The Last Ten Nights

Assalamualaikum 🙂

Tidak terasa Ramadan tahun ini sudah memasuki 10 malam terakhir. Alhamdulillah. Adakah di antara kita yang sudah berguguran? Baik dari semangat ibadahnya atau berguguran selama-lamanya alias berpulang pada Allah. Ya, saya yakin ada saja dari kita mendengar berita orang meninggal di Ramadan ini. Saya sendiri merasa sudah mendengar banyak berita duka. Terakhir, teman kantor saya-beda divisi, secara personal saya tidak kenal-meninggal kemarin padahal terakhir saya lihat masih sehat sehat saja dan bisa merokok sambil bercanda di kantor. Usia tidak ada yang tahu.

Berita duka yang lebih besar, dan membuat saya-dan mungkin sebagian besar umat Islam- terpukul adalah tewasnya Razan Najjar, paramedis Palestina yang ditembak sniper Israel saat sedang bertugas menyelamatkan korban. Mengikuti berita Razan ini, air mata saya terus tumpah. Awalnya iri, sedih, duka, lalu menjadi geram, marah dan sakit hati. Geram, karena dunia seakan menutup mata. International Criminal Court pun diam, padahal ini adalah kejahatan perang yang sangat berat. Marah, pada Israel dan Amerika yang begitu biadabnya melakukan hal ini, di saat bulan suci Ramadan. Sakit hati, karena saya tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan Razan Najjar yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Barangkali terbalik, almarhumah lah yang mendoakan saya, dan kita semua, yang masih terpenjara di dunia yang fana ini sementara kepulangannya sebagai martir di hari Jumat bulan Ramadan sudah lebih dari cukup menjadi alasan bagi Allah memasukkannya ke dalam surgaNya. Saya, dan saya harap kita semua, tidak akan pernah melupakan kejadian ini, mengenang saudari kita seiman sebagaimana yang dilukiskan dalam firman Allah dengan begitu indahnya.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Hal lainnya yang membuat saya menangis (entah,saya jadi mudah sekali menangis di Ramadan kali ini) adalah kepulangan saudara kita seiman yang juga viral di media sosial bernama Ali Banat. Saya tidak akan menjelaskan siapa Ali Banat ini dan bagaimana kisahnya, karena Google sepertinya lebih lengkap ya hehehe. Sudah lihat video final message nya Ali Banat? Kalau belum, saya lampirkan di bawah ini ya.

Bagian dari video ini yang sukses membuat air mata saya tumpah adalah ketika Ali Banat merasa mengetahui kapan ia mati-setidaknya, tahu penyakitnya itu akan mematikannya-membuat ia jadi terpacu untuk berbuat kebaikan sebanyak banyaknya semampu yang ia bisa. Dan ia bersyukur tidak mati secara tiba tiba sehingga belum sempat bertaubat. Logikanya sih, sebenarnya tanpa harus divonis kanker pun kita-kita keadaannya sama seperti Ali Banat. Tahu sih tahu bakal mati, tapi tingkahnya kayak hidup selama-lamanya. Yuk, perbaiki lagi bekal kita :’)

***

Oke, sudahi dulu sedih-sedihnya ya 😀

Kalau baca judul posting ini, berasa kayak judul film adventure atau sejarah gitu gak sih? Hahaha. Keren gitu ya. The Last Ten Nights *apa sih Sar

Tak sengaja ketika sedang scroll home Facebook, saya melihat sebuah quotes bagus tentang 10 malam terakhir Ramadan. Karena saya baik hati dan tidak sombong, saya share disini juga ya. Hehehe.

Membaca quotes ini, saya yang semula merasa doa saya kering selama ini, jadi menemukan arti doa sesungguhnya. Saya,dan mungkin kamu juga mengalaminya, dalam berdoa kita cenderung meminta. Minta ini itu…minta, minta dan minta. Tapi kita lupa satu hal, yaitu ‘bercerita’. Ibaratnya ketika kita minta pertolongan seorang dokter, tentu kita harus cerita dulu apa saja keluhan yang dirasakan. Dengan bercerita, dokter menjadi tahu apa penanganan yang tepat untuk kita.

Namun dalam berdoa, kita seolah terburu-buru. Bahasa Sunda nya, ujug ujug minta. Memang, tanpa kita cerita, Allah Maha Tahu keadaan kita. Tapi bukankah sebenarnya Allah juga Maha Tahu apa yang kita butuhkan tetapi Allah tetap menyuruh kita meminta?

