Short Trip + Kulineran Enak ke Bandung Kota (Itinerary & Biaya)

Assalamualaikum ūüôā

Lama tidak menyapa blog ini, saya jadi ingin cerita pengalaman saya melakukan short trip ke Bandung selama 2 hari 1 malam pada 6-7 September lalu. Oya, short trip ini sekaligus¬†birthday trip,¬†dalam rangka ‘menyenangkan diri sendiri’ di hari ulang tahun saya yang ke-25, pada 7 September.¬†Alhamdulillah ūüôā

Nah, saya ingin cerita itinerary sekaligus budget yang dihabiskan.

Saya pergi ke Bandung hanya berdua sama Mama dengan menggunakan kereta api. Kenapa? Karena sudah pada tahu dong ya macetnya jalan Jakarta-Bandung yang bikin capek parah. Mungkin kalau perginya serombongan, akan lebih nyaman dan murah dengan mobil karena bensin dan tol bisa ditanggung patungan. Tapi kalau hanya berdua atau kurang dari 4 orang, mending naik KA deh. Gak capek, tinggal duduk dan bisa tidur, serta jauh lebih murah.

Tiket Jakarta-Bandung  Rp. 90,000 X 2 perjalanan PP = Rp. 180,000 per orang. 2 orang menjadi Rp. 320,000. Murah banget!

*Hack: psst, beli tiket KA biasanya lebih murah di app KAI langsung lho. Ada diskon 10-20 ribu dibandingkan beli lewat app pemesanaan lain

Sebelumnya FYI, saya di Bandung kesana kemari menggunakan Go-Car. Dalam posting ini, saya¬†exclude¬†pengeluaran untuk oleh-oleh ya, karena preferensi belanja oleh-oleh tiap orang berbeda ūüôā

Top up GoCar Rp 200,000 (cukup dan ngepas dengan itinerary saya di post ini)

Hari Pertama, 6 September 2018

Rasanya udah lamaaa banget saya gak naik kereta api ke Bandung. Terakhir, waktu saya umur 13 tahun bareng kedua orang tua, kami sering banget bolak balik liburan ke kota kembang ini. Jadi menyusuri sepanjang perjalanan kereta seperti flash back kenangan masa kecil :’) Ke Bandung nya sendiri terakhir tahun 2015, menggunakan mobil travel.

Kita berangkat jam 08.45 dari Stasiun Gambir dan tiba di Stasiun Bandung jam 12.01. Begitu sampai, cus kita langsung ke hotel Sentra Inn di kawasan Burangrang.Saya tahu hotel ini dari Traveloka, dan karena memang tujuan jalan-jalan saya gak jauh dari Bandung kota, hotel ini pun menjadi pilihan. Saya sih orang yang gak terlalu rewel urusan hotel. Asalkan hotelnya nyaman, bersih, tersedia handuk dan perlengkapan mandi, dengan kasur cukup empuk, saya akan rating oke. Nah hotel ini termasuk hotel yang saya rekomendasikan jika anda ingin mencari penginapan nyaman dan on budget .

Rate menginap di Sentra Inn satu malam = Rp 284,000

Karena sudah kelaparan, kami pun lanjut ke tujuan pertama kami ke Bandung…Cafe Chingu!

Itinerary 1: Chingu Cafe

Chingu Cafe adalah kafe korea kekinian yang menyediakan berbagai makanan Korea (yang dimodifikasi tentunya) dengan suasana restoran seperti Korea street. Interior Chingu Cafe unik dan colorful banget. Kalau lihat dari foto-foto di Instagram, gak nyangka space restorannya sebenarnya gak luas dan terletak di ruko gitu. Cafe ini sebenarnya memiliki 2 cabang, tapi kami memutuskan pergi ke lokasi yang terdekat dengan hotel kami yaitu Chingu Cafe Buah Batu. Di sini pengunjung juga bisa mencoba hanbook (baju tradisional Korea). Untuk harga, gak terlalu pricey, so so lah dengan kafe di Jakarta. Untuk mengenakan hanbook, dikenai biaya Rp. 30,000 per 15 menit . Lumayan mahal yah.

