bisa dicek online di sini. Certificate bisa diambil langsung di IALF bagi peserta yang tinggal di Jabodetabek dan dikirim Tiki ONS bagi yang tinggal di luar Jabodetabek.

Sewaktu saya mengecek via online, terjadi problem. Entah kenapa, selalu muncul notifikasi ‘We are not able to display your results at the moment bla bla‘ . Berulang kali saya cek semua isian sudah lengkap dari mulai nama, tanggal lahir, tanggal tes dan nomor paspor. Saya juga sudah klik Paper IELTS. Akhirnya saya hubungi via telepon ke IALF dan saya diarahkan untuk mengisi kolom nama dengan nama lengkap langsung dan karena saya gak punya nama keluarga, kolom nama keluarga dikosongkan diganti ‘-‘ (strip).

  

Oalaaaaahhhh…

Dan keluarlah hasil test saya….*drumroll*

Huaaaaa!!!!! DAKU KUCIWA!

Nilai Writing ini sih yang mengecewakan banget. Padahal pas ngerjain udah yakin banget. Bikin jatuh overall ban. Seandainya 6 saja, pasti ban saya sudah mencapai 6.5. Agak nyesek juga, karena beasiswa yang sedang saya kejar saat ini mensyaratkan overall 6.5 meskipun nilai di masing-masing test minimum 5.5 . Huhuhu….ambil test lagi dong? Iya, ambil lagi deh ini… *lemes*

Dibilang nyesek di kantong iya…agak males juga mengulang fase belajar lagi. Sedih.

Tapi ya sudah. Saya harus semangat. Demi meraih cita-cita. Next time harus lebih baik. Optimis. Doakan yaaaa :’)

Pengalaman Pertama Merajut :)

 

Merajut itu membutuhkan kesabaran. Mungkin itulah mengapa diksi atau pilihan katanya bukan menjahit harapan atau menyulam masa depan, tapi merajut harapan atau merajut masa depan. *Eaaaaa 😛

 Sebenarnya sudah lama aku tertarik merajut. Berawal dari duluuuu suatu hari aku pulang kerja di kereta, aku melihat seorang ibu hamil yang sedang tekun merajut. Mungkin untuk pakaian calon bayinya ya. Rasanya kok asyik aja gitu melihatnya. Dari situlah aku jadi tertarik dan banyak mencari tahu tentang rajut-merajut. Setelah browsing sana-sini, aku pun memutuskan ingin belajar merajut teknik knitting. Jadi ada 2 macam teknik merajut nih: knitting dan crochet. Apa bedanya? Wah aku sendiri masih agak susah nih ngejelasinnya, untuk lebih tahu tentang banyak, silahkan baca disini. Hehehe.

Continue reading

Kerja Oh Kerja!

_Choose-a-job-you-love-and-you-will-never-work-a-day-in-your-life_Study_1358431991

Kayaknya aku pernah janji ya bakal cerita tentang pekerjaanku di sini? Hehehe. Oke deh…mumpung ada waktu (duileee sok sibuk bener ya.haha), aku crita-crita sedikit ya.

Jadi, kayak yang aku ceritain sebelumnya, aku kerja di PT Angkasa Pura Support, anak perusahaannya Angkasa Pura I. Itu lho, BUMN yang mengelola bandara-bandara bagian Indonesia dan Timur. Nah sebagai anak perusahaan, Angkasa Pura Support atau yang biasa disingkat APS bergerak dalam memasok barang dan jasa kebutuhan bandara-bandara di Indonesia Tengah dan Timur. Continue reading

Rejeki Fresh Graduate :D

Kalau ngomongin soal rejeki, duuuuh nggak ada habisnya. Bukan nggak ada habisnya dikejar, tapi sebaliknya, nggak ada habisnya untuk disyukuri. Dan kalau udah ngomongin rejeki, kita lagi-lagi perlu ingat rumus dasar rejeki nih:

Rejeki = Doa + Usaha

Alhamdulillah, hanya berselang seminggu setelah sidang, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta anak perusahaan BUMN besar di Indonesia. Dan senengnya, ini benar-benar sesuai jurusanku dan memang yang dicari kualifikasinya adalah lulusan Ilmu Perpustakaan karena pekerjaannya adalah mengontrol dokumen, terus gajinya lumayan memuaskan juga untuk fresh grad. Hehehe 😀 . Sebanding lah ya dengan job desc-nya. Untuk lebih detailnya, mungkin akan aku share setelah aku sudah kerja hari pertama ya 🙂

Tapi…itu semua nggak semulus kelihatannya. Continue reading

UN Kesetaraan 2014 Paket B dan C Rumbel BEM UI :)

Kemarin, baru saja aku mengantarkan murid-muridku di kelas Paket B mengikuti UN Kesetaraan. UN Kesetaraan Paket B sama dengan SMP, diselenggarakan pada tanggal 5, 6, 7 Mei 2014. Hanya berbeda waktunya. Untuk Paket B, UN dilaksanakan siang. Mekanismenya, aku mengantar murid-muridku ke Sekolah Master/ Yayasan Bina Insan Mandiri, sebuah sekolah non formal untuk masyarakat marjinal yang berdiri di antara Terminal Depok, kolong jembatan fly over jalan Arif Rahman Hakim Depok, pasar, daerah sekitar Stasiun Depok Baru dan pinggiran ITC Depok. Selama ini murdi kelas Paket B dan C Rumbel memang diikutkan UN Kesetaraan melalui Sekolah Master karena kami belum berdiri secara resmi sebagai PKBM yang bisa mendaftar langsung ke Dinas Pendidikan. Di Sekolah Master, murid-murid Paket B mendapatkan briefing terlebih dahulu mengenai pelaksanaan ujian oleh pihak Sekolah Master, baru kemudian semuanya (murid kelasku, murid Sekolah Master, murid PKBM-PKBM lain yang juga menumpang ujian dari Sekolah Master) diberangkatkan ke MI Al-Muhajirin, terletak dekat SMAN 1 Depok. Thanks berat pada Esa, Wildan, Derriqa, dan Kemas, teman-temanku sesama panitia Rumbel yang menemaniku dan sangat membantu mengurus 12 murid yang ikut ujian.

Camera 360Dari ujung kiri: Deriqqa (Kemeja putih), Kemas (Kaos garis), Wildan (Kemeja abu di dekatku), murid berseragam putih hitam dari ujung kiri berdiri: Siti, Rifa, Mbak Nur, Ensi, Syaiful). Murid duduk dari ujung kiri: Jordhi, Syafei, Mbak Mia, Bayu, Hari. Aku kerudung merah.

Continue reading

Sidang Tilang Tanpa Calo Tanpa ‘Damai’ (di Pengadilan Negeri Depok)

Halooooo

Lagi lagi aku melanggar janjiku untuk secara rutin bisa posting di blog ini (ouch!). Yah well, at least, aku pengen ngeblog terus disini. No matter how hard to keep it consistent 🙂

Sebenernya kisah ini udah lama ingin aku share disini. Kisah waktu aku ditilang. Yep, dulu sekitar bulan Februari lalu, aku ditilang di pertigaan Jalan Kartini dan arah Jalan Nusantara, Depok. Gara-garanya? Bonceng orang yang nggak bawa helm. Sebenarnya dari jauh aku sudah melihat ada polisi, tapi ada seorang pengendara motor lain yang lewat nggak pakai helm dan nggak ‘diapa-apain’ alias nggak ditilang, aku pun lewat dengan santai. Kupikir polisi hanya sekadar patroli saja, lagipula area jalan tersebut biasanya nggak pernah ada razia, eh nggak tahunya…

“Stop, Mbak!”

Nah lho, motorku langsung diberhentikan. Aku disuruh menepi. 

“Selamat Pagi, Mbak, Mbak tahu kan kalau Mbak melanggar peraturan lalu lintas dengan membiarkan orang naik motor Mbak tanpa memakai helm?”

Aku mengangguk-angguk saja. Polisinya ramah, dengan sigap langsung mengeluarkan surat tilang dan menahan SIM-ku.
Continue reading