Selama ini, kepada siapa kita bercerita tentang perasaan kita, apa yang kita alami, dan keadaan kita saat ini. Ada yang bercerita pada orang tua, ada juga yang pada teman atau pasangan. Tidak salah sih, tapi, lagi lagi..kita minta nya sama siapa? Kebayang nggak sikap kita dalam berdoa ke Allah seperti kita curhat sama satu teman, tapi endingnya ngerepotin teman lain yang tidak tahu-menahu awalnya masalah kita.

“Ceritanya ke yang lain, terus minta tolongnya ke gue gitu?”

Pas sahur tadi, saya mencoba praktekkan apa yang quote tadi sarankan. Saya ceritakan apa saja keadaan yang sudah saya lalui, apa yang masih mengganjal dalam benak saya dan bagaimana keadaan saya saat ini. Kemudian disambung doa berisikan permintaan dan harapan saya. Sebagai penutup, saya enclose dengan doa yang mungkin sudah cukup sering didengar, yaitu

“Wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.”

Seusai menutup muka dengan kedua telapak tangan, saya merasa beban saya sedikit terangkat. Saya merasa lega sudah bercerita pada Zat yang selama ini memang mengawasi gerak gerik saya. Begini lho ya Rabb, saya itu bla bla bla…baru curhat sedikit saja saya sudah merasa hidup saya jadi terpetakan dengan lebih jelas. Apa sih yang saya mau sebenarnya, apa yang saya butuhkan dan yang terpenting: apa doa yang saya harus panjatkan untuk melengkapi ikhtiar saya selama ini. Curhat dulu,baru doa. Sesimpel itu. Wah kemana saja ya saya selama ini!

Sekian sharing saya. Saya berharap teman teman juga bisa menemukan ‘sesuatu’ di 10 malam terakhir ini. Terutama goal yang kita kejar banget yaitu malam LailatuL Qadr. Jangan kasih kendor! 😀

Ramadan Malam ke-23

Renungan Malam Dua Puluh Sembilan

 

Malam kedua puluh sembilan. I’tikaf tahun ketiga. Akhirnya…sebuah visi hidup.

Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah broadcast message di WhatsApp tentang perjalanan Rasulullah SAW menemukan makna hidup hingga turun wahyu pertama dan diangkat menjadi Rasul. Tiga tahun beruzlah di Gua Hira setiap Ramadhan dan menempuh perjalanan kaki berkilo-kilometer jauhnya dari pusat kota Mekkah. Semua bermula dari kerisauan hati Rasulullah melihat kehidupan di sekitarnya yang sedemikian rusak. Padahal, kalau ingin tak peduli dan menjalani hidup dengan senang dan tenang saja, sungguh teramat bisa bagi Rasulullah saat itu. Berasal dari keluarga bangsawan, memiliki istri kaya raya, usaha perdagangan sukses…untuk apa memilih menyepi dan merenungi hidup yang sudah sedemikian mapan dan nyaman bagi laki-laki di masa itu?

Sebuah visi hiduplah yang mendorong Rasulullah. Visi hidup yang tertanam dalam hati beliau bahwa tak semestinya kehidupan manusia seperti itu. Bersenang-senang saja dalam kerusakan akhlak. Dan visi hidup datang pada manusia mulia tersebut bukan sebagai wangsit yang ‘tahu-tahu turun dari langit’. Visi hidup itulah yang mengantarkan turunnya wahyu Allah yang mengandung kabar gembira dan peringatan, yang mengubah hidup Rasulullah SAW selama-lamanya. Dan juga mengubah hidup jutaan umat manusia sesudahnya, termasuk kita.

Hidup tanpa punya visi hidup itu rasanya enak yang nggak enak. Lho, kok gitu? Maksudnya apa tuh? Iya, terasa enak, karena hidup dijalani dengan enjoy saja. Nggak perlu mikir berat-berat. Asal kebutuhan tercukupi, hati happy, istilah kerennya sekarang: YOLO (You Only Live Once). Toh, yang penting nggak menyalahi aturan agama. Ibadah tetap jalan kok, walau hal yang sia-sianya nggak juga berkurang. Shalat jalan, pacaran langgeng. Ngaji iya, nongkrong berlama-lama hayuk. Sedekah oke, hura-hura harus lebih oke lagi. Itu baru enaknya…trus apa nggak enaknya? Nggak enaknya…tanpa visi hidup, kita seolah-olah memang hanya berpikir YOLO. Meski ibadah juga kita jalani, tapi terasa kering. Bukankah sudah sampai pada kita suatu ayat yang menerangkan orang-orang yang lalai dalam shalatnya? Dan padahal, hidup kita bukan cuma sekali, tapi masih ada tahapan-tahapan kehidupan selanjutnya. Apa makna hidup kita? Apa makna kita bagi hidup? Apakah hidup kita sudah bermakna? Nah lho pusing deh tuh bolak-balik nanya. Hehehe.