Di setiap meja disediakan kompor kecil untuk memasak beberapa jenis makanan, seperti contohnya saya dan Mama memesan Premium Mozarella Wings yang terdiri dari chicken wings , french fries, tteopokki (gak tahu apaan, googling aja hahaha) dan tentunya keju mozarella. Keju Mozarella yang disajikan masih dalam bentuk potongan dadu, dan agar nikmat dimakan perlu dipanaskan hingga melted bersamaan dengan daging. Hmm yummy, karena dasaarnya saya suka keju, saya merasa sajian ini enak! Oya, kami juga memesan gimbap (sushi-nya Korea).

Premium Mozarella. Luuuvvv.

 

Total makan siang + sewa baju di Chingu Cafe sekitar Rp 160,000

Itinerary 2: Jalan Asia Afrika dan Braga

Kelar makan siang di Chingu, kami pergi menuju tujuan kedua yaitu Masjid Raya Bandung atau lebih dikenal juga Alun-alun Kota Bandung. Alun-alun terletak di Jalan Asia Afrika, yang merupakan pusat kota Bandung. Surprised, alun-alun Kota Bandung sekarang menjadi begitu kreatif. Di sepanjang trotoar banyak cosplay kreatif yang bisa diminta berfoto dengan pejalan kaki, dengan bayaran tentunya. Ada Naruto, Robot, Kuntilanak, sampai Suster Ngesot. Sebelum sampai ke Masjid Raya, tentunya saya menyempatkan diri berfoto di terowongan yang hits banget di Instagram. Hehehe.

Sayangnya, begitu sampai area masjid, lapangan masjid yang terhampar rumput sintetis sedang direnovasi. Yaaah kuciwa….padahal itu spot foto yang menarik banget dan bisa untuk santai sore. Akhirnya, kami pun memutuskan berjalan kaki lewat Braga ke tujuan berikutnya, yaitu Balai Kota Bandung.

Iya, jalan kaki! Dan ternyata setelah dilakoni…jauh jugaaak :’) Tapi gak papa lah, itung-itung bakar kalori abis makan banyak lemak di Chingu. Plus nya, bisa santai menikmati kawasan Braga yang dipenuhi berbagai restoran dan pertokoan dengan nuansa Tempo Doeloe.

Itinerary 3: Balai Kota Bandung

Bisa kepikiran ke sini karena tertarik dengan taman labirin yang diposting Mantan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil di akun Instagramnya. Tempatnya adem pisaaan euy. Labirinnya gak luas sih, cuma mengelilingi pohon besar di tengah, tapi lumayan lah buat spot foto kece. By the way, saya membayangkan enak ya bisa tinggal di kota yang memiliki banyak taman seperti di Bandung ini. Gak perlu bingung kemana kalau ingin cari udara segar atau ‘yang hijau-hijau’ dan bisa juga untuk area bermain anak. Bisa juga jadi ajang mejeng cantik cari jodoh hahaha. Gratis pulak! Kali lain saya ke Bandung, saya ingin menjajal semua taman di kota Bandung hehehe.

Gak sampai 1 jam menghabiskan waktu di Balai Kota, kami pun siap-siap lagi ke destinasi terakhir di hari itu: China Town Bandung.

Itinerary 4: China Town Bandung

Lagi-lagi tahu tempat ini dari posting Pak Ridwan Kamil di IG hahaha. Tempat ini sebenarnya semacam food court yang memiliki spot foto hampir di setiap sisinya. Sesuai namanya, tentu saja desainnya oriental banget ya. Pas kami kesini, entah kenapa tempat ini kok sepi banget. Mungkin karena Kamis malam ya. Niat hati ingin cari makan di dalam, tapi kok ya ga ada yang sreg…akhirnya kami menghabiskan waktu di sana dengan foto-foto dan santai sambil makan es krim Terminale Gelato. Es krimnya enyaaakkk!

Spot foto di China Town ini lucuk-lucuuuk banget. Dari mulai dinding bergambar tukang cukur, lengkap dengan tempat duduk yang bisa kita duduki seolah-olah kita sedang pangkas rambut…sampai dinding bergambar Nyonya pemilik rusun di Kungfu Hustle yang doyan marah-marah. Selain yang bernuansa oriental, ada juga spot-spot foto yang kekinian seperti ruang cermin berwarna-warni.¬†Karena kami sampai disana menjelang magrib, suasana langitnya terlihat¬†match¬†dengan lampion merah yang bergantung dengan cantik.