Apakah kita bisa bernyaman-nyaman terus selamanya tanpa pernah mengerti esensi hidup yang kita jalani? Itulah yang kumaksud disini sebagai perasaan enak yang nggak enak.

 

I’tikaf dan Visi Hidup

Hidup kita ini hanyalah jeda antara Ramadhan satu dengan Ramadhan lainnya. Itulah kesadaran yang kudapati dalam i’tikaf di malam ke-29 Ramadhan tahun ini. Sebelas bulan berikutnya adalah aplikasi dari ‘pendidikan’ yang kita jalani sebulan dalam Ramadhan, sekaligus realisasi dari doa dan istighfar kita.

Maka, sungguh sayang rasanya jika hidup yang kita jalani dari Ramadhan satu ke Ramadhan lainnya berlalu tanpa adanya visi. Lebih sayang lagi ketika Ramadhan, tak jua kita temukan visi hidup. Mungkin kita belum bisa memikirkan sebuah visi hingga sepuluh tahun ke depan, but at least kita bisa menyusun visi hidup sebagai bekal kita sebelas bulan ke depan sampai bertemu Ramadhan lagi. Salah satunya melalui kesempatan i’tikaf.

Di tahun ini, aku menjalani i’tikaf dengan hati yang jauh lebih tenang, masih dengan penuh harap mendapat malam Lailatul Qadar, meskipun baru kumulai di malam ke-28 Ramadhan. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, meski i’tikaf yang kujalani masih jauh dari sempurna, begitu juga ibadah-ibadahku yang lain selama Ramadhan…namun aku merasa Ramadhan ini adalah Ramadhan terbaik sepanjang hidupku selama hampir 23 tahun hidup di dunia. Terutama karena melalui berbagai peristiwa di bulan Ramadhan dan ‘itikaf, akhirnya sebuah visi hidup kembali kutemukan. Visi hidup yang dulu sering ku-azzam-kan dalam hati, namun sempat perlahan terkikis oleh berhala bernama karier, uang dan kesenangan hidup. Visi hidup yang membuatku kembali percaya diri dan merasa utuh. Memberiku arah. Setelah Ramadhan, lalu apa? Berusaha menjalani hidup dengan visi hidupku ini.

Selamat menemukan visi hidup 🙂

Dari Sa’i sampai Ashabul Kahfi

Tidak sengaja, beberapa waktu lalu aku membaca sebuah tulisan bagus di suatu blog. Aku bisa tahu tulisan ini dari hasil repost blog kakak kelasku dulu di kampus . Okelah, akan aku repost juga cuplikan tulisan tersebut di blog ini. 🙂

Putaran Ketujuh
oleh Hilmi Sulaiman Rathomi
Dua minggu yang lalu anak saya yang kedua sempat kurang sehat. Napasnya cepat dan berbunyi khas anak yang punya bakat asma. “Kambuh nih”, pikir saya. Biasanya kami biarkan karena gejala macam ini sering sembuh sendiri.
 
Menjelang hari ketiga, kondisinya memburuk. Napasnya makin cepet, bunyi napasnya makin kenceng, dan nggak mau makan/minum. Saya dan istri punya pengalaman menangani anak meninggal karena asma di Rumah Sakit. Jadi karena kuatir makin kenapa2, pagi2 sebelum mulai kerja kami beli alat nebulizer. Harganya lumayan.
 
Waktu sampai di rumah setelah beli nebu, si adek lagi tidur. Yang nggak terduga, waktu saya periksa, bunyi wheezingnya sudah hilang sama sekali, dan napasnya juga udah normal!
Saya antara senang dan sedih. Senang karena si adek udah sehat. Sedih karena udah terlanjur beli nebulizer, hahaha. Sampai sekarang si nebulizer ini belum kepakai sama sekali. 
 
Waktu saya ceritakan kejadian itu ke mertua pas main ke bekasi, sambil ketawa mertua saya bilang,”Nah itu, berarti sa’i putaran yang ketujuhnya adalah sampai beli nebu. Usaha maksimalnya adalah sampai beli alat nebu, tapi sembuhnya bukan karena itu.”
 
Tanpa kita sadari, tidak sedikit kejadian di hidup kita yang merefleksikan peristiwa sa’i yang dilakukan oleh ibunda Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya Ismail.
Beliau usaha mati-matian, lari bolak-balik bukit Shofa-Marwah tapi nggak dapet2 air yang dicari. Sampai akhirnya di putaran ketujuh, barulah air itu muncul. Dan ketemunya bukan di jalur Shofa-Marwah rute beliau lari, tapi di dekat kakinya Ismail, yang sekarang jadi sumur zam-zam.
 
Hasil tidak pernah mengkhianati proses. Ketika kita sudah sa’i 7 putaran, sudah berusaha maksimal untuk mencapai sesuatu, pasti hasil yang sesuai akan Allah berikan. Tapi, darimana sumber rejekinya, tentu terserah Allah. Ada sales yang mati2an mendekati calon pembeli A, ternyata justru yang akhirnya closing adalah pembeli B. Ada orang yang banting tulang merintis usaha bengkel mobil, pelanggannya nggak nambah2, tapi tetap dijalani terus dari pagi sampai sore… dan bisa sukses justru dari bisnis ayam bakar yang modalnya dikasih sama salah satu customer bengkel mobil. Yang seperti ini kasusnya nggak sedikit.
 
Trus bagaimana kalau kita sudah belajar mati2an, tapi nilai ujian tetep jelek? Ngelamar kerjaan sana-sini, tapi masih belum ada yang mau nerima? Udah kerja abis2an, tapi rejeki tetap seret? Udah banting tulang, tapi hasil nggak sesuai harapan?
 
Sederhana saja, mungkin kita baru sa’i sampai di putaran keenam. Tinggal 1 putaran lagi, air zamzamnya akan muncul dari arah yang tidak diduga-duga. Apa tandanya kita udah di putaran ketujuh? Cuma Allah yang tau, dan sengaja dirahasiakan.
 
Ayo terus berlari, sampai putaran ketujuh!

Sa’i. Aku tidak tahu bagaimana si penulis bisa kepikiran mengaitkan pengalamannya dengan hikmah Sa’i. Dan aku juga -atau kalian juga?- sebenarnya tidak pernah benar-benar paham apakah itu sa’i? Apa tujuan sa’i? Apa hikmah yang terkandung dalam ritual sa’i? Mengapa sa’i menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji?

Mengingat sekitar tujuh  bulan lagi, jika Allah mengizinkan, aku juga akan melakukan sa’i dalam ibadah umrah, tulisan tentang sa’i itu menjadi berbekas di benakku. Ya, seperti pengalaman penulis tersebut, ada benang merah antara sa’i dengan kejadian-kejadian yang kualami, terutama selama setahun terakhir saat aku mencoba fokus untuk menjemput suatu urusan. Segala ikhtiar yang pantas sudah kucoba lakukan, dan entah berapa ratus kali doa terucap dalam setiap sujud. Namun aku, dengan segala keterbatasan seorang hamba, memang tidak pernah tahu Allah menghendakiku harus “sa’i” berapa kali hingga urusan itu akhirnya kudapatkan. Sama seperti Siti Hajar saat berlari-lari mengejar mata air. Saat berlari ke Shofa dia melihat fatamorgana mata air di bukit Marwah, saat berlari ke Marwah yang terjadi sebaliknya, ia kembali melihat fatamorgana di bukit Shofa. Begitu terus hingga tujuh kali.

Mengapa harus sampai tujuh kali? Dan mengapa pada akhirnya bukanlah di kedua bukit tersebut mata air muncul?

Wallahualam.

Jika dulu dalam buku teks keagamaan, ritual sa’i hanya tertulis sebagai ‘berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah sebanyak tujuh kali dengan tujuan syiar’, kini aku mengerti makna sa’i jauh lebih dalam daripada itu. Sa’inya Siti Hajar barangkali merupakan contoh nyata bagaimana ikhtiar dan keikhlasan berpadu. Di tengah gurun yang tandus dan panas terik, Siti Hajar mungkin tidak berpikir apapun lagi selain bagaimana menemukan mata air untuk Ismail yang kehausan. Tidak mencaci penglihatannya sendiri yang berulang kali hanya melihat fatamorgana. Atau berprasangka buruk pada Allah mengapa kondisi seperti itulah yang ia alami. Ikhlas saja dan penuh optimisme berlari bolak-balik. Hingga ribuan tahun kemudian, jutaan umat manusia terus datang berduyun-duyun ke tanahnya dan ikut meniru ikhtiarnya.

Kisah lainnya yang ingin kubahas disini adalah kisah Ashabul Kahfi. Perlu berpuluh-puluh kali membacanya di hari Jumat hingga aku mengerti mengapa kisah ini disebut salah satu kisah paling indah dalam Al Quran. Ketujuh pemuda beriman (jumlah sebenarnya tidak ada yang tahu persis), datang ke gua dengan hati yang sudah pasrah sepasrah-pasrahnya setelah berbagai ikhtiar mereka dalam mempertahankan keislaman menemui jalan buntu.