Fasilitas di China Town cukup lengkap, ada area bermain anak dan juga musholla yang memadai dan terawat. Khusus untuk toilet, ada yang lucu nih…Mama saya takut masuk toilet wanita karena bau hio (dupa) yang menjadi pewangi toilet (?). Kata Mama serasa lagi di kelenteng. Hahaha.

Tiket masuk China Town Bandung= Rp 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000

Es Krim di Terminale Gelato = 35,000 (berdua)

Sudah bosan foto-foto, santai dan es krim pun sudah habis, saya dan Mama memutuskan pulang dan beristirahat. Sebelum sampai Sentra Inn, kami mampir dulu ke Bubur Ayam Pelana yang terletak hanya beberapa meter dari hotel. Bubur ini kayaknya terkenal deh, karena banyak orang makan di sini, gak kalah ramenya dengan Ramen Bajuri yang ada di seberangnya.

Bubur Ayam Pelanan ini syedaap dan harganya tergolong murah. Porsinya super banyak, dan yang paling cihuy bagi saya adalah: bisa ambil bawang goreng dan kerupuk sendiri. Huaaa saya ngefans banget sama bawang goreng! :luvluvluv Makin sukak karena gratis teh tawar hangat.

Dinner di Bubur Ayam Pelana = Rp 15,000 x 2 porsi = Rp 30,000

Setelah makan, kami pun kembali ke hotel dan istirahat bobok.

Hari Kedua, 7 September 2018

Happy birthday to me! Hehehe

Di hari kedua itinerary agak lebih santai karena sore kami sudah harus bertolak ke Jakarta. Pagi-pagi sekitar jam 8, kami sudah rapi jali hendak berangkat ke tempat agak jauhan dikit dari pusat kota Bandung yaitu Farm House yang terletak di Lembang (belum sampai Lembang banget sih).

Itinerary 5, Farm House Lembang

Farm House ini adalah temapt wisata yang udah terkenal ya bagi orang Jakarta yang suka main ke Bandung. Saya sendiri dulu waktu jalan-jalan ke Lembang di 2015, sempat melewati Farm House. FYI, Lembang di weekend itu bagaikan Puncak di weekend. Muaceeet. Makanya di Jumat ceria, kami sengaja berangkat agak pagi sekitar jam 7 dari Sentra Inn dengan menggunakan Go-Car. Sebelum berangkat, saya dan Mama sarapan dulu di tempat nasi uduk pinggir jalan tak jauh dari  Sentra Inn.

Sarapan nasi uduk 2 porsi dengan gorengan dan teh manis= sekitar Rp 15,000

Karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota, tarif Go Car ke Farm House sekitar 50ribuan, masih worth it lah ya. Hanya 1 jam perjalanan, sampai lah kami di Farm House. Yeaay!

Dari luar saja, Farm House ini sudah terlihat cantik dan teduh. Sinar matahari yang hangat menambah cantik tempat ini. Desainnya sebagian besar ter-influence  oleh bangunan Eropa terutama Belanda. Ohya, di sini juga bisa sewa baju khas Belanda ( 60ribuan kalau nggak salah) tapi kami kurang tertarik.

Tiket masuk Farm House: Rp. 25,000 per orang X 2 = Rp 50,000 (gratis welcome drink susu sapi segar)

Baru tahu Farm House secantik ini, saya jadi mikir-mikir lagi untuk rencana jalan-jalan ke Colmar Tropicale, tempat wisata dengan konsep serupa di Malaysia. Di Bandung aja udah berasa kok Eropa nya. Hahaha.

Sama seperti tempat wisata lainnya, ada beberapa toko di dalam area Farm House untuk membeli oleh-oleh. Untuk souvenir dan pakaian harganya tergolong mahal, tapi untuk makanan masih reasonable lah harganya, contohnya saya membeli beberapa kantong permen susu produksi Farm House.