Ceramah Ustadz Nouman Ali Khan tentang pemuda Ashabul Kahfi

Dari mulai beriman pada Allah secara diam-diam, sampai akhirnya tidak bisa ditutupi lagi, dibully masyarakat, lalu harus diseret berhadapan dengan raja yang lalim dan tidak menerima keesaan Allah, hingga akhirnya mereka dikejar…semua jalan terasa sudah buntu bagi ketujuh pemuda tersebut. Mereka pun memutuskan bersembunyi di dalam gua, tanpa tahu apa langkah selanjutnya. No plans, no clues. Semuanya benar-benar dipasrahkan saja pada Allah.

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” QS. Al-Kahfi:10

Ibarat kata nih, “Terserah Allah deh, pasrah weh lah. Allah pasti menolong kita. Kita udah nggak tahu lagi harus kemana”. Ending terburuk ya…ketahuan ngumpet di gua, ditangkap, dieksekusi. Namun Maha Besar Allah dan rencanaNya. Ketujuh pemuda tersebut telah sampai di titik batas ikhtiar, lalu mereka bertawakkal, menyerahkan semua urusan mereka pada Allah, lalu Allah-lah yang menyelesaikan urusan mereka dengan cara yang sama sekali tak mereka sangka: ditidurkan 309 tahun lamanya untuk kembali bangun dan hidup di tengah masyarakat yang kondusif untuk keislaman mereka. Suatu jalan keluar yang tentunya tak pernah terlintas sedikit pun dalam benak dan logika ketujuh pemuda tersebut. Sama halnya dengan Siti Hajar yang tidak pernah menyangka mata air itu akan keluar dari telapak kaki Ismail dan menjadi air zam-zam yang masih bisa kita nikmati hingga sekarang.

Perbedaan di kedua cerita tersebut menurutku adalah: adanya fase jeda antara ikhtiar dan jawaban atau solusi yang Allah berikan. Pada Siti Hajar, tidak ada jeda waktu antara ikhtiar hingga jalan keluar yang Allah berikan. Terus mencoba dan mencoba hingga pada sa’i ketujuh, jawaban atas doa diberikan. Namun pada kisah Ashabul Kahfi, ada jeda sekian ratus tahun lamanya antara ikhtiar yang mereka lakukan dengan jalan keluar. Ada waktu dimana mereka ‘sembunyi, istirahat, dan menanti’. Ada fase ‘berdiam dan pasrah’. Namun pasti, jalan keluar akan datang.

Kedua kisah di atas kuresapi akhir-akhir ini setiap kali tilawah. Ya, barangkali aku telah bolak-balik sa’i, namun mungkin Allah menghendakiku masuk dulu ke dalam ‘gua’. Menenangkan diriku dalam diam dan tawakkal. Jika ketujuh pemuda tersebut ditidurkan namun tetap digerakkan anggota tubuhnya, maka Allah mungkin menghendakiku bergerak dengan kegiatan-kegiatan positif yang sebenarnya sudah lama kurindukan dari masa kuliahku dulu. Sensasi kesenangan dalam kegiatan seperti ini yang sudah lama tak kurasakan karena aku terlalu cenderung fokus mencari satu urusan yang hanya menyangkut tentang diriku dan kebahagiaanku sendiri. Setelah lelah bersa’i dan yang kutemui hanyalah fatamorgana, maka sekarang mungkin saatnya aku untuk ‘memasuki gua’, berdiam untuk beberapa lama, memasrahkan segalanya sampai jalan keluar itu akhirnya datang padaku. Lagi-lagi, hanya Allah yang tahu kapan.

Sa’i, lalu menjadi ashabul kahfi 🙂

Meluruskan Niat ke Baitullah

tumblr_m0o4if0jH61r4bvcho1_500

Baru-baru ini aku membaca sebuah buku karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang berjudul ‘Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan’ (hasil berburu di IBF weekend lalu hehehe). Ada salah satu ulasan yang awalnya cukup menggelisahkan hatiku, kemudian terasa begitu mencerahkan. Mengenai perlunya meluruskan niat ke Baitullah.

Apa niat kita ke Baitullah? Ingin melihat Ka’bah? Rindu ke tanah haram? Ingin berubah menjadi lebih baik? Ingin bertaubat? Ingin mencari ketenangan hidup?

Itu semua hanyalah ekstase. Begitu kata Ust Mohammad Fauzil Adhim. Iya, ekstase…maksud istilahnya masih sodaraan gitu sama ekstasi hehehe. Iya, cuma memberikan efek penenang, euforia, dan kesejukan yang sementara. Ingin berubah lebih baik? Sejatinya manusia memang harus selalu berusaha beubah lebih baik. Begitu juga bertaubat. Harus terus-menerus, tidak perlu menunggu momen pergi ke Baitullah. Ketenangan hidup pun tak serta merta datang setelah kita selesai menunaikan haji atau umroh. Sudah banyak contoh orang yang bolak-balik pergi ke sana, namun tetap sulit mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.

Continue reading

Memperbaiki Shalat

Ilustration for Ramadhan, 08 Oktober 2005 Foto : BRR/Arif Ariadi

Ilustration for Ramadhan, 08 Oktober 2005 Foto : BRR/Arif Ariadi

“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya..” [QS.Al-Ma’un(107): 3-4]

Di suatu Sabtu sore, di Masjid UI pada saat kegiatan pengajian mingguan yang biasa kuikuti, guru mengajiku, Kak Mis, menceritakan sebuah kisah. Tentang seorang pengusaha yang baru merintis bisnis, berasal dari kampung, dan berniat datang ke Jakarta untuk bertemu calon-calon investor yang akan menanam modal dan membantunya mengembangkan usaha. Tentu saja si pengusaha muda ini harus menemui mereka satu persatu untuk mempresentasikan prospek bisnis yang akan dijalankannya. Sayangnya, ketiga investor yang akan ia temui mengatur jadwal meeting di 3 hari berbeda. Investor pertama di hari Senin pagi, investor kedua di hari Rabu, investor ketiga di hari Jumat sore. Si pengusaha dalam hati sebenarnya keberatan. Maklum deh, namanya datang jauh-jauh dari kampung, masih merintis, menghabiskan waktu seminggu di Jakarta sangat costly baginya. Ia sempat kebingungan, dimana ia akan mennginap selama seminggu di Jakarta. Ia baru sekali datang ke Jakarta dan penginapan per malam tidak murah di sini. Keluh kesahnya ini ia sampaikan pada seorang temannya.

“Waduh, gimana nih? Bisa tekor aku seminggu di Jakarta! Jadwalnya nggak bagus banget”

“Hmm, kamu kalau shalat biasanya jam berapa?” tanya si teman.

Lha kok nanya gitu? Aku biasa shalat suka di akhir waktu sih…”

“Nah itu dia masalahnya…coba deh kamu shalat di awal waktu. Insya Allah beres deh masalahmu”

“Lho gimana caranya beres? Apa hubungannya? Wong jadwalnya sudah diatur sekretaris investor-investor itu kok. Baru saja tadi aku dikonfirm lagi dengan jadwal yang tadi”

“Sudah deh…ikutin nasihatku. Coba kamu perbaiki tuh jadwal shalat kamu”

Singkat cerita, si pengusaha pun menuruti nasihat temannya. Lagipula ini saran yang baik, pikir si pengusaha. Eh…menjelang hari H, sekretaris si investor pertama menelpon, “Maaf Pak, jadwalnya diundur ya Jumat saja. Bos mau urusan keluar kota hari Senin”. Si Pengusaha pun langsung mengiyakan, dalam hati senang sudah bisa memadatkan dua meeting di hari Jumat. Tidak lama kemudian, investor kedua pun menelpon si pengusaha. Minta reschedule meeting ke hari Jumat siang. Sontak si pengusaha terbengong-bengong. Alhamdulillah…Gusti Allah, kok jadi kebetulan yang bagus sekali semua ini…

Seketika si pengusaha pun teringat nasihat temannya tempo hari. Ternyata, ini semua adalah hikmah dari memperbaiki shalat. Perbaikilah shalat, baik itu jadwalnya, pelaksanaannya…maka Allah akan memperbaiki urusanmu. Perbaiki urusan akhirat, maka Allah akan memperbaiki urusan duniamu. What a beautiful story 🙂

***

Seminggu kemarin pekerjaanku di kantor benar-benar hectic. Karena sedang ada retur besar-besaran produk di distributor, atasanku memintaku untuk menghitung semua data penjualan produk yang diretur. Semua data retur dimonitor per hari, dan langsung dipresentasikan oleh manajerku di depan direksi. Tentunya ini data yang benar-benar penting, aku harus menyajikannya seakurat dan secepat mungkin.

Setiap jam, semua admin penjualan di area mengirimiku update jumlah produk yang diretur. Aku harus compile semua data tersebut, mengkonversinya ke dalam satuan metrik ton, menghitung nilai rupiah retur tersebut dan membuat grafik jumlah dan kecepatan retur dari semua area di Indonesia. Jangan ditanya ribetnya kayak apa. Data yang kuolah semuanya dalam bentuk excel dengan ribuan cell di dalamnya. Sungguh pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Manager-ku memasang deadline, semua data tersebut harus jadi sebelum beliau mempresentasikannya jam 11 pagi selama seminggu kemarin di hadapan direksi. Kontan saja aku panik. Ini data yang sangat buanyaaak. Sulit untuk diselesaikan besok. Terpaksa, aku melemburkan diri setiap hari selama seminggu kemarin demi mengejar deadline.