Bisa kasih makan kelinci juga lho..dan ada domba yang unyu unyuuukk banget kayak di Shaun The Sheep. Hihihi

Puas keliling-keliling Farm House selama sekitar 2 jam an, kami pun pulang ke hotel dulu. Di hotel Mama dan saya packing untuk pulang, tiduran bentar dan siap-siap untuk makan siang.

Makan siang kali ini kami mencoba Mie Merapi yang lumayan terkenal dan murah di daerah Buah Batu, gak jauh dari Chingu Cafe. Kenapa Buah Batu lagi? Karena lagi-lagi dekat dan terdapat gerai Kartika Sari yang cukup besar. Yup, waktunya belanja oleh oleh!

Review untuk Mie Merapi…lumayaaan. Meski menurut saya gak terlalu istimewa sih. Tapi cukup okelah yaa. Menu andalan di sini tentunya mie-mie nya ya.

Makan siang di Mie Merapi = sekitar 50,000

Kelar makan, saya dan Mama belanja oleh-oleh di Kartika Sari. Seperti yang saya bilang di awal, belanja oleh-oleh nggak saya masukkan di sini ya. Nah kelar belanja, masih tersisa waktu sekitar 3 jam sampai keberangkatan kami naik kereta jam 16.10. Karena gak tahu lagi mau kemana, saya dan Mama pun iseng mengunjungi Masjid Trans Studio Bandung. Cuma numpang shalat Zuhur dan foto-foto depan Trans Studio sih. Aaah, saya jadi agak menyesal kenapa gak ke Gedung Sate ajaa.
foto

Sekitar jam 2 siang lewat, kami pun cabut dari Masjid Trans Studio dan tiba di stasiun sekitar setengah jam lebih awal. Yeaaahhh berakhir sudah short trip+kulineran ke Bandung. Seneng? Pasti dooongg, walau cuma sebentar, lumayan bisa refresh otak. Dan saya masih pingin ke Bandung lagi untuk jalan-jalan santai seperti ini. Hahaha.

Total pengeluaran short trip + kulineran Bandung Kota 2D1N untuk 2 orang = Rp.1,194,000

See you on the next trip yah! ūüėÄ

Jalan-Jalan Kilat ke Lembang-Bandung

Yuhuuu happy long weekend!

Mumpung lagi long weekend, sambil gelesor-gelesor di tempat tidur, aku pingin cerita nih pengalaman travelling kilatku ke Bandung weekend lalu, tanggal 30 dan 31 Januari 2016. Oh ya,tujuan jalan-jalan ke Bandung ini sebenarnya adalah untuk menghadiri undangan pernikahan teman kantor di Zomato dulu, Denny namanya, pada tanggal 30 Januari 2016. Ya sekalian jalan-jalan aja gitu. Hehehe.

 

Sabtu pagi, 30 Januari pukul 07.00

Pagi-pagi, aku dan temanku Junio, sudah steady nangkring di Depok Town Square alias Detos, tepatnya di shuttle travel yang akan membawaku Jakarta-Bandung. Kita pakai travel Sararea Star, yang merupakan eks Cipaganti. FYI, Cipaganti Travel memang sudah berubah nama jadi Sararea Star. Nggak tahu sih sejak kapan. Yang jelas, kalau kamu googling Cipaganti, bakalan susah deh dapat nomor kontak yang bener. Apalagi Cipaganti Detos…nomor yang ada di google ngaco deh. Naaah, cuma di blog ini kamu akan dapat informasi paling tepaaat. Hehehe. Nomor kontak Sararea Star Detos alias Cipaganti Detos ini bisa kamu hubungi di (021)7262820. Ini untuk Sararea Star atau Cipaganti hotline Jabodetabek ya. Kamu juga bisa langsung pesan tiket dengan menghubungi nomor itu. Kalau kamu lagi di Bandung dan pingin balik, kamu bisa menghubungi hotline Sararea Star Bandung (022)86008800.