Aku benar-benar ingin menyelesaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Karena itulah aku rela menunda-nunda waktu shalatku. Bahkan sering sampai last minute. Seminggu kemarin, qiyamul lailku absen. Shalat Dhuha ditinggal. Subuh pun terseok-seok telat bangun. Aku sungguh ingin membuktikan pada atasan, performance-ku sangat bagus dalam bekerja. Aku tak lagi memikirkan apapun selain kerja dan kerja. Ketika shalat pun, fokusku buyar, bacaan shalatku kacau, gerakan shalatku terburu-buru, doaku tergesa-gesa, terus-menerus memikirkan tugas tersebut…astaghfirullah. Bagiku saat itu, penilaian managerku sangat penting. Aku harus bisa meng-impress beliau. Aku tidak ingin membuatnya kecewa dengan kinerjaku. Aku harus tampil menjadi pegawai yang bisa diandalkan.

Qadarullah, di hari Jumat siang, atasanku menghampiri meja kerjaku. Wajahnya sangat masam. Dan mengalirlah semua teguran beliau yang sangat menohokku. Data yang kuberikan sebagian besar salah hitung. Banyak keteledoran di penghitungan. Beliau pun mengoreksi semua data yang kukerjakan di depanku. Ketidak telitianku habis-habisan dibedah. Ya Allah…mengapa aku bisa sealpa ini? Padahal aku sudah merasa sangat yakin dengan pekerjaanku. Aku memang tidak sempat mengecek ulang sebelum dikirimkan ke atasan, lagi-lagi karena mepetnya waktu dan berkali-kali aku dikejar. Ya Rabb…mukaku pucat, aku menggigit bibir berkali kali.

Atasanku marah sekali. Beliau tidak membentak-bentak, tetapi berulang kali menekankan betapa pentingnya data ini. Beliau lah yang akan disalahkan oleh direksi jika data ini salah. Terlihat jelas sekali raut wajah manager-ku kecewa. Aku tak mampu berkata apa-apa selain minta maaf, namun tentu saja maafku tak akan menyelesaikan masalah. Manager-ku berulang kali menyalahkanku, dan yah…itu pantas aku terima. Sungguh aku benar-benar tidak enak pada beliau. Ingin rasanya aku menangis, tapi sekuat tenaga kutahan. Aku baru bekerja sebulan disini, namun sudah banyak kesalahan pengolahan data yang kulakukan. Dan ini yang paling fatal 😦

Aku pulang dengan lunglai. Perasaanku remuk. Aku sampai melemburkan diri selama seminggu, sampai kantor sepi, namun mengapa begini jadinya…berulang kali aku menyalahkan diriku sendiri. Sampai rumah, tangisku pun tumpah. Weekend  ini yang ingin kulalui dengan rileks, malah menjadi beban karena aku harus merevisi semua data yang kubuat.

Di sela-sela memperbaiki data, aku merenungkan hari-hari yang kulalui seminggu kemarin. Sempat berburuk sangka pada Allah…mengapa bebanku seberat ini. Sempat pula pesimis menatap hari-hari ke depan…apakah aku sebenarnya tidak cocok dengan pekerjaan ini? Sanggupkah aku melakukan tugas-tugas ke depannya? Apakah aku akan dipecat? Dan berbagai pikiran buruk menghantui.

Sampai tanpa sengaja aku buka home Facebook, dan kulihat status dari fan page Aa’ Gym. Aku lupa pembendaharaan katanya, namun intinya begini: kalau kita mencari ridha manusia, justru hanya mendapatkan kecewa dan jika kita merasa down ketika kita tak lagi dipuji, artinya kita sudah terlalu cinta dunia. Masya Allah…suatu kesadaran timbul di hati kecilku. Segitu rendahnya kah hatiku? Terlalu mengharap ridha manusia, terlalu mengharap pujian dari manager. Kuingat-ingat lagi kacaunya ibadahku seminggu kemarin. Saking aku ingin menyelesaikan pekerjaan, kulalaikan shalatku. Padahal , sebelumnya aku sudah pernah mendengar cerita yang kusampaikan di atas. Barangsiapa memperbaiki shalatnya, maka Allah akan memperbaiki urusannya. Yang lebih menyedihkan, seminggu kemarin aku terbangun dengan pikiran pertama adalah: pekerjaan. Dan bukan mengingat Allah. Mungkin saja, aku semestinya tidak harus begitu-begitu amat dengan pekerjaan. Harusnya aku memangkas waktu tidurku saja agar sampai di kantor lebih awal, biar bisa sekalian qiyamul lail. Harusnya juga aku mengurangi jam makan siangku untuk sementara ini, dengan bawa bekal misalnya…bukan waktu shalat yang kupangkas habis-habisan dan kutunda selambat mungkin. Harusnya aku tidak menghabiskan waktu luang dengan mengecek gadget, tapi dengan berdzikir. Harusnya dan harusnya…ahh.

 “Barangsiapa yang bangun di pagi hari & hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak-hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit: 1) Kebingungan yang tiada putus-putusnya,2) Kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya, 3) Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, 4) Khayalan yang tidak berujung.” (HR. Imam Thabrani)

Masya Allah…seakan-akan baru kali ini aku membaca hadist tersebut. Aku berusaha menyempurnakan urusan pekerjaanku, namun bukan shalatku. Begitu juga aku berusaha keras memberi kesan yang baik pada atasanku, namun aku tidak berusaha mengesankan yang terbaik dalam shalatku untuk-Nya. Dan Allah pun menjungkirbalikkan semua keadaan. Pekerjaanku kacau,atasanku marah, dan aku pun kehilangan ridha-Nya dalam shalat…ini benar-benar pelajaran bagiku.

Maha Benar Allah. Celakalah orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Celakalah aku…hanya dalam waktu seminggu! Ya, hanya seminggu…seminggu lalai dalam beribadah padaNya…tamparannya begitu membekas.  Apa yang terjadi jika aku lalai dalam shalatku sebulan? Setahun? Beberapa tahun? Bagaimana tamparanNya di akhirat kelak? Mungkin  tak akan ada lagi tamparan dari Allah…dibiarkan-Nya aku terus tenggelam dalam kesibukan dunia.  Celaka…sungguh celaka.

Ya Allah, kalau bukan karena kasih dan sayang-Mu, kalau bukan karena kemurahan-Mu, pasti hamba akan tersesat terus begitu jauh…Ya Tuhan kami, tuntunlah kami, dan janganlah Engkau lepaskan kami…

Cerita Ramadhan (3): Habis Ramadhan, Lalu Apa?

reflect

Habis Ramadhan, lalu apa?

Beberapa dari kita barangkali sudah merencanakan akan pergi travelling setelah Ramadhan. Beberapa dari kita sudah berencana untuk mudik ke kampung halaman, bahkan sudah ambil cuti sejak jauh-jauh hari. Ada juga yang berencana akan menikah, mengingat momennya pas sekali dengan bulan Syawal, seperti lagunya (alm) Benyamin Sueb, “Eh ujan gerimis aje…ikan bawal diasinin. Eh jangan menangis aje…bulan Syawal ntar dikawinin!”. Dan banyak pula lagi segudang rencana yang akan dilakukan setelah Ramadhan.

Begitu juga denganku. Sudah masuk separuh Ramadhan, benakku kian bertanya-tanya: habis Ramadhan, lalu apa? Otakku memang sudah menyusun beberapa rencana besar setelah Ramadhan usai. Tetapi rasanya…ah, waktu cepat sekali. Sepertinya baru kemarin aku mengecek kalender melihat-lihat kapan Ramadhan tiba. Sekarang tiba-tiba sudah separuh perjalanan menuju usai. Rasanya masih tak rela. Akan tetapi anehnya kepalaku masih saja dipenuhi apa saja yang akan kulakukan setelah bulan Ramadhan berakhir.

Continue reading

Cerita Ramadhan (1)

Huaaaaah akhirnya bisa posting lagi. Tau nggak? Terakhir posting disini itu pas lagi di angkot lho, dalam perjalanan mau ke kantor. Hehehe. Maklum wanita karier. Sibuk cyiiin. Hehehehueks

Anyway, its big biG bIG BIG ALHAMDULILLAH…..

Kenapa?

Ya karena dipertemukan lagi dengan Ramadhan doooong. Ini the biggest ni’mat untuk kita sebagai umat muslim. Ada banyak dari umat kita meninggal dunia, hanya sehari sebelum Ramadhan, atau seminggu sebelum Ramadhan, atau sebulan sebelum Ramadhan….ibaratnya, tinggal sedikiiiit lagi Ramadhan datang…namun sayang jiwa tak lagi dipegang. Ya Allah, bersyukur guys, banyak banyak bersyukur….di tahun ini masih diberi kesempatan bertemu. Merasakan berkahNya, mereguk ampunanNya…berbahagialah kita semua 🙂
Continue reading