Rute travel ini dari Detos biasanya menuju Baltos alias Baluran Town Square. Lewat pintu tol Pasteur juga, jadi kalau kamu mau turun di Pasteur, kamu bisa minta stop di Giant Pasteur. Dan kayaknya nih ya, menurut Junio yang tinggal di Bekasi, cuma Sararea eks Cipaganti ini aja yang buka shuttle di Bekasi, tepatnya di Bekasi Cyber Park (BCP). Biaya perjalanan sekali jalan Rp 85.000,- dan bisa dibeli on the spot juga. Hampir tiap jam shuttle bus nya berangkat kok.  Berangkat jam 7, sampai akhirnya kita minta berhenti di Giant Pasteur sekitar jam setengah 12. Selanjutnya pesan Uber Taxi  untuk membawa kita ke penginapan di Lembang.

 

Sabtu siang pukul 13.00

Akhirnyaaah sampai juga di penginapan. Lembang macetnya beuuuh, nggak ada beda sama Jakarta. Begitu sampai kita langsung check in menginap di Hotel Nur Alam, hotel murah yang letaknya agak naik ke atas Lembang. Letaknya di seberang Mang engking, dekat Putri Gunung Hotel dan Balibu restoran. Rate per malam untuk kamar ukuran standard Rp.266.000,- saja plus dapat sarapan untuk 2 orang. Kita pesan 2 kamar standard yang bersebelahan (yaiyalah masak satu kamar!). Kondisi kamar dengan harga murah meriah gini ya…nggak bisa dibilang bagus lah ya. Dengan single bed ukuran besar, kamar mandi (yang kayak kamar mandi di rumah), TV jadul yang siarannya burek semua, dan fasilitas air panas yang kurang beres. Tapi itu nggak masalah sih buatku, karena aku pikir cuma untuk numpang tidur aja, kan‚Äô bakal keluar jalan-jalan terus. Beda dengan temanku Junio yang dikit-dikit ngomel kamarnya begini begitu, terutama soal air panas. Ahhh, air di Lembang mah ga seberapa dingin buatku. Dinginnya sama kok kayak air di rumahku pas lagi Subuh (ya secara rumahku udah masuk daerah Bogor ya). Kalau pelayanannya sih lumayan menurutku. Stafnya cukup aware. Aku sempat minta tolong jasa ironing alias setrika dress untuk kondangan dan pinjam charger handphone, tapi nggak kena charge apa-apa tuh. Nomor kontak Hotel Nur Alam bisa dihubungi di 081321427585. Untuk booking hotel bisa langsung via telepon dengan syarat membayar DP setengahnya. Baiknya sih booking dulu, karena hotel ini sering penuh juga pas weekend.

 

Sabtu, pukul 14.00

Kelar bersih-bersih dan istirahat sebentar, aku dan Junio pun bergerak untuk…cari makanan. Kami lafaaaar! Dengan menyewa sepeda motor staf hotel (tarif Rp. 100.000,- seharian), kita pun pergi ke Floating Market Lembang yang letaknya juga gak jauh dari Hotel Nur Alam. Masuk Floating Market dikenakan harga Rp.20.000,- per orang. Begitu masuk, kita bisa menukarkan tiket dengan welcome drink. Floating Market ini cocok banget sebenarnya untuk wisata keluarga. Bentuknya berupa pasar kuliner dengan pedagang yang duduk di perahu. Lumayan banyak spot yang bisa dijadiin tempat foto-foto disini. Harga makanannya pun menurutku nggak terlalu mahal, masih reasonable kok. Oh ya, pembayaran makanan disini menggunakan sistem koin yang sayangnya nggak bisa di-refund jika masih ada sisanya. Kita pun ambil menukarkan koin senilai Rp. 50.000,-.

Keliling-keliling…kita pun menyempatkan makan di restoran di Floating Market (bukan di pasar perahunya), lalu kelar makan icip-icip cemilan lagi di pasar perahu. Menurutku sih restoran disini pricey semua dengan rasa yang biasaaaaa banget. Jadi kalau kamu mau icip-icip makanan, mending langsung ke pasar perahunya deh. Hmm, sebenarnya tiket masuk 20rb per orang juga mahal menurutku. Tapi ya sudahlah ya…seenggaknya aku jadi nggak penasaran kayak apa sih Floating Market itu. Sekitar jam setengah 5, kami pun kembali ke penginapan untuk beres-beres ke kondangan Denny & Leah.

IMG_20160130_220300

Muka capek sama macetnya Lembang ūüė¶

IMG_20160131_183851

 

Sabtu, pukul 17.30

Aku dan Junio udah siap untuk pergi kondangan. Dengan motor sewaan pula, kami pun tancap gas ke Hotel Padma yang letaknya di Cimbuleuit (yang ternyata jauh bangeeet dari Lembang T.T). Sampe pegal banget naik motor. Sekitar 45 menit lah perjalanan. Sampai Padma…glek! Para tamu undangan nggak ada yang naik motor. Kita doang nih yang kere banget naik motor, sewaan pula. Hahaha. Tapi cuek aja deh ya…yang penting makan-makan! ūüėÄ

Resepsi digelar di lantai 7…dengan dekorasi bertema rustic yang cantik banget menurutku. Melihat hotel megah ini di malam hari, dengan kerlap kerlip lampu pijar sebagai dekorasi pesta yang hangat dan pepohonan yang rindang mengelilinginya mengingatkanku pada film Twilight. Seperti pesta pernikahan Bella dan Edward yang diselenggarakan di rumah Edward yang keren di tengah hutan. Nggak lama aku dan teman-teman Zomato mengobrol seru, sang pengantin yang ditunggu-tunggu pun keluar. Denny dan his-just-officially-wife Leah pun keluar dengan anggunnya. Denny mengenakan tuxedo dan Leah dengan gaun putih. Style mereka klasik seperti pernikahan umumnya, but we love it. Congratulations Denny and Leah!

Agak berbeda dengan kondangan yang biasa kuhadiri, sepasang pengantin tidak duduk di pelaminan khusus, tetapi semeja dengan bridesmaid¬†dan bestman, kemudian beberapa orang terdekat mereka berdiri dan menyampaikan kesan pesan terhadap pengantin lalu bersulang. Ya…kayak model resepsi di film-film Barat gitu deh. Kemudian Denny & Leah pun melakukan dansa pertama mereka, potong kue dan nggak ketinggalan acara lempar bunga oleh pengantin wanita untuk para single ladies. Aku termasuk ke yang heboh nangkepin bunga nih (semuanya heboh sih)…sayang nggak dapet. Hahaha. Nah ini beautiful moments-nya…anyway, once again, happy wedding Denny and Leah! May you both always be fulfilled with love and happiness! ūüôā

Their first dance as newly wed.

Their first dance as newly wed.

Souvenir Pernikahan Denny & Leah

Souvenir Pernikahan Denny & Leah: Kopi Robusta

IMG_20160206_084404

 

IMG_20160130_221300

With the Bride and the Groom!

IMG_20160201_081705  img1454167455463

 

Sekitar jam 9, aku dan Junio pun pamit. Jam setengah 10 kami sampai hotel. Aku capek banget dan langsung cusss tidur.

 

Minggu, 31 Januari, 08.30

¬†Sebetulnya di Minggu pagi yang cerah ini aku berencana mau ke Gunung Tangkuban Perahu. Apa daya, badan capek banget dan malah leha-leha sampai jam setengah 8. Jam 08.30 barulah aku siap sudah mandi dan rapi lalu akhirnya memutuskan pergi ke…De Ranch Maribaya! Sebenarnya ini sudah masuk list perjalananku juga sih. Hehehe. Dengan naik GO-JEK (ohya, di sekitar Lembang ini yang baru beroperasi GO-JEK saja, itu pun belum terang-terangan dengan atribut ke-GOJEK-annya karena masih dibanned sama ojek pangkalan), aku pun pergi sendiri ke De Ranch yang dekat juga dengan penginapanku. Iya, pergi sendirian karena si Junio masih ngeleker di alam mimpi dan kamarnya digedor-gedor pun masih susah bangun. Ckckck.

Tiket masuk De Ranch Rp.10.000,- saja sudah dapat welcome drink¬†berupa susu (ini susu kambing atau susu kuda ya? entahlah, enak pokoknya). Begitu masuk pertama…wow, De Ranch ini keren menurutku. Bentuknya mirip prairie gitu lengkap dengan tempat-tempat yang didesain seperti pemukiman koboi. Setelah puas berkeliling melihat kuda, menghirup udara segar dan foto-fotoin spot bagus, aku pun mencoba naik kuda. Untuk fasilitas naik kuda, hanya perlu membayar Rp.25.000,- dan yang seru, kamu bisa mengenakan topi koboi dan rompi ala koboi.

IMG20160131091802   IMG20160131091758

Wiiih, ini kali pertama aku naik kuda lho. Rasanya geli-geli gimana gitu. Deg-degan, perasaan kayak mau jatuh aja gitu pas kudanya jalan.Tetap sih, kudanya dituntun oleh petugasnya. Rute yang disusuri naik kuda lumayan panjang, dan sepanjang jalan itu aku benar-benar menikmati banget indahnya suasana alam. Tenaaaang gitu. Awesome deh!

IMG20160131085848 IMG20160131092600

IMG20160131092256 IMG20160131092114 IMG20160131092044

IMG20160131090315  IMG20160131090248

IMG20160131090149 IMG20160131090141

IMG20160131090011 IMG20160131085933

IMG20160131092801

Selonjoran…tuh lihat tulisannya ‘Hidup Harmonis Bersama Alam’

 

Saranku, kalau ke De Ranch, datanglah pagi-pagi pas cuaca masih cerah dan adem. Jam 9 lah. Kalau menjelang siang, De Ranch makin ramai karena banyak rombongan darmawisata datang. Pulang dari De Ranch sekitar pukul setengah 11, aku menyempatkan diri mampir beli oleh-oleh Tahu Tauhid yang terkenal enaknya di Lembang. Outlet cabangnya nggak jauh dari De Ranch (di simpang pertigaan pas sebelum De Ranch). Aku beli box kecil Tahu Tauhid isi 32 buah. Dan bener, tahunya enaaaak banget. Gurih dan empuk. Kalau kamu ke Lembang, wajib beli nih buat oleh-oleh!

 

Minggu, pukul 12.00

Jam setengah 12, aku dan Junio pun check out dari Hotel Nur Alam, naik GO-JEK sampai shuttle. Kali ini kita pulangnya pisah, aku naik travel dari shuttle Sararea Star di Baltos, sedangkan Junio naik Sarare Star di Simpang Dago yang akan menuju Bekasi. Jam 1 siang, bus-ku sudah jalan dan akhirnya aku sampai di rumah sebelum maghrib.

Yeah…lumayan puas lah dengan jalan-jalan kali ini walau banyak capek-nya. Next, ¬†long weekend ¬†ini, besok atau hari Senin aku sekeluarga akan pergi ke Anyer naik mobil. Nanti aku cerita-cerita lagi ya! ūüėÄ

 

 

 

 

 

 

 

 

Travelling Story: Pulau Pari! (31 Agustus-01 September 2013)

Huaaah akhirnya megang laptop lagi setelah hampir dua hari gak nemu laptop, terdampar di pulau antah berantah. Hehehe.

Nah, sekarang aku akan berbagi cerita tentang liburanku‚ÄĒyang sebenarnya telat banget liburan di detik-detik mau kuliah‚ÄĒke Pulau Pari selama dua hari satu malam. Oh ya, aku bisa liburan ke Pulau Pari ini lewat open trip yang diadakan oleh salah seorang temanku, Rizky yang mempunyai sebuah agen travel yang sering mengadakan trip ke Kepulauan Seribu. Nama agen travelnya Kompa Khatulistiwa (Komwa), bagi yang setelah baca posting ini jadi minat, silahkan klik saja di Twitter @Komwa_ID . Jadi kalau open trip itu sistemnya kita pergi digabung dengan orang-orang lain, karena kalau pergi sendiri itu: pertama, jatohnya lebih muahaaal; kedua, kita bisa bingung jika tidak ada pemandu harus kemana dan ngapain aja disana. Trip kali ini diikuti oleh 24 orang. Di trip ini aku bareng sahabatku sejak kelas satu SMA, namanya Adita dan Safirah, teman kuliah sekaligus teman satu organisasi, tapi Safir pergi bareng teman-teman SMA nya dari Pamulang. Sedangkan aku dan Adita pergi bareng dari Bekasi. Sengaja sehari sebelumnya aku menginap di rumah Adita supaya kita bisa pergi bareng-bareng.

Oke, langsung saja dimulai ceritanya, ya ūüėÄ

Continue